
Setelahnya, Zanaya pun bergegas pergi dari sana dan memasukkan testpack yang ia beli ke dalam tas agar tidak ketahuan orang sekitar.
"Huh aku harus cepat-cepat sampe rumah dan tes apa aku hamil atau enggak nih!" gumam Zanaya.
Namun, alangkah terkejutnya Zanaya ketika melihat Refal sudah berdiri di depan apotek itu dan menatapnya dingin.
"Abis beli apaan lu di dalam?" tanya Refal ketus.
"Eee kakak? Sejak kapan kakak ada disini?" Zanaya syok dan deg-degan dibuatnya.
"Gue tanya, lu beli apaan disitu? Jawab dulu, bukan malah balik nanya!" ujar Refal.
"Iya kak, ini aku cuma mau beli obat sakit kepala, tapi gak ada," bohong Zanaya.
"Lu gak bohong kan?" tanya Refal curiga.
"Buat apa aku bohong kak? Beneran kok, tadi soalnya aku ngerasa pusing dan gak enak badan sewaktu di sekolah," jawab Zanaya.
"Yaudah, yuk gue antar lu pulang! Kalo pusing tuh gak boleh kepanasan, ini malah balik duluan tanpa ngabarin gue. Harusnya kan lu nungguin gue datang Zanaya," ucap Refal.
"Maaf kak, aku pikir tadi dengan aku jalan sendiri aku bisa lebih cepat sampe rumah," ucap Zanaya.
"Ah alasan aja lu, awas ya kalo besok lu kayak gini lagi!" ujar Refal.
"Iya kak, aku janji gak akan pulang duluan lagi. Yuk kak kita pulang sekarang aja!" ucap Zanaya.
Refal mengangguk setuju, ia langsung meraih tangan Zanaya dan mengajak adiknya pergi menuju mobil.
Tanpa menunggu lama, Refal menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali menatap Zanaya.
"Kak, kenapa kakak bisa tahu kalau aku ada di apotek ini?" tanya Zanaya heran.
"Gue gak sengaja lihat lu masuk ke apotek itu sewaktu gue lagi cari lu, yaudah gue tungguin aja lu keluar dari sana," jelas Refal.
"Oalah, terus di rumah ada makanan gak kak buat kita makan siang?" tanya Zanaya.
"Ya jelas gak ada lah, siapa coba yang mau masak kalau bukan lu?" jawab Refal.
"Eee kita mampir beli makanan dulu boleh ga kak? Soalnya aku lagi pusing, kayaknya aku gak kuat kalau harus masak," ucap Zanaya.
"No problem, kita nanti mampir ke warung makan di depan. Nanti begitu sampe, lu langsung makan siang terus minum obat. Jangan lupa juga istirahat ya!" ucap Refal.
"Iya kak," singkat Zanaya.
Zanaya menghela nafas lega, ia merasa tenang setelah Refal tidak lagi curiga padanya.
"Zanaya!" panggil Refal tiba-tiba.
Sontak lamunan Zanaya buyar seketika, ia reflek menoleh ke arah Refal dan bertanya bingung.
__ADS_1
"Iya, kenapa kak?" tanya Zanaya sedikit panik.
"Lo yang kenapa Zanaya, gue perhatiin lu ngelamun terus. Lagi mikirin apa sih? Atau kepala lu pusing lagi?" ujar Refal.
"Eh enggak kak, aku cuma lapar aja. Makanya kakak cepetan dikit dong bawa mobilnya!" ucap Zanaya.
"Ohh, lu lapar? Iya iya, ini gue cepet kok. Lagian tuh bentar lagi kita sampe di warung makan, tahan sebentar ya cantik!" ucap Refal.
"Aku tahan kok kak," ucap Zanaya sambil tersenyum.
"Eee kalo lu sakit, berarti nanti gue gak bisa minta jatah dari lu dong?" tanya Refal.
"Ya hari ini libur dulu lah kak, kan kemarin-kemarin kita udah sering begituan. Biarin aku istirahat sampai besok minimal," jawab Zanaya.
"Iya deh, kasihan juga gue sama lu kalo dipaksa terus!" ucap Refal.
Tak lama kemudian, mereka tiba di warung makan. Refal pun melipirkan sejenak mobilnya ke pinggir lalu turun untuk membeli makanan.
•
•
Singkat cerita, Zanaya sudah berada di kamarnya dan memutuskan untuk segera melakukan tes dengan testpack yang baru ia beli.
Zanaya pun langsung mengeluarkan testpack itu dari tasnya, lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengecek kebenaran mengenai dirinya.
"Nah, ini dia nih alatnya. Aku harus cari tau aku beneran hamil apa enggak," ucap Zanaya lirih.
"Semoga aku gak hamil, semoga aku gak hamil!" ucap Zanaya berulang kali.
Tak lama kemudian, Zanaya sudah selesai melakukan tes itu dan kini ia tengah menanti hasil tesnya sambil berharap-harap cemas.
Gadis itu membuka matanya, melihat dua garis biru pada testpack tersebut dan seketika ia syok berat menatap tak percaya.
"Hah? Aku hamil??" Zanaya terkejut terheran-heran.
TOK TOK TOK...
Dan Zanaya bertambah kaget mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya, ia sontak bergegas menyembunyikan testpack itu dan melangkah keluar kamar mandi.
"Duh, pake ada yang datang segala lagi. Itu pasti kak Refal deh, dia gak boleh tau soal kehamilan aku ini," gumam Zanaya.
Zanaya pun melangkah ke dekat pintu dan membukanya sambil menghela nafas sejenak.
Ceklek
Dan benar saja dugaannya, Refal sudah berdiri disana menatap ke arahnya dengan dingin.
"Eh kak, kenapa?" ucap Zanaya santai.
__ADS_1
"Lo udah belum ganti bajunya? Lama amat perasaan daritadi gue tunggu di meja makan gak muncul-muncul," ucap Refal.
"Belum kak, kakak gak lihat nih aku masih pake seragam sekolah?" ucap Zanaya.
"Hadeh, lu ngapain aja daritadi Zanaya? Gue kira lu ketiduran atau apa gitu," ucap Refal.
"Gak kok kak, tadi aku abis dari kamar mandi. Kakak sabar dong!" ucap Zanaya.
"Yaudah, tapi lu cepetan ganti bajunya! Biar kita bisa makan siang sama-sama," ujar Refal.
"Iya kak, udah sana ke bawah aja dulu! Abis ganti baju aku langsung susul kakak kok," ucap Zanaya.
Refal mengangguk pelan, lalu berbalik dan pergi meninggalkan adiknya walau ia masih menaruh curiga pada gadis itu.
"Huh selamat!" ucap Zanaya lega.
Zanaya pun kembali ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat, pikirannya mengarah pada testpack itu yang menyatakan dirinya hamil.
"Aku masih gak percaya kalau aku hamil, bisa aja testpack itu salah," ucap Zanaya.
"Tapi, di keterangan bungkusnya ini udah pasti akurat dan gak mungkin salah. Terus gimana dong? Masa iya aku hamil anak kak Refal? Aku harus bilang apa coba ke papa mama?" pikir Zanaya sembari mengetuk-ngetuk bibirnya.
Akhirnya Zanaya memutuskan melupakan sejenak mengenai testpack itu dan memilih bergegas berganti pakaian agar Refal tidak curiga.
Setelah selesai, Zanaya pun langsung keluar dari kamarnya dan menemui Refal yang sudah menunggu sedari tadi di bawah sana.
"Kak Refal!" sapa Zanaya lembut.
"Hadeh, lo lama amat sih Zanaya! Gue udah laper tau, ganti baju aja lama banget!" kesal Refal.
"Ih apa sih? Kalo kakak lapar ya makan aja kali, kenapa harus nunggu aku?" sewot Zanaya.
"Ya gue kan pengennya makan bareng lu, lagian gak enak lah makan sendirian," ucap Refal.
"Iya iya, yaudah daripada banyak omong mending kita langsung makan aja!" ucap Zanaya.
Refal mengangguk setuju, Zanaya pun mulai menuangkan nasi ke piring Refal serta lauknya yang sudah mereka beli tadi.
Ting nong ting nong
Disaat mereka hendak makan, bel di depan sana justru berbunyi dan mengganggu saat-saat makan siang keduanya.
"Haish, siapa sih itu? Ganggu aja!" geram Refal.
"Gak tahu kak, aku buka aja ya?" ucap Zanaya.
"Yaudah sana cek coba!" suruh Refal.
Zanaya beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke depan pintu untuk mengetahui siapa yang datang di waktu seperti ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...