
Lagi-lagi Eza dibuat terkejut mendengar permintaan Zanaya, sungguh mustahil baginya untuk memberi izin pada Zanaya serta Refal menikah.
"Kamu jangan bercanda Zanaya! Gak mungkin itu bisa terjadi," ucap Eza.
"Kenapa gak mungkin pa? Aku sama kak Refal saling mencintai kok, udah sewajarnya buat kita menikah," ucap Zanaya.
"Siapa bilang? Kamu tau emang kalo Refal cinta sama kamu?" tanya Eza.
Zanaya terdiam sejenak, ia berusaha yakin tapi entah kenapa di dalam hatinya ia masih sedikit merasa ragu akan itu.
"Aku emang gak tahu pa, tapi aku yakin kak Refal cinta sama aku," jawab Zanaya.
"Okay, tapi tetap aja papa gak akan menikahkan kalian karena kalian adalah saudara," ucap Eza.
"Cuma saudara tiri pa, bukan kandung. Kita masih bisa nikah kok, banyak terjadi juga di luaran sana," ucap Zanaya.
"Iya emang, tapi papa tetap gak bisa nikahin kalian sayang. Mau ditaruh dimana muka papa nanti? Udah lah, kamu nurut aja sama papa ya!" ucap Eza.
"Gak tahu ah, aku benci sama papa!" kesal Zanaya.
Wanita itu langsung pergi begitu saja menuruni tangga, membuat Eza bingung lalu berusaha mengejarnya.
"Zanaya, Zanaya tunggu!" teriak Eza dari belakang.
Namun, Zanaya tak perduli dan memilih tetap berjalan dengan cepat meninggalkan papanya.
Saat di ruang tamu, Zanaya justru tak sengaja bertemu dengan Ilham yang memang masih menunggu disana sedari tadi.
"Eh Zanaya, kamu udah siap buat belajar?" tegur Ilham sambil tersenyum.
Zanaya terkejut melihatnya, bagaimana bisa ia belajar disaat situasi sedang gawat seperti ini.
"Loh mas Ilham ada disini? Emang sekarang jadwal belajar aku ya? Duh, gara-gara lagi pusing aku sampe gak ingat hari nih," ucap Zanaya.
"Ahaha, iya Zanaya. Kita kan udah dua hari kemarin libur, kamu siap kan belajar sekarang?" ucap Ilham sambil tertawa kecil.
"Eee aku..."
Zanaya benar-benar bingung, ia ingin menolak tetapi tidak enak pada Ilham.
"Kamu kenapa Zanaya?" tanya Ilham heran.
"Gapapa kok, aku cuma bingung aja mau belajar apa enggak. Soalnya aku lagi ada masalah besar, maaf banget ya mas!" ucap Zanaya gugup.
"Masalah apa?" tanya Ilham.
"Ya ada deh, pokoknya masalah keluarga gitu. Kamu masih mau disini apa pulang aja? Kayaknya aku gak bisa belajar deh kalau sekarang," ucap Zanaya.
"Ohh, iya gapapa deh Zanaya. Kalo gitu aku pulang aja karena gak enak juga disini, soalnya kan ini masalah keluarga," ucap Ilham.
"Iya mas, sekali lagi aku minta maaf ya udah bikin kamu bolak-balik!" ucap Zanaya.
"Gak masalah, yaudah ya aku pamit dulu? Titip salam buat papa kamu!" ucap Ilham.
"Eh, kamu udah ketemu sama papa?" tanya Zanaya.
"Iya Zanaya, tadi tuh papa kamu yang bukain pintu buat aku. Eee kalo gitu aku permisi ya? Sampai ketemu lagi di lain waktu!" ucap Ilham.
"Okay, kamu hati-hati ya di jalan!" ucap Zanaya sembari melambaikan tangan.
__ADS_1
Ilham tersenyum singkat, lalu berbalik dan melangkah ke luar rumah dengan perasaan sedikit kecewa.
Namun, tiba-tiba suara berat terdengar seolah memintanya berhenti melangkah dan membuatnya sedikit kebingungan.
"Tunggu!" Ilham langsung berhenti, ia menoleh ke belakang dan menemukan Eza disana.
"Kamu mau kemana Ilham? Bukannya kamu bilang tadi pengen ajarin anak saya?" tanya Eza.
"Eee saya emang niatnya mau begitu pak, tapi barusan Zanaya bilang kalau dia belum bisa belajar sekarang. Katanya dia sedang ada masalah besar dan sulit fokus," jawab Ilham.
Sontak Eza beralih menatap Zanaya, kemudian menghampiri putrinya dengan tatapan dingin hingga membuat Zanaya sedikit tegang.
•
•
Sementara itu, Refal masih di kamarnya bersama sang mama dengan kondisi menangis setelah kejadian beberapa saat yang lalu.
Refal belum bisa terima dengan keadaan ini, sangat sulit baginya untuk pergi meninggalkan Zanaya apalagi wanita itu juga tidak ingin ditinggal.
"Apa yang kamu tunggu Refal? Cepat kamu pergi, taksi kamu sudah sampai!" usir Arin.
"Maaf ma, tapi apa boleh aku temui Zanaya dan bicara sama dia sebentar aja? Aku cuma mau mastiin aja kalau dia gak akan sedih saat aku pergi nanti," ucap Refal.
"Gausah, kamu gak perlu lakuin itu. Biar mama aja nanti yang urus Zanaya, kamu bisa pergi sekarang juga Refal!" ucap Arin ketus.
"Ma, aku cuma pengen bicara sebentar sama Zanaya. Masa iya gak boleh sih? Aku harus bicara sama dia, karena aku gak mau Zanaya sedih karena aku," ucap Refal tegas.
"Sekali mama bilang enggak, ya artinya enggak Refal!" ujar Arin.
"Mama tolong jangan larang aku buat ketemu sama Zanaya! Aku tulus sayang sama dia ma, aku cuma gak mau dia sedih!" tegas Refal.
"Kamu itu benar-benar keras kepala Refal, kamu pergi sekarang juga sebelum mama semakin emosi!" sentak Arin.
Arin menggeleng dengan mata melotot tajam, sedangkan Refal sudah mengangkat tasnya bersiap untuk pergi dari sana.
"Permisi ma, aku mau kejar Zanaya dulu. Mama tenang aja ya, karena aku gak akan melakukan sesuatu yang buru lagi sama Zanaya. Aku cuma mau ngobrol sama dia," ucap Refal.
"Kamu kenapa sih keras kepala banget? Kamu itu gak tahu diri apa gimana sih?!" geram Arin.
"Bukan begitu ma, aku cuma khawatir sama Zanaya. Tadi dia kelihatan marah dan kecewa banget loh," ucap Refal.
"Mama kan udah bilang, Zanaya biar jadi urusan mama. Kamu bisa langsung pergi dari sini dan jangan ngurusin Zanaya lagi!" ujar Arin.
"Tapi ma, aku gak bisa lakuin itu. Aku terlanjur cinta sama Zanaya, dan aku gak mau Zanaya sedih karena aku," ucap Refal.
"Ingat ya Refal, semua ini juga gak akan terjadi kalau kamu bisa tahan diri kamu!" sentak Arin.
"Ya aku tahu ma, aku emang salah di posisi ini. Tapi, apa aku juga salah kalau aku mau mempertanggungjawabkan semuanya?" ujar Refal.
Kali ini Arin terdiam, ucapan putranya seolah benar dan membuatnya terus berpikir keras.
"Aku benar kan ma? Setiap orang yang melakukan kesalahan, pasti harus bertanggung jawab atas semua kesalahan yang dia lakukan itu. Terus kenapa aku gak boleh ma?" protes Refal.
"Semua ini sudah keputusan papa kamu, jadi mama gak bisa ikut campur. Dan kamu juga harus nurut sama papa kamu!" ucap Arin.
"Zanaya itu anak mama, kenapa mama diam aja saat papa bilang akan menikahkan Zanaya dengan lelaki lain? Gimana kalau Zanaya gak bahagia ma? Gimana kalau Zanaya disakiti?" ucap Refal.
Lagi-lagi Arin terdiam, ya tentu saja karena ucapan Refal yang berhasil meracuni pikirannya.
__ADS_1
"Gak mungkin ada laki-laki di dunia ini yang mau secara sukarela menikahi perempuan yang sedang mengandung seperti Zanaya, ma. Semuanya bisa berakibat fatal nanti untuk Zanaya dan juga anak yang dikandungnya," ucap Refal.
Tak ada jawaban dari Arin, wanita itu seakan bungkam oleh kata-kata yang dilontarkan Refal kali ini.
Akhirnya Arin membiarkan Refal pergi menemui Zanaya, sambil masih terus memikirkan perkataan Refal yang baru saja dia lontarkan.
•
•
Disisi lain, Jack masih ragu untuk mengirim video panas Suci dengan Refal beberapa waktu lalu ke nomor Zanaya.
Entah mengapa Jack tidak tega membuat Zanaya bersedih jika tahu kelakuan bejat abangnya di luaran sana tanpa sepengetahuan dia.
"Jack, lu masih belum kirim juga tuh video? Malah dilihat aja, awas nanti kepengen lu!" tegur Suci.
"Gak tahu lah Suci, gue ragu buat kirim video ini. Gue khawatir Zanaya sedih dan kecewa berat nantinya, gue gak mau itu terjadi. Biar gimanapun, gue sayang sama dia dan gue gak mau ngeliat Zanaya sedih," ucap Jack.
"Lo sebucin ini ya sama Zanaya? Heran deh gue sama lu Jack, padahal tadinya lu semangat banget buat hancurin hubungan mereka. Kenapa sekarang lu malah jadi kayak gini?" heran Suci.
"Mungkin karena gue terlalu cinta sama Zanaya, makanya gue begini," ucap Jack.
"Yaudah, semua terserah lu sih. Yang penting gue mah udah lakuin apa yang lu mau dan gue juga udah dapat bayarannya," ucap Suci.
"Iya iya, makasih banyak ya lu udah mau bantu gue sebelumnya!" ucap Jack.
Suci tersenyum, lalu sedikit membungkuk dan mengecup pipi Jack yang sedang duduk di kursi memandangi ponselnya.
Cup!
"Gue pergi dulu ya? Lu masih mau disini ya silahkan aja, tapi jangan macam-macam!" ucap Suci.
Tiba-tiba Jack menahan lengan Suci yang baru hendak membalikkan tubuhnya.
"Ish, lo apaan sih Jack? Gue tuh ada urusan di luar, gue udah dibooking sama orang nih. Lo lepasin gue dan jangan bikin gue sampe telat!" sentak Suci.
"Tunggu sebentar Suci, gue pengen minta tolong satu hal lagi sama lu. Lu mau kan bantuin gue?" ucap Jack memohon.
"Hadeh, gue gak bisa kalo sekarang Jack. Gue kan udah bilang gue ada yang booking, kapan-kapan lagi aja ya?" tolak Suci.
Suci melepaskan pegangan tangan Jack darinya, namun dengan cekatan Jack kembali mencekal lengan gadis itu dan malah menariknya sehingga Suci kehilangan keseimbangan. Lalu, Suci tanpa sengaja memeluk tubuh Jack dengan posisi tangan menyentuh area sensitif milik pria itu.
"Aaarrgghh lu sentuh aset gue! Sialan banget sih lu!" geram Jack yang langsung menjauhkan tubuh Suci darinya.
Tapi terlambat, milik Jack sudah terlanjur berdiri akibat sentuhan tangan Suci. Melihat itu membuat Suci tersenyum lebar, memang dari lama ia ingin merasakan milik Jack yang dalam perkiraan nya berbentuk besar dan panjang.
"Wow kayaknya punya lu udah berdiri tuh, mau gue puasin gak?" ucap Suci menawarkan diri.
"Ah jangan gila deh lu! Gue kan udah bilang, gue gak mau begituan!" tegas Jack.
"Ohh, lu yakin Jack? Itu udah keras banget loh, sampe nyeplak di celana. Kalo gak segera dipuasin bisa gawat," goda Suci.
Jack semakin kehilangan akal, tapi dia bersikeras untuk mempertahankan prinsipnya bahwa ia tidak ingin berhubungan badan dengan wanita yang bukan istrinya. Namun, sebuah pikiran negatif juga mulai mempengaruhinya. Ya Jack berpikir mungkin jika hanya dengan tangan dan mulut Suci tak akan bermasalah untuknya.
Tanpa menunggu lama, ia membuka resleting celana serta gesper yang ia kenakan dan melepas jeans miliknya hingga menampakkan celana pendek yang ia kenakan saat ini. Tentu dia juga langsung membuka celana pendeknya sehingga apa yang sedari tadi mengganggunya mulai mencuat keluar.
Suci terbelalak, pemandangan yang ia nanti-nantikan akhirnya bisa ia lihat juga. Dan ia benar-benar terkejut saat Jack langsung menariknya bersimpuh di hadapan lelaki itu, Jack juga mengarahkan mulut Suci ke miliknya untuk memuaskan miliknya itu.
"Oouuhhh yeaaahh terusss!!" erang Jack dengan mata terpejam sambil memaju-mundurkan kepala Suci di miliknya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...