
"kali ini gue ga akan nyuruh lo pulang lagi. Lo pasti ga mau kan"
"Maaf Mir. Tapi sebentar lagi juga udah mau pulang kan"
"Sel!"
"Seli"
"kenapa Bri?"
"kak Mario. hah hah hah (terengah engah)"
"kak Mario kenapa?" Seli bangkit berdiri.
"Rendy Sel"
Seli segera berlari ke arah Brimus setelah mendengar nama Mario dan Rendy. Dia tau kak Mario pasti menindas Rendy lagi.
"Dimana?"
"ujung tembok sekolah"
"syukur tempatnya ga jauh" Seli langsung berlari. Mengabaikan kondisinya yang sangat buruk. Berlati cepat seakan menyangkut hidup dan mati seseorang. Tapi bagi Seli ini juga penting. Tidak ada orang yang boleh tersakiti hanya karena dia.
"Berhenti" Seli berteriak setelah sampai di drkat kerukunan orang yang menindas Rendy. Terlihat Mario berada di tengah tengah mereka. Tapi kali ini Mario terlihat sama sekali tak menghiraukan Seli dia tetap menendang Rendy yang sudah meringkuk di depannya.
"Stop Mario!" Seli mendorong mario yang terlihat buas menindas Rendy. Bagaikan Harimau yang hendak mencabik cabik mangsanya. Tindakannya terhenti setelah Seli mendorong tubuhnya beberapa langkah menjauhi Rendy.
"Tumben lo manggil gue gitu"
"Emangnya kenapa?"
"kenapa lo marah? dan kenapa lo ngebela dia bukan gue?"
"Karena dia ga salah apa apa"
"Gue ngelindungi lo dari pengaruh burunya sel"
"lo bukan ngelindungi gue tapi jadi sumber masalah buat gue"
"Masalah lo bilang?Li ga tau dia gimana sel"
"Lo yang ga tau dia gimana. Gue yang bersahabat sama dia. Bukan lo. Lo ga tau apa apa kak"
__ADS_1
"Jadi sekarang lo nyalahin gue?"
"Gue ga akan nyalahin lo kalo lo ga bertindak kaya gitu. Tindakan lo salah besar."
"Lo kok segitunya ngebela dia"
"karena dia ga kaya yang lo pikirin. Kalo lo masih pengen gue anggap abang, lo harus berhenti nindas dia. Kalau engga, jangan pernah panggil gue adek lagi. Lo bukan abang gue lagi"
"Lo sampe ngamong kaya gitu sama gue? Gue ngeĺakuin semua ini karena gue sayang sama lo. Lo tau kan gue anak paling kecil dan gue ga punya adik srlain lo. Tapi ya... gue akan berhenti saja karena Gue ga mau kehilangan adik." Mario dan teman temannya pergi meninggalkan Seli.
"lo gapapa kan." Seli membantu Rendy berdiri. Dia terlihat kacau. pakaian yang berantakan dan berdebu, wajah yang memar memar dan bibir yang berdarah.
"Gue ga yakin" Rendy menjawab sambil bangkit berdiri. Seli dan Brimus membantunya menuju Uks.
Melihat semua ini hati Seli benar benar marah. Dia tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Sungguh dia sangat sedih melihat Rendy meringkuk di tengah kerumunan orang seperti tadi. Tapi, tetap saja tak ada orang yang berani merelai mereka. Mario punya koneksi yang kuat. Dia kapten karate di club nya. Jika pun ada yang berani melawannya, mungkin itu hanya Vito.
Hati Seli sebenarnya sabgat panas. Mario bukan melindungi dia tapi hanya penambah masalah untuknya. Dimana Mario saat dia dibully Melly and the gank waktu itu? Mario muncul malah menambah masalah. Dia memang tak berubah. Dari dulu dia selalu bertindak sebelum tau apa sebenarnya permasalahannya. Tapi dulu dia benar benar melindungi Seli. Tapi kali ini, kesalahpahaman kali ini, membuat Rendy babak belur. Tak bisa kah dia bertanya apa permasalahannya pada Seli? kenapa dia selalu bertibdak sesuka hatinya tanpa tau jelas masalahnya. Dia memang tak berubah.
"kalian ga masuk kelas?"
"Gue akan disini aja sama Rendy. Ada yang mau gue bilang sama dia. Lagi pula guru les terakhir di kelas kami sedang sakit. Dia ga masuk."
"kalau gitu, Gue dan Mira tunggu di luar ya."
"Ren, gue sama sekali ga bermaksud buat lo kaya gini"
"Ini bukan salah lo Sel. Kak Rendy yang buat gue kaya gini" Jawab Rendy tak melihat Seli sedikit pun. Dia berbaring menatap langit langit ruangan. Badannya lemas dan wajahnya penuh memar, serta bibir yang berdarah.
"Ini semua ga akan terjadi kalau bukan karena gue kan Ren" Seli menahan air matanya.
"Bukan salah lo Sel"
"Maafin gue ya Ren. Suatu saat kalau kita ketemu lagi, gue harap gue bisa ngeliat lo bahagia"
"Ternyata syarat untuk bisa dekat sama lo harus siap mental dan fisik ya Sel"
"maksud lo"
"Memang cuma Vito yang bisa diposisi itu. Gue cuma anak bola kaki yang tak bisa bela diri. Lagi pula, siapa yang berani melawan anak anak karate yang jumlahnya tidak sedikit kaya mereka? kalau pun gue ga kalah jumlah, gue pasti tetap kalah juga sel. Gue memang ga berguna. laki laki macam apa gue ini"
"Maafin Gue Ren. Gue janji ini penindasan terakhir dari kak Mario." Seli melihat ke langit langit ruangan. Menahan air matanya agar tidak jatuh. Tidak ada yang boleh melihatnya menangis. Termasuk Rendy. Dia wanita kuat dan dia sama sekali tak ingin terlihat lemah saat ini.
Sudah berjam jam Seli berada di taman kota. Sudah lama sekali rasnya dia tidak ke tempat itu. Tempat yang selalu bisa membuatnya tenang. Tempat yang selalu dia kunjungi dikala tak tau harus mengadu kepada siapa lagi setiap masalahnya.
__ADS_1
Wajahnya masih di terpa Sinar keemasan senja. Tapi dia hanya menatap lurus tanpa ekspresi di wajahnya. Rasanya ingin sekali dia menangis tapi ini bukan tempat yang tepat. Terlalu umum untuk menangis baginya. Lagi pula, hari ini tidak ada hujan. Tak ada yang bisa menghapus jejak tangisannya. Tapi dibalik semua itu, hatinya menangis walau tanpa air mata yang menetes dipipinya. Dia masih melamun sampai akhirnya memperbaiki posisi duduknya lalu mengambil ponselnya.
Ada pesan masuk pukul 1 siang tadi. Tapi hari ini dia benar benar tak mengecek ponselnya sama sekali. Dia mengabaikan momen yang istimewa.
"Halo Sel selamat siang. Ini sabeum Mark. bapak disuruh untuk memberi kabar dari Vito kalau dia akan tanding hari ini. Dia partai 41 jadi mungkin dia main selesai makan siang. Sekitar jam 3 atau setengah 4 sore dia akan tanding. Harap datang ya... hanya kamu yang bisa buat Vito semangat. Ditunggu kehadirannya. Terimakasih"
"Vito tanding hari ini?" Seli beranjak berdiri. sekarang sudah jam setengah 5 sore. Dia terlambat. Dia segera bergegas sambil mengambil tasnya. secepat mungkin naik ke taksi. Butuh waktu 45 menit untuk sampai disana. Sial! bagaimana mungkin dia mengabaikan momen penting Vito.
45 menit kemudian setelah sampai disana, sudah tidak ada apa pun disana. Pertandingan bahkan sudah selesai. Tak ada lagi orang di gor. Semua sudah bergegas pulang. Dan Seli ketinggalan itu semua. Vito pasti kecewa padanya.
Seli hanya bisa berbalik dan hendak pula juga. Tapi Sabeum Mark memanggilnya. Sabeum Mark melihat Seli yang masih berseragam lengkap hendak pulang
"Seli" panggilnya. Seli menoleh. Melihat Sabeum Mark berjalan mendekat.
"Kamu kenapa baru datang?"
"Aku..." Seli tak tau harus menjawab apa.
"Sudahlah itu tidak penting. Vito menang. Dia masuk Final."
"Benarkah?"
"Iya. Kebetulan Peserta di kelasnya banyak. Jadi dia bertanding 6 kali untuk sampai Final. Dia kelelahan Sekali sel. Hampir tak punya tenaga lagi di pertandingan terakhir."
"Dimana dia sekarang?"
"Para atlet sudah kembali ke penginapan Sel. Kamu harus datang di Final nanti. Dia terlihat kecewa sekali kamu tak datang menontonnya. dia bahkan hampir kalah di pertandingan terakhir ini."
"Apa kita punya harapan kalau dia menang?"
"Pasti. kita pasti punya harapan dia bisa menang walau lawannya sangat menakutkan"
"Siapa lawannya?"
"Dia ketemu dengan Pemain dari negeri asal Taekwondo"
"Korea?"
"Benar. Dia adalah lawan Vito di final saat pertandingan yang dulu Vito menangkan juga sebelum akhirnya dia vakum dari taekwondo."
"Lawannya sangat takut pada Vito sel. Tapi, sejak kalah dari Vito, dia latihan lebih serius dan mencari Vito disetiap pertandingan internasional yang dia ikuti. Tapi Vito tidak pernah muncul. Dan kali ini 2 pemain terbaik itu akan kembali merebut medali emas. Ini akan menjadi pertarungan yang gesit Sel."
"hadirlah sebagai penyemangat Vito sel"
__ADS_1