
Arin terdiam bingung, sedangkan Zanaya menyingkirkan tangan sang mama dari pundaknya seolah tak ingin disentuh. Gadis itu beralih menatap Refal dan terus melambaikan tangan dengan wajah sedihnya.
Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Refal pun bergerak perlahan meninggalkan tempat itu. Refal sendiri masih tak kuasa menahan sedih karena terpaksa harus pergi dan menjauh dari Zanaya demi menuruti permintaan papanya.
"Ini gak adil, kenapa cinta sejati tidak bisa bersatu? Apa aku salah telah mencintai Zanaya? Kalau disuruh pilih, aku lebih baik mati daripada harus berpisah dengan Zanaya," batin Refal.
Setelah menjauh dari rumah, Refal tanpa sengaja bertemu dengan Jack yang sedang menaiki motornya di depan sana. Sontak Refal meminta supir taksinya untuk berhenti sebentar ke pinggir, nampaknya ia memiliki rencana yang akan ia bahas dengan Jack.
"Pak, tolong berhenti sebentar ya! Saya mau ada urusan dulu," pinta Refal.
"Baik mas," supir itu menurut dan menghentikan mobilnya ke pinggir.
Refal membuka kaca mobil, berteriak memanggil Jack agar berhenti sejenak untuk berbincang padanya. Beruntung Jack mendengar teriakan Refal dan mau menuruti kemauan pria itu, Jack pun berhenti lalu menatap Refal yang sedang turun dari mobilnya.
"Ada apa bang? Lu mau ngomong ke gue buat jangan deketin Zanaya lagi? Itu udah basi bang, gue bosen dengernya!" sentak Jack.
"Sabar dulu, justru gue minta lu berhenti karena gue pengen titipin Zanaya sama lu. Gue tahu lu orang yang paling bisa gue percaya," ucap Refal.
"Maksud lu? Kenapa lu titipin Zanaya ke gue? Emang lu sendiri mau kemana? Lu mau tinggalin Zanaya demi perempuan lain, iya? Tega banget sih lu!" geram Jack.
"Itu aja yang mau gue bilang ke lu, permisi!" singkat Refal.
"Jelasin dulu ke gue!" pinta Jack.
Refal hanya diam menunduk, setelahnya ia berbalik berniat kembali ke mobil karena sudah menyampaikan apa yang ingin ia katakan pada Jack. Namun, salah paham yang dirasakan Jack membuat pria itu malah menahan pundak Refal seolah tak membiarkannya pergi.
"Lo gak bisa pergi sebelum lu jelasin semuanya! Apa benar lu berniat tinggalin Zanaya demi perempuan lain? Kalau iya, lu benar-benar keterlaluan bang!" geram Jack.
Refal menyingkirkan tangan Jack, lalu kembali melangkah menuju mobil. Akan tetapi, Jack yang sudah tersulut emosi malah memukul wajah Refal dari belakang sampai pria itu tersungkur di atas jalan.
__ADS_1
Bughh
Refal terkejut, ia tak sempat mengelak dan membuat wajahnya kini lebam akibat pukulan Jack yang datang secara tiba-tiba itu. Ia pun mendongak menatap Jack dengan bingung.
"Lo apa-apaan sih? Kenapa lo pukul gue coba?" tanya Refal dengan nada tinggi.
"Sorry bang, gue gak bermaksud begitu. Tapi gue gak terima aja karena lu udah nyakitin Zanaya!" geram Jack.
"Gue gak ada nyakitin dia, gue pergi juga karena keadaan yang memaksa. Kalau bukan karena gue diusir, gue gak mungkin pergi ninggalin Zanaya gitu aja. Gue tuh cinta sama Zanaya, gue sayang sama dia. Maka dari itu, gue milih lu buat jagain Zanaya karena gue tahu lu juga sayang sama dia!" ucap Refal tegas.
Jack terdiam, haruskah ia mempercayai ucapan Refal? Menurutnya, ada kemungkinan Refal bohong karena pria itu memang sering berbohong. Tapi, ada kemungkinan juga semua yang dikatakan Refal itu benar dan memang terjadi.
"Apa semua yang lu bilang bener bang? Bukan cuma sekedar karangan lu? Hidup lu kan penuh drama, gue gak bisa percaya gitu aja sama lu!" ucap Jack memastikan.
"Terserah lu," ketus Refal.
Refal bangkit dan kembali ke mobilnya, meninggalkan Jack begitu saja dengan rasa bingungnya.
•
•
Zanaya terus menangis terisak di atas ranjangnya sembari memeluk boneka besar pemberian Refal saat itu, ia kembali membayangkan momen-momen kebersamaan dirinya dan sang kakak yang dahulu pernah terjadi. Meski kini semua itu hanyalah kenangan semata.
"Hiks hiks... harus gimana lagi aku sekarang? Aku belum bisa melupakan kak Refal, ternyata emang gak semudah itu melakukannya," ucap Zanaya.
Tentu Zanaya sangat sedih malam ini, ketika biasanya setiap malam ia selalu was-was dengan kedatangan kakaknya yang menyelinap ke kamar dan memberi sentuhan di tubuhnya, kali ini semua itu tinggal kenangan dan tidak akan pernah terjadi lagi.
"Kalau aja kakak gak pergi, mungkin aku rela setiap jam disentuh sama kamu. Aku ikhlas tubuh aku dipegang sama kamu, asalkan kamu tetap ada di dekat aku kak!" ucap Zanaya terisak.
__ADS_1
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar, yang membuat Zanaya terkejut lalu reflek menoleh ke arah pintu dan sedikit berteriak untuk menanyakan siapa yang datang. Rupanya Arin lah yang ada disana, tentu Zanaya bingung mengapa mamanya datang di malam hari seperti ini.
Akhirnya wanita itu bangkit, ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Ia temui sang mama yang sudah berdiri disana sambil tersenyum, sangat berbeda dengannya yang terus menangis sedari tadi.
"Kamu kenapa sayang? Kok sedih begitu sih mukanya?" tanya Arin heran.
Zanaya terdiam dengan wajah berpaling dari pandangan mamanya, ia sungguh kesal sebab Arin lah yang sudah memisahkan dirinya dengan Refal. Ditambah barusan Arin justru menanyakan hal yang tak seharusnya dia tanyakan, sudah tentu Zanaya menangis karena kehilangan Refal.
"Kamu kok diem aja sih sayang? Jawab mama dong, mama kan penasaran kenapa kamu sedih kayak gini!" ucap Arin.
"Mama bisa gak sih gausah pura-pura gak tahu? Aku begini ya karena mama dan papa, jangan pura-pura lupa deh!" kesal Zanaya.
"Biasa aja dong jawabnya sayang, mama kan gak tahu kalau kamu masih sedih mikirin Refal. Mama kira kamu udah lupain dia," ucap Arin.
"Mana bisa aku lupain orang yang aku sayangi gitu aja, ma? Ini berat buat aku, gak mungkin aku bisa lupain kak Refal," ucap Zanaya.
"Iya iya, yaudah sekarang kamu lupain dulu masalah kamu itu! Di bawah tuh ada teman kamu yang datang, mau ketemu kamu katanya," ucap Arin.
Zanaya terbelalak lebar, "Siapa yang datang ma? Teman aku yang mana?" tanyanya penasaran.
"Mama juga gak tahu sayang, tapi dia laki-laki. Terus dia ganteng lagi," jawab Arin.
Zanaya berpikir keras mencoba mencari tahu siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini, dan pikirannya mengarah pada sosok Jack. Sebab hanya pria itu yang pernah datang ke rumahnya selama ini.
"Laki-laki? Ganteng? Apa iya kak Jack yang datang kesini? Tapi, dia mau apa?" batin Zanaya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...