
Seli berjalan dan melihat Vito berada di depannya. Vito menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Dan dengan segera Seli mengalihkan pandangannya. bagaimana pun yang ada di hadapannya itu bukan Vito yang dia kenal. Orang itu tak lebih dari seorang pencinta kekerasan yang suka berkelahi. Seli tidak suka orang seperti itu. Dia pencinta damai. Dia lebih suka mengalah daripada berkelahi
Seli melanjutkan jalannya. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan. jika Vito melakukan kekerasan padanya saat berpapasan nanti, dia akan berteriak sekencang kencangnya. lagi pula tak ada jalan lain untuk menghindar. Sekolah ini hanya memiliki satu gerbang. dan dia, si bruntal itu tepat berada di sisi gerbang. lagi pula perkelahian yang dia saksikan itu sudah beberapa hari yang lalu. nyaris seminggu berlalu
Seli melangkahkan kakinya dengan sedikit ragu. tapi dia menenangkan hatinya kalau tidak akan terjadi sesuatu. tapi semakin dia menenangkan hatinya, dia bahkan semakin mengingat kekerasan yang pernah dia terima. Pembullyan itu seperti kilas balik dalam otaknya. kaki nya melangkah gemetar. Dia sangat takut. Tapi dia selalu meyakinkan dirinya tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.
tinggal satu langkah lagi dia akan berpapasan dengan Vito. jantungnya berdegup kencang sekali sama seperti wakti Melly menunggunya di gerbang itu. menampar pipinya. Dia tidak tau apa yang akan Vito lakukan. Yang pasti di otak Seli, Vito adalah orang yang menyeramkan.
Dia sudah berjalan dan melewati Vito. tidak terjadi sesuatu apa pun. dia kembali lega karena tidak terjadi apa pun padanya. Sedangkan Vito, dia dengan jelas melihat Seli berjalan gemetar takut melewatinya. Tadinya dia hendak menahan Seli dan menjelaskan padanya kesalahpahaman itu. Tapi melihat Seli yang berjalan gemetar di hadapannya membuatnya mengurungkan niatnya. Dia tau Seli sudah salah paham terhadapnya. Seli sudah menganggapnya sebagai seseorang bruntal yang menyeramkan.
"Sel!" Seli berhenti dan menoleh ke belakang. Suara yang memanggilnya itu teramat dia kenal
"lho Mira? lo ga jadi ekskul musik?"
"engga tuh. malas. kita kan lagi banyak tugas. gue baru aja izin. makanya baru keluar"
"oh gue kira lo jadi ikut ekskul makanya gue duluan"
"eh ngomong ngomong lo kenapa ga sama kak Abrian? jangan-jangan..." kata Mira sambil melanjutkan perjalanan mereka.
"kita ga bertengkar Mir. lo kenapa sih tiap gue ga pulang bareng kak Abrian lo kira kami bertengkar?"
__ADS_1
"ya kali kali aja kan. seromantis dan seakur apa pun suatu hubungan ga jadi jaminan kalau ga bertengkar tau ga"
"iya gue tau Mir"
"Ditambah lagi kak Abrian yang seperti itu"
"seperti itu maksud lo gimana sih?"
"lo ga tau ya? kak abrian itu kan dulunya playboy"
Seli memutar bola matanya malas. " yah, gue baru tau sih dari lo. tapi itu kan dulu. beda sama sekarang. lagian kan dia udah punya cewe" jawab Seli positif.
"Ya memang sih. lo belum jawab tuh kenapa lo ga bareng kak abrian"
"oh ya? kok gue ga tau?"
"ya iyalah. lo juga kan beberapa hari ini ada rapat ekskul"
"oh iya ya lo bener juga"
"mungkin dalam minggu ini gue ga pulang bareng kak Abrian. gue pulang bareng lo"
__ADS_1
"bisa aja sih lo pulang bareng gue. tapi lo wajib traktir bakso"
"ya elah sejak kapan persahabatan kita dibayar dengan semangkok bakso?" jawab Seli tertawa dan langsung dibalas tawa oleh Mira.
Sama seperti hari hari hari yang lalu, Seli selalu saja menghindari Vito. entah itu di taman atau di sekolah. Sama seperti hari ini. Dia sudah sampai di taman tapi masih mengendap endap apakah Vito menunggunya atau dia tidak datang. Jika dia tidak datang, Seli bisa bebas di bangku tempat dia biasa. Tapi jika Vito ada, dia padti langsung balik kanan dan segera meninggalkan taman kota.
Taman kota ricuh. Banyak orang berkerumun. beberapa yang berlalu lalang berhenti sejenak menyaksikan "perkelahian?" sungguh bukan waktu yang tepat. Mengapa ada perkelahian di taman saat Seli hendak melintas. Seli memutar bola matanya dan hendak berbalik meninggalkan taman. Dia benci perkelahian dan kekerasan apa pun itu.
Saat hendak berbalik, dari kejauhan dia melihat seseorang yang dia kenal. orang itu berada di tengah tengah kerumunan. Bertarung melawan 3 orang lelaki. Gerakan gesit. Menguasai gerakan dengan baik "Vito?"
kembali Seli menyaksikan Vito bertarung. Sebelum Vito menyadari Seli berada di tempat itu, Seli sudah terlebih dahulu meninggalkannya.
"hah! itu pertarungan keberapa lo? gue harap gue ga kenal sama orang bruntal penuh kekerasan kaya lo"
Vito masih terus bertarung. Gerakannya sangat lincah. Tentu saja. setiap hari dia latihan. bukan untuk bisa bertarung dalam turnamen internasional lagi. Tapi dia hanya untuk melawan di jalanan. Jangan salah paham. Dia tidak sebruntal itu. Dia tidak akan menyerang siapa pun jika tidak dipancing. Tapi jika ada yang mencari masalah dengannya dia pasti langsung meledak ledak seperti itu.
Cari masalah dengannya bukan dengan cara mengganggunya. Tapi dengan melakukan kekerasan pada wanita di hadapannya. Siapa pun wanita itu, jika dia melihat lelaki melakukan kekerasan padanya, dia akan sangat marah. Tidak ada lelaki brengseng yang bisa melakukan kekerasan pada wanita di depannya.
hanya itu dan Sesimpel itu. Itu lah yang hendak dia jelaskan pada Seli. Tapi Seli, dia sudah terlanjur salah paham. Dia sudah melihat Vito sebagai seorang bruntal yang suka bertarung. Sebagai preman jahat. Tapi dibalik itu, Vito orang yang baik. Dia hanya ingin melindungi wanita dari kekerasan lelaki brengsek. Bukan karena dia suka bertarung.
Dia tidak mau ada wanita lain yang tersakiti. Orang orang memang sering salah menilainya. tapi orang yang sudah kenal dengannya, tau sekali bahwa dia tidaka akan bertarung jika bukan untuk membela wanita. Itu lah mengapa orang orang tidak membantu Zohan saat di lapangan Futsal. Mereka tau Vito tidak akan mencari masalah secara tiba tiba jika bukan untuk membela wanita dan melindunginya
__ADS_1
Vito sudah selesai bertarung. pinggir bibirnya berdarah. Tapi dia tetap menang melawan tiga orang tadi. Saat ini dia sedang berada di sebuah makam. berdiri di dekat makam itu dengan tangan tersimpan di saku celananya, menatap batu nisan bertuliskan nama "Mawar" Sepertinya, wanita itu sangat berharga bagi Vito. Dia yang biasa dengan ekspresi datar, tapi di hadapan makam itu terlihat jelas matanya sendu. Seperti seseorang yang kecewa atau merasa bersalah. entahlah. tak tergambarkan apa yang dia rasakan. Tak terbilang apa yang dia pendam.