Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 53. Pembelaan Zanaya


__ADS_3

Refal tersenyum, kemudian memeluk Zanaya erat sembari mengusap punggungnya. Ia menumpahkan air mata kesedihannya disana.


Setelah dirasa cukup, Refal melepas pelukannya dan beralih memegang perut Zanaya yang sedikit membesar itu.


"Sayang, jaga anak kita baik-baik ya! Jangan sampai calon buah hati kita ini kenapa-napa! Aku mau lihat dia besar dan tumbuh dewasa sayang," ucap Refal lembut.


"Iya kak, soal itu kamu gak perlu khawatir. Aku pasti bakal jaga anak kita baik-baik kok, percaya sama aku kak!" ucap Zanaya tersenyum.


"Makasih ya Zanaya," ucap Refal.


Refal menarik dan menahan tengkuk Zanaya, lalu menyatukan bibir mereka dengan lembut.


Zanaya tak menolak, ia justru membalas ciuman Refal dengan tak kalah panasnya.


Zanaya berpikir mungkin ini kali terakhir ia dan sang kakak bisa saling berpagutan seperti sekarang, maka dari itu tidak ada salahnya jika ia membalas permainan bibir pria itu.


"Ehem ehem.." suara deheman tersebut berhasil membuat keduanya terkejut bukan main.


Refal sontak melepas pagutannya, menoleh ke arah pintu dan menemukan mamanya tengah berdiri disana dengan sorot mata tajam.


"Mama?" lirih Refal.


Arin mendengus dingin dan melangkah masuk ke dalam kamar putranya, menghampiri sepasang saudara yang tadi asyik bercumbu itu.


"Sudah kan pamitan nya? Itu jemputan kamu sudah ready di bawah Refal," ucap Arin.


"Ma, sebentar dulu dong ma. Aku masih mau bicara sama kak Refal berdua," pinta Zanaya.


"Apa Zanaya? Tadi mama lihat jelas loh kalian ciuman, itu suatu hal yang gak wajar dilakukan seorang abang ke adiknya. Mama gak mau biarin kalian berduaan lagi," ucap Arin tegas.


"Tapi ma, kak Refal gak maksa aku kok. Mama jangan salahin kak Refal dong!" ucap Zanaya.


"Udah ya Zanaya, kamu jangan belain kakak kamu terus! Lama-lama kamu mulai kena pengaruh gak benar dari Refal ya sayang," geram Arin.


"Kak Refal gak pernah pengaruhi aku yang enggak-enggak, jadi mama jangan asal deh!" ucap Zanaya.


"Ohh, ini buktinya kamu jadi berani melawan mama. Pasti karena ajaran Refal yang gak bener kan sayang? Emang dasar kakak gak tahu diri kamu! Kamu itu udah bikin anak saya rusak!" Arin benar-benar emosi saat ini.


Refal hanya bisa menunduk lesu, ia pasrah dimarahi seperti apapun juga.


"Ma, udah cukup ma jangan marahin kak Refal terus! Aku gak terima ya kalau mama bersikap kayak gitu ke kak Refal, mending aku pergi aja ikut sama kak Refal!" ucap Zanaya.

__ADS_1


"Kamu jangan macam-macam ya Zanaya! Mama gak akan biarin kamu pergi sama Refal, jangan mimpi ya kamu!" peringat Arin.


"Kenapa ma? Kenapa aku gak boleh pergi sama kak Refal? Aku cinta dia ma, aku mau bareng terus sama dia. Lagian anak ini juga anak kak Refal ma, apa kata laki-laki yang mama mau suruh buat nikahin aku nantinya?" sentak Zanaya.


"Papa kamu sudah atur semuanya Zanaya, dan gak ada bantahan lagi. Pokoknya kamu akan segera dinikahkan dengan pria yang bisa terima kamu apa adanya," ucap Arin.


Zanaya menggeleng keras, tangannya justru mencengkram kuat lengan sang kakak.


"Enggak ma, aku gak mau pisah sama kak Refal. Aku bakal ikut kak Refal kemanapun dia pergi, aku juga gak mau nikah sama cowok lain!" ujar Zanaya.


"Cukup Zanaya!" bentak Arin emosi.


Namun, Zanaya seolah tak perduli dengan ucapan mamanya dan tetap kekeuh pada keputusannya.


"Sampai kapanpun ma, Zanaya Zenechka itu cuma milik Refal Hardika seorang. Gak ada siapapun yang bisa pisahin kami!" tegas Zanaya.


"ZANAYA!" Arin emosi dan mengangkat tangannya seolah hendak menampar Zanaya.




Ting nong ting nong


Ia sontak pamit lalu mematikan teleponnya agar bisa mencari tahu siapa yang datang kesana di pagi hari yang indah ini.


📞"Eee sudah dulu ya pak Mahdi? Kita bahas soal perjodohannya dilanjut nanti lagi, ada yang datang nih ke rumah saya. Terimakasih atas waktunya pak!" pamit Eza di telpon.


Setelah telpon terputus, Eza yang penasaran langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk menemui tamu di luar sana.


Ceklek


Eza terkejut melihat sosok pria tampan dan muda berdiri di depannya, pria itu menyapanya dengan senyum merekah di bibirnya.


"Selamat pagi pak!" sapa si pria.


"Ah iya, pagi juga. Anda ini siapa ya? Ada keperluan apa datang kesini?" heran Eza.


"Eee perkenalkan saya Ilham, saya ini guru privat nya Zanaya. Hari ini kebetulan jadwal saya ngajar setelah kemarin dua hari libur," ucap pria itu.


Eza terkejut mendengarnya, ia tak mengerti sejak kapan Zanaya memakai guru privat.

__ADS_1


"Oalah, saya papanya Zanaya. Kalo gitu ayo kamu masuk aja dulu deh! Biar nanti saya panggilkan Zanaya nya," ucap Eza.


"Baik, terimakasih pak!" ucap Ilham.


Eza melebarkan pintu dan menyilahkan Ilham masuk ke dalam rumahnya, lalu menyuruh pria itu duduk menunggu di sofa.


"Silahkan duduk dulu! Zanaya sepertinya masih di kamar," ucap Eza.


"Makasih pak, saya juga gak buru-buru kok. Saya siap tunggu sampai Zanaya turun," ucap Ilham.


"Baiklah, tunggu sebentar ya? Saya mau coba naik ke atas dulu buat temuin Zanaya, barangkali dia udah siap," ucap Eza pamit.


"Oh iya iya pak," ucap Ilham tersenyum.


Eza hendak menaiki tangga menemui Zanaya di atas sana, tapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya dan malah kembali ke tempat Ilham berada.


"Eh sebentar nak Ilham, kayaknya ada yang perlu saya tanyakan deh," ucap Eza.


"Eee ada apa ya pak?" ujar Ilham heran.


"Anda guru privat nya Zanaya kan? Lalu, apa anda tau alasan Zanaya menyewa guru privat?" tanya Eza penasaran.


"Wah kalau itu sih saya kurang tahu pak, saya cuma gantiin tugas bapak saya yang belum bisa mengajar," jawab Ilham.


"Ohh, emang Zanaya gak pernah cerita gitu ke anda? Misalnya dia putus sekolah karena apa gitu," tanya Eza lagi.


"Ya soal itu sih Zanaya pernah bilang, dia katanya gak mau lanjut sekolah karena malas. Dia lebih suka belajar di rumah katanya," jawab Ilham.


"Malas? Itu anak ya emang pemalas banget," ucap Eza geleng-geleng.


Ilham hanya tersenyum mendengarnya.


"Syukurlah ternyata guru privat ini gak tahu apa alasan sebenarnya Zanaya berhenti sekolah, tadinya saya kira dia sudah tahu," batin Eza.


Setelah mendapat jawaban pasti, akhirnya Eza memutuskan untuk pergi ke atas menemui putrinya.


Sementara Ilham tetap disana dengan wajah keheranan, ia merasa ada sesuatu yang tengah disembunyikan Eza darinya.


"Itu papanya Zanaya kenapa ya? Kok tingkahnya aneh banget gitu?" gumam Ilham.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2