Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 62. Tidak cinta


__ADS_3

Alfred sedikit kecewa dengan ucapan Zanaya barusan, ia sangat menginginkan wanita itu, tetapi sebaliknya tidak. Namun, Alfred tidak akan menyerah sampai disitu saja. Ia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati Zanaya dan membuat wanita itu luluh padanya.


"Zanaya, kita kesana yuk!" ucap Alfred mengajak Zanaya sembari menyatukan tangan mereka.


"Eee iya, tapi maaf Fred kayaknya kita gak perlu pegangan tangan deh!" pinta Zanaya.


"Kenapa Zanaya? Aku mau kita lebih akrab, jadi ya harus begini," ucap Alfred.


Zanaya benar-benar kesal, disaat ia hendak melepaskan diri tanpa diduga seseorang datang lalu menyapanya. Keduanya pun sontak menoleh ke asal suara, Alfred langsung membulatkan matanya melihat sosok lelaki berdiri disana.


"Zanaya!" sapa seseorang yang tentunya adalah Jack, Zanaya sangat kaget dengan kemunculan pria itu disana.


"Kak Jack?" lirih Zanaya dengan pandangan terus mengarah pada lelaki itu.


Sementara Alfred tentunya masih penasaran siapa pria di depan sana, tangannya juga menggenggam kuat telapak tangan Zanaya seolah tak ingin melepasnya.


"Hai Zanaya! Gak nyangka ya kita bisa ketemu disini? Kamu sekarang udah ada cowok lain?" ucap Jack menghampiri Zanaya.


"Eee dia bukan cowok aku kak," elak Zanaya yang langsung melepas genggaman tangan Alfred.


"Zanaya, kamu bicara apa sih? Kita ini mau dijodohkan loh, kamu dan aku sebentar lagi akan menikah," ujar Alfred.


"Aku kan udah bilang sama kamu, aku gak mau nikah sama kamu!" tegas Zanaya.


"Tapi aku mau, dan kamu juga harus mau Zanaya!" ucap Alfred.


Jack menatap bingung ke arah keduanya, ia tak mengerti bagaimana alur cerita mereka berdua dan memilih untuk tidak ikut campur. Meski sebenarnya, Jack sangat penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi diantara Zanaya serta Alfred.


"Dengar ya Zanaya, aku gak akan izinin kamu buat tolak perjodohan ini!" ujar Alfred.


"Kamu siapa? Kamu gak bisa atur-atur hidup aku kayak gitu!" ucap Zanaya.


"Aku gak ngatur kamu Zanaya, aku cuma mau kamu terima perjodohan ini. Apa salahnya sih kalo kita berdua menikah?" ucap Alfred.


"Masalahnya itu aku gak suka sama kamu Alfred, kamu paham gak sih?!" sentak Zanaya.


"Ya aku paham, tapi cinta kan bisa berjalan seiring waktu. Aku yakin aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku Zanaya!" ucap Alfred.


"Kamu gausah terlalu pede deh, aku ini sulit jatuh cinta. Aku gak mungkin bisa jatuh cinta sama pria yang baru aku kenal," ucap Zanaya.


"Ayolah Zanaya, kamu terima ya perjodohan ini dan jangan ditolak! Aku tuh suka sama kamu Zanaya," ucap Alfred.


"Hey!" Jack yang tak sabar akhirnya menegur Alfred karena tindakannya yang sudah kelewatan.


Sontak Alfred beralih menatap Jack, "Apa mau lu? Emang lu siapa? Lu gausah ikut campur deh di urusan gue sama Zanaya!" sentak nya.


"Gue bukan ikut campur, tapi gue cuma pengen lu gak paksa-paksa Zanaya kayak gitu. Zanaya punya pikiran sendiri, kalau dia gak mau yaudah jangan dipaksa dong!" tegas Jack.


"Lo ngeyel ya dibilangin, mending lu pergi deh dari sini! Lo itu gak diharapin tau disini, dasar cowok gak jelas!" usir Alfred.


"Hahaha, lu bilang gue gak jelas? Padahal lu sendiri tuh yang aneh, cewek kok dipaksa buat cinta sama lu. Situ sehat?" kekeh Jack.


"Suka suka gue dong, lagian Zanaya juga dijodohin sama gue, bukan lu. Udah deh sana lu pergi!" ucap Alfred kesal.


Jack menggeleng pelan, lalu tiba-tiba Arin datang dan membuat ketiganya terkejut.


"Hai nak Jack! Eh, ada kalian berdua juga toh disini?" ucap Arin menyapa Jack dan kemudian melihat kehadiran Zanaya serta Alfred disana.




Disisi lain, Refal dikenalkan dengan teman-teman barunya di kampus oleh sang wanita yang tadi ia temui di jalan. Refal sama sekali tak menyangka jika cukup banyak orang Indonesia yang berkuliah disana saat ini.


Melva memang cukup dikenal di kampus itu, Refal saja sampai heran sebab begitu mereka sampai langsung banyak orang yang menyapa Melva di sepanjang jalan. Namun, Refal maklum karena Melva memang terlihat sangat cantik dan bisa saja para lelaki disana tertarik padanya.


"Va, kamu famous juga ya? Mereka semua sampe pada nyapa kamu terus tuh daritadi, kayaknya mereka suka deh sama kamu," goda Refal.


"Ah bisa aja kamu Fal, mereka itu emang biasa begitu dari kemarin-kemarin. Nanti lama-lama juga kamu bakal digituin sama mereka, soalnya dulu tuh aku juga gak nyangka bisa begini," ucap Melva.


"Oh ya? Wah mungkin itu karena kecantikan kamu, mereka jadinya terpesona deh," ucap Refal.

__ADS_1


"Apaan sih? Emangnya aku cantik apa? Aku tuh biasa aja kali, kamu gausah lebay deh," elak Melva.


"Nah, kenapa sih setiap cewek cantik kalo dipuji tuh kayak gini? Pake merendah segala, padahal udah jelas-jelas kamu tuh cantik," ucap Refal.


"Udah deh Fal, yuk ah kita ketemu sama teman-teman aku yang lain disana!" ujar Melva.


"Pasti teman-teman kamu juga cantik dan ganteng kayak kamu, ya kan?" tebak Refal.


"Sok tahu banget sih kamu, tapi iya sih emang beberapa dari mereka itu cakep-cakep," ucap Melva.


"Pasti lah, secara kamu aja cantik kayak bidadari. Teman-teman kamu juga pasti cakep banget, aku mah apa atuh," ucap Refal.


Melva menggeleng sambil tersenyum, "Ada-ada aja kamu ah, gausah merendah gitu deh. Padahal kamu ganteng kok," ucapnya.


"Masa sih? Emang aku ganteng?" ujar Refal.


"Iya Refal, kamu kan cowok ya pasti ganteng lah. Emangnya mau dibilang cantik?" sarkas Melva.


"Waduh, bisa bercanda juga kamu ya?" kekeh Refal.


"Iya dong," ucap Melva dengan pede.


Tak lama kemudian, muncullah dua orang perempuan dan satu orang lelaki dari arah depan. Mereka menyapa Melva sembari melambaikan tangan, lalu berhenti tepat di hadapan Melva dan juga Refal.


"Eh Mel, kamu sama siapa itu? Aku perasaan baru lihat dia di kampus ini, pacar kamu ya?" ucap Alika menggoda Melva.


Melva menggeleng cepat, "Enggak, dia teman aku. Sembarangan aja kamu bilang cowok orang pacar aku, dia tuh namanya Refal dan dia dari Indonesia juga sama kayak kita," ucapnya mengelak.


"Oalah, ganteng ya Mel? Salam kenal Refal, aku Alika biasa dipanggil Lika!" ucap Alika seraya mengulurkan tangan ke arah Refal.


"Ah iya, aku Refal." pria itu menjabat tangan Alika dan tersenyum ke arahnya.


"Udah gausah lama-lama, gantian sama aku kali kenalannya!" Serena langsung menyerobot dan bergantian menggenggam tangan Refal. "Halo Refal! Kenalin aku Serena!" sambungnya.


"Refal," ucap Refal singkat.


Dan yang satu lagi tentunya bernama Justin, dia adalah teman lelaki pertama Melva di Rusia karena memang Melva jarang sekali memiliki teman lelaki jika tidak dalam kondisi seperti ini.




"Ayolah Zanaya, kamu terima ya perjodohan ini dan jangan ditolak! Aku tuh suka sama kamu Zanaya," ucap Alfred.


"Hey!" Jack yang tak sabar akhirnya menegur Alfred karena tindakannya yang sudah kelewatan.


Sontak Alfred beralih menatap Jack, "Apa mau lu? Emang lu siapa? Lu gausah ikut campur deh di urusan gue sama Zanaya!" sentak nya.


"Gue bukan ikut campur, tapi gue cuma pengen lu gak paksa-paksa Zanaya kayak gitu. Zanaya punya pikiran sendiri, kalau dia gak mau yaudah jangan dipaksa dong!" tegas Jack.


"Lo ngeyel ya dibilangin, mending lu pergi deh dari sini! Lo itu gak diharapin tau disini, dasar cowok gak jelas!" usir Alfred.


"Hahaha, lu bilang gue gak jelas? Padahal lu sendiri tuh yang aneh, cewek kok dipaksa buat cinta sama lu. Situ sehat?" kekeh Jack.


"Suka suka gue dong, lagian Zanaya juga dijodohin sama gue, bukan lu. Udah deh sana lu pergi!" ucap Alfred kesal.


Jack menggeleng pelan, lalu tiba-tiba Arin datang dan membuat ketiganya terkejut.


"Hai nak Jack! Eh, ada kalian berdua juga toh disini?" ucap Arin menyapa Jack dan kemudian melihat kehadiran Zanaya serta Alfred disana.


Zanaya reflek menghampiri ibunya lalu mencium tangan sang ibu setelah melihatnya, diikuti oleh Jack dan juga Alfred. Meski sebenarnya Zanaya masih bingung ada urusan apa Jack dan sang ibu datang kesana secara bersamaan.


"Ma, kok mama bisa ada disini juga? Mama emang niat mau kesini apa gimana?" tanya Zanaya penasaran.


"Iya sayang, mama ada janji sama nak Jack buat ketemuan disini. Eh tapi ternyata malah ketemu kalian berdua juga, maaf ya kalau jadi ganggu kalian!" jawab Arin sambil tersenyum.


"Gapapa ma, malahan aku senang ada mama disini. Jadinya aku gak cuma berduaan sama Alfred," ucap Zanaya.


"Loh kok gitu? Kamu gak senang emang jalan berdua sama nak Alfred?" tanya Arin.


"Biasa aja sih ma, aku lebih senang kalau rame-rame misalnya ada mama atau papa gitu," jawab Zanaya.

__ADS_1


"Oh gitu, yah tapi mama cuma pengen bicara berdua sama nak Jack," ucap Arin.


"Emang mama mau bicara apa sih? Penting banget ya?" tanya Zanaya penasaran.


"Gak terlalu sih, tapi tetap aja kamu gak boleh tau Zanaya. Ayo nak Jack, kita bicaranya di sebelah sana aja biar aman!" ucap Arin.


"I-i-iya tante," ucap Jack gugup.


Arin langsung menarik tangan Jack dan membawa pria itu ke tempat duduk yang agak jauh dari Zanaya serta Alfred. Tentunya Arin tak mau jika putrinya itu mendengar apa yang ia bicarakan dengan Jack nantinya, sehingga Zanaya pun dibuat penasaran saat ini.


"Mama sama kak Jack mau bicarain apa ya? Kok aku gak boleh tahu sih?" lirih Zanaya.


"Biarin aja Zanaya, mungkin ada sesuatu yang penting kali," ujar Alfred.


Zanaya melirik sinis ke arah Alfred, ia sungguh malas berurusan dengan pria itu dan memilih pergi lalu duduk di kursi taman sambil terus menatap sang mama yang sedang berbincang di depan sana bersama Jack.


"Kira-kira mama ngomongin apa ya sama kak Jack?" batin Zanaya.




Jack sangat bingung saat ini, pasalnya Arin terlihat cukup serius menatap wajahnya seolah ada hal yang penting yang ingin wanita itu sampaikan. Jack pun mencoba ikut serius agar tidak membuat Arin kecewa, lagipun ia juga sangat penasaran apa yang hendak dibicarakan wanita itu padanya.


"Eee jadi ada apa ya tante? Terus kenapa juga tante gak bolehin Zanaya tau obrolan kita? Emang tante mau omongin soal apa sih?" tanya Jack heran.


"Ya jelas Zanaya gak boleh tau, soalnya ini kan menyangkut dia. Tante gak mau bikin Zanaya jadi makin tertekan nak Jack, makanya tante ajak kamu kesini sekarang," jawab Arin.


"Tertekan? Maksud tante gimana ya?" tanya Jack.


"Iya Jack, tante tahu Zanaya pasti tertekan sekali dengan perjodohan yang dibuat papanya ini. Tante juga yakin Zanaya gak akan mau menikah dengan Alfred," jawab Arin.


"Ohh, ya iya sih tante tadi Zanaya juga bilang begitu ke Alfred di depan aku. Terus kenapa ya tante?" ucap Jack masih bingung.


"Karena tante gak mau bikin Zanaya tertekan, tante berharap sama kamu Jack supaya bisa buat Zanaya jatuh cinta! Tante yakin sekali Zanaya pasti mau kalau dijodohkan dengan kamu," ucap Arin.


Deg!


Betapa terkejutnya Jack ketika mendengar ucapan Arin barusan, di satu sisi ia senang karena memang itulah yang ia harapkan saat ini. Namun, di sisi lain Jack juga bingung apa yang harus ia lakukan untuk bisa membuat Zanaya jatuh cinta padanya.


"Tapi tante, itu kayaknya bukan hal yang mudah deh. Zanaya kan cinta banget sama Refal, pasti dia gak akan mudah berpaling ke lain hati begitu aja," ucap Jack.


"Ya tante ngerti, tapi ini semua demi kebaikan Zanaya. Daripada tante harus lihat Zanaya tersiksa karena menikah dengan pria yang tidak dia cintai, lebih baik kamu yang menikahi Zanaya, nak Jack!" ucap Arin.


"Kalau Zanaya juga gak mau nikah sama aku gimana tante?" tanya Jack.


"Percaya sama tante, Zanaya itu cinta sama kamu Jack. Kamu pasti bisa meluluhkan hati Zanaya dengan mudah!" jawab Arin.


"Kenapa tante begitu yakin?" tanya Jack bingung.


"Karena tatapan Zanaya ke kamu itu beda Jack, dari matanya aja tante udah bisa simpulkan kalau dia tertarik sama kamu," jawab Arin.


Jack menunduk bingung, ia benar-benar berada dalam dilema besar saat ini.


"Bagaimana Jack? Kamu siap kan buat nikahin Zanaya dan jadi ayah untuk bayi di dalam kandungannya?" tanya Arin memastikan.


Jack kembali mendongak, entah mengapa saat mendengar kata-kata ayah untuk bayi di kandungan Zanaya, Jack merasa sedikit risih. Mungkinkah dirinya tidak ingin menerima bayi yang bukan darah dagingnya?


"Kenapa kamu diam aja Jack? Kamu ragu dengan perasaan kamu sendiri? Bukannya kamu juga cinta sama Zanaya?" tegur Arin.


"Eee iya sih tante, aku akui kalau aku emang cinta sama Zanaya. Tapi yang jadi masalah disini adalah, aku gak bisa menikah dengan seseorang yang cintanya masih pada lelaki lain," ucap Jack.


"Tante kan tadi udah bilang, tante yakin Zanaya juga suka sama kamu. Dia pasti bisa lupain Refal kalau nikah sama kamu Jack," ucap Arin.


"Biar aku pikir-pikir dulu ya tante?" ujar Jack.


"Yasudah, tante beri kamu waktu untuk berpikir. Semoga secepatnya kamu bisa memutuskan ya Jack!" ucap Arin.


Jack hanya mengangguk pelan, ia mengusap wajahnya kasar sembari terus berpikir di dalam hatinya. Ia benar-benar tidak tahu harus memilih apa untuk saat ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2