
"Mau ditutupin sampe kapan? Toh nanti perut lu bakal besar juga, pasti mereka bakal tahu kalau lu hamil," ucap Refal.
Zanaya terdiam beberapa saat memikirkan perkataan Refal.
"Kakak bener juga, nanti kan perut aku bisa jadi besar dan mama sama papa bakal tahu deh kalau aku lagi hamil. Terus gimana ya ini kak? Kakak ada saran gak?" ucap Zanaya.
"Gue sih belum kepikiran ya, tapi kalo udah terlanjur ketahuan ya terpaksa kita ngaku yang sebenarnya terjadi ke mereka," ucap Refal.
"Itu sih emang harus kakak lakuin, kan kakak sendiri yang bilang mau tanggung jawab kalau aku hamil. Jadi, kakak juga harus mau akuin anak ini di depan papa maupun mama," ucap Zanaya.
"Iya Zanaya, lu tenang aja ya! Gue gak mungkin lupa sama kata-kata gue," ucap Refal santai.
"Kalo gitu aku mau ke kamar lagi deh, jangan lupa tomyam nya ya!" ucap Zanaya.
Refal hanya mengangguk pelan, Zanaya pun beranjak dari tempatnya lalu berniat kembali ke kamar untuk beristirahat.
Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang menghentikan langkah kaki Zanaya.
TOK TOK TOK...
"Kak, siapa itu ya?" tanya Zanaya penasaran.
"Gak tahu, coba deh lu buka sana!" suruh Refal.
"Iya kak," Zanaya menurut dan melangkah ke depan untuk mengecek siapa yang datang.
Ceklek
Zanaya membuka pintu, ia langsung terkejut melihat kedua orangtuanya berdiri disana.
"Halo Zanaya sayang!" sapa sang mama penuh semangat.
"Mama? Papa?" ucap Zanaya tak percaya.
"Iya sayang, kamu apa kabar nak? Mama kangen sekali sama kamu! Boleh kan mama peluk kamu?" ucap Arin alias mama Zanaya.
Zanaya terlihat panik dan bingung saat ini, sungguh ia khawatir orangtuanya akan mengetahui tentang kehamilannya.
"Zanaya, kok kamu diam aja? Kamu gak senang kita datang kesini?" celetuk Eza, papa Zanaya.
"Hah? Gak gitu pa, aku seneng kok papa mama kesini, seneng banget malah. Tapi, aku masih gak nyangka aja papa sama mama bisa datang sekarang," elak Zanaya.
"Hahaha, ya soalnya kita udah gak kuat nahan rindu lama-lama. Apalagi mama kamu ini, dia pengen banget ketemu sama kamu," ucap Eza.
"Betul sayang," ucap Arin.
Zanaya tersenyum dan masih kebingungan harus bagaimana.
Tanpa menunggu jawaban Zanaya, Arin langsung bergerak maju memeluk gadis itu erat.
__ADS_1
"Duh, mama kangen banget sama kamu! Akhirnya mama bisa peluk kamu lagi kayak gini, mama senang banget sayang!" ucap Arin.
"I-i-iya ma, aku juga bahagia banget bisa ketemu mama sama papa lagi," ucap Zanaya.
Setelah puas memeluk, kini Arin fokus menatap wajah Zanaya yang cantik dan menangkupnya untuk melepas rindu.
"Kamu makin cantik aja sayang, kamu bahagia gak tinggal disini sama kakak kamu?" ucap Arin.
"Eee aku..."
"Kalau aku kasih tau yang sebenarnya, pasti mama akan kecewa dan marahin kak Refal. Aku gak mau hubungan mama sama papa jadi berantakan cuma gara-gara aku," batin Zanaya.
Arin terheran-heran melihat ekspresi wajah Zanaya kali ini, ia pun penasaran dan coba bertanya padanya secara langsung.
"Ada apa Zanaya? Kok kamu kayak bingung gitu jawabnya? Emang kakak kamu galak ya? Apa dia nyakitin kamu dan bikin kamu gak betah disini?" tanya Arin.
"Eh gak gak gitu ma, kak Refal baik kok sama aku. Dia malahan sering tolong aku," ucap Zanaya berbohong.
"Yang benar Zanaya? Kalau si Refal itu macam-macam, kamu bilang aja sama papa ya! Biar papa hajar dia," ujar Eza.
"Ahaha, enggak kok pa," ucap Zanaya.
•
•
Refal masih belum menyadari bahwa yang datang adalah orangtuanya, sebab ia terus fokus menonton tv dan menikmati cemilan.
"Kak, lihat nih kak siapa yang datang!" ucap Zanaya pada kakaknya.
"Apaan sih Zanaya? Ganggu aja deh, paling juga tamu gak jelas kan. Udah usir aja tuh mereka, gue lagi asyik nonton nih jangan diganggu!" sentak Refal tanpa menoleh ke belakang.
"Ih kak jangan gitu dong ngomongnya! Ini lihat dulu siapa yang datang!" ujar Zanaya.
"Hadeh, lu tuh kenapa sih Zanaya? Emang siapa yang datang?" kesal Refal.
Disaat Refal membalikkan tubuhnya, ia langsung terkejut hebat dan spontan bangkit dari tempat duduknya menatap kedua orangtuanya.
"Papa? Mama? Ya ampun, ma-maaf pa, ma! Aku benar-benar gak tahu kalau papa sama mama yang datang, abisnya Zanaya sih pake tebak-tebakan segala!" panik Refal.
"Ya suruh siapa kakak disuruh nengok gak mau, makanya kak jangan sembarangan kalo ngomong!" ucap Zanaya.
"Udah udah, kamu apa kabar Refal? Baik-baik aja kan? Selama Zanaya disini, dia ada repotin kamu gak?" ujar Arin.
"Ah gak ada kok ma, malahan dia banyak bantu aku. Dia masak, terus kadang juga cuci piring sama yang lainnya," ucap Refal.
"Bukan kadang kali kak, tapi setiap hari," ucap Zanaya.
Sontak Eza terkejut mendengar pengakuan Zanaya, ia langsung menggelengkan kepala dan menatap tajam ke arah putranya.
__ADS_1
"Ya ampun Refal! Kamu itu apa-apaan sih? Kamu kenapa perlakukan Zanaya seperti pembantu?" tegur Eza.
"Gimana lagi pa? Di rumah aku ini kan emang gak ada asisten rumah tangga, jadi ya Zanaya terpaksa kerjain semuanya. Toh bukan aku yang maksa, tapi dia sendiri yang mau pa," ucap Refal.
"Iya pa, kak Refal gak salah kok. Emang aku sendiri yang mau beres-beres rumah ini," ucap Zanaya.
"Tuh kan, Zanaya sendiri aja ngaku. Papa jangan salah paham dulu makanya!" timpal Refal.
"Halah, tetap aja kamu gak benar Refal! Harusnya kamu cegah dong adik kamu, jangan biarin dia lakuin itu!" ujar Eza.
"Terus yang beresin rumah nanti siapa pa kalau bukan Zanaya?" tanya Refal.
"Pake nanya lagi, ya kamu lah. Ini kan rumah kamu, masa harus Zanaya yang beresin?" sentak Eza.
"Gapapa kok pa, lagian kalau cuma beres-beres rumah mah aku udah ahli kok. Emang awalnya berat, tapi lama-lama mulai terbiasa," ucap Zanaya.
"Udah lah mas, gak perlu dimarahin terus Refal nya. Toh Zanaya juga yang mau ngelakuin itu," ucap Arin menenangkan suaminya.
"Iya sayang, tapi aku kesel aja sama anak ini nih," ujar Eza menunjuk putranya.
Refal sontak menunduk dan sedikit ngeri, jika perihal ini saja papanya sangat marah. Lantas bagaimana jika Eza mengetahui kalau Zanaya saat ini tengah mengandung anak Refal?
"Pa, ma, papa sama mama mending istirahat dulu deh! Pasti papa sama mama capek kan baru sampai di Indonesia?" usul Zanaya.
"Umm, ya kamu benar sih sayang. Mama emang capek banget nih, makanya abis ini mau minta pijitan papa kamu ini," ucap Arin.
"Hm, kebiasaan kamu. Aku juga capek kali, masa aku suruh pijitin kamu?" keluh Eza.
"Gapapa mas, nanti gantian kayak biasanya. Jadi, kita sama-sama gak capek deh," ucap Arin.
"Ya boleh deh, kalo gitu kamu anterin kita dong Zanaya ke kamarnya! Kan kita belum tahu kita mau ditaruh di kamar mana," pinta Eza.
"Zanaya gak bisa pa, dia katanya mau istirahat di kamarnya," ucap Refal.
"Ih gapapa kak, kan lagian kamar aku sama kamar tamu buat papa mama juga deketan. Ayo pa, ma aku antar!" ucap Zanaya sambil tersenyum.
"Makasih sayang," ucap Eza singkat.
Refal menatap tajam ke arah Zanaya, tetapi gadis itu tak perduli dan malah membantu mama papanya membawa koper milik mereka sembari melangkah menaiki tangga.
"Aih, kalo papa tanya-tanya soal hubungan gue sama Zanaya gimana ya?" gumam Refal ketakutan.
Akhirnya Refal memutuskan untuk menyusul Zanaya serta orangtuanya ke atas, ia terlalu khawatir dengan apa yang ada di pikirannya.
Sesampainya disana, ia langsung menghampiri mereka bertiga dan membuat Zanaya beserta papa mamanya itu terheran-heran.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1