Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 63. Dibawa kabur


__ADS_3

Hari telah berganti, tibalah acara dimana Zanaya dan Alfred akan melangsungkan pertunangan. Tampak wanita itu terus murung meskipun ia sudah memakai makeup dan gaun putih cantik yang disediakan orangtuanya, tentu saja alasannya karena ia tidak menyukai Alfred.


Sebenarnya tidak hanya Zanaya yang menolak dan tak menginginkan perjodohan ini, Arin pun demikian sebab ia tak mau melihat putrinya merasa sedih terus-menerus. Namun, keduanya tidak dapat menentang keputusan Eza yang sudah mutlak itu.


Saat perias telah pergi, Arin memanfaatkan itu untuk berbicara berdua dengan Zanaya. Ia memiliki sebuah rencana gila agar Zanaya bisa lari dari sana dan terbebas dari pertunangan itu, meski terbilang gila tapi Arin yakin kalau dengan ini Zanaya dapat melepaskan diri dari perjodohan tersebut.


"Zanaya, ayo sekarang kamu kabur lewat jendela disana supaya kamu gak harus menikah dengan Alfred!" ucap Arin.


"Tapi ma, mama serius nyuruh aku kabur? Nanti kalau papa tahu dan marah gimana?" tanya Zanaya kebingungan.


"Udah kamu gausah mikirin papa, biar mama aja nanti yang urus papa kamu itu!" jawab Arin.


"Umm, aku harus kabur kemana ma? Terus pake baju begini dan aku lagi hamil juga susah lari ma," tanya Zanaya.


"Kamu tenang aja, kamu cukup pergi ke depan komplek! Disana udah ada nak Jack yang bakal bantu kamu kabur sayang," jawab Arin.


"Hah kak Jack? Kok bisa ada kak Jack juga ma?" kaget Zanaya.


"Kamu gausah banyak tanya dulu, mending kamu langsung pergi aja sana sebelum papa kamu curiga!" suruh Arin.


"Iya iya ma, aku pergi sekarang. Makasih ya ma, karena mama udah mau dukung aku!" ucap Zanaya.


"Kamu itu anak mama satu-satunya Zanaya, mama gak mau kamu terluka hanya karena keegoisan papa kamu," ucap Arin.


Zanaya tersenyum lebar, "Makasih banyak mama!" ucapnya sembari memeluk mamanya.


"Iya sama-sama, udah cepetan sana kamu kabur Zanaya! Kamu temui cinta sejati kamu, mama akan selalu dukung kamu!" ujar Arin.


"Iya ma, aku pergi ya? Mama hati-hati disini sama papa, kalau ada apa-apa kasih tau aku ya!" ucap Zanaya.


"Pasti sayang, kamu juga hati-hati ya! Bilang ke nak Jack buat jagain kamu!" ucap Arin.


Zanaya mengangguk pelan, lalu dengan cepat ia berbalik dan menuju jendela kamar rias itu. Zanaya pun membuka jendela tersebut, ia awalnya kesulitan untuk kabur lewat sana karena gaun yang dikenakannya. Tapi setelah dibantu Arin, Zanaya pun berhasil keluar dari rumahnya dan segera berlari menuju depan komplek.


Arin tersenyum melihat keberhasilan putrinya, ia berharap dengan ini Zanaya tidak lagi merasa sedih dan dapat melakukan apa yang dia inginkan. Meski begitu, tetap saja semuanya belum selesai sebab pastinya Eza akan sangat marah jika tahu Arin bersekongkol untuk menyuruh Zanaya kabur.


"Pergi yang jauh ya nak, jangan pernah kembali! Mama gak terima kalau kamu dipaksa menikah dengan pria yang kamu tidak cintai, semoga kamu bahagia di luar sana!" gumam Arin.


"Meskipun bukan dengan Refal, tapi mama sangat berharap kamu bisa bahagia bersama nak Jack! Mama juga ingin melihat kamu bahagia sayang, semoga ini adalah keputusan yang tepat dan aku tidak salah langkah!" sambungnya.


Ia langsung menutup kembali jendela tersebut dan berniat pergi dari kamar itu agar tidak ada yang curiga, tapi sayang ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


TOK TOK TOK...


"Arin, Zanaya! Kalian ada di dalam kan?" Arin tersentak kaget mendengar ketukan pintu disertai suara berat yang mirip seperti Eza.




Disisi lain, hubungan Refal dan Melva sudah semakin dekat. Mereka seringkali jalan berdua dan bahkan Refal telah berani mengajak Melva mampir ke rumahnya, begitupun sebaliknya. Bisa dibilang hubungan mereka sudah seperti sepasang kekasih, meski masij belum ada status pasti.


Seperti sekarang ini, Melva tengah berada di kediaman Refal memenuhi ajakan pria itu malam kemarin. Ya Refal memang meminta Melva untuk datang ke rumah menemaninya, sebab Refal merasa bosan jika hanya berdiam diri tanpa ada yang menemani.


"Hey, kamu makin cantik aja sih Melva! Aku sampai pangling loh lihat wajah kamu yang sekarang, semakin mirip sama seleb-seleb Rusia di luar sana," ucap Refal memuji Melva.


"Aih kamu tuh ya, emang paling bisa bikin aku terbang tinggi kayak gini," ucap Melva tersipu.


"Aku serius Melva, kamu itu emang cantik banget. Aku rasa kamu bisa masuk salah satu perempuan tercantik di dunia deh," ucap Refal.


Melva menggeleng pelan, "Dasar tukang gombal internasional!" cibirnya.


"Gak gombal, semua yang aku bilang itu serius dan berdasarkan fakta. Yaudah, sekarang kamu minum dulu gih biar gak haus!" ucap Refal.

__ADS_1


Kali ini Melva mengangguk, ia mengambil gelas di meja dan meminumnya. Sedangkan Refal masih tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Melva, sungguh kecantikan wanita itu berhasil membuat Refal terpesona dan melupakan Zanaya begitu saja.


"Kamu kenapa sih? Kok ngeliatin aku sampe begitu banget? Kamu pengen minum juga?" tanya Melva.


"Boleh, kali aja bekas bibir kamu jadi tambah enak rasa minumannya," jawab Refal.


"Kamu udah gak waras ya Refal? Terserah kamu aja deh, lagian ini kan rumah kamu," ucap Melva.


Refal terkekeh sesaat, dan lalu ia mengambil gelas milik Melva untuk melakukan apa yang ia katakan tadi. Ya tentu saja Refal meminum air di gelas bekas bibir Melva, sontak hal itu membuat Melva sedikit kaget dan membulatkan matanya.


"Kamu beneran minum di bekas bibir aku, Refal? Kamu gak jijik apa?" tanya Melva syok.


"Enggak lah, buat apa jijik? Rasanya justru tambah enak dan manis kok," jawab Refal pede.


"Haish, tapi aku jadi gak enak tau sama kamu. Nanti kalo kamu kenapa-kenapa gara-gara minum bekas aku gimana?" ucap Melva.


"Gak bakal lah, udah ya gausah panik!" ucap Refal mengusap wajah gadis itu.


"Terus hari ini kita mau kemana? Percuma dong aku disini kalau cuma gini-gini aja? Bosen banget tau," tanya Melva dengan wajah cemberut.


"Iya sih, emang aku pengennya juga kita jalan keluar gitu keliling Rusia. Tapi, sekarang kan lagi musim dingin Va. Kalau kamu nanti kedinginan gimana?" jawab Refal.


"Aku kan udah pake baju super tebal ini, aku tau sekarang dingin banget, cuacanya aja sampe minus lima belas derajat (-15°). Makanya aku pake baju kayak gini," ucap Melva.


"Yaudah, gimana kalau kita disini aja tapi sambil main game? Telpon teman-teman kamu, suruh mereka kesini biar seru!" usul Refal.


"Boleh juga tuh, emang kamu mau main game apa?" tanya Melva.


"Umm, biar dipikirin nanti aja. Sekarang kamu telpon mereka dulu coba, takutnya mereka gak bisa datang lagi!" ucap Refal.


"Iya deh," singkat Melva.


Melva pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi tiga orang temannya untuk mengajak mereka semua datang ke rumah Refal.




Sedetik kemudian, seseorang datang mengulurkan botol minuman ke arahnya. Zanaya terkejut lalu mendongak, ia menemukan sosok Jack berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Sontak Zanaya merasa senang dan lega, ia tak perlu repot mencari keberadaan pria itu sekarang karena dia yang datang sendiri menemuinya.


"Kak Jack? Huh syukurlah kamu udah ada disini, jadi aku gak pusing deh cari kamu!" ucap Zanaya.


"Ya Zanaya, aku udah tunggu kamu daritadi. Kamu capek ya? Minum dulu nih biar hausnya hilang, abis itu baru kita lanjut pergi!" ucap Jack.


"Iya kak, tapi kita mau kemana?" tanya Zanaya.


"Ke tempat yang bisa bikin kamu bahagia Zanaya," jawab Jack.


"Hah? Tempat apa emangnya?" tanya Zanaya lagi.


"Nanti kamu juga tahu, tapi sebelum itu kita mampir dulu ke butik teman aku ya? Gak mungkin kita pergi dengan keadaan kamu kayak gini, nanti disangka aku bawa kabur pengantin orang," ucap Jack sambil terkekeh.


"Hahaha, bukannya emang iya ya? Kan aku kabur dari acara tunangan aku," ujar Zanaya.


"Iya juga sih, tapi kan ini atas kemauan kamu juga. Bukan aku yang maksa kamu buat kabur," ucap Jack.


"Yaudah, terserah kamu deh mau bawa aku kemana. Aku percaya aja sama kamu," ucap Zanaya.


Jack tersenyum tipis, "Makasih udah percaya sama aku!" ucapnya.


"Kalo gitu kamu bisa pergi sekarang? Kuat jalan kan? Mobil aku soalnya diparkir agak dekat jalan raya," tanya Jack.


"Kuat kok, aku kan gak kenapa-napa. Emang kamu pikir aku lumpuh apa?" jawab Zanaya mantap.

__ADS_1


"Gak gitu juga sih Zanaya, tapi bagus kalau kamu emang kuat. Sini yuk aku bantu jalannya biar gak makin capek!" ucap Jack.


Zanaya hanya mengangguk lemah, ia mengulurkan tangannya menerima bantuan dari Jack. Mereka pun mulai melangkah secara perlahan, namun pandangan Zanaya terus mengarah ke wajah Jack dan detik itu juga ia tersenyum tipis.


"Kamu kenapa Zanaya? Kok ngeliatin aku gitu banget?" tanya Jack keheranan.


"Gak kok gapapa, emang gak boleh ya kalau aku lihatin kamu?" elak Zanaya.


"Boleh dong, malahan aku senang kalau kamu perhatiin aku. Itu tandanya kamu mulai perduli sama aku," ucap Jack sambil tersenyum.


"Ada-ada aja kamu ah, sekali lagi makasih ya udah mau bantuin aku kali ini!" ucap Zanaya.


"Sama-sama Zanaya, apapun bakal aku lakuin kok demi kamu. Aku juga gak pengen kali kamu ngerasa gak nyaman kalau menikah dengan orang yang gak kamu cintai," ucap Jack.


"Itu benar, aku emang gak mau nikah sama Alfred. Tapi, papa selalu aja maksa aku buat terima perjodohan ini," ucap Zanaya.


"Kamu yang sabar ya! Mungkin papa kamu itu punya rencana lain yang kamu gak tau, tapi disini aku tetap mau bantu kamu kok," ucap Jack.


Zanaya tersenyum lebar, mereka pun terus melangkah menuju mobil yang terparkir di depan sana. Dengan cepat Jack membantu Zanaya masuk ke mobilnya, lalu melaju pergi meninggalkan tempat itu.




Arin tersenyum melihat keberhasilan putrinya, ia berharap dengan ini Zanaya tidak lagi merasa sedih dan dapat melakukan apa yang dia inginkan. Meski begitu, tetap saja semuanya belum selesai sebab pastinya Eza akan sangat marah jika tahu Arin bersekongkol untuk menyuruh Zanaya kabur.


"Pergi yang jauh ya nak, jangan pernah kembali! Mama gak terima kalau kamu dipaksa menikah dengan pria yang kamu tidak cintai, semoga kamu bahagia di luar sana!" gumam Arin.


"Meskipun bukan dengan Refal, tapi mama sangat berharap kamu bisa bahagia bersama nak Jack! Mama juga ingin melihat kamu bahagia sayang, semoga ini adalah keputusan yang tepat dan aku tidak salah langkah!" sambungnya.


Ia langsung menutup kembali jendela tersebut dan berniat pergi dari kamar itu agar tidak ada yang curiga, tapi sayang ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


TOK TOK TOK...


"Arin, Zanaya! Kalian ada di dalam kan?" Arin tersentak kaget mendengar ketukan pintu disertai suara berat yang mirip seperti Eza.


Sontak Arin dibuat kelabakan, ia menuju pintu bermaksud untuk menemui Eza dan menjelaskan bahwa Zanaya telah pergi. Arin tentu sudah menyiapkan sebuah alasan agar Eza tak mencurigai dirinya bekerjasama dengan sang putri.


Ceklek


Eza lebih dulu membuka pintu, ia langsung berhadapan dengan Arin yang juga berada tepat di depannya. Arin justru tampak gugup saat ini, tatapan mata Eza berhasil membuatnya ciut.


"Sayang, dimana Zanaya? Itu keluarga Alfred sudah datang loh, mereka menunggu Zanaya turun ke bawah," ucap Eza.


"Eee itu dia mas, aku juga gak tahu. Barusan aku masuk kesini Zanaya udah gak ada, aku bingung banget mas," bohong Arin.


"Hah? Kamu gimana sih? Kok bisa Zanaya kabur? Kamu tuh harusnya awasin dia Arin, jangan dibiarin dia kabur dong!" sentak Eza.


"Ya mana aku tau kalau dia mau kabur mas? Aku kan juga gak pengen ini terjadi, aku kira Zanaya bakal nurut dan mau turun temui keluarga Alfred," ucap Arin membela diri.


"Aaarrgghh sial! Yasudah, biar aku cari Zanaya. Aku yakin dia pasti belum jauh, kamu temani dulu Alfred dan orangtuanya! Jangan kasih tau mereka kalau Zanaya kabur!" ucap Eza.


"Iya mas, tolong cari Zanaya sampai ketemu ya mas! Aku khawatir banget sama dia!" ucap Arin.


"Iya, aku pasti temuin dia kok. Kalo gitu aku pergi dulu ya? Titip orang-orang di bawah, kamu harus bisa tenangin mereka!" ucap Eza.


Arin mengangguk saja, lalu Eza bergerak cepat mencari Zanaya ke luar rumahnya. Eza yakin kalau Zanaya tidak akan bisa kabur jauh karena kondisi wanita itu yang sedang hamil dan memakai gaun panjang sehingga langkahnya terbilang sulit.


Setelah Eza pergi, Arin juga menyusul keluar dari kamar itu dan menemui keluarga Alfred di bawah sana sesuai perintah suaminya. Arin berharap supaya Eza tidak dapat menemukan keberadaan Zanaya, sebab ia tak mau jika Zanaya menikah secara paksa dengan Alfred.


Awalnya Arin memang setuju dengan ucapan sang suami, tapi lama-kelamaan ia sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Apalagi seringkali ia melihat Zanaya bersedih dan menangis di dalam kamar saat malam tiba.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2