Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 65. Akhir kisah cinta Zanaya


__ADS_3

Keesokan harinya, Zanaya tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke Rusia bersama Jack. Ia memang setuju dengan rencana pria itu yang ingin membawanya ke luar negeri menemui Refal. Biar bagaimanapun, memang betul apa yang dikatakan Jack bahwa Zanaya masih mencintai Refal.


Tak lama, Jack kembali membawakan makanan untuk gadisnya itu. Ia tersenyum lalu duduk di sebelah Zanaya yang sedang sibuk menyiapkan diri sebelum keberangkatannya sore nanti, Zanaya tentu harus berdandan agar terlihat cantik.


"Zanaya, ini aku bawain makanan buat kamu. Kita makan sama-sama dulu yuk!" ucap Jack.


"Sebentar kak, tinggal dikit lagi selesai nih rambut aku jadi lurus lagi," ucap Zanaya.


"Sebetulnya rambut kamu kayak kemarin juga bagus-bagus aja kok, malahan kamu kelihatan lebih cantik," ucap Jack.


"Serius? Kok menurut aku jelek ya?" heran Zanaya.


"Kamu aja yang sukanya merendah terus, padahal kamu mau digimanain juga bakal tetap cantik kok," ucap Jack sambil tersenyum.


"Aku tuh berdasarkan fakta kak, emang aku kemarin kelihatan aneh kok. Makanya aku buru-buru mau lurusin rambut," ucap Zanaya.


"Iya deh, tapi abis itu kita makan ya? Kamu kan belum makan siang loh," ucap Jack.


"Iya kak, makasih banyak ya udah beliin makanan buat aku. Nanti pasti aku makan kok, kamu makan aja duluan gih!" ucap Zanaya.


"Enggak ah, enaknya makan bareng kamu. Mana enak makan sendirian coba?" ucap Jack.


"Oh yaudah, berarti kamu harus tunggu aku sebentar dulu," ucap Zanaya.


"Gapapa, tunggu kamu mah mau lama atau sebentar juga gak masalah. Aku malah senang, yang penting ada kamu di dekat aku," ucap Jack.


"Tapi, kan sebentar lagi aku juga bakal jauh dari kamu. Kamu mau serahin aku ke kak Refal kan?" ucap Zanaya.


Jack tersenyum tipis, "Iya Zanaya, tapi kita kan gak mesti jauhan juga. Aku bisa kali sekali-kali mampir ke rumah kamu?" ucapnya.


"Ahaha, iya juga sih. Kalo gitu makasih banyak ya kak karena udah mau bantu aku," ucap Zanaya.


"No problem, aku cinta sama kamu Zanaya. Makanya aku mau lihat kamu bahagia, walau enggak sama aku," ucap Jack.


"Aku gak tahu lagi harus bicara apa sama kamu, kamu itu terlalu baik jadi lelaki kak. Makasih banyak ya udah mau bantu aku!" ucap Zanaya.


Jack mengangguk, lalu mendekat dan mengusap puncak kepala Zanaya dengan lembut. Zanaya tak menolak, ia juga menikmati sentuhan Jack di tubuhnya yang terasa lembut itu. Namun, tiba-tiba Jack justru menjauh dan menghindar dari tatapan wanita itu.


"Kenapa Jack? You want a kiss?" tanya Zanaya.


Kali ini Jack menggeleng, meski itu bertentangan dengan isi hatinya. Tidak mungkin ia blak-blakan ingin meminta cium dari Zanaya, sebab ia tahu dirinya bukan siapa-siapa wanita itu. Apalagi Zanaya juga akan pergi menyusul Refal ke luar negeri.


"Enggak lah Zanaya, mana berani aku cium kamu? Bisa kena bogem lagi aku sama kakak kamu yang posesif itu," kekeh Jack.


"Hahaha, bener juga sih kamu. Bisa berabe kalau sampai kak Refal tahu aku pernah dicium sama lelaki lain selain dia, nanti yang ada dia cap aku cewek gampangan," ucap Zanaya.


"Gak bakal lah Zanaya, kamu bukan perempuan begitu kok. Aku tahu kamu istimewa dan beda dari wanita-wanita lainnya di luaran sana," ucap Jack.


Zanaya tersenyum lebar, "Makasih kak!" ucapnya lirih sembari menunduk.




Eza bersama Mahdi dan juga Alfred kembali ke rumah dengan tangan kosong, ketiganya belum berhasil menemukan Zanaya walau sudah mencarinya hampir ke seluruh kota.


Arin yang tengah duduk, kini bangkit dan menghampiri mereka bertiga. Ia bertanya mengenai Zanaya dan tentunya ia berharap mereka tidak dapat menemukan wanita itu.


"Pa, gimana sama Zanaya? Dia ketemu gak?" tanya Arin seolah-olah panik.


Eza menggeleng pelan, "Enggak, kita gagal temuin anak itu," jawabnya.


"Duh ya ampun Zanaya! Kamu kemana sih nak? Kenapa kamu malah kabur dan tinggalin mama kayak gini?" ujar Arin.


"Ini semua gara-gara kamu Arin!" sentak Eza.


"Hah? Kok jadi aku sih mas?" tanya Arin heran.


"Iyalah, siapa lagi coba yang harus disalahin kalo bukan kamu? Kan kamu yang bertanggung jawab buat bawa Zanaya kesini kemarin," jawab Eza.


"Tapi mas, aku kan sama sekali gak tahu kalau Zanaya mau kabur. Kamu gak bisa salahin aku begitu dong, emangnya kamu pikir aku mau dia kabur dari sini?" kesal Arin.

__ADS_1


Eza terdiam memalingkan wajahnya, ia terlihat sangat kesal dengan kepergian Zanaya.


"Om, tante. Sudah ya jangan pada ribut? Biar gimanapun kita tetap harus cari Zanaya sampai ketemu om!" ucap Alfred melerai sepasang suami-istri itu.


"Iya pak Eza, masalah ini jangan dibawa emosi seperti itu lah! Lagipun, saya yakin Bu Arin juga tidak mau peristiwa ini terjadi," ucap Mahdi.


"Ah kalian itu mana ngerti soal ini? Saya benar-benar kecewa sama Zanaya, kalau sampai ketemu nanti, saya pasti akan hukum dia!" geram Eza.


Arin yang mendengar itu sontak terkejut, "Mas, kamu bicara apa sih? Zanaya itu anak aku, kamu gak berhak buat hukum dia!" ucapnya tegas.


"Kenapa? Dia anak aku juga kok," ucap Eza.


"Asal kamu tau ya mas, Zanaya begitu juga awalnya karena Refal anak kamu. Dia yang udah bikin hidup Zanaya hancur! Sekarang kamu malah mau bikin dia tambah hancur gitu?!" geram Arin.


"Aku cuma pengen hidup Zanaya bahagia, justru aku juga mau tebus kesalahan Refal ke Zanaya. Kamu jangan bikin pernyataan sendiri dong! Siapa coba yang mau bikin Zanaya hancur?" ujar Eza.


"Yaudah, harusnya kamu itu jangan paksa Zanaya buat nikah sama Alfred!" tegas Arin.


"Loh kenapa? Alfred itu laki-laki baik loh, dia mau terima Zanaya apa adanya. Seharusnya Zanaya bersyukur ketemu sama Alfred," ucap Eza.


"Ya mau apapun alasan kamu, kalau Zanaya gak mau ya kamu juga gak berhak buat maksa dia dong! Aku ini ibunya, aku gak mau lihat anak aku jadi makin sedih gara-gara paksaan kamu!" ucap Arin emosi.


Eza terdiam menunduk, ia merasa bersalah kali ini karena sudah membuat Zanaya kabur dari rumah. Eza pun juga mengaku salah, jika saja ia tak memaksa perjodohan ini mungkin Zanaya tidak akan kabur seperti sekarang.


"Saya minta maaf ya Arin, saya tahu apa yang saya lakukan ke Zanaya itu salah. Baiklah, saya tidak akan memaksa Zanaya lagi untuk menerima perjodohan ini," ucap Eza.


Alfred langsung tercengang, "Maksudnya gimana ya om? Perjodohan ini batal gitu?" ujarnya.


"Mau gimana lagi Alfred? Saya juga sebenarnya gak bisa batalkan ini, bisa malu besar saya. Tapi, semua demi kebaikan Zanaya," ucap Eza.


"Tapi om—"


"Alfred, sudah ya kamu terima aja semuanya? Kamu gak boleh egois, papa akan carikan kamu wanita yang lainnya nanti," sela Mahdi menenangkan putranya.


Alfred menghela nafasnya, pada akhirnya ia pun setuju dengan keputusan Eza untuk membatalkan perjodohan dirinya dengan Zanaya. Meski sebenarnya, Alfred tak mau itu terjadi.




📞"Pasti Zanaya, mana mungkin mama bisa lama-lama gak ketemu kamu? Mama pasti akan susul kamu secepatnya sayang," ucap Arin.


📞"Makasih ya ma, mama udah mau dukung aku buat bersatu sama kak Refal. Aku bahagia banget sekarang," ucap Zanaya.


📞"Mama juga senang kalau kamu senang Zanaya, kamu hati-hati ya di jalan! Kabari mama kalau kamu sudah sampai nanti!" ucap Arin.


📞"Iya ma, kalo gitu aku tutup dulu ya? Aku udah mau berangkat nih diantar kak Jack," pamit Zanaya.


📞"Ah iya sayang," singkat Arin.


Tut Tut Tut...


Zanaya menutup telpon, memasukannya ke dalam tas dan beralih menatap Jack yang berdiri di sebelahnya.


"Sudah selesai?" tanya Jack lirih.


"Iya udah kak, maaf ya lama. Abisnya aku belum rela aja tinggalin mama disini," jawab Zanaya.


"Kamu gausah khawatir, bukannya mama kamu bilang bakal nyusul kamu?" ucap Jack.


"Iya sih," singkat Zanaya.


"Yaudah, kita berangkat sekarang aja yuk! Takutnya nanti malah kemalaman," ajak Jack.


Zanaya mengangguk, "Iya kak, aku juga udah selesai beres-beres nya kok," ucapnya pelan.


Jack tersenyum, kemudian mengambil alih koper milik Zanaya dan membawanya. Mereka berdua keluar dari apartemen, tak lupa Zanaya berdoa sejenak sebelum kepergian mereka agar tentunya tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat dalam perjalanan nanti.


"Begitu sampai di Rusia nanti, aku langsung antar kamu ke tempat Refal ya Zanaya? Terus abis itu, aku balik lagi kesini," ucap Jack.


"Maksudnya? Kamu gak mau ikut sama aku tinggal disana gitu?" tanya Zanaya.

__ADS_1


"Iya Zanaya, aku masih ada urusan disini. Jadi, aku kesana paling cuma anterin kamu aja. Yang penting kan kamu udah bisa ketemu sama Refal," jawab Jack.


"Tapi kak, masa langsung mau pulang sih? Kenapa gak tinggal beberapa hari disana?" tanya Zanaya.


"Aku gak bisa Zanaya, ini juga udah keputusan aku dan gak mungkin dirubah lagi," jawab Jack.


"Huft, berarti aku gak bakal ketemu kamu lagi dong kak?" ucap Zanaya.


"Tergantung, kalau suatu hari nanti kamu mau balik lagi dan tinggal disini, pasti kita bakal ketemu lagi Zanaya," ucap Jack tersenyum.


Tanpa diduga, Zanaya memeluk Jack secara tiba-tiba. Ia melingkarkan tangannya dan merapatkan tubuh mereka, sesaat kemudian air mata keluar membasahi pipinya. Jack pun ikut merasa terharu, ia membalas pelukan itu sambil mengecup wajah Zanaya.


"Kamu gak perlu sedih Zanaya, kita kan masih bisa komunikasi lewat telpon atau sms. Ayolah, jangan dibuat pusing sendiri cantik!" ucap Jack.


Zanaya melepas pelukannya dan menatap wajah Jack sambil terisak, "Tetap aja aku pasti bakal rindu banget sama kak Jack, kamu itu baik banget dan selalu tolong aku," ucapnya.


"Sama, aku juga begitu. Tapi, seenggaknya kamu udah ada di tangan yang tepat. Itu aja udah cukup kok buat aku," ucap Jack tersenyum lebar.


Zanaya manggut-manggut kecil lalu tersenyum tipis, Jack menangkup wajahnya dan menyeka air mata yang keluar disana. Setelah itu, keduanya pun lanjut berjalan menuju mobil.




Refal baru kembali ke rumah setelah puas pergi bersama Melva, keduanya kini semakin dekat dan beberapa kali sudah sering bepergian kesana kemari berdua layaknya orang pacaran. Refal pun juga senang dan perlahan-lahan sudah mulai melupakan Zanaya dari pikirannya.


"Mel, kamu senang gak jalan-jalan sama aku hari ini? Kalau aku sih senang banget ya, soalnya kamu tuh cantik banget dan bikin hari-hari aku jadi tambah indah," ucap Refal sambil tersenyum.


"Kamu ngomong apa sih? Perasaan aku biasa aja deh, kamu stop ya bilang aku cantik atau apalah itu!" ucap Melva malu-malu.


Refal mencolek pipi Melva gemas, "Terus aja terus, merendah terus kayak gitu. Kamu itu cantik Melva, lebih cantik malah daripada cewek-cewek Rusia yang aku temuin disini," ucapnya.


"Masa aku dibandingin sama mereka? Ya jelas beda jauh lah Refal, ngada-ngada aja kamu!" ucap Melva membuang muka.


Refal langsung kembali menarik wajah Melva dan menahan kedua pundaknya agar gadis itu tidak terus-terusan memalingkan wajah darinya, sebab ia senang sekali melihat wajah cantik Melva yang sekilas mirip dengan Zanaya itu.


"Kamu bisa gak, gausah pake buang muka segala kayak gitu?!" ucap Refal penuh penekanan.


"Huft, iya Refal iya. Udah ah sekarang lepasin, gak enak dilihat sama orang tua!" ujar Melva.


"Biarin aja, emangnya kamu pikir ini Indonesia, yang orang-orangnya pada suka ikut campur sama urusan orang lain?" ucap Refal.


"Hahaha, jangan gitu Refal ih!" kekeh Melva.


Mereka saling berbalas senyum, sampai Refal perlahan menggerakkan wajahnya mendekati bibir Melva dengan kedua tangan menangkup wajah gadis itu. Jantung Melva berdegup kencang, ia sungguh deg-degan saat Refal semakin mendekat ke arahnya.


"May i?" tanya Refal seolah meminta izin.


Melva memejamkan mata, Refal paham itu adalah sebuah isyarat bahwa Melva memberi izin untuknya mencicipi bibir ranum itu. Dan ya Refal pun langsung menyatukan bibir mereka sambil memberi ******* pelan disana.


Tanpa disadari, kegiatan mereka itu disaksikan secara langsung oleh seseorang yang baru datang bersama lelaki di sebelahnya. Keduanya sama-sama syok melihat adegan Refal tengah bercumbu mesra dengan Melva.


"Kak Refal.."


Betapa terkejutnya Refal mendengar suara itu, ia menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Zanaya di sebelahnya.


"Hah? Zanaya??" ujar Refal dengan mulut terbuka lebar.


Hati Zanaya benar-benar hancur, cintanya yang selama ini ia perjuangkan seketika hilang saat ia melihat orang yang ia cintai bercumbu dengan wanita lain di hadapannya.


"Ternyata benar kata orang, gak ada cinta sejati di dunia ini. Adanya hanya cinta berdasarkan naf-su, aku benci kamu kak, aku benci!" batin Zanaya.


...~Selesai~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...•...


...•...


Yeay end, akhirnya setelah lumayan lama novel ini berhasil tamat juga. Endingnya gak gantung, emang begitu niatnya dari awal. Kalo ada yang kecewa karena Zanaya & Refal gak bersatu, ayolah jangan kecewa! Masa kalian dukung Zanaya sama laki-laki kayak Refal sih?😁

__ADS_1


Oke, bye makasih ya semua atas dukungannya selama ini! Mari baca novel-novel aku yang masih on going!


Peluk cinta, petrik.


__ADS_2