Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 30. Belum puas


__ADS_3

Tanpa diduga, ucapan mereka itu didengar oleh Maria yang kebetulan baru datang ke sekolah dan tengah memikirkan Zanaya.


"Apa? Zanaya pincang??" sela Maria.


Sontak keempat lelaki itu menoleh ke asal suara, mereka terkejut melihat Maria berdiri disana.


"Maria, sejak kapan lu disitu?" tanya Bio.


"Gue baru datang kak, gue gak sengaja dengar tadi ucapan kalian tentang Zanaya. Emang benar dia kakinya pincang?" ucap Maria.


"Eee iya Mar, gue lihat sendiri tadi pas gue datang ke rumahnya. Kayaknya juga dia gak sekolah deh," ucap Jack.


Maria pun berpikir keras, ia heran bagaimana Zanaya bisa terluka seperti itu.


"Duh, Zanaya kenapa ya? Apa karena semalam dia gue ajak ke club? Jangan-jangan abangnya yang bikin dia kayak gitu?" batin Maria.


"Lu kenapa Mar? Mikirin apa?" tanya Jack.


"Gue cuma khawatir sama Zanaya kak, gue takut dia kenapa-napa. Soalnya semalam itu dia dimarahin sama abangnya karena ketahuan pergi ke club malam," jawab Maria.


"Kok bisa? Emang Zanaya suka main ke tempat gituan ya?" tanya Jack sedikit terkejut.


"Sebetulnya enggak, tapi semalam gue yang ajak Zanaya pergi kesana buat hadirin pesta ulang tahun teman gue," jawab Maria.


"Hah? Ya ampun Maria, lu tuh teman macam apa sih? Kenapa lu pake bawa-bawa Zanaya ke tempat begituan coba?" geram Jack.


"Ya maaf, gue kan gak tahu kejadiannya bakal kayak gini. Gue kira semuanya akan baik-baik aja," ucap Maria.


"Parah lu Mar! Sahabat itu harusnya gak menjerumuskan temannya ke jalan yang buruk, ini gak bener namanya!" ucap Jack.


"Gue nyesel ngelakuin itu, gue akui gue salah. Gue juga gak mau ini terjadi sama Zanaya," ujar Maria.


"Yaudah lah, penyesalan lu udah terlambat sekarang Maria. Zanaya udah dihukum pasti sama abangnya gara-gara lu," ucap Jack.


"Terus gue harus gimana dong kak?" tanya Maria.


"Ya enggak gimana-gimana, lu cukup doain aja supaya Zanaya gak kenapa-napa," jawab Jack.


"Umm, apa nanti siang gue coba jengukin Zanaya aja ya ke rumahnya sama yang lain?" usul Maria.


"Terserah lu sih, tapi emang lu yakin kalau abangnya Zanaya bakal terima lu di rumahnya? Secara kan lu yang udah bawa Zanaya pergi semalam," ujar Jack.


"Iya juga ya," Maria pun mengurungkan niatnya dan merasa bingung harus bagaimana.


Tiba-tiba saja, Tika serta Mecca muncul di dekat mereka dan langsung menghampiri Maria yang tengah bersama Jack disana.


"Eh eh eh, ada apaan nih rame-rame pada ngumpul disini?" tanya Tika penasaran.

__ADS_1


"Zanaya sakit Tik, dia gak masuk sekolah hari ini," jawab Maria.


"Apa? Zanaya sakit? Dia sakit apa Mar? Terus kok lu bisa tahu?" kaget Tika dan Mecca.


"Iya Tik, barusan gue denger dari kak Jack. Dia sendiri yang lihat kondisi Zanaya waktu di rumahnya tadi," jawab Maria.


Tika sontak menoleh ke arah Jack.


"Benar itu kak? Zanaya sakit apa?" tanya Tika pada Jack dengan tampang cemas.


"Dari yang gue lihat sih Zanaya jalannya agak susah gitu, mungkin kakinya lagi sakit. Tapi, gue juga gak tahu pasti dia kenapa," jawab Jack.


"Duh, kenapa lu gak tanya langsung ke Zanaya dia kenapa?" heran Tika.


"Maunya sih begitu, tapi gue langsung diusir sama abangnya Zanaya dan malah gue sampe ditonjok nih kayak gini," ucap Jack.


"Hah??" ketiga gadis itu tersentak bersamaan.




"Iya gue tahu, tapi gak ada salahnya kan kalau mencoba? Intinya gue pengen lu jadi pasangan hidup gue Zanaya, lu mau kan?" ucap Refal sembari meraih satu tangan adiknya.


Zanaya terdiam sesaat, ia tak tahu harus menjawab apa saat ini.


Namun, Zanaya masih ragu untuk mengatakannya karena ia belum yakin rasa apakah itu.


"Kok diem aja sih Zanaya? Lu mau apa enggak nih menjalin hubungan cinta sama gue? Ayolah, gue janji gak akan galak sama lu lagi!" ujar Refal.


"Eee aku gak tahu kak," ucap Zanaya.


"Loh gak tahu gimana? Masa tinggal jawab iya aja pake acara gak tahu?" heran Refal.


"Emang kalo aku jawab iya, terus kakak bakal apain aku?" tanya Zanaya.


"Ya paling gue peluk, tanda kalau gue senang banget sama jawaban lu itu," ucap Refal.


"Nanti deh kak, kasih aku waktu buat mikir ya!" pinta Zanaya.


"Okay, gue gak bakal maksa lu buat jawab sekarang. Gue tahu ini emang sulit, tapi boleh kan gue nyusu sama lu?" ucap Refal.


Zanaya terkejut, matanya melotot mendengar permintaan Refal barusan.


Akhirnya mau tidak mau, Zanaya pun terpaksa melayani Refal. Kali ini pria itu hanya bermain pada bagian atas tubuhnya.


Zanaya senang lantaran Refal menepati janjinya yang hanya akan bermain pada bukit kembarnya.

__ADS_1


Lama-kelamaan juga Zanaya mulai menikmati hisapan yang dilakukan Refal itu, ia tanpa sadar menekan tengkuk Refal agar lebih dalam menghisap miliknya.


"Aku gak tahu perasaan apa ini, tapi aku harus lawan semuanya dan jangan sampai terlena hanya karena sentuhan kak Refal!" batin Zanaya.


"Eeugghh stop kak!" ujar Zanaya yang langsung menarik rambut kakaknya.


Refal tersentak kaget dengan pergerakan Zanaya, ia menatap tajam gadis itu sambil mencengkram dua bahunya erat.


"Lo ngapa sih? Kalo keenakan tuh diem aja, gausah pake jambak rambut gue!" kesal Refal.


"Ma-maaf kak! Aku harus nyuci pakaian, udahan dulu ya?" ucap Zanaya gugup.


Gadis itu beranjak dari sofa dan bergegas pergi ke belakang meninggalkan kakaknya, membuat Refal terheran-heran.


"Aneh tuh anak, tadi padahal udah keenakan. Kenapa malah tiba-tiba minta udahan?" gumam Refal seraya menggaruk kepalanya.


Karena masih berhasrat tinggi, Refal menyusul Zanaya ke belakang dan kembali meminta jatah.


Ya Refal memang sulit menahan gairahnya ketika bersama gadis itu, ia selalu ingin menggagahi adiknya sampai lemas di ranjang.


"Zanaya!" panggil Refal lantang.


Gadis itu pun menoleh ke arahnya dengan heran dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Ada apa ya kak?" tanya Zanaya.


"Lu kenapa tinggalin gue gitu aja? Gue masih butuh tubuh lu buat tuntasin hasrat gue tau, udah ayo kita lakuin ke intinya aja!" sentak Refal.


Refal berusaha menyentuh tangan adiknya, tapi dengan cepat ditepis oleh Zanaya.


"Aku gak mau kak, aku bukan boneka kakak yang bisa kakak perlakukan seenaknya ya! Cukup satu kali kakak ngelakuin itu ke aku, jangan harap ada kejadian lainnya!" tegas Zanaya.


"Ohh, lu udah berani lawan gue?" geram Refal.


"Ya, buat apa aku takut sama manusia bejat kayak kakak yang tega perkosa adiknya sendiri? Kakak itu lebih biadab daripada iblis!" umpat Zanaya.


Plaaakk


Satu tamparan keras mengenai pipi Zanaya, Refal yang melakukannya karena tak bisa menahan diri.


"Lancang lu ya! Lihat aja, berapa lama lu bisa bertahan dari gempuran gue. Ayo Zanaya, kita main-main lagi sampe puas!" ucap Refal.


Refal mencengkram lengan Zanaya dan menariknya paksa menuju kamar.


Zanaya terus meronta-ronta, namun pada akhirnya ia pasrah dibawah kungkungan kakak tirinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2