Please Come Back

Please Come Back
~55~


__ADS_3

"mudah mudahan sih lo ga pingsan disana"


"Ga mungkin lah" Seli masih memejamkan matanya sambil bersandar di bangku taksi"


"Mana bisa sembuh kalo lo makan ga teratur istirahat juga kurang"


"Mbak Citra dimana sih? kok bisa dia ga tau lo sakit?" Tanya Mira lagi


"Belakangan ini kan gue pulang sore. Jadi sewaktu mbak Citra sibuk sibuknya nyuci piring dan kebersihan setelah masak untuk makan malam, disitu gue pulang. Ngambil makanan terus masuk ke kamar."


"Gue harus bilang nih sama mbak citra"


"Udah lah. Ga penting. Nanti mbak Citra khawatir berlebihan. Tadi kue dan buket nya ga lupa di naikin kan."


"Tenang aja. Ada kok. Emangnya kita nemui Vito dimana?"


"Di penginapan dekat Gor"


"Udah sampai tuh."


"Rame juga ya. Pada ngejemput juga?"


"Itu atlet dari negara lain juga bercampur jadi kelihatan rame. Kayanya mereka juga mau pulang"


"Iya lo benar juga sih. Sambil jalan gue nelfon Vito dulu ya"


"Lo bawa buket aja biar gue yang bawa kuenya. Biar lo ga susah"


"thank you" Seli memberikannya.


Panggilan keluar. Tidak diangkat.


"Vito dimana sih?"


panggilan keluar. Tidak diangkat.


"masih belum diangkat?"


"ya udahlah ga usah ditelfon lagi. Kita juga udah mau sampai kok" Seli mengantungi ponselnya.


"Emangnya lo tau kamarnya yang mana?"


"Itu tuh. Kamar yang pertama dapat katanya"


"Tapi tutup tuh. Dia ada ga sih?"


"Kita ketuk aja" Seli mulai mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


"Apa kita langsung masuk aja?" seli bertanya karena tak ada jawaban dari dalam.


"Ya udah deh. lama kalau nunggu lagi kan" Mira langsung membuka pintunya.


"Dia di balkon." Seli berbisik.


"kita buat dia kaget"


"Seli?" Vito menoleh.


"Yah gagal dong buat lo kaget" Mira kesal.


"haha maaf maaf." Vito bersandar di pagar balkon.


"Wah nyaman juga ya penginapan kalian" Mira melihat sekeliling.


"bahkan ada balkonnya. Apa semua atlet kaya gini?" Mira bertanya lagi.


"Namanya juga mewakili Negara Mir. Pasti dikasih yang terbaik dong." Seli menjawab.


"Congratulation on the win" Seli menghampiri Vito sambil membawa Buket ditangannya. posisi mereka sekarang hadap hadapan.


"Ckrek"


"lo ngapain?" Seli dan Vito menoleh setelah mendengar bunyi itu.


"Bilang dong. buat kaget aja" Seli mendengus.


"lebih dekat lagi deh. Hasilnya bagus lho foto di balkon ini" Mira mengibas ngibaskan tangannya di udara bagaikan polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Seli dan Vito merapat. Seli masih memegang buket dan Vito merangkul bahunya.


"Ckrek"


"wuh bagus baget. Jadi iri deh"


"haha apaan sih lo. Makanya jangan terlalu judes biar dapat pacar" Seli tertawa. Kemudian memberikan buket itu pada Vito. Mereka semua terlihat bahagia. Memang tidak bisa dipungkiri kalau Vito dan Seli memang bahagia dengan hubungan mereka.


"Nih sel. Kue nya. Lo bisa suap Vito pake ini"


"wah, seketika jadi sedramatis ini ya bund" Seli tertawa kemudian menyuap Vito dengan kuenya. Tak lupa Mira mengabadikan momen itu. Sebenarnya sedari tadi juga dia sudah mengambil banyak foto mereka berdua.


"Gantian dong fotonya. Fotoin gue juga dong" Mira menyerahkan kameranya.


"Gue jadi kangen sama kakak" Vito menatap lurus dengan mata sendu kemudian berkaca kaca. Baru kali ini Seli dan mira menyaksikan itu. Vito yang disegani juga rapuh jika itu menyangkut mereka yang dia sayangi.


Vito kemudian memeluk Seli dan menumpahkan Kesedihan sekaligus kerinduannya disana.


"Terimakasih udah berada diposisinya"

__ADS_1


***


"Bisa tinggalkan aku sendiri sebentar?" Kata Vito pada Seli dan Mira. Seli segera meletakkan buket di atas makam kakak Vito kemudian pergi menjauh beberapa meter darinya. Mereka sama sekali tak ada niatan untuk berkunjung ke makam kakak Vito tadinya. Jadi sama sekali tak ada persiapan. Dan sebagai gantinya, Seli menaruh buket yang seharusnya untuk Vito itu. Dia tau, Vito juga butuh waktu untuk sendiri. Biarlah dia menumpqahkan kesedihan dan kerinduannya itu.


"Selamat Vito! aku yakin kakak pasti bilang seperti itu"


"Apa kakak bangga padaku? Aku sudah kembali merebut medali emas seperti bertahun tahun lalu"


"Aku bahkan bertarung tanpa kehadiran kakak. Tanpa semangat dan tanpa mendengar teriakan pemberi semangat dari kakak"


"Aku rindu ucapan dari kakak"


"Surprice dari kakak"


"Bercanda dan tertawa"


"Belanja di supermarket kemudian akhirnya tak jadi membeli dan menaruh barang yang tadi kita ambil di sembang tempat. Kakak ingat itu?" Vito tersenyum tipis.


"Aku rindu semua itu kak. Apa itu semua bisa diulang kembali? kenangan masa kecil yang indah itu, apa bisa diputar kembali?"


"Jika punya kesempatan, aku ingin srkali bisa melihat kakak lagi. Walau sebentar tapi aku yakin rinduku bisa terobati. Walau setelah itu aku yakin hatiku lebih sakit dari sebelumnya."


"Kak, Sekarang aku sudah menemukan orang yang sama persis kaya kakak"


"Andai kakak masih disini, mungkin kalian berdua adalah wanita yang paling kusayang di dunia ini"


"Bertahun tahun tanpa kakak, hidup terasa sangat hampa. Tanpa kasih sayang orang tua, tanpa teman, dan tanpa kakak. Selama ini hanya kakak yang sayang padaku. Orang orang memang tak menyayangiku. Bahkan tidak untuk melirikku saja"


"Aku bahkan tidak mendapat kabar apa pun dari orang tua kita sejak kakak pergi. Hanya uang yang mereka kirim sambil sesekali menelfon. Hidupku terasa perih sekali. Jika aku bisa mengucapkan 1 permohonan yang bisa dikabulkan Tuhan, Aku akan meminta kakak kembali. Please come back.


"kakak adalah temanku. Dan setelah kakak pergi, aku tidak memiliki satu orang teman pun. Bahkan sekedar berbagi cerita atau sekedar saling menyapa. Tak seorang pun yang kupunya.


"Tapi sekarang kakak Tak perlu khawatir, aku sudah menemukan seseorang yang spesial."


"Dia sangat berharga bagiku. Sama seperti kakak. Sifat tegar kakak, ramah dan murah senyum. Semua sifat kakak ada padanya. Terkadang aku seperti melihat kakak dalam dirinya. Semua sifat itu membuatku cinta padanya. Apa kakak merestui hubungan kami? Aku yakin kalau kakak masih ada disini, kakak pasti mendukung kami seratus persen."


"Harapanku cuma satu. aku harap Dia tidak meninggalkan aku seperti kakak"


"Tapi itu tidak akan terjadi kan kak"


"Dia akan menemaniku sampai kapan pun. Sampai maut memisahkan kami secara paksa."


"Terimakasih sudah mendengarkan curhatanku hari ini kak."


"Kak, Aku akan kembali lagi kesini di lain waktu. Terimakasih sudah menjadi kakak terbaik untukku walau hanya sebentar. Tapi aku tetap bersyukur dan bahagia. Terimakasih" Vito segera meninggalkan makam kakaknya setelah mengusap air mata dipipinya kemudian menghampiri Seli dan Mira.


"Kita makan siang dulu?"

__ADS_1


"Boleh" Seli, Mira dan Vito segera menaiki taksi yang mereka tumpangi tadi. Mereka menyuruh taksi tersebut menunggu.


__ADS_2