Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 36. Beli testpack


__ADS_3

Setibanya di kantin, tanpa basa-basi Zanaya pun langsung memesan makanan yang banyak karena ia memang sudah sangat lapar.


Meski begitu, tetap saja Zanaya masih belum bisa melupakan kejadian di toilet tadi. Ia bingung mengapa ia bisa tiba-tiba merasa mual.


"Kira-kira aku kenapa ya? Aku kok jadi was-was gini kalau aku hamil?" batin Zanaya.


Melihat sohibnya termenung, Tika sontak penasaran dan langsung menegur Zanaya untuk bertanya padanya.


"Eh Zanaya, lu ngapa diem aja?" tanya Tika.


"Iya, tadi katanya lapar. Kok malah gak dimakan?" timpal Maria.


"Ini aku mau makan kok, cuman aku masih kepikiran aja sama yang tadi," jawab Zanaya.


"Yang tadi apa?" tanya Maria penasaran.


"Umm, gak deh gapapa. Udah gausah dibahas lagi, mending kita fokus makan aja!" elak Zanaya.


"Yeh gak jelas lu!" cibir Tika.


Zanaya tersenyum tipis, lalu memakan makanan yang sudah ia pesan sebelumnya dengan lahap. Begitupun teman-temannya yang juga melakukan hal yang sama.


Namun, lagi-lagi perasaan Zanaya dibuat tidak tenang dengan perkiraannya tadi mengenai kehamilannya.


"Huft, aku masih belum bisa tenang kalo gini. Aku harus mastiin semuanya, benar apa enggak dugaan aku," batin Zanaya.


"Zanaya!" panggil seorang pria dari dekatnya.


Sontak Zanaya terkejut, ia menoleh ke asal suara dan melihat pria tersebut tengah menatapnya.


"A-ada apa ya?" tanya Zanaya gugup.


Pria itu tersenyum, kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Zanaya tanpa ragu.


"Gak ada apa-apa kok, gue cuma pengen tanya sesuatu aja sama lo. Lagian gue juga gak kebagian tempat duduk, jadi boleh kan gue ikut gabung sama kalian disini?" ujar pria itu.


"Boleh kok, ini kan bukan tempat kita juga. Tapi, bisa gak duduknya jangan dekat-dekat kayak gini?!" pinta Zanaya.


"Tau, modus banget sih lo!" sentak Maria.


"Kenapa? Emang salah ya kalo gue duduk di dekat lu? Oh apa karena lu takut si Jack cemburu sama kita gitu?" tanya pria itu.


"Bukan gitu kak, aku cuma gak pengen ada yang salah paham," jawab Zanaya.


"Iya, udah deh kak Johan gausah deketin Zanaya! Emangnya lu mau dipukul juga sama abangnya Zanaya kayak kak Jack?" ujar Tika.


"Nah tuh, abangnya Zanaya itu galak tau. Nanti lu bisa abis di tangan dia," timpal Maria.

__ADS_1


"Oh ya? Pantas aja si Jack gue lihat-lihat udah jarang deketin lu, dia malah beralih ke adik kelasnya yang lain dan lebih cantik dari lu," ucap pria bernama Johan itu.


Entah mengapa, mendengar ucapan Johan membuat Zanaya sedikit tak terima.


"Kak Jack deketin wanita lain?" tanya Zanaya lirih.


"Iya, tadi juga gue lihat tuh dia lagi modusin dekel kelas sepuluh. Ya wajarlah kan dia udah ditolak sama lu," jawab Johan.


Zanaya pun terdiam, seketika nafsu makannya hilang karena mendengar itu.


"Lo ngomong apa sih? Gausah ngomporin Zanaya kayak gitu deh, bilang aja lu pengen Zanaya benci sama kak Jack kan!" ucap Maria.


"Apaan sih? Emang itu kenyataannya, kalau kalian gak bertanya coba aja lihat sana di lapangan!" ucap Johan tersenyum lebar.


"Gue gak pernah percaya sama orang kayak lu! Udah Zanaya, omongan dia mah jangan didengerin!" ucap Maria.


"Iya, lagian aku juga gak perduli kok. Mau kak Jack deketin anak kelas sepuluh atau siapapun ya terserah dia lah," ucap Zanaya.


"Yakin? Bukannya lu cinta sama dia?" goda Johan.


Zanaya kembali terdiam, ia tidak dapat menjawab ucapan Johan yang memang sengaja menggodanya itu.




Sepulang sekolah, Zanaya pergi ke apotek di dekat rumahnya lebih dulu untuk membeli testpack agar ia bisa mengetahui dirinya hamil atau tidak.


"Aku harus pastiin, aku beneran hamil apa enggak!" ucap Zanaya sambil memasuki apotek itu.


Tentu Zanaya langsung meminta kepada sang apoteker disana untuk mengambilkannya sebuah testpack alias alat pengecek kehamilan itu.


"Mbak, saya mau beli testpack dong satu," ucap Zanaya dengan suara pelan.


"Baik kak, sebentar ya!" ucap apoteker itu.


Zanaya mengangguk pelan sembari melihat sekitar, cukup ramai memang disana sehingga Zanaya sedikit khawatir ia akan dicurigai.


"Ini kak testpack nya," ucap sang apoteker.


"Makasih, berapa ya?" tanya Zanaya.


"Dua puluh ribu aja kak," jawabnya.


"Oh sebentar ya?" Zanaya merogoh kantongnya, lalu mengambil uang lima puluh ribu.


"Ini mbak," ucap Zanaya menyerahkan uang itu.

__ADS_1


"Ini kembaliannya kak, terimakasih!" ucap apoteker itu.


Setelahnya, Zanaya pun bergegas pergi dari sana dan memasukkan testpack yang ia beli ke dalam tas agar tidak ketahuan orang sekitar.


"Huh aku harus cepat-cepat sampe rumah dan tes apa aku hamil atau enggak nih!" gumam Zanaya.


Namun, alangkah terkejutnya Zanaya ketika melihat Refal sudah berdiri di depan apotek itu dan menatapnya dingin.


"Abis beli apaan lu di dalam?" tanya Refal ketus.


"Eee kakak? Sejak kapan kakak ada disini?" Zanaya syok dan deg-degan dibuatnya.


"Gue tanya, lu beli apaan disitu? Jawab dulu, bukan malah balik nanya!" ujar Refal.


"Iya kak, ini aku cuma mau beli obat sakit kepala, tapi gak ada," bohong Zanaya.


"Lu gak bohong kan?" tanya Refal curiga.


"Buat apa aku bohong kak? Beneran kok, tadi soalnya aku ngerasa pusing dan gak enak badan sewaktu di sekolah," jawab Zanaya.


"Yaudah, yuk gue antar lu pulang! Kalo pusing tuh gak boleh kepanasan, ini malah balik duluan tanpa ngabarin gue. Harusnya kan lu nungguin gue datang Zanaya," ucap Refal.


"Maaf kak, aku pikir tadi dengan aku jalan sendiri aku bisa lebih cepat sampe rumah," ucap Zanaya.


"Ah alasan aja lu, awas ya kalo besok lu kayak gini lagi!" ujar Refal.


"Iya kak, aku janji gak akan pulang duluan lagi. Yuk kak kita pulang sekarang aja!" ucap Zanaya.


Refal mengangguk setuju, ia langsung meraih tangan Zanaya dan mengajak adiknya pergi menuju mobil.


Tanpa menunggu lama, Refal menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali menatap Zanaya.


"Kak, kenapa kakak bisa tahu kalau aku ada di apotek ini?" tanya Zanaya heran.


"Gue gak sengaja lihat lu masuk ke apotek itu sewaktu gue lagi cari lu, yaudah gue tungguin aja lu keluar dari sana," jelas Refal.


"Oalah, terus di rumah ada makanan gak kak buat kita makan siang?" tanya Zanaya.


"Ya jelas gak ada lah, siapa coba yang mau masak kalau bukan lu?" jawab Refal.


"Eee kita mampir beli makanan dulu boleh ga kak? Soalnya aku lagi pusing, kayaknya aku gak kuat kalau harus masak," ucap Zanaya.


"No problem, kita nanti mampir ke warung makan di depan. Nanti begitu sampe, lu langsung makan siang terus minum obat. Jangan lupa juga istirahat ya!" ucap Refal.


"Iya kak," singkat Zanaya.


Zanaya menghela nafas lega, ia merasa tenang setelah Refal tidak lagi curiga padanya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2