
Zanaya mengangguk dan mengambil kue di meja.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan botol serta gelas minuman yang dipesan Maria serta Zanaya tadi.
Karin juga ikut kembali bersama pelayan tersebut, ia tampak membawa dua botol di tangannya.
"Nah guys, nih minumannya udah sampai. Kalian pasti haus kan? Minum dulu dong biar enakan!" ucap Karin.
"Thank you Karin!" ucap Maria.
Tanpa basa-basi, Maria langsung menuang cukup banyak minuman tersebut ke kelasnya dan meminum dengan rakus.
Sementara Zanaya masih kebingungan, ia berpikir keras minuman apakah itu? Mengapa ia merasa asing saat melihatnya.
"Kenapa lu bengong aja Zanaya? Ayo minum dong, ini enak loh!" ujar Karin.
"Eh iya iya.." Zanaya menurut dan menuang sedikit minuman itu ke kelasnya.
Begitu ia hendak minum, suara teriakan lantang seorang pria membuatnya terkejut.
"ZANAYA!!"
Ya suara itu berasal dari mulut Refal, tanpa diduga pria tersebut ternyata ada di tempat yang sama dengan Zanaya berada.
"Lo minum tuh alkohol, abis lu di tangan gue Zanaya!" geram Refal menunjuk ke arah adiknya.
"Kak Refal? Waduh gawat nih!" batin Zanaya.
Zanaya, Maria dan juga Karin kompak berdiri menghadap ke arah pria yang berdiri dengan penuh emosi itu.
"Maaf ya, lu siapa? Kenapa lu teriak-teriak begitu di acara ulang tahun gue?" sentak Karin.
"Ohh, jadi lu yang bikin acara ini dan ajak adik gue? Sialan banget lu! Dengar ya, kalo lu mau rusak ya rusak sendiri aja, jangan ajak-ajak adik gue!" ucap Refal sangat emosi.
"Maksud lu apa sih? Siapa adik lu? Emangnya dia ada disini?" tanya Karin.
"Lo tuli? Gue tadi kan panggil Zanaya, yang ada di samping lu itu adik gue!" jawab Refal tegas.
"Iya Rin, ini abang aku. Maafin dia ya kalau udah bikin kamu kesal!" ucap Zanaya pada Karin.
"Ngapain lu pake minta maaf segala ke dia? Bukan gue yang salah disini, tapi dia. Karena dia udah libatin lu di acara haram ini," ucap Refal.
"Heh, jaga ya omongan lu! Bukan gue yang ajak adik lu kesini, tapi temannya sendiri tuh si Maria!" ucap Karin tak kalah emosi.
"I-i-iya bang, aku yang bawa Zanaya kesini. Bang Refal jangan marahin Karin ya, dia gak salah kok!" ucap Maria pelan.
__ADS_1
"Ah bodo lah! Mau siapapun yang ajak lu, intinya tetap aja lu udah bohongin gue Zanaya! Sekarang ayo kita pulang, lu ikut sama gue!" paksa Refal.
"Tapi kak—"
"Ikut!!" bentak Refal.
Pria itu langsung menarik tangan Zanaya secara paksa dan membawanya keluar dari tempat haram itu melewati orang-orang yang sedang berjoget, termasuk wanita yang tadi ditemui Refal.
"Akh sakit kak! Jangan kasar begini dong!" rintih Zanaya merasakan sakit pada lengannya.
"Diam! Lu gak berhak atur-atur gue, lu udah bikin gue emosi Zanaya!" sentak Refal.
"Aku minta maaf kak, tolong lepasin aku! Ini sakit banget tau!" rengek Zanaya.
"Gue gak akan lepasin lu, kali ini gue pastikan lu bakal dapat hukuman Zanaya!" ujar Refal.
"Hah? Kak jangan kak, aku gak mau dihukum! Jangan hukum aku kak!" pinta Zanaya.
Refal menggeleng tak perduli dengan rengekan gadis itu, ia terus melangkah sampai ke tempat mobilnya berada.
Dengan cepat pria itu memasukkan Zanaya ke dalam mobilnya, Zanaya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan abangnya.
"Kak, aku minta maaf kak! Jangan hukum aku!" ucap Zanaya memohon.
"Diam lu! Gue begini juga demi kebaikan lu, kalo lu kenapa-napa tadi gimana?!" ucap Refal.
•
•
Sesampainya di rumah, Refal masih bertindak kasar pada adiknya. Ia menyeret paksa Zanaya masuk ke kamarnya.
Zanaya terus berontak dan berteriak minta dilepaskan, tapi tentu tak didengar oleh Refal yang sudah dibutakan emosi.
Refal pun mendorong tubuh Zanaya hingga terpental ke atas ranjang, ia lalu mengunci pintu dan kembali mendekati adiknya.
"Kak, kakak mau apa?" tanya Zanaya cemas.
"Gue bakal kasih hukuman yang gak akan bisa lu lupain seumur hidup lu Zanaya," jawab Refal.
"Maksud kakak apa?" tanya Zanaya tak mengerti.
"Nanti lu juga tau," jawab Refal singkat.
"Please jangan kak! Apapun yang mau kakak lakuin ke aku, aku mohon jangan lakukan itu! Aku minta maaf sama kakak, aku janji gak akan ulangi kesalahan aku ini kak!" bujuk Zanaya.
__ADS_1
"Terlambat Zanaya, gue udah terlanjur emosi dan lu harus dihukum!" tegas Refal.
Perlahan Refal mendekat, membuat Zanaya bergerak menjauh karena tak ingin kakaknya itu berbuat macam-macam.
"Tolong jangan hukum aku kak! Aku janji bakal berubah jadi anak yang baik!" ucap Zanaya.
"Lo gak perlu janji di depan gue Zanaya, karena itu gak ngaruh!" sentak Refal.
"Aku mohon kak, aku akan lakukan apapun asal kakak jangan hukum aku!" ucap Zanaya.
"Lo pikir tawaran lu itu bisa menarik perhatian gue? Sayangnya enggak Zanaya, karena gue bisa minta apapun dari lu sekarang," ucap Refal.
"Kakak jangan dong! Aku gak mau dihukum, tolong bebasin aku! Lagian tadi kan aku belum minum minuman itu," ucap Zanaya.
"Ya emang belum, tapi gue yakin kalo gue gak dateng tadi lu pasti udah minum itu kan!" ujar Refal.
"Soalnya aku kan gak tahu itu minuman apa kak, kakak jangan marah dong!" ucap Zanaya.
"Gimana gue gak marah? Lu aja pergi gak izin dulu sama gue, kenapa lu main pergi-pergi aja ha? Lu udah gak anggap gue lagi disini?" sentak Refal.
"Gak gitu kak, aku cuma gak mau dilarang. Kalau aku izin, pasti kakak gak akan bolehin kan?" ucap Zanaya.
"Heh denger ya! Gue larang lu bepergian keluar itu juga demi kebaikan lu, jadi lu jangan pernah bantah gue lagi!" ucap Refal tegas.
"Kenapa kak? Aku juga butuh kehidupan di luar kali, masa kakak mau kurung aku terus-terusan disini? Aku bosen lah kak," protes Zanaya.
"Lu gausah protes, sekarang nikmatin aja hukuman lu! Malam ini gue bakal benar-benar bikin lu hamil Zanaya," ucap Refal.
"Apa kak? Ja-jangan dong kak!" mohon Zanaya.
"Keputusan gue udah bulat Zanaya, lu diam dan nikmati!" ucap Refal.
"Kak, aku mohon jangan!" pinta Zanaya.
Namun, Refal tak memperdulikan itu. Ia malah melepas bajunya dan hanya menyisakan celana panjangnya, lalu berjalan mendekati sang adik.
Refal mendorong tubuh Zanaya hingga terbaring dan dengan cepat ia menindihnya, saat itu juga Refal mencekik leher Zanaya cukup kuat.
"Lo harus bikin gue puas malam ini, Zanaya! Kalau enggak, leher lu yang mulus ini bakal gue patahin. Lu pasti gak mau kan tersiksa karena gak nurut sama gue?" ucap Refal menyeringai.
Zanaya gelagapan, ia menggeleng kuat sembari memukul-mukul tangan Refal agar lepas dari lehernya yang mulai terasa sakit.
"Okay, let's play baby!" ujar Refal.
Sedetik setelahnya, pria itu pun melahap tubuh Zanaya dengan brutal dan ganas.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...