Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 20. Kesal banget


__ADS_3

Paginya, Refal bangun dengan wajah ceria karena semalaman ia tidur sambil menghisap puncak bukit kembar milik adiknya yang terasa nikmat itu.


Refal kini melangkah menuruni tangga, dilihatnya Zanaya sudah berkutat di dapur tengah menyiapkan sarapan untuknya dan juga Refal.


"Ehem ehem, good morning sayang!" sapa Refal sembari memeluk tubuh Zanaya dari belakang.


Sontak Zanaya terkejut karena tiba-tiba ada tangan yang melingkar di tubuhnya, ditambah Refal juga mengecup pipinya tanpa aba-aba.


Cup!


"Lo manis banget sih! Masih pagi begini udah wangi aja, bikin gue sa-nge tau gak?! Boleh kan gue minta jatah gue pagi ini? Mumpung masih jam segini Zanaya, mau ya?" bujuk Refal.


"Jangan kak! Aku lagi masak, mending kakak duduk dulu deh di meja makan!" ujar Zanaya.


"Ohh, lu mau main di meja makan? Oke baby, gue bakal turuti kemauan lu!" ucap Refal.


"Gila! Emangnya aku cewek apaan? Kakak jangan ngada-ngada deh!" umpat Zanaya.


Plaaakk


Refal langsung menampar bibir Zanaya dengan telapak tangannya, cukup keras sampai gadis itu meringis kesakitan.


"Awhh sakit tau kak! Kakak gak punya perasaan banget sih sama adik sendiri!" kesal Zanaya.


"Suruh siapa lu ngatain gue gila? Emang benar-benar gak disekolahin nih mulut ya! Apa harus gue bungkam pake punya gue biar lu berhenti ngomong kasar?!" ucap Refal.


"Hah? Kakak mah benar-benar ya, mesum banget sih jadi orang! Udah ah jangan ganggu aku, aku lagi masak!" ucap Zanaya.


"Gue gak mau, kenapa?!" tantang Refal.


"Ish, nyebelin banget sih! Biarin aja nanti masakannya gak matang gara-gara kakak gak mau nurut!" ucap Zanaya.


"Gapapa, lebih enak makan lu kok. Gue lebih suka tubuh lu dibanding masakan lu," bisik Refal.


Zanaya meremang merasakan telinganya ditiup dan dijilat sekilas oleh Refal, sentuhan pria itu memang amat membuatnya sulit menahan diri.


"Mmhhh tolong kak jangan di telinga!" pinta Zanaya.


"Kenapa Zanaya? Ini titik lemah lu ya? Okay, sekarang gue jadi tau dimana lu bisa terangsang. Siap-siap baby!" goda Refal.


"Kak, aku mohon jangan!" rengek Zanaya.


"Kalau gue berhenti sekarang, nanti di meja makan lu harus puasin gue!" ujar Refal.


"Iya iya, apapun terserah kakak!" ucap Zanaya.


"Good girl!" ucap Refal senang.


Cup!

__ADS_1


Pria itu meninggalkan kecupan singkat di bibir ranum adiknya, lalu melepas pelukan dan berjalan pergi menuju meja makan.


Zanaya kini dapat bernafas lega, tapi tentu tidak lama karena nantinya ia pasti akan dikerjai lagi oleh kakaknya saat di meja makan.


Setelah selesai memasak, Zanaya menghampiri Refal di meja makan seraya meletakkan piring makanannya dan mengajak sang kakak sarapan.


"Udah jadi nih kak, yuk kita makan dulu!" ucap Zanaya lembut.


"Duduk sini dong samping gue!" pinta Refal.


"Iya kak," sebagai adik yang baik Zanaya pun menurut saja dan duduk di sebelah kakaknya.


"Lo hari ini gak usah sekolah ya?" ucap Refal yang sudah menaruh tangannya di paha sang adik.


"Hah kenapa kak?" tanya Zanaya terkejut.


"Iya, lu di rumah aja bareng gue. Biar gue bisa puas-puasin berduaan sama lu," jawab Refal.


"Kakak jangan ngaco deh! Aku harus sekolah, kalo enggak nanti aku ketinggalan pelajaran," ucap Zanaya menolak.


"Lo nolak gue? Lihat aja nanti gue beneran hamilin baru tau rasa!" ancam Refal.


"Ish, permintaan kakak tuh gak jelas. Masa aku harus bolos demi kakak?" ucap Zanaya.


"Iya iya, yaudah kali ini lu boleh sekolah. Tapi, gue yang antar ya?" ucap Refal.




Di sekolah, Zanaya kembali melamun memikirkan kejadian yang ia alami setiap harinya saat berdua bersama Refal.


Menurutnya, tindakan Refal itu sudah keterlaluan dan masuk ke dalam tindak pelecehan. Namun, ia tak mampu berbuat apa-apa untuk melawannya.


Jangankan melawan, menghindar saja dirinya tidak bisa karena Refal terus-terusan memaksa untuk menyentuh tubuhnya.


"Huft, kapan ya aku bisa hidup bebas? Apa aku lapor aja ke mama sama papa?" gumam Zanaya.


Tak lama kemudian, tiga temannya datang menyusul ke kantin menghampiri Zanaya yang tengah duduk sendirian sambil melamun itu.


"Woi Zanaya!" tegur mereka bersamaan.


"Ih ya ampun, kalian ngagetin aja deh!" kesal Zanaya memegangi dadanya.


"Ahaha, iya maaf Zanaya! Abisnya lu ngelamun aja sih, lagi mikirin apa emang?" ujar Tika.


"Gak ada, aku gak mikirin apa-apa. Kalian salah lihat kali," bohong Zanaya.


"Halah ngeles aja lu! Kelihatan kok tadi lu lagi ngelamun sambil megangin kepala, bilang aja kali lu lagi mikirin apa!" ucap Tika.

__ADS_1


"Iya Zanaya, cerita aja sama kita! Kan kita ini sahabat sejati, masa main rahasia-rahasiaan sih?" timpal Maria.


"Iya iya, aku cerita kok ke kalian. Sini kalian duduk dulu biar enak ceritanya!" ucap Zanaya.


"Oke!" Maria, Tika dan Mecca pun duduk di samping Zanaya setelah memesan minuman.


"Jadi, apa yang kamu pikirin Zanaya? Apa ada suatu hal yang penting?" tanya Mecca.


"Gak sih, aku cuma bingung aja sama sikap abangku. Dia selalu bikin aku kesel, makanya aku gak tahu harus apa," jelas Zanaya.


"Bikin kesel gimana? Emang abang kamu kenapa Zanaya?" tanya Mecca penasaran.


"Ya gitu deh, dia posesif banget sama aku. Dia gak bolehin aku dekat sama laki-laki manapun kecuali dia, kan aneh tau," jawab Zanaya.


"Hah? Waw abang lu jangan-jangan punya rasa terpendam sama lu Zanaya!" tebak Tika.


"Ngaco aja lu Tik! Masa iya abangnya Zanaya suka sama Zanaya? Gak mungkin lah! Itu cuma sikap khawatir seorang abang ke adiknya," ucap Maria.


"Aku setuju sama Maria! Udah lah Zan, kamu gak perlu mikirin soal itu!" ucap Mecca.


"Gimana gak mikirin? Makin hari sikap abangku makin posesif aja tau," ucap Zanaya.


"Emang abang kamu ngelakuin apa yang bikin kamu sampe kayak gini?" tanya Mecca.


"Iya Mecca, jadi semalam aku ketahuan lagi chattingan sama kak Jack. Eh terus abangku langsung ngeblok nomor kak Jack," jelas Zanaya.


"Apa? Buset kacau banget tuh abang lu! Main langsung blok nomor orang aja," ujar Tika.


"Iya Tik, itu yang bikin aku kesel tau. Aku mau ngelawan tapi gak berani," ucap Zanaya.


"Lo pasrah aja Zanaya, enak tau punya abang perhatian kayak gitu. Daripada lu gak diperduliin kan lebih parah," ucap Maria.


"Tapi gak gini juga kali Mar," keluh Zanaya.


Tika serta Maria bergeser mendekati Zanaya, mereka mengelus pundak gadis itu perlahan untuk menenangkannya.


"Sabar ya Zanaya!" ucap mereka bersamaan.


Disaat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba Jack datang menghampiri keempat gadis itu.


"Hello semua!" sapa Jack dengan ramah.


"Eh kak Jack?" ucap Maria, Tika dan Mecca.


Sementara Zanaya justru memalingkan wajahnya tak berani menatap wajah Jack.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2