
Refal manggut-manggut dan mulai berbalik lalu pergi meninggalkan Inah, meski berat ia terpaksa melakukan itu karena tidak mungkin juga ia berlama-lama disana. Refal pun keluar rumah, ia langsung masuk ke mobil yang sudah disiapkan dan mulai berkendara.
Tapi naas, saat di tengah jalan dirinya justru hampir bertabrakan dengan sebuah mobil yang juga melintas dari arah berlawanan. Akibatnya, perjalanan Refal pun terganggu dan ia harus turun dari mobilnya untuk memastikan kondisi orang yang tadi hampir ia tabrak.
"Hey, are you okay?" tanya Refal sembari mengetuk kaca mobil tersebut.
Tiba-tiba kaca itu terbuka dan seorang perempuan di dalamnya menatap wajah Refal sambil berbicara, "Ya, i'm okay. Sorry about that." suara gadis itu sangat lembut sampai membuat Refal terpesona.
"Gila, cantik banget nih cewek!" batin Refal.
"Umm, do you need my help?" tanya Refal pada si wanita yang ada di dalam mobil.
Gadis itu menggeleng pelan, "No, i'm fine. I don't need your help," jawabnya singkat.
"Okay, but are you really okay?" tanya Refal sekali lagi untuk memastikan.
Dan kali ini gadis itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"I'm Refal," tiba-tiba Refal mengulurkan tangannya ke arah gadis itu disertai senyum lebar dan berhasil membuat si wanita menganga heran.
"Oh okay, nice to meet you." balas gadis itu menjabat tangan Refal.
"So, what's your name?" tanya Refal penasaran.
Gadis itu tersenyum singkat, "I'm Melva," jawabnya sambil mengedipkan mata.
"Melva? Surely you're not from this country huh?" tebak Refal setelah mendengar nama gadis itu.
"Yes, I'm from Indonesia. How do you know I'm not Russian?" jawabnya pelan.
"Because you don't look like Russian, your face is more Asian," ujar Refal.
"Hahaha, you are great Refal!" ucap Melva memuji kehebatan Refal yang pandai menebak.
"Yaudah, ngomongnya pake bahasa Indonesia aja. Ribet juga bicara pake bahasa Inggris," ucap Refal sembari mendekat ke arah Melva.
Sontak Melva terkejut bukan main, ia membulatkan matanya tak percaya jika Refal baru saja berbicara bahasa Indonesia.
"Kamu orang Indonesia juga?" tanya Melva ingin memastikan.
"Tentu, masa aku bukan orang Indonesia tapi bisa bicara bahasa Indonesia? Aku ini tinggal di Jakarta sebelumnya dan sekarang aku kesini buat kuliah," jawab Refal.
"Oh wow, kita satu kota juga di Indonesia. Senang bisa ketemu orang Indonesia lagi disini," ucap Melva.
"Aku juga senang, jadi aku gak harus ribet ngomong bahasa Inggris terus," kekeh Refal.
"Omong-omong kamu kuliah dimana?" tanya Melva penasaran.
"Di Lomonosov, kenapa?" jawab Refal singkat.
Melva lagi-lagi terkejut, "Itu juga tempat kuliah aku, kok bisa kebetulan banget gini sih!" ujarnya.
"Oh ya? Wah kalo gitu kita bisa jadi teman dong? Kan lumayan akhirnya aku punya satu teman di Rusia, walau asalnya dari Indonesia juga," ucap Refal terkekeh kecil.
"Hahaha, iya aku juga senang. Tapi disana banyak orang Indonesia juga kok, aku punya tiga orang teman disana. Nanti aku kenalin deh ke kamu, kita berangkat bareng aja yuk!" ucap Melva.
"Boleh tuh, kita berangkat sama-sama deh ya kesana nya?" ucap Refal.
Melva mengangguk cepat, "Iya Refal, udah kamu masuk gih ke mobil kamu terus kita berangkat sekarang!" ucapnya.
"Sip!" Refal mengacungkan jempolnya dan berlari masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat keduanya melajukan mobil menuju kampus mereka, di dalam mobilnya Refal merasa sangat senang dan tidak sabar untuk bertemu dengan teman-temannya di kampus.
•
•
Disisi lain, Zanaya terpaksa pergi berdua dengan Alfred untuk menuruti perintah orangtuanya. Sebenarnya ia sangat malas melakukan ini, ia tidak ingin dijodohkan dengan lelaki tersebut, tapi dirinya juga tak bisa berbuat apa-apa sebab ini sudah jadi keputusan sang papa untuknya.
Berbeda dengan Zanaya yang menolak keras perjodohan kali ini, justru Alfred merasa senang dan sangat setuju jika ia dijodohkan dengan Zanaya. Ya tentu saja alasannya karena Zanaya adalah gadis yang cantik dan mempesona, meski dia sudah tidak perawan lagi.
__ADS_1
"Kok gak dimakan sih makanannya? Kasihan tahu dia cuma diaduk-aduk begitu, emang kamu mau kalau makanannya marah?" ujar Alfred.
"Kamu gausah banyak omong deh! Aku tuh gak selera makan kalo sama kamu, lagian kenapa sih kamu bukan dukung aku buat nolak perjodohan ini?! Emang kamu mau kita dijodohin?" ujar Zanaya.
"Iya dong, masa aku harus menolak dijodohkan dengan bidadari seperti kamu?" ucap Alfred.
Zanaya merasa kecewa dibuatnya, karena ternyata Alfred juga menginginkan perjodohan itu. Berarti disini hanya dirinya yang menolak, maka tentu semuanya akan sulit dan harapan Zanaya untuk menolak perjodohan itu akan semakin mengecil. Zanaya sungguh bingung tak harus apa lagi.
"Kenapa Zanaya? Kamu gak mau dijodohin sama aku? Emang sih aku gak tampan dan aku ini anak nakal, tapi aku bisa mencintai kamu dengan tulus kok Zanaya," ucap Alfred.
"Yakin kamu bisa cinta sama aku setelah tahu apa yang terjadi sama aku? Palingan juga kamu langsung pergi nanti," ujar Zanaya.
"Emang kamu kenapa Zanaya?" tanya Alfred.
"Aku sekarang sedang mengandung seorang anak, dan kamu mau tau anak ini anak siapa?" jawab Zanaya tegas.
Alfred melotot tajam, "Maksud kamu apa Zanaya? Kamu hamil? Sama siapa?" ucapnya terkejut.
"Iya Alfred, aku dihamilin sama kakak tiri aku sendiri. Itu makanya papa aku cari laki-laki lain buat dijodohin sama aku, ya supaya menutupi aib keluarga kami," jelas Zanaya.
Lagi-lagi Alfred dibuat terkejut, pasalnya orangtuanya selama ini tak pernah memberitahu padanya mengenai kejadian itu.
"Apa-apaan ini? Kok papa mama aku gak ada yang kasih tau soal ini sih?" heran Alfred.
"Mungkin mereka juga belum tahu, karena papaku yang merahasiakan ini dari mereka," ucap Zanaya.
"Sial! Berarti sama aja papa kamu jebak keluarga aku dong?!" kesal Alfred.
"Betul Alfred, papa gak mau aku menikah dengan kakak tiri aku. Itu sebabnya dia cari laki-laki lain yang bisa nikahin aku," ucap Zanaya.
"Kenapa begitu?" tanya Alfred.
"Aku juga gak tahu, tapi kelihatannya papa marah banget sama kakak tiri aku itu. Sampai papa usir dia dari rumah, sekarang aku gak tahu kabar dia kayak gimana disana," jawab Zanaya.
"Kamu cinta sama kakak tiri kamu itu Zanaya?" tanya Alfred.
Zanaya mengangguk cepat, "Jelas aja aku cinta sama dia, karena dia yang pertama dan terakhir buat aku Fred," jawabnya.
"Kok gitu sih? Harusnya kamu tuh gak setuju dong sama perjodohan ini, aku kan udah ceritain semuanya kalau aku hamil," kesal Zanaya.
"Iya Zanaya, aku emang syok banget. Tapi, aku tetap mau nikah sama kamu kok apapun kondisi kamu," ucap Alfred tersenyum lembut.
Sontak Zanaya berdecak kesal, ia benar-benar kecewa karena Alfred malah semakin ingin menikahi dirinya.
•
•
Jack kembali menemui sepupunya di tempat tinggal wanita itu, ya sudah seringkali memang Jack datang ke rumah Suci untuk sekedar curhat atau terkadang sampai juga berhubungan badan. Meski awalnya Jack menolak, namun pada akhirnya ia ketagihan juga dengan milik Suci.
Suci pun tentu sangat menikmati permainan mereka, sudah lama memang ia menginginkan milik Jack memasuki miliknya. Dan sekarang pun keduanya baru saja usai bermain, Jack langsung memakai semula pakaiannya setelah puas mengeluarkan lahar di dalam rahim sepupunya.
"Kenapa sih lu gak mau keluarin di luar? Kalo gue hamil nanti gimana Jack?" heran Suci.
"Gue kan udah bilang, gue gak pengen buang-buang cairan punya gue. Kasihan tahu mereka jadi terlantar," ucap Jack.
"Lo beneran aneh deh Jack, awas ya kalo sampe gue hamil anak lu!" geram Suci.
"Panik amat sih lu, kan lu punya pil pencegah hamil yang bisa diminum. Udah deh gausah lebay, lagian yang awalnya ngajakin gue begini kan juga lu sendiri!" ucap Jack.
"Ya iya sih, tapi kan gue minta keluar di luar. Eh lu malah ngeyel tetap keluarin di dalam," ucap Suci.
"Udah lah, gue mau curhat nih sama lu. Dengerin curhatan gue sebentar ya?" pinta Jack.
"Ya ampun Jack, mau curhat soal apa lagi sih? Zanaya? Dia kenapa lagi emang?" tanya Suci.
"Iya Suci, gue emang lagi mikirin Zanaya. Gue rasanya bingung banget setelah diminta Refal buat jagain adiknya," jawab Jack.
"Hadeh, lo ribet banget ya Jack? Waktu itu katanya lu pengen rebut Zanaya dari si Refal, eh giliran Refal udah nyerahin Zanaya ke lu, sekarang lu malah kayak gini," ucap Suci.
"Masalahnya gue bingung Suci, kira-kira Zanaya mau gak ya terima gue? Secara dia kan cuma cinta sama abangnya itu," ucap Jack.
__ADS_1
"Kenapa harus bingung? Ya lu tanya aja langsung ke dia biar pasti! Lagian bukannya harusnya lu ya yang ragu buat nikahin dia? Kan lu pernah bilang kalo dia lagi hamil," ucap Suci.
"Iya sih, Zanaya emang lagi hamil anaknya bang Refal," ucap Jack lirih.
"Nah terus ngapa malah lu mikirnya jadi Zanaya yang ragu? Gue mah yakin banget Zanaya mau terima lu, dia kan lagi hamil," ucap Suci.
"Hubungannya dimana coba?" tanya Jack.
"Yah elah pemikiran lu sempit amat sih Jack, jelas lah Zanaya pasti mau terima lu karena di kondisi dia yang saat ini dia tuh butuh banget yang namanya ayah untuk anaknya!" ucap Suci.
"Ohh, berarti maksud lu Zanaya nikahin gue cuma demi cari ayah buat anaknya gitu? Dia gak cinta sama gue dong," ujar Jack.
"Ya mau gimana lagi Jack? Yang penting kan lu nikah sama dia toh?" ucap Suci.
Jack mengambil nafas sejenak, ia bangkit lalu berjalan menuju tempat duduk yang tersedia di kamar itu. Sedangkan Suci masih setia berbaring di ranjangnya dengan kondisi polos tanpa sehelai benangpun, ia memang selalu malas berpakaian jika habis bercinta dengan seseorang.
"Gue pengennya nikah atas dasar cinta Suci, bukan cuma karena hal lain. Lu bisa bantu gue gak buat dapetin hatinya Zanaya?" ucap Jack.
"Gimana caranya Jack? Lu mau nyuruh gue ke dukun terus pelet si Zanaya gitu, supaya dia jatuh cinta sama lu?" ujar Suci.
Jack menepuk dahinya sendiri, "Aneh-aneh aja lu ah! Masa iya pake pelet segala? Cara yang normal aja gak ada apa?" ucapnya.
"Eee ya gue—"
"Bentar bentar, ada pesan masuk nih. Gue takutnya dari Zanaya," sela Jack.
"Yaudah, lu cek aja gih!" suruh Suci.
Jack mengangguk pelan, kemudian meraih ponselnya dari atas meja dan membuka isi pesan yang dikirimkan seseorang tadi. Jack membulatkan matanya, ternyata yang mengirim pesan adalah Arin alias mama Zanaya dan isi pesan itu adalah Arin meminta Jack untuk bertemu dengannya di sebuah tempat.
•
•
Zanaya dan Alfred masih terus jalan berdua di sekitar taman yang indah, setelah makan tadi memang Alfred mengajak Zanaya untuk menghabiskan waktu di taman selagi hari masih siang. Meski Zanaya tak mau, tetap saja pria itu memaksa sehingga akhirnya Zanaya luluh dan mengikuti saja kemauan Alfred.
Sepanjang perjalanan, pikiran Zanaya selalu tidak bisa tenang. Ia memikirkan kondisi Refal di luar negeri yang hingga kini belum ia ketahui, Zanaya sangat kesal pada kakaknya yang telah ingkar janji karena tidak memberi kabar padanya. Setiap malam pun Zanaya selalu menanti kabar dari Refal, tetapi pria itu tak kunjung mengabarinya.
"Kamu suka kan aku ajak kesini Zanaya? Ini itu tempat yang paling indah menurutku, soalnya pemandangan disini keren-keren semua, terus banyak spot foto lagi," ucap Alfred.
"Ah iya, kamu benar. Disini emang indah banget," ucap Zanaya pelan.
"Terus kenapa muka kamu kelihatan gak suka gitu? Kamu gak senang aku ajak kesini?" heran Alfred.
"Senang kok, tapi aku kan udah bilang sama kamu tadi kalau aku gak ada rasa sama kamu. Aku mau kita tolak perjodohan ini," ucap Zanaya.
"Gak bisa Zanaya, orang tua kita udah susah payah loh buat atur perjodohan ini. Masa kita malah nolak dan bikin mereka kecewa?" ucap Alfred.
"Lebih baik menolak dari sekarang kan daripada menyesal nantinya?" ucap Zanaya.
"Maksudnya, kamu akan menyesal gitu kalau menikah sama aku?" tanya Alfred.
"Iya Fred, aku gak cinta sama kamu. Gimana bisa aku nikah sama kamu?" jawab Zanaya.
Alfred sedikit kecewa dengan ucapan Zanaya barusan, ia sangat menginginkan wanita itu, tetapi sebaliknya tidak. Namun, Alfred tidak akan menyerah sampai disitu saja. Ia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati Zanaya dan membuat wanita itu luluh padanya.
"Zanaya, kita kesana yuk!" ucap Alfred mengajak Zanaya sembari menyatukan tangan mereka.
"Eee iya, tapi maaf Fred kayaknya kita gak perlu pegangan tangan deh!" pinta Zanaya.
"Kenapa Zanaya? Aku mau kita lebih akrab, jadi ya harus begini," ucap Alfred.
Zanaya benar-benar kesal, disaat ia hendak melepaskan diri tanpa diduga seseorang datang lalu menyapanya. Keduanya pun sontak menoleh ke asal suara, Alfred langsung membulatkan matanya melihat sosok lelaki berdiri disana.
"Zanaya!" sapa seseorang yang tentunya adalah Jack, Zanaya sangat kaget dengan kemunculan pria itu disana.
"Kak Jack?" lirih Zanaya dengan pandangan terus mengarah pada lelaki itu.
Sementara Alfred tentunya masih penasaran siapa pria di depan sana, tangannya juga menggenggam kuat telapak tangan Zanaya seolah tak ingin melepasnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...