Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 11. Jorok


__ADS_3

Zanaya merasakan sesuatu yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya, belum pernah ia seperti ini sebelumnya dan ia tak mengerti apa yang terjadi.


Tak lama, tubuhnya seperti mengeluarkan cairan yang membuat kursi di bawahnya basah. Zanaya pun amat malu dan segera menutupi pahanya.


"Kak, tuh kan gara-gara kakak aku jadi pipis disini! Kakak sih gak mau udahan!" kesal Zanaya.


"Bukan pipis sayang, itu namanya cairan enak. Tandanya lu udah mulai suka sama permainan gue, pasti ini pertama kalinya ya? Lu belum pernah begini kan?" ucap Refal.


Zanaya menggeleng tanda bahwa ucapan Refal benar adanya, tentu saja Refal langsung tersenyum tipis dan mengeluarkan jarinya.


"Uhh lihat ini sayang!" ujar Refal.


Pria itu memperlihatkan jarinya yang basah akibat cairan milik Zanaya, tanpa ragu ia menjilat jari itu di hadapan Zanaya sampai bersih tak bersisa.


"Ish, kakak jorok banget sih! Itu kan abis dimasukin ke punyaku, masa dijilat?" ujar Zanaya.


"Gapapa Zanaya, ini enak kok. Sekarang gue mau coba yang lain lagi," ucap Refal menyeringai.


"Apa lagi sih kak? Udah ah aku pengen fokus makan, jangan ganggu dong!" ucap Zanaya.


"Sssttt kamu diam aja baby! Nikmati dan jangan banyak gerak!" perintah Refal.


"Ta-tapi kak—"


Refal merendahkan posisi tubuhnya, ia masuk ke kolong meja makan dan berlutut di hadapan Zanaya sembari membuka dua kaki gadis itu.


"Ih kakak mau ngapain? Jangan begini kak, aku mohon!" rengek Zanaya.


Namun, Refal tak mendengarkan ucapan adiknya. Ia menahan kedua paha Zanaya agar terus melebar dan memperlihatkan milik gadis itu.


"Waw sangat indah! Siap-siap ya Zanaya!" ucap Refal terpukau melihat milik sang adik.


"Mmhhh siap-siap apa? Emang kakak mau ngapain?" tanya Zanaya cemas.


Pria itu melancarkan aksinya, ia mendekatkan kepalanya ke milik Zanaya dan menyusupkan lidahnya pada area sensitif tersebut.


"Ahh kakak ngapain ahh??" Zanaya terkejut dan spontan menutupi mulutnya.


Gadis itu benar-benar dibuat kalang kabut oleh permainan lidah Refal, rasanya sungguh enak dan membuat tubuhnya bergetar hebat.


"Kak udah ahh!!" pinta Zanaya.


Refal tetap tak perduli dengan ucapan Zanaya, ia terus membenamkan kepalanya menikmati milik Zanaya dengan brutal.


Lagi-lagi Zanaya berhasil mencapai puncak akibat ulah lidah Refal, tak terhitung betapa basahnya kursi yang ia duduki saat ini.


"Haaahhh haaahhh please udahan kak, jangan lagi!" ucap Zanaya memohon.

__ADS_1


"Enak kan Zanaya? Masa lu mau udahan sih? Ini baru awal dari sebuah kenikmatan," ucap Refal.


"Kakak mau apa lagi? Jangan kak!" mohon Zanaya.


"Gue pengen masukin lu, punya gue udah tegang banget nih gak sabar buat main sama lu disini!" ucap Refal menyeringai.


"Jangan kak, please jangan!" rengek Zanaya.


"Kenapa sih lu gak mau? Ini enak kok, gue jamin lu bakal kelojotan nantinya!" ucap Refal.


"Aku tahu kak, tapi aku gak mau menyesal di kemudian hari. Aku pengen serahin mahkota aku buat suami aku nanti," ucap Zanaya.


Refal bangkit dari posisinya dan mencengkram rahang Zanaya sembari menatapnya tajam.


"Gue yang bakal jadi suami lu Zanaya, karena gue gak akan biarin orang lain sentuh lu! Paham?" ucap Refal dengan tegas.


"Kakak ngomong apa sih? Mana bisa kakak jadi suami aku? Kita ini saudara, walaupun bukan kandung tapi tetap aja saudara," ucap Zanaya.


"Lu nurut aja Zanaya!" perintah Refal.


"Aku mau nurut sama kakak dalam hal apapun, kecuali yang ini. Sekarang please udahan kak!" sentak Zanaya.


Refal terus menatap wajah adiknya, namun perlahan-lahan ia luluh dan melepaskan Zanaya.




Ia membuka matanya dan mendapati Refal tengah bermain pada puncak bukit kembarnya, pria itu menghisap juga memelintir sangat brutal.


"Eenngghh uhh.." de-sah Zanaya tak tertahan.


Zanaya berusaha menarik kepala Refal agar menjauh dari miliknya, tetapi usahanya sia-sia karena Refal begitu kuat.


"Ahh kaakkhh udah cukuphh!!" pinta Zanaya.


Namun, bukan Refal namanya jika menurut. Ya pria itu malah semakin brutal menghisap bukit itu sampai meninggalkan bekas merah.


Plop


Akhirnya Refal mengakhiri semua itu, ia mendongak lalu tersenyum menatap wajah Zanaya yang penuh keringat.


"Kamu makin cantik dan seksi sayang kalo lagi keringetan begini!" puji Refal.


"Kak, kakak apa-apaan sih? Kenapa kakak lakuin ini ke aku?" tanya Zanaya.


"Maaf Zanaya! Gue udah gak bisa tahan lagi, gue pengen nen sama lu," jawab Refal.

__ADS_1


"Ish, tapi gak sekarang juga kali!" sentak Zanaya.


"Berarti kalau nanti-nanti boleh dong?" tanya Refal.


Zanaya memalingkan wajahnya yang memerah, tatapan dan ucapan Refal saat ini amat membuatnya tersipu juga tergoda.


"Iya boleh, ta-tapi sekarang kakak lepasin aku dulu! Aku harus pergi sekolah kak," jawab Zanaya.


"Good girl!" Refal bangkit melepaskan tubuh Zanaya dari kungkungannya.


"Mau mandi bareng?" tanya Refal lagi.


Zanaya sontak menggeleng sembari merapihkan piyamanya yang berantakan akibat kelakuan Refal.


"Kenapa enggak?" tanya Refal kecewa.


"Aku udah besar kak, malu lah kalau harus mandi bareng sama kakak. Emangnya kakak sendiri gak malu apa?" jawab Zanaya.


"Buat apa malu? Toh kita udah saling lihat tubuh polos kita satu sama lain, bahkan saling hisap. Bukan begitu Zanaya?" kekeh Refal.


Lagi dan lagi Zanaya dibuat bersemu oleh ucapan Refal, ia reflek memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kamu gausah malu-malu gitu, aku tahu kamu sebenarnya pengen kan mandi sama aku terus lihat si Bajang lagi?" ucap Refal menggodanya.


"Hah? Siapa Bajang?" tanya Zanaya keheranan.


"Ya punya gue lah, namanya Bajang alias besar dan panjang. Lo pengen kan lihat dia lagi dan sentuh dia?" jawab Refal.


"Ish, kakak mesum! Aku gak ada ya bilang kayak gitu, udah sana kakak keluar dari kamar aku!" sentak Zanaya mengusir kakaknya.


"Iya iya, ini gue mau keluar kok. Lo mandi yang bersih, abis itu turun kita sarapan bareng-bareng! Gue udah beliin nasi uduk buat lu," ucap Refal.


"Tumben kakak baik, biasanya gak pernah kakak siapin sarapan buatku," ucap Zanaya heran.


"Sekali-sekali mah gapapa kali, itung-itung terimakasih karena lu udah puasin si Bajang kemarin," ucap Refal tersenyum.


"Ih malah bahas begituan lagi! Dah ah aku mau mandi dulu!" kesal Zanaya.


Gadis itu langsung bangkit, mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi meninggalkan Refal begitu saja dengan ekspresi gembiranya.


"Untuk sekarang lu masih bisa selamat Zanaya, tapi nanti pasti gue bakal jebolin perawan lu!" batin Refal.


Setelahnya, Refal pun keluar dari kamar sang adik sesuai perkataannya tadi.


Seperti biasa, ia akan menyelesaikan semuanya dengan solo karena Zanaya sedang mandi dan tidak mau diganggu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2