
Zanaya menganggukkan kepalanya perlahan, tak terbayangkan seperti apa merahnya kedua pipi gadis itu saat ini.
"Okay, sekarang lu ke kamar gih terus tidur! Ini udah malam tau waktunya tidur," suruh Refal.
"Kakak gak minta jatah dulu? Aku kepengen tau kak," ucap Zanaya.
"Hah?" Refal benar-benar kaget, baru kali ini ia mendengar Zanaya meminta seperti itu.
"Ini gue gak salah dengar? Lu pengen main sama gue?" tanya Refal memastikan.
"Gak tahu nih kak, kayaknya sejak hamil hormon aku jadi makin naik deh. Makanya aku kepengen terus," jawab Zanaya.
"Iya sih wajar, jadi lu mau nih main dulu sebelum tidur?" ujar Refal.
Zanaya mengangguk perlahan, mencoba menahan rasa malunya setelah apa yang ia katakan pada Refal tadi.
"Yaudah, yuk langsung kita ke kamar!" ajak Refal.
Zanaya tersenyum dan memeluk Refal dengan erat, membuat pria itu terkejut sekaligus heran mengapa Zanaya memeluknya.
"Eh eh, lu ngapain sih peluk gue kayak gini? Katanya mau main, ayo ke kamar!" ucap Refal.
"Gendong kak, aku males jalan tau. Aku juga pengen rasain digendong kakak," ucap Zanaya manja.
"Hadeh, adik gue yang cantik ini manja banget sih? Gue jadi gak sabar pengen main sama lu di kamar sampe pagi," ucap Refal.
"Jangan sampe pagi juga kali kak! Nanti yang ada tubuh aku remuk semua," ucap Zanaya.
"Hahaha, iya sih. Lagian lu kan juga lagi hamil, gak mungkin gue main lama-lama. Kasihan calon anak di rahim lu ini," kekeh Refal.
"Apa?" keduanya tersentak kaget mendengar suara tersebut.
Mereka menoleh secara bersamaan dan melihat Eza yang sedang berdiri di tangga menatap ke arah mereka.
Sontak Refal serta Zanaya langsung bangkit dari posisi mereka saat ini, keduanya sama-sama tak percaya jika Eza mendengar semuanya.
Kini Eza melangkah mendekati kedua anaknya itu dengan tatapan marah, satu tangannya bahkan sudah terkepal seperti menahan emosi.
"Pa, papa sejak kapan ada disitu?" tanya Refal.
"Kamu gak perlu tau soal itu, sekarang papa minta penjelasan dari kamu terkait ucapan kamu tadi! Apa maksudnya kamu bilang ada calon anak di rahim Zanaya? Dia hamil?" tegas Eza.
Refal terdiam, suasana semakin kacau karena ternyata Eza memang mendengar semua yang ia bicarakan dengan Zanaya tadi.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Jawab Refal!" sentak Eza.
"I-i-iya pa, Zanaya emang lagi hamil. Maafin aku ya pa karena aku gagal jaga Zanaya!" ucap Refal.
Eza menggeleng dan menarik baju putranya.
"Kurang ajar! Siapa yang sudah menghamili Zanaya? Apa kamu?" bentak Eza.
Glek
Dengan susah payah Refal menelan saliva nya, tatapan tajam dari sang papa benar-benar membuat ia merasa tidak aman saat ini.
"Bu-bukan pa, tolong jangan salah paham dulu! Mana mungkin aku hamilin adik aku sendiri?" elak Refal tak mau mengakui perbuatannya.
"Jangan bohong kamu Refal! Kalau bukan kamu, lalu siapa yang menghamili Zanaya?!" sentak Eza.
"Aku juga gak tahu pa, Zanaya cuman cerita kalau dia dipaksa berhubungan badan sama seseorang yang dia gak kenal. Aku minta maaf pa, aku udah gagal jaga Zanaya!" ucap Refal mengarang cerita.
Eza langsung mendorong tubuh Refal dan cairan bening mulai menetes di kedua pipinya, ia menatap Zanaya dengan penuh rasa kasihan.
"Apa benar begitu Zanaya?" tanya Eza pada putrinya.
Awalnya Zanaya ragu, namun ia terpaksa mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Eza agar kakaknya selamat malam ini.
•
•
Eza masih belum yakin dengan ucapan Refal, sebab istrinya mengatakan jika ia memergoki Refal dan Zanaya tengah berciuman bibir.
"Bagaimana kamu menjelaskan itu Refal? Kenapa kamu ciuman sama Zanaya?" tanya Eza tegas.
"Zanaya, kamu bisa bantu kakak kamu jawab kok. Ayo jujur sama kita sayang!" timpal Arin.
Kedua kakak-beradik itu saling terdiam, mereka bingung harus mengatakan apa disaat sudah terpojok seperti ini.
"Papa harap kalian bisa jujur ya, karena papa paling tidak suka dibohongi!" pinta Eza.
Refal menatap Zanaya, menghela nafas singkat lalu kembali beralih memandang wajah sang papa yang sudah sangat emosi itu.
"Ada apa Refal? Kamu sudah mau menjawab semuanya?" tanya Eza lagi.
"Iya pa, kali ini aku mau jujur sama papa dan mama. Aku benar-benar minta maaf sebelumnya karena udah ngelakuin ini, tapi aku gak bisa tahan keinginan aku," jawab Refal.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Benar kamu yang sudah menghamili Zanaya?" tanya Eza.
Refal menunduk dan dilanjutkan dengan anggukan pelan pertanda mengiyakan pertanyaan yang diajukan papanya itu.
"Lancang sekali kamu!" Eza geram dan langsung menarik tubuh putranya bangkit dari sofa.
Bughh
Satu pukulan diarahkan Eza ke perut Refal, tak cukup satu ia pun kembali memukul putranya sampai kedua wanita disana terkejut.
Disaat Eza hendak memukul Refal kembali, Arin sontak mencegahnya dan menghalangi niat Eza tersebut.
"Tahan mas, udah cukup jangan diterusin!" pinta Arin pada suaminya.
"Kenapa kamu halangi aku? Anak ini harus diberi pelajaran, dia sudah berbuat yang tidak-tidak loh! Bukannya melindungi Zanaya, tapi dia malah merusak adiknya sendiri!" sentak Eza.
"Aku tahu mas, aku juga gak nyangka Refal bisa ngelakuin itu ke Zanaya. Tapi, apa dengan memukuli dia semua masalah bisa selesai? Lebih baik kita pikirin apa yang harus kita lakukan pada Zanaya sekarang," ucap Arin.
Eza sontak menatap Zanaya, gadis itu tengah menangis sesenggukan melihat semua yang terjadi di depan matanya.
"Kamu benar-benar keterlaluan Refal, papa nyesel punya anak seperti kamu!" ujar Eza tegas.
"Aku minta maaf pa, aku gak bisa tahan diri sampai aku melakukan itu semua ke Zanaya!" ujar Refal.
"Maaf kamu gak akan merubah apapun, Zanaya sudah mengandung anak kamu," ucap Eza.
"Iya pa, aku bersedia tanggung jawab atas bayi di kandungan Zanaya. Aku mau menikahi Zanaya pa," ucap Refal.
Eza dan Arin terkejut bersamaan, bagaimana bisa mereka membiarkan anak mereka menikah?
"Kamu sudah gila Refal! Apa kata orang-orang nanti kalau tahu kalian bersaudara tapi menikah? Mau taruh dimana muka papa?" geram Eza.
"Betul sayang, itu suatu hal yang gak mungkin terjadi. Kalian gak bisa menikah, kalian itu sudah menjadi saudara," timpal Arin.
Refal kembali bersedih sembari menundukkan kepalanya, sesekali melirik Zanaya di sampingnya.
"Aku nyesel banget udah ngelakuin semua ini, kalau ternyata jadi begini harusnya waktu itu aku tahan diri dan gak maksa Zanaya buat tidur sama aku," ucap Refal lirih.
"Mama juga nyesel udah titipin Zanaya ke kamu Refal, mama kira kamu bisa juga anak mama, tapi kamu malah merusak dia!" sentak Arin.
"Maafin aku ma, aku benar-benar menyesal dan aku minta maaf banget sama mama! Kalau mama mau hukum aku, hukum aja ma aku siap kok!" ucap Refal memohon pada ibunya.
Arin justru menangis seraya menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka semuanya akan jadi seperti ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...