Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 57. Refal pergi


__ADS_3

Saat di kamar, Zanaya langsung menutup dan tak lupa mengunci pintu agar aman. Mereka juga duduk di pinggir ranjang dengan dua tangan saling menyatu dan bertatapan, Refal tersenyum kemudian mulai membuka mulutnya secara perlahan.


"Zanaya, kamu itu cantik sekali sayang!" ucap Refal memuji adiknya.


"Sejujurnya aku masih gak rela buat ngomong ini, tapi mau gimanapun aku emang harus ikhlasin kamu untuk lelaki lain Zanaya," sambungnya.


"No, aku gak mau itu terjadi kak. Tolong kakak jangan bicara yang aneh-aneh!" ucap Zanaya.


"Ini gak aneh Zanaya, ini udah pas untuk kita berdua. Aku pergi dari hidup kamu, dan kamu bahagia bersama lelaki lain," ucap Refal.


"Gak akan ada pria yang mampu bawa kebahagiaan untuk aku, selain kamu kak Refal," ucap Zanaya tegas.


"Itu untuk sekarang, tapi aku yakin lambat laun kamu pasti juga bisa menemukan itu," ucap Refal.


"Aku gak tahu kak aku bisa siap kehilangan kakak apa enggak, ya semoga aja kakak bahagia disana ya!" ucap Zanaya menahan tangisnya.


"Hey, jangan nangis ya!" ucap Refal seraya menangkup wajah adiknya.


Refal langsung memeluk Zanaya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut dan memberikan akses bagi Zanaya untuk menguatkan dirinya.


"Aku yakin kamu pasti kuat dan bisa lupain aku, jaga selalu bayi kita ya!" pesan Refal.


"Iya kak, pasti aku bakal jaga anak kita dengan baik. Nanti begitu dia lahir, orang pertama yang aku kasih lihat adalah kamu kak," ucap Zanaya.


"Hahaha, yasudah berarti kamu udah ikhlas kan kalau aku pergi sekarang?" tanya Refal melepas pelukannya.


Zanaya menatap bingung, ia langsung menunduk tak tahu menjawab apa.


"It's okay, i love you Zanaya." Refal kembali memeluk wanita itu dan kali ini sambil memberi kecupan di ceruk lehernya.


TOK TOK TOK...


Suara ketukan itu mengagetkan keduanya, Refal bahkan reflek melepas pelukannya.


"Zanaya, Refal, cepat keluar kalian!" teriak Arin dari luar.


Refal dan Zanaya sama-sama terkejut, mereka tak menyangka jika Arin akan mengetahui jika mereka saat ini ada disana. Zanaya menatap wajah sang kakak seolah bertanya bagaimana dan apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Kak, gimana ini kak? Mama kok bisa tahu ya kalau kita ada disini? Aku takut kakak dimarahin lagi sama mama," ujar Zanaya panik.


"Tenang aja Zanaya, gak perlu takut. Kita hadapi ini sama-sama ya! Ayo kita keluar, biar aku yang jelasin semuanya ke mama kamu!" ucap Refal.

__ADS_1


"Tapi kak, aku beneran gak bisa lihat kakak dimarahin sama mama," ucap Zanaya.


"Kita gak akan dimarahin, paling mama cuma mau bilang kalau sekarang udah saatnya aku pergi. Kamu jangan khawatir ya Zanaya!" ucap Refal.


Akhirnya Zanaya menurut, ia mengangguk pelan dan bangkit dari duduknya bersama sang kakak. Mereka pun melangkah menuju pintu, membukanya perlahan dan menemui Arin yang sudah ada di depan sana menanti mereka.


Ceklek


"Baguslah kalian keluar, ayo cepat kamu turun Refal! Jemputan kamu sudah menunggu daritadi, ini waktunya kamu berangkat," ujar Arin.


"Iya ma, aku juga udah selesai kok bicara sama Zanaya. Dan Zanaya juga sekarang bisa terima kepergian aku kok ma," ucap Refal tersenyum.


"Ya bagus, emang itu yang harusnya kalian lakukan. Refal kamu pergi dari sini dan kamu Zanaya ikhlaskan Refal!" ujar Arin.


"Kalo gitu kita sama-sama ke bawah aja ma, aku mau sekalian pamit sama papa," ajak Refal.


"Yasudah, ayo kita ke bawah sekarang!" ucap Arin.


Ketiganya pun melangkah dari kamar Zanaya dan menuruni tangga menemui Eza serta Ilham di ruang tamu untuk berpamitan.




Zanaya pun tampak bersedih melepas kepergian kakak yang sangat ia sayangi itu, entah kenapa ia masih tak rela jika Refal akan pergi.


"Pa, ma, Zanaya, aku pamit ya? Sampai ketemu lagi di lain kesempatan!" ucap Refal melambaikan tangan sembari melangkah mendekati mobil di depannya.


Zanaya kembali terisak, mengikhlaskan tentu sangat sulit, apalagi Refal sudah berhasil membuat dirinya sangat mencintai pria itu.


"Hati-hati ya kak! Jangan lupa buat kabarin aku nanti begitu sampai!" ucap Zanaya.


"Iya Zanaya, kamu juga jaga diri baik-baik ya! Kesehatan itu penting sayang," ucap Refal.


Zanaya mengangguk dengan air mata membasahi kedua pipinya, ia melangkah maju dan langsung memeluk Refal di hadapan orangtuanya.


"Aku sayang kakak," ucap Zanaya.


"Kakak juga sayang kamu," balas Refal..


Refal melepas pelukan dan meninggalkan kecupan di kening adiknya, ia menatap mama serta papanya sebelum berbalik lalu memasuki mobil.

__ADS_1


"Bye kak, hati-hati!" ucap Zanaya melambaikan tangan ke arah Refal.


Arin menghampiri putrinya, ia usap pundak serta wajah gadis itu sebab ia bisa merasakan kesedihan yang dialami Zanaya saat ini. Meski begitu, Arin juga tetap membenci Refal karena pria itu lah yang sudah membuat putrinya hamil.


"Sayang, udah kamu gausah sedih ya! Biarin Refal pergi dan kamu gak perlu nangis kayak gini, dia gak pantas kamu tangisi," ucap Arin.


"Enggak ma, kak Refal itu orang yang aku cintai dan aku gak bisa ikhlasin dia gitu aja. Coba deh mama ada di posisi aku!" ketus Zanaya.


Arin terdiam bingung, sedangkan Zanaya menyingkirkan tangan sang mama dari pundaknya seolah tak ingin disentuh. Gadis itu beralih menatap Refal dan terus melambaikan tangan dengan wajah sedihnya.


Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Refal pun bergerak perlahan meninggalkan tempat itu. Refal sendiri masih tak kuasa menahan sedih karena terpaksa harus pergi dan menjauh dari Zanaya demi menuruti permintaan papanya.


"Ini gak adil, kenapa cinta sejati tidak bisa bersatu? Apa aku salah telah mencintai Zanaya? Kalau disuruh pilih, aku lebih baik mati daripada harus berpisah dengan Zanaya," batin Refal.


Setelah menjauh dari rumah, Refal tanpa sengaja bertemu dengan Jack yang sedang menaiki motornya di depan sana. Sontak Refal meminta supir taksinya untuk berhenti sebentar ke pinggir, nampaknya ia memiliki rencana yang akan ia bahas dengan Jack.


"Pak, tolong berhenti sebentar ya! Saya mau ada urusan dulu," pinta Refal.


"Baik mas," supir itu menurut dan menghentikan mobilnya ke pinggir.


Refal membuka kaca mobil, berteriak memanggil Jack agar berhenti sejenak untuk berbincang padanya. Beruntung Jack mendengar teriakan Refal dan mau menuruti kemauan pria itu, Jack pun berhenti lalu menatap Refal yang sedang turun dari mobilnya.


"Ada apa bang? Lu mau ngomong ke gue buat jangan deketin Zanaya lagi? Itu udah basi bang, gue bosen dengernya!" sentak Jack.


"Sabar dulu, justru gue minta lu berhenti karena gue pengen titipin Zanaya sama lu. Gue tahu lu orang yang paling bisa gue percaya," ucap Refal.


"Maksud lu? Kenapa lu titipin Zanaya ke gue? Emang lu sendiri mau kemana? Lu mau tinggalin Zanaya demi perempuan lain, iya? Tega banget sih lu!" geram Jack.


"Itu aja yang mau gue bilang ke lu, permisi!" singkat Refal.


"Jelasin dulu ke gue!" pinta Jack.


Refal hanya diam menunduk, setelahnya ia berbalik berniat kembali ke mobil karena sudah menyampaikan apa yang ingin ia katakan pada Jack. Namun, salah paham yang dirasakan Jack membuat pria itu malah menahan pundak Refal seolah tak membiarkannya pergi.


"Lo gak bisa pergi sebelum lu jelasin semuanya! Apa benar lu berniat tinggalin Zanaya demi perempuan lain? Kalau iya, lu benar-benar keterlaluan bang!" geram Jack.


Refal menyingkirkan tangan Jack, lalu kembali melangkah menuju mobil. Akan tetapi, Jack yang sudah tersulut emosi malah memukul wajah Refal dari belakang sampai pria itu tersungkur di atas jalan.


Bughh


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2