
Rendy sedang menunggu Brimus. Di sudah di lapangan bahkan sudah pemanasan. Karena belum juga datang, Rendy lanjut latihan di lapangan.
Tak seperti biasanya, lapangan hari ini cukup ramai. Sebenarnya Rendy agak terganggu dengan keramaian ini. Tapi, tidak mungkin dia mengusir orang orang ini. Karena lapangan ini bukan miliknya seorang.
Tiba tiba seorang merebut bola dari kakinya. Dan bola itu kemudian dia tendang dan mulai bermain dengan teman temannya. Tanpa memperdulikan Rendy yang bingung mengapa bola itu tiba tiba direbut darinya. Padahal itu bolanya. Dia yang bawa bola itu dari rumah tadi.
"Sial. siapa sih orang orang brengsek ini"
Rendy kembali bermain di lapangan. Dia mulai mengejar dan mengotek untuk mendapatkan bolanya kembali. Tapi tak semudah itu. Mereka banyak dan itu yang membuat Rendy kesulitan mengambil alih bolanya.
"Apa apaan mereka? itu kan bola ku?"
kembali dia berusaha merebut bolanya. tapi mereka malah main fisik dan membuat Rendy jatuh.
"Woi! pada ngapain sih? ganggu aja!"
"Emangnya bolanya punya lo?"
"Iya itu bola gua."
"Nih" Seseorang melempar bola itu ke arahnya dan membentur kepalanya.
"Maksud lo apa?"
"Maksud lo yang apa bawa Seli ke tempat berbahaya"
"Apa urusan lo sama Seli? Peduli amat lu"
"Kami semua yang berdiri disini, Bagian dari Mario. Kalau Mario marah, kami juga ikut marah. Lu buat dia murka. Dia ga terima lu membahayakan Seli. Dan lu, lu harus dikasih pelajaran supaya lain kali lo ga ngelanggar perintah Mario"
"Bangsat. Mario brengsek" Rendy teriak dan langsung disambut dengan satu tendangan dari anggota Mario.
__ADS_1
"Berani beraninya dia menindas orang tak berdaya" Rendy bangkit berdiri kemudian pergi meninggalkan mereka. Dia sadar, dia bukanlah Vito yang sanggup melawan mereka semua. Dia hanya olahraga tanpa ilmu bela diri. Dia tidak mungkin menang melawan mereka yang jumlahnya berkali kali lipat lebih banyak darinya. Dia juga bahkan tak punya keberanian untuk melawan mereka. Sungguh sifat yang bertolak belakang dengan Vito. Dia berjalan pergi kemudian Dia duduk di tribun. Brimus yang baru datang langsung mendatanginya ke tribun.
"Lo ga latihan?"
"lu liat kan. lapangan ramai. Mereka semua bagian dari Mario"
"terus?"
"Apa gue sebodoh itu?"
"Maksud lo?"
"5 tahun gue nyimpan rasa sama Seli tapi, gue ga pernah bisa mendapatkannya. Yang gue dapat malah bully an."
"Lo diganggu sama mereka?"
"Gue gapapa ga dapat balasan cinta dari Seli tapi setidaknya jangan bully gue cuma karena gue suka sama dia. Biar gue jadi pengamat Seli dari jauh. Walau gue tau, selama apa pun gue mengamati dia dari jauh, gue ga akan pernah bisa memilikinya. Tapi gue iklas asal dia bahagia." Rendy masih meneruskan kalimatnya tanpa memperdulikan Perkataan Brimus. Dia menatap lurus tanpa dia sadari air matanya jatuh ke tangan yang ada dipangkuannya.
"Apa gue terlihat sebodoh itu?" Rendy menoleh pada Brimus. Sedari tadi Brimus diam mendengarkan curhatan hati Rendy.
"Lo terlihat kaya orang depresi sekarang."
"Sekarang belum. Tapi entah nanti malam. Ku harap aku tak benar benar depresi"
"Lu mau pulang?"
"Sepertinya akan lebih baik seperti itu" Rendy menanggapi.
ternyata hal yang lebih buruk selain cinta yang bertepuk sebelah tangan itu adalah pembullyan yang dialami Rendy. Semua ini hanya salah paham. Mengapa orang orang suka sekali salah paham seperti itu? Mengapa orang orang tak pernah mau mendengar penjelasan? Posisi Rendy saat ini adalah korban. Dia tak tau bahkan tak pernah berpikir kalau membantu Seli akan berujung seperti ini.
Saat ini dia duduk di jendela kamarnya. Baru selesai mandi. Bahkan Air dari rambutnya masih menetes. Ia mendongak melihat langit. Banyak bintang yang berterabaran disana. Bulannya juga indah. Rasanya tenang sekali melihat langit yang seperti itu dari lantai 5. gedung gedung tinggi dan kerlap kerlip kota terlihat indah. Memang apartemennya berada di lantai 5 dan kamarnya adalah tempat paling cocok melihat semua keindahan ini.
__ADS_1
Dia masih merenungi semuanya. Dia tak mengerti akan serunyam ini masalahnya. Dia bahkan tak punya ke beranian untuk ke sekolah atau pun ke lapangan untuk saat ini.
"Tring!" ponselnya berbunyi. Dia segera melihatnya.
(Tegar)
Gua dengar dengar lo bawa Seli ketempat berbahaya ya? sebenarnya lo mau apa sih? Kalo Seli sampai kenapa napa, gua buat lo babak belur
(Budi)
woi brengsek, lo ngapain bawa adeknya Mario ke cafe itu? mau mati lo?
(Thomas)
kalo Seli kenapa napa, gua patahin kaki lo"
"Tegar, Budi dan Thomas? mereka kan anak anak karate yang satu club sama Mario. Dan Tegar, Gua kenal dia. Dia kan orang yang juga suka sama Seli. Bahkan Mario pernah menjodohkan mereka. Kacau! gue bahkan ga dikasih ketenangan. Gue diserang dari segala arah."
"Trriririririringggg tririririring tririririrngg" Panggilan masuk.
"halo"
"Woi brengsek! lo-"
Rendy langsung Menutup telfonnya setelah tau siapa yang menelfonnya. Itu tak lain adalah Tegar. Sial. Ponselnya kembali berbunyi. panggilan masuk. Itu nomor Tegar. Dia tak mengangkatnya sampai 5 kali. Ponselnya kembali berbunyi. Itu bukan nomor Tegar. Entah siapa yang menelfonnya kali ini. Atau jangan jangan itu Tegar yang menelfon dari nomor lain?
Banyak sekali panggilan masuk ke ponselnya malam ini. Dia bahkan ingin membanting ponselnya karena tak henti hentinya berbunyi. Dan semua nomor yang menghubunginya adalah nomor tak dikenal. Dia lelah dengan semua itu kemudian memutuskan untuk me non-aktifkan ponselnya. Setidaknya dia harus tenang dan besok, besok entah apalagi yang akan dilakukan Mario dan kawan kawannya.
Dia turun dari jendelanya. mengusap wajah dan rambutnya kasar. Berpikir bagaimana dia meluruskan salah paham ini. Dia bahkan tak diberi cela sedikit pun. Dia harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ini. Dia duduk di meja belajar sambil berpikir. Tapi dia tak memiliki ide apa pun untuk saat ini.
Dia beranjak dari meja belajarnya. Dia terlihat tak tenang hingga terus mondar mandir. Dia bahkan baru tau jika Seli memiliki banyak pengagum rahasia. Termasuk dia. Dan kelihatannya semuanya orang hebat. Apa cuma dia yang terlihat paling menyedihkan dan pengecut?
__ADS_1
Dia segera menepis pemikiran itu samb terus mondar mandir. Tak seharusnya dia memikirkan itu saat ini. Fia harus memikirkan solusi untuk masalah ini bukan malah membuat pikirannya semakin runyam dan menambah beban pikiran itu.