
Zanaya tersenyum menatap wajah kakaknya, ia gerakan perlahan telapak tangannya dan mengusap wajah penuh peluh itu dengan lembut.
"Aku harap itu benar kak," lirih Zanaya.
"Gue janji bakal bikin lu jadi wanita yang paling beruntung di dunia!" ucap Refal.
"Terserah kakak aja," singkat Zanaya.
"Kalo gitu gue mau ke kamar mandi dulu, gue udah gak tahan pengen pipis," ucap Refal.
"Yaudah, kamu boleh pergi dulu," ucap Zanaya pelan.
Cup!
Refal mendaratkan satu kecupan di kening adiknya, sebelum ia bangkit dan bergerak menuju kamar mandi untuk menuntaskan buang airnya.
"Huft, aku masih ragu buat percaya sama kak Refal. Kira-kira dia bakal masih bersikap baik gak ya sama aku kalau tahu aku hamil? Aku takutnya dia jadi menjauh dari aku," gumam Zanaya.
Tak lama kemudian, Refal kembali dari kamar mandi dengan wajah geramnya. Ia mendekati Zanaya hingga membuat gadis itu ketakutan.
"A-ada apa kak?" tanya Zanaya pelan.
"Sekarang gue tahu apa yang lu sembunyiin dari gue, pantas aja lu kelihatan bimbang gitu buat kasih tau ke gue Zanaya," ucap Refal.
"Maksud kakak?" heran Zanaya.
Refal pun menunjukkan testpack yang ia temukan di kamar mandi tadi kepada adiknya.
"Ini punya lu kan? Lu hamil?" ujar Refal.
Deg!
Zanaya benar-benar syok melihat apa yang ada di tangan Refal saat ini, ia lupa bahwa sebelumnya ia masih menyimpan testpack itu di meja kamar mandi dan belum mengambilnya.
"Kenapa lo diem? Bener kan ini punya lu? Iyalah jelas, karena gak ada siapa-siapa lagi disini selain lu," sentak Refal.
Zanaya masih terdiam bingung, ia tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana menghadapi pertanyaan Refal yang membuatnya gelisah tak menentu ini.
"Harusnya lu gak perlu sembunyiin ini dari gue, Zanaya. Gue kan udah janji sama lu, gue bakal tanggung jawab apapun yang terjadi!" ucap Refal.
"Ma-maaf kak, aku cuma khawatir kakak akan marah dan justru ninggalin aku kalau tau semua ini. Lagipun, aku juga baru aja tadi siang ngecek pake testpack itu dan ternyata hasilnya positif," ucap Zanaya.
"Okay, gue maafin lu dan gak marah lagi sama lu. Gue juga senang banget setelah tahu ternyata lu lagi mengandung anak gue," ucap Refal.
"Gimana bisa kakak senang? Aku aja kebingungan ini takut ketahuan mama sama papa," ucap Zanaya.
"Kalau kita ketahuan, ya kita jelasin aja semuanya ke mereka tentang hubungan kita. Setelah itu, aku pasti bakal nikahin kamu," ucap Refal.
__ADS_1
"Kakak yakin mereka setuju?" tanya Zanaya.
Refal terdiam sesaat, sejujurnya dirinya juga tak terlalu yakin kalau orang tua mereka akan merestui hubungan terlarang ini.
Namun, Refal sudah terlanjur jatuh ke lubang yang dibuat sendiri olehnya sehingga terlambat jika ia memilih keluar dari sana.
"Yakin gak yakin, kita tunggu aja sampai mereka datang kesini," jawab Refal.
"Emangnya kapan papa sama mama bakal pulang kak?" tanya Zanaya.
"Eee belum tau juga sih, tapi kayaknya sebentar lagi deh. Lo yang sabar aja, jaga bayi lu dengan baik dan jangan sampai orang lain tau tentang kehamilan lu!" ujar Refal.
"Terus sekolah aku gimana kak? Aku takut mereka pada curiga," ucap Zanaya.
"Sementara ini lu tetap sekolah aja kayak biasa, sambil gue cari guru privat yang bisa ngajar homeschooling buat lu," ucap Refal.
Zanaya tersenyum mendengarnya, ternyata Refal benar-benar perduli dan perhatian padanya.
•
•
Waktu berlalu begitu cepat, usia kandungan Zanaya kini sudah memasuki trimester kedua yang artinya perut gadis itu mulai membesar.
Ia pun juga sudah tidak datang ke sekolah karena Refal telah berhasil menemukan guru privat yang bisa mengajarnya di rumah.
"Jawab aja kalo lu hamil sama pacar lu, tapi dia gak mau tanggung jawab," ucap Refal santai.
"Pacar aku kan kakak, berarti kakak..."
"Itu kan cuma bohongan sayang, lu jangan mikir yang enggak-enggak deh!" sela Refal.
"Hehe, iya kak iya.." Zanaya tersenyum renyah sembari mengusap perutnya.
"Ngapain tuh perut dipegangin terus? Takut kempes?" tanya Refal heran.
"Ih bukan, ini bentuk kasih sayang aku ke anak kita. Emangnya kamu yang gak pernah usap-usap dia, ayah macam apa sih kamu?!" jawab Zanaya.
"Emang apa ngaruhnya sih digituin? Dia kan ada di dalam, mana kerasa coba?" ujar Refal.
"Justru itu kak, dia bisa ngerasain sentuhan orangtuanya dari luar sini. Makanya kamu coba usap dong!" pinta Zanaya.
"Iya iya, nanti gue usap kalau gue mau," ucap Refal.
"Lah kok gitu sih kak? Usap sekarang dong, kasihan tau anak kita gak pernah dapat kasih sayang dari kamu!" rengek Zanaya.
"Entar aja Zanaya, lu kan sekarang mau homeschooling dulu. Nanti kalo dilihat sama gurunya bisa berabe tau," ucap Refal.
__ADS_1
"Iya sih, tapi kan gurunya aja belum datang. Masih ada waktu buat kakak usap perut aku," ucap Zanaya.
"Iya juga ya, padahal janjinya jam sembilan tapi udah lima belas menit gak sampai-sampai. Kemana sih tuh guru?" ujar Refal.
"Emang kakak sewa guru privat yang kayak gimana sih?" tanya Zanaya penasaran.
"Yang kayak guru lah, masa tukang bangunan?" jawab Refal santai.
"Hm, itu mah aku juga tau kakak. Maksud aku tuh gurunya masih muda apa udah tua?" ujar Zanaya.
"Udah tua sih kayaknya, soalnya dia karatan gitu," ucap Refal.
"Aih parah banget sih kakak ngatain orang begitu! Awas loh nanti malah berbalik ke anaknya sendiri!" tegur Zanaya.
"Ah lebay lu, yang begituan masih aja dipercaya! Itu mah cuma mitos sayang," ucap Refal.
"Terserah kakak aja lah, yaudah kalo kakak gak mau usap perut aku biar aku pergi aja," ucap Zanaya.
Zanaya kesal dan akhirnya memilih untuk pergi.
"Eh mau pergi kemana?" ujar Refal menahan tangan adiknya.
"Aku mau nunggu di kamar aja, kalo gurunya udah datang suruh ke kamar aku ya kak!" ucap Zanaya.
"Heh! Gila kali lu ya mau berduaan di kamar sama guru privat lu itu?! Lu pengen bikin gue emosi?" geram Refal.
"Loh kenapa kak? Kan kakak sendiri yang bilang guru itu udah tua, gak masalah dong?" heran Zanaya.
"Tua sih tua, tapi tetep aja gak boleh. Yang namanya naf-su itu bakal selalu ada di setiap manusia sayang," ucap Refal.
"Huft, ribet amat sih!" kesal Zanaya.
Ting nong ting nong
Tak lama kemudian, bel rumah mereka berbunyi. Refal pun mengira yang datang adalah guru privat adiknya.
"Tuh guru lu dah datang, bukain gih!" suruh Refal.
"Iya kak," singkat Zanaya.
Gadis itu menurut dan melangkah keluar menemui tamu yang datang.
Ceklek
Ia membuka pintu, namun yang dilihatnya bukanlah guru tua seperti yang kakaknya bilang tadi, melainkan seorang pemuda tampan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...