
Refal hanya bisa menunduk lesu, ia pasrah dimarahi seperti apapun juga.
"Ma, udah cukup ma jangan marahin kak Refal terus! Aku gak terima ya kalau mama bersikap kayak gitu ke kak Refal, mending aku pergi aja ikut sama kak Refal!" ucap Zanaya.
"Kamu jangan macam-macam ya Zanaya! Mama gak akan biarin kamu pergi sama Refal, jangan mimpi ya kamu!" peringat Arin.
"Kenapa ma? Kenapa aku gak boleh pergi sama kak Refal? Aku cinta dia ma, aku mau bareng terus sama dia. Lagian anak ini juga anak kak Refal ma, apa kata laki-laki yang mama mau suruh buat nikahin aku nantinya?" sentak Zanaya.
"Papa kamu sudah atur semuanya Zanaya, dan gak ada bantahan lagi. Pokoknya kamu akan segera dinikahkan dengan pria yang bisa terima kamu apa adanya," ucap Arin.
Zanaya menggeleng keras, tangannya justru mencengkram kuat lengan sang kakak.
"Enggak ma, aku gak mau pisah sama kak Refal. Aku bakal ikut kak Refal kemanapun dia pergi, aku juga gak mau nikah sama cowok lain!" ujar Zanaya.
"Cukup Zanaya!" bentak Arin emosi.
Namun, Zanaya seolah tak perduli dengan ucapan mamanya dan tetap kekeuh pada keputusannya.
"Sampai kapanpun ma, Zanaya Zenechka itu cuma milik Refal Hardika seorang. Gak ada siapapun yang bisa pisahin kami!" tegas Zanaya.
"ZANAYA!" Arin emosi dan mengangkat tangannya seolah hendak menampar Zanaya.
Zanaya reflek memejamkan mata, namun Arin mengurungkan niatnya karena tidak tega menampar wajah putri kandungnya sendiri.
"Aaarrgghh kamu benar-benar bikin mama emosi!" geram Arin.
"Maaf ma, aku gak bermaksud kayak gitu. Aku cuma mau mama jangan halangi hubungan aku dan kak Refal," ucap Zanaya.
Refal pun menatap Zanaya dengan mata berkaca-kaca, ia mencoba meyakinkan wanita itu untuk menerima semuanya.
"Zanaya, sudah ya kamu jangan ngelawan mama kamu lagi! Kamu harus kuat dan bisa terima semua ini, kita gak mungkin bisa bersatu Zanaya!" bujuk Refal.
"Kakak apaan sih? Masa kakak mau nyerah gitu aja? Dimana perjuangan kakak?" heran Zanaya.
"Aku cuma gak mau kamu yang jadi sasarannya Zanaya," ucap Refal.
"Gak masalah kak, kalau aku bisa milih aku juga lebih baik ikut sama kakak," ucap Zanaya.
"Enggak Zanaya, kamu gak boleh ikut aku. Kamu harus tetap disini dan jaga anak kita!" ujar Refal.
"Kenapa kak? Bukannya kalau aku ikut, kita malah bisa hidup bahagia ya?" ucap Zanaya.
"Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Udah ya kamu nurut aja sama mama kamu!" pinta Refal.
__ADS_1
Zanaya menggeleng kuat, keputusannya masih sama seperti tadi bahwa ia tidak ingin menikah dengan orang lain selain kakaknya.
"Aku gak mau nikah sama laki-laki lain kak, aku cuma mau sama kakak," tegas Zanaya.
"Jujur aja, aku juga gak rela kamu dinikahin lelaki lain. Aku gak yakin ada laki-laki yang tulus mencintai kamu selain aku, apalagi kalau tau kondisi kamu yang sekarang," ucap Refal.
"Ah udah deh, kalian gausah drama kayak gini! Cepat kamu beresin barang-barang kamu Refal dan pergi dari rumah ini!" sentak Arin.
"Ma, yang dibilang kak Refal itu benar. Laki-laki mana coba yang mau nikahin wanita hamil seperti aku? Apalagi aku hamil anaknya kak Refal, gak bakalan ada yang mau ma," ujar Zanaya.
"Kamu tenang aja, papa kamu itu udah atur semuanya Zanaya!" ucap Arin.
"Aku tetap gak mau ma!" tegas Zanaya.
Karena kesal, Zanaya pun memilih keluar dari kamar Refal dan meninggalkan keduanya.
•
•
Saat di luar, Zanaya malah tak sengaja berpapasan dengan Eza yang baru saja hendak menemuinya.
Sontak Zanaya bertambah kesal, pasalnya Eza lah yang menentukan semua ini.
"Iya pa," ketus Zanaya.
"Kamu kenapa sayang? Muka kamu kok kelihatan kayak kesal gitu? Kamu lagi ada masalah, hm?" tanya Eza heran.
"Jelas aku ada masalah, kan papa usir kak Refal dari sini. Buatku itu masalah besar pa, karena aku gak mau pisah dari kak Refal," jawab Zanaya.
"Ohh, jadi ini masih tentang Refal? Ya ampun, kamu itu udah dicuci otaknya kayaknya sama dia. Bisa-bisanya kamu malah belain orang yang udah perkosa kamu Zanaya," ujar Eza.
"Kak Refal emang perkosa aku pa, tapi dia kan mau tanggung jawab. Lagian aku juga udah cinta sama dia, aku gak mau pisah dari dia!" ucap Zanaya.
"Kamu cinta, belum tentu Refal juga cinta sayang. Bisa aja dia cuma incar tubuh kamu," ucap Eza.
"Papa kenapa sih begitu banget sama kak Refal? Dia kan anak papa juga tau, harusnya papa gak boleh jelekin dia dong," ucap Zanaya.
Eza menggeleng heran dengan sikap Zanaya saat ini, ia tak menyangka putrinya akan membela Refal sampai seperti itu.
"Jadi kamu maunya gimana Zanaya?" tanya Eza.
"Aku cuma pengen kak Refal gak pergi dari sini, dan dia yang akan nikahin aku. Papa bisa kan wujudin keinginan aku?" jawab Zanaya.
__ADS_1
Lagi-lagi Eza dibuat terkejut mendengar permintaan Zanaya, sungguh mustahil baginya untuk memberi izin pada Zanaya serta Refal menikah.
"Kamu jangan bercanda Zanaya! Gak mungkin itu bisa terjadi," ucap Eza.
"Kenapa gak mungkin pa? Aku sama kak Refal saling mencintai kok, udah sewajarnya buat kita menikah," ucap Zanaya.
"Siapa bilang? Kamu tau emang kalo Refal cinta sama kamu?" tanya Eza.
Zanaya terdiam sejenak, ia berusaha yakin tapi entah kenapa di dalam hatinya ia masih sedikit merasa ragu akan itu.
"Aku emang gak tahu pa, tapi aku yakin kak Refal cinta sama aku," jawab Zanaya.
"Okay, tapi tetap aja papa gak akan menikahkan kalian karena kalian adalah saudara," ucap Eza.
"Cuma saudara tiri pa, bukan kandung. Kita masih bisa nikah kok, banyak terjadi juga di luaran sana," ucap Zanaya.
"Iya emang, tapi papa tetap gak bisa nikahin kalian sayang. Mau ditaruh dimana muka papa nanti? Udah lah, kamu nurut aja sama papa ya!" ucap Eza.
"Gak tahu ah, aku benci sama papa!" kesal Zanaya.
Wanita itu langsung pergi begitu saja menuruni tangga, membuat Eza bingung lalu berusaha mengejarnya.
"Zanaya, Zanaya tunggu!" teriak Eza dari belakang.
Namun, Zanaya tak perduli dan memilih tetap berjalan dengan cepat meninggalkan papanya.
Saat di ruang tamu, Zanaya justru tak sengaja bertemu dengan Ilham yang memang masih menunggu disana sedari tadi.
"Eh Zanaya, kamu udah siap buat belajar?" tegur Ilham sambil tersenyum.
Zanaya terkejut melihatnya, bagaimana bisa ia belajar disaat situasi sedang gawat seperti ini.
"Loh mas Ilham ada disini? Emang sekarang jadwal belajar aku ya? Duh, gara-gara lagi pusing aku sampe gak ingat hari nih," ucap Zanaya.
"Ahaha, iya Zanaya. Kita kan udah dua hari kemarin libur, kamu siap kan belajar sekarang?" ucap Ilham sambil tertawa kecil.
"Eee aku..."
Zanaya benar-benar bingung, ia ingin menolak tetapi tidak enak pada Ilham.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1