Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 35. Mual-mual


__ADS_3

Hari-hari Zanaya selalu ia jalani dengan memuaskan hasrat sang kakak, lambat laun ia sudah mulai terbiasa dan tidak lagi menolak saat Refal meminta jatah darinya.


Bahkan, tak jarang Zanaya sendiri yang menawarkan dirinya untuk disentuh oleh Refal karena sepertinya ia sudah mulai kecanduan dengan permainan yang dilakukan pria itu.


Sudah hampir sebulan mereka terus bersenggama dan Refal tidak pernah puas dengan tubuh Zanaya, ia juga selalu mengeluarkan cairan miliknya di dalam tubuh Zanaya tanpa merasa khawatir.


Hingga kini saat di sekolah, Zanaya merasa mual dan ingin muntah. Kepalanya juga terasa pusing, tubuhnya pun mulai lemas dan terlihat pucat akibat sakit yang dialaminya.


"Huweekk huweekk..."


Mecca, Tika dan Maria menyusul Zanaya ke toilet sekolah. Mereka juga memergoki Zanaya yang sedang muntah disana.


"Hah Zanaya? Ya ampun, lu kenapa? Lu sakit?" panik Maria begitu melihat Zanaya.


"Iya ih Zanaya, pantas aja daritadi pas di kelas tuh kamu kelihatan pucat banget. Eh ternyata kamu lagi sakit," timpal Mecca.


"Eee a-aku gapapa kok, ini tadi cuma mual sedikit aja. Mungkin efek aku belum makan kali tadi pagi," ucap Zanaya.


"Loh loh, emang kenapa kamu gak makan?" tanya Mecca terkejut.


"Aku sibuk soalnya, udah lah gausah pada khawatir gitu. Aku gak kenapa-napa tau, santai aja!" jawab Zanaya sambil tersenyum.


"Beneran? Lo pucat banget tau Zan, kita ke UKS aja yuk biar lu bisa diobati!" ucap Tika.


"Gak perlu, aku udah membaik kok. Mungkin aku cuma perlu makan aja," ucap Zanaya.


"Yaudah, kita ke kantin aja yuk sekarang! Mumpung jam istirahat masih lama, jadi lu bisa makan sepuasnya," ucap Tika.


"Betul tuh, untuk kali ini gue traktir deh Zan. Ya anggap aja sebagai ucapan terimakasih gue ke lu, karena lu sering bantu gue belajar," ujar Maria.


"Wah enak dong ditraktir!" ucap Zanaya.


"Hahaha, iya Zanaya sekali-kali mah gapapa kali. Lu mau kan?" ucap Maria.


"Ya mau lah, siapa sih yang gak mau ditraktir kayak gini?" ucap Zanaya tak menolak.


"Bagus deh," singkat Maria.


"Yeh cuma Zanaya doang nih yang ditraktir? Gue sama Mecca enggak?" tanya Tika.


"Ngapain? Yang sakit tuh cuma Zanaya, jadi ya dia aja yang gue traktir," jawab Maria.


"Iya deh iya," ucap Tika kecewa.

__ADS_1


Maria serta Zanaya tertawa kecil, dan lalu keempat gadis itu pun pergi menuju kantin untuk makan seperti yang tadi dibicarakan mereka.


Namun, saat di jalan menuju kantin justru mereka berpapasan dengan Jack yang tak sengaja juga ada disana.


Jack tampak syok melihat kondisi Zanaya saat ini yang tampak pucat dan lemas, ia pun mendekati gadis itu lalu menatapnya intens.


"Zanaya, kamu kenapa? Kok kamu pucat begini? Apa kamu lagi sakit?" tanya Jack penasaran.


"Iya kak, Zanaya tuh emang lagi sakit. Dia aja tadi muntah-muntah gitu di toilet, makanya sekarang kita mau ajak dia makan supaya dia gak lemas dan punya energi," jawab Maria.


"Ish, kamu apaan sih Maria? Ngapain kamu pake cerita segala ke kak Jack coba?" protes Zanaya.


"Loh kenapa Zanaya? Emang salah ya kalo gue kasih tau kak Jack soal kondisi lu?" heran Maria.


"Ya enggak, tapi aku gak suka aja kamu main cerita tanpa izin dari aku," ucap Zanaya kesal.


"Zanaya, kamu tenang ya! Aku cuma mau tau kondisi kamu, aku gak ada niatan buat deketin kamu," ucap Jack.


"Bagus deh," ketus Zanaya.


Setelahnya, Zanaya langsung pergi begitu saja meninggalkan Jack serta teman-temannya disana.




Akhirnya mereka berhasil menyusul Zanaya, sontak Tika pun menahan lengan Zanaya dari belakang.


"Ih Zanaya tunggu dong!" pinta Tika.


"Apa sih Tika? Aku gak mau lama-lama di tempat tadi, aku juga pengen cepat sampai di kantin supaya bisa langsung makan," ujar Zanaya.


"Iya iya, kita ngerti kok lu gak suka sama kak Jack. Tapi, sekarang kan kak Jack udah jauh tuh, dia juga gak ngejar lu lagi. Ayolah santai aja jalannya gak perlu ninggalin kita gitu!" ucap Tika.


"Ya juga sih, sorry ya guys karena aku tadi terlalu emosi sampai ninggalin kalian! Aku takut aja kakak aku tambah marah kalau aku masih dekat sama kak Jack," ucap Zanaya.


"Iya gapapa Zanaya, kita ngerti kok yang lu rasain. Ya walau kita masih agak bingung kenapa abang lu harus ngelarang lu dekat sama kak Jack," ujar Tika.


"Sama tuh, gue juga masih gak ngerti kenapa abang lu posesif banget sama lu. Sampai-sampai lu gak dibolehin buat dekat sama kak Jack, padahal kak Jack kan orang baik," ucap Maria.


"Baik menurut kalian, belum tentu baik menurut abang aku juga kan? Mungkin dia ada pertimbangan lain kali," ucap Zanaya.


"Iya sih, tapi—"

__ADS_1


"Udah deh Maria, Tika! Aku gak mau bahas soal ini lagi, aku pengen cepat-cepat makan!" sela Zanaya.


"Iya iya, kita minta maaf ya Zanaya!" ucap Maria.


"Gapapa, tapi sekarang ayo kita ke kantin keburu makanannya habis!" ajak Zanaya yang lalu diangguki oleh teman-temannya.


Mereka pun kembali melangkah menuju kantin dan melupakan sejenak apa yang tadi mereka bicarakan.


Setibanya di kantin, tanpa basa-basi Zanaya pun langsung memesan makanan yang banyak karena ia memang sudah sangat lapar.


Meski begitu, tetap saja Zanaya masih belum bisa melupakan kejadian di toilet tadi. Ia bingung mengapa ia bisa tiba-tiba merasa mual.


"Kira-kira aku kenapa ya? Aku kok jadi was-was gini kalau aku hamil?" batin Zanaya.


Melihat sohibnya termenung, Tika sontak penasaran dan langsung menegur Zanaya untuk bertanya padanya.


"Eh Zanaya, lu ngapa diem aja?" tanya Tika.


"Iya, tadi katanya lapar. Kok malah gak dimakan?" timpal Maria.


"Ini aku mau makan kok, cuman aku masih kepikiran aja sama yang tadi," jawab Zanaya.


"Yang tadi apa?" tanya Maria penasaran.


"Umm, gak deh gapapa. Udah gausah dibahas lagi, mending kita fokus makan aja!" elak Zanaya.


"Yeh gak jelas lu!" cibir Tika.


Zanaya tersenyum tipis, lalu memakan makanan yang sudah ia pesan sebelumnya dengan lahap. Begitupun teman-temannya yang juga melakukan hal yang sama.


Namun, lagi-lagi perasaan Zanaya dibuat tidak tenang dengan perkiraannya tadi mengenai kehamilannya.


"Huft, aku masih belum bisa tenang kalo gini. Aku harus mastiin semuanya, benar apa enggak dugaan aku," batin Zanaya.


"Zanaya!" panggil seorang pria dari dekatnya.


Sontak Zanaya terkejut, ia menoleh ke asal suara dan melihat pria tersebut tengah menatapnya.


"A-ada apa ya?" tanya Zanaya gugup.


Pria itu tersenyum, kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Zanaya tanpa ragu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2