Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 56. Perpisahan


__ADS_3

"Eee aku..."


Zanaya benar-benar bingung, ia ingin menolak tetapi tidak enak pada Ilham.


"Kamu kenapa Zanaya?" tanya Ilham heran.


"Gapapa kok, aku cuma bingung aja mau belajar apa enggak. Soalnya aku lagi ada masalah besar, maaf banget ya mas!" ucap Zanaya gugup.


"Masalah apa?" tanya Ilham.


"Ya ada deh, pokoknya masalah keluarga gitu. Kamu masih mau disini apa pulang aja? Kayaknya aku gak bisa belajar deh kalau sekarang," ucap Zanaya.


"Ohh, iya gapapa deh Zanaya. Kalo gitu aku pulang aja karena gak enak juga disini, soalnya kan ini masalah keluarga," ucap Ilham.


"Iya mas, sekali lagi aku minta maaf ya udah bikin kamu bolak-balik!" ucap Zanaya.


"Gak masalah, yaudah ya aku pamit dulu? Titip salam buat papa kamu!" ucap Ilham.


"Eh, kamu udah ketemu sama papa?" tanya Zanaya.


"Iya Zanaya, tadi tuh papa kamu yang bukain pintu buat aku. Eee kalo gitu aku permisi ya? Sampai ketemu lagi di lain waktu!" ucap Ilham.


"Okay, kamu hati-hati ya di jalan!" ucap Zanaya sembari melambaikan tangan.


Ilham tersenyum singkat, lalu berbalik dan melangkah ke luar rumah dengan perasaan sedikit kecewa.


Namun, tiba-tiba suara berat terdengar seolah memintanya berhenti melangkah dan membuatnya sedikit kebingungan.


"Tunggu!" Ilham langsung berhenti, ia menoleh ke belakang dan menemukan Eza disana.


"Kamu mau kemana Ilham? Bukannya kamu bilang tadi pengen ajarin anak saya?" tanya Eza.


"Eee saya emang niatnya mau begitu pak, tapi barusan Zanaya bilang kalau dia belum bisa belajar sekarang. Katanya dia sedang ada masalah besar dan sulit fokus," jawab Ilham.


Sontak Eza beralih menatap Zanaya, kemudian menghampiri putrinya dengan tatapan dingin hingga membuat Zanaya sedikit tegang.


"Zanaya, kamu ke kamar sekarang dan persiapkan apa yang harus kamu siapkan untuk belajar! Hari ini kamu gak boleh bolos lagi, kamu harus belajar supaya pintar!" perintah Eza.


Baru saja Zanaya ingin membantah, Eza sudah lebih dulu berbicara dan menyelanya.


"Jangan membantah Zanaya! Kamu tahu kan papa paling gak suka dibantah?! Sekarang kamu ke kamar dan ambil barang-barang sekolah kamu!" sentak Eza.

__ADS_1


"Iya pa iya, tapi aku mau belajar kalau ditemenin sama kak Refal. Papa jangan usir dia ya dari rumah ini!" rengek Zanaya.


"Kamu apa-apaan sih?!" geram Eza.


Ilham yang mendengar itu sedikit kaget, ia tak mengerti mengapa Refal akan diusir dari rumah sampai Zanaya sesedih itu.


"Loh kenapa pa? Kak Refal itu kakak aku, kalau dia pergi lebih baik aku ikut pergi," tegas Zanaya.


"Stop Zanaya, jangan bahasa soal itu sekarang, apalagi di depan nak Ilham! Kamu harus belajar untuk menjaga privasi keluarga kamu dari orang lain, paham?!" ucap Eza.


Zanaya hanya memalingkan wajahnya sambil mencebik kesal, lalu akhirnya ia pun memilih pergi ke kamar sesuai perintah papanya.


"Yaudah, aku mau ke kamar dulu," ucap Zanaya.


Eza tersenyum senang, sedangkan Zanaya langsung pergi meninggalkan papanya menuju kamar sambil terus berdecak kesal.


"Nak Ilham, mari kita ke sofa lagi! Tunggu sebentar ya, Zanaya lagi ambil buku!" ajak Eza pada Ilham.


"Ah iya pak, tapi seharusnya bapak gak perlu maksa Zanaya kayak tadi. Saya juga gak masalah kok kalau Zanaya lagi gak mau belajar," ucap Ilham.


"Gapapa, Zanaya emang harus dikerasin supaya dia mau belajar," ucap Eza tersenyum.




Zanaya yang tengah menaiki tangga menuju kamar, tanpa sengaja bertemu dengan Refal yang juga baru turun untuk menemuinya. Mereka pun saling berdiam diri dan bertatapan satu sama lain dengan wajah bingung, terutama Zanaya yang heran melihat kakaknya turun membawa koper.


"Bisa kita bicara sebentar sayang? Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, ini soal kepergian aku dan keihklasan kamu. Anggap aja ini pesan terakhir aku buat kamu Zanaya," ucap Refal.


"Kakak serius mau pergi?" tanya Zanaya.


Refal hanya menganggukkan kepalanya, membuat Zanaya tak kuasa menahan air mata yang langsung tumpah secara perlahan membasahi kedua pipinya. Refal reflek menyeka air mata sang adik, kemudian menggandeng tangannya dengan lembut.


"Kalau kamu mau bicara sama aku, kita ke kamar kamu sekarang! Tenang aja, aku gak akan macam-macam seperti biasanya kok!" ujar Refal.


"Iya kak, ini kebetulan aku mau ke kamar. Lagian kalo di bawah juga ada papa sama mas Ilham," ucap Zanaya.


"Ilham? Mau ngapain tuh anak kesini?" tanya Refal.


"Ya biasa lah kak, mas Ilham tuh mau ngajar aku. Udah yuk buruan kita ke kamar sebelum ada yang lihat dan halangi kita!" ucap Zanaya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pergi ke kamar Zanaya, keduanya saling bergandengan tangan dan melangkah terburu-buru seperti dikejar waktu. Refal tak ingin mama atau papanya melihat mereka bersama, sebab ia khawatir kedua orangtuanya akan menghalangi mereka lagi.


Saat di kamar, Zanaya langsung menutup dan tak lupa mengunci pintu agar aman. Mereka juga duduk di pinggir ranjang dengan dua tangan saling menyatu dan bertatapan, Refal tersenyum kemudian mulai membuka mulutnya secara perlahan.


"Zanaya, kamu itu cantik sekali sayang!" ucap Refal memuji adiknya.


"Sejujurnya aku masih gak rela buat ngomong ini, tapi mau gimanapun aku emang harus ikhlasin kamu untuk lelaki lain Zanaya," sambungnya.


"No, aku gak mau itu terjadi kak. Tolong kakak jangan bicara yang aneh-aneh!" ucap Zanaya.


"Ini gak aneh Zanaya, ini udah pas untuk kita berdua. Aku pergi dari hidup kamu, dan kamu bahagia bersama lelaki lain," ucap Refal.


"Gak akan ada pria yang mampu bawa kebahagiaan untuk aku, selain kamu kak Refal," ucap Zanaya tegas.


"Itu untuk sekarang, tapi aku yakin lambat laun kamu pasti juga bisa menemukan itu," ucap Refal.


"Aku gak tahu kak aku bisa siap kehilangan kakak apa enggak, ya semoga aja kakak bahagia disana ya!" ucap Zanaya menahan tangisnya.


"Hey, jangan nangis ya!" ucap Refal seraya menangkup wajah adiknya.


Refal langsung memeluk Zanaya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut dan memberikan akses bagi Zanaya untuk menguatkan dirinya.


"Aku yakin kamu pasti kuat dan bisa lupain aku, jaga selalu bayi kita ya!" pesan Refal.


"Iya kak, pasti aku bakal jaga anak kita dengan baik. Nanti begitu dia lahir, orang pertama yang aku kasih lihat adalah kamu kak," ucap Zanaya.


"Hahaha, yasudah berarti kamu udah ikhlas kan kalau aku pergi sekarang?" tanya Refal melepas pelukannya.


Zanaya menatap bingung, ia langsung menunduk tak tahu menjawab apa.


"It's okay, i love you Zanaya." Refal kembali memeluk wanita itu dan kali ini sambil memberi kecupan di ceruk lehernya.


TOK TOK TOK...


Suara ketukan itu mengagetkan keduanya, Refal bahkan reflek melepas pelukannya.


"Zanaya, Refal, cepat keluar kalian!" teriak Arin dari luar.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2