
Seli hendak tidur saat ini. Tapi Dia kembali duduk di kasurnya. kemudian melihat ke arah jam di dinding kamarnya. Sudah pukul 5 pagi. Itu artinya dia tidak tidur tadi malam. Wajahnya terlihat lelah. Dia juga tidak makan sejak kemarin siang. Rasanya sema sekali tak ada ***** makan.
Seli turun dari kasurnya kemudian membuka tirai kamarnya. masih terlalu pagi untuk bersiap ke sekolah. Hari masih belum terang. Perlahan dia membuka pintu kaca dan langsung menuju balkon kamarnya.
Baru beberapa hari saja tidak ketemu dan tak saling memberi kabar dengan Vito. Entah mengapa dia sudah merindukannya. Apa dia berlatih mati matian disana? Tinggal beberapa hari lagi menuju pertandingan itu.
Air mata Seli tiba tiba mengalir. Sedari tadi Dia tidak menangis. Entah darimana asal air ini.
"kenapa tiba tiba air mataku mengalir?"
Seli sama srkali tak mengerti dengan perasaannya. Semuanya campur aduk. Sampai sampai dia pun tak mengerti dengan hatinya yang terlalu rapuh sepeeti saat ini. Tak terjelaskan mengapa air matanya mengalir.
"Aku rindu kamu Vito. Aku ingin sekali berlama lama bersamamu. Kamu tau aku capek selalu mendapat masalah seperti ini." Air mata Seli semakin deras mengalir. Sungguh aneh sekali sikapnya ini. Mengapa dia malah mencari Vito? padahal dia sendiri tidak pernah cerita apa pun padanya.
"Kalau aku dan kamu masih diberi kesempatan untuk hidup di kehidupan selanjutnya, aku mau kita tetap bersama." Katanya sambil menangis di balkon.
Seli tiba tiba tersadar dengan ucapannya sendiri. Kenapa dia mengucapkan itu? Apa dia hendak bunuh diri? jelas tidak. Dia masih mau hidup. Kalimatnya sungguh aneh begitu pun dengan sikapnya.
Seli segera kembali ke dalam saat jam sudah menunjukkan pukul 5.30. Kepalanya mulai pusing. Dia tidak makan sejak kemarin siang dan pagi ini juga dia belum ***** untuk makan. Berpikir keras membutuhkan tenaga. Sedangkan Seli berpikir tanpa makan sedikit pun. itu menguras banyak tenaganya. jangankan makan minum pun dia tidak. Semua itu memicu penyakit untuknya.
Seli keluar kamar sudah dengan seragamnya yang rapi.
"Sel, yuk makan dulu"
"Seli ga nafdu makan mbak"
"lho tumben. kamu sendiri yang bilang kan. Darapan selalu penting. kenapa tiba tiba ga sarapan?"
"iya mbak. Nanti Seli sarapan di sekolah aja deh."
"Kamu yakin mau ke sekolah? kayanya kamu sakit deh. muka kamu aja pucat banget"
"Seli ga kenapa napa kok mbak. Seli ga sakit. Mungkin karena masih pagi. Wajah Seli kelihatan kaya gitu."
"oh ya udah deh"
"Seli berangkat Dulu ya mbak"
__ADS_1
"Iya hati hati ya Sel"
Seli berangkat seperti biasanya. Tapi lebih banyak melamun. Setiap kali ada waktu diam tanpa kegiatan, dia selalu melamun. Dan satu hal yang penting, Keceriaan dan senyumannya benar benar sudah lenyap dari wajahnya.
Ekspresinya bahkan lebih parah dari pembullyan yang pernah dia alami. Kali ini semua benar benar aneh dan terasa ganjil. Pada dasarnya memang dia masih akan bisa tersenyum atau menyembunyikan masalahnya sendiri. Tapi jika masalah itu menyangkut dia dan yang menjadi korban adalah temannya sendiri, rasanya sangat tidak adil sekali. Itu yang buat dia merasa masalah ini berkali kali lipat lebih meresahkan.
Dia merasa kasian pada Rendy juga merasa bersalah. Bisa bisa nya dia terseret dalam masalah ini. Padahal dia hanya membantu. Tapi ini memang benar benar air susu dibalas air tuba.
Hari ini Seli berjalan lebih cepat. Tak menyapa siapa pun, tak memperdulikan siapa pun dan sama sekali tak ada senyuman di wajahnya. Semua itu sudah lenyap. Seli adalah tipe orang yang ramah. Tapi hari ini, guru yang lewat pun sama sekali tidak disapa oleh Seli. Benar bebar tindakan yang sangat aneh.
Mira sudah sedari tadi duduk di samping Seli. Memperhatikan sahabatnya itu yang 180 derajat berubah dari biasanya. Tapi dia tak bertanya apa apa. Dia tau, pertemuan kemarin membawa suatu masalah untuk Seli.
Seli meletakkan kepalanya diatas tangan yang dia taruh di atas meja. kepalanya semakin sakit dan pusing. Dia tidak sarapan di kantin seperti yang dia katakan kepada mbak Citra tadi pagi.
"Mir, ke luar yuk. Kelas terasa panas banget deh"
"Lo demam Sel. lo gapapa?"
"Gapapa tenang aja. Yuk"
"Kita kemana?"
"oohh ya udah." Mira segera menggandeng tangan Seli.
"Tangan lo panas banget. lo yakin gapapa?"
"iya gue baik baik aja Mir. Mungkin karena di kelas panas makanya tangan gue juga panas"
"Tapi lo juga lemes banget Sel."
"Udah Mir. itu ga penting. Kita ke lapangan aja yuk. Nanti keburu masuk. Jam istirahat 10 menit lagi."
Mereka menuju lapangan untuk menghirup udara segar. Tapi bukannya menghirup udara segar. Seli malah menyaksikan Mario yang menindas Rendy dengan teman temannya. Seli diam sejenak kemudian berseru gemetar ke arah Mira.
"Mi...mir, cepat panggil Brimus temannya Rendy. Cepat Mir" Seli sedikit menarik narik tangan Mira. Sedangkan dia, Dia langsung berlari menghampiri mereka.
"STOP!" Teriak Seli yang membuat semua orang yang disana melihat ke arahnya. Seli segera menghampiri Rendy. Dia dikroyok oleh Mario dan kawan kawannya. Bahkan sudut bibir nya berdarah.
__ADS_1
"Lo... lo ga ke... kenapa napa kan Ren" Seli bertanya dengan suara masih bergetar sambil membantunya untuk berdiri.
"gapapa sel" Rendy menjawab sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Seli tak berkata apa pun pada Mario. Dia terlebih dahulu mengamankan Rendy dan membawanya ke UKS.
"Lo ga kenapa napa?" Brimus dan Mira berlari datang saat Seli dan Rendy berjalan menuju UKS sekolah.
"Biar gue bantu Sel" Brimus langsung membantu menopang Rendy menuju UKS.
Kebetulan saat mereka sampai di UKS ada petugas UKS disana. Jadi Rendy segera diobati petugas itu dihadapan Seli.
"Kita tunggu di luar aja Mir."
"kenapa?"
"gie akan cerita sama lo tentang semua ini. Biar lo ga bingung lagi sama semua ini. Dan di luar lebih baik membahas ini"
"ya udah"
Brimus menceritakan segalanya pada Mira di luar ruang UKS. sampai akhirnya Seli keluar. Masih dengan badan yang lemas. Dia masih demam. Dan tampaknya semakin parah.
"Sel lo ga pulang aja?"
"Emangnya kenapa?"
"lo kelihatan semakin lemah. Lo sakit Sel"
"engga Mir. Gue masih sanggup. Lagi pula ini kan istirahat kedua. Udah mau pulang juga"
"Tapi gimana kalau lo tiba tiba pingsan nanti?"
"engga itu ga akan terjadi. Gue kuat kok"
"Lo kenapa susah banget sih dibilang. Ini demi kebaikan lo Sel."
"Gue baik baik aja. Gue ga bisa pulang Mir. Gimana kalau Rendy ditindas kak Mario lagi? cuma gue yang bisa menghentikan itu kan" kata Seli lalu duduk di bangku depan Ruang UKS. Melamun disana.
kata kata Seli mampu membuat Mira terpatung seketika. Matanya menatap Seli lamat lamat. Kemudian tanpa dia sadari air matanya jatuh
__ADS_1
"Gadis bodoh. Kenapa kau selalu mementingkan orang lain? lihatlah kondisimu yang buruk itu. Kau bisa saja roboh kapan pun"
*percaya ga, sebentar lagi novel ini tamat? iya. author nulis novel ini sesingkat itu. tinggal 10 episode lagi 😠jangan lupa like vote dan comment*