Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 60. Perjodohan


__ADS_3

Zanaya menatap heran saat Jack menyodorkan kotak hadiah itu ke arahnya, ia penasaran sekali apa isi dari kotak tersebut dan mengapa Jack memberikan itu padanya. Ia langsung mengambil kotak itu dari tangan Jack dan menatapnya bingung dari atas sampai bawah.


"Ini apa kak? Pake bawain beginian segala, aku kan gak ulang tahun," heran Zanaya.


"Itu cuma sekedar hadiah buat kamu, aku harap kamu suka ya Zanaya. Dibukanya nanti aja begitu aku udah pulang dari sini," ucap Jack.


"Eh eh, kamu kenapa buru-buru banget? Pulangnya nanti aja kali," ucap Arin sambil tersenyum.


"Iya tante, saya juga gak mau langsung pulang kok. Saya kan kesini karena saya pengen bicara berdua sama Zanaya," ucap Jack.


"Bagus itu, omong-omong nama kamu siapa? Tante kan belum tahu loh," tanya Arin.


"Ah iya, saya lupa kenalin diri ke tante. Nama saya Jack tante, saya ini kakak kelasnya Zanaya di sekolah. Saya senang bisa kenal sama tante dan om!" ucap Jack mengenalkan.


"Oalah, nama kamu Jack? Yaudah, nak Jack duduk aja ditemenin sama Zanaya! Biar tante sama om ke belakang dulu, yuk pa!" ucap Arin.


"Eee iya iya ma.." Eza pasrah saja saat istrinya menarik tangannya dan mengajaknya pergi dari sana untuk membiarkan Jack serta Zanaya berduaan.


Setelah kedua orang tua itu pergi, kini Zanaya pun hanya berdua dengan Jack. Tampak lelaki itu terus menatapnya, ia mulai memberanikan diri mendekati Zanaya dan meraih dua tangan wanita itu seraya mengusapnya lembut. Zanaya hanya diam tak tahu harus apa, pikirannya sudah blank saat ini akibat kebingungannya.


"Kak Jack mau bicara apa sama aku? Ada sesuatu yang penting ya?" tanya Zanaya lirih.


"Iya Zanaya, kita bicaranya sambil duduk aja yuk! Gak enak berdiri terus dong, apalagi kamu kan lagi mengandung," ucap Jack.


Deg!


Zanaya sungguh kaget mendengarnya, ia tak percaya jika Jack ternyata telah mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Ia juga bingung darimana Jack mengetahui tentang itu semua, karena selama ini hanya keluarganya lah yang tahu.


"Kamu gak perlu bingung, saya tahu semuanya dari kak Refal. Dia tadi sempat temuin saya sebelum pergi," ucap Jack menyambung kata-katanya.


"Kak Refal? Gimana bisa dia kasih tau ke kamu tentang kandungan aku?" tanya Zanaya heran.


"Entahlah, tapi tadi dia temuin aku dan ceritain semuanya ke aku tentang hubungan terlarang kalian. Awalnya aku syok banget, ya wajarlah karena aku taunya kalian kan adik-kakak. Eh ternyata kalian malah punya hubungan spesial lebih dari itu," ucap Jack.


"Enggak, maksud aku kok bisa sih kalian ketemu terus kak Jack bongkar rahasia yang selama ini aku sama dia tutupi?" ujar Zanaya.


"Aku gak tahu Zanaya, mungkin kak Refal itu pengen aku buat jadi pengganti dia di hidup kamu. Makanya dia jelasin semuanya ke aku," ucap Jack.


Zanaya terperangah, tidak mungkin jika dirinya harus menikah dengan Jack sebagai pengganti Refal di hidupnya. Memang ia mencintai pria itu, tapi dulu. Sekarang ini cinta Zanaya hanya untuk Refal seorang.


"Daripada bengong aja, mending kita duduk yuk sambil baca pesan titipan abang kamu!" ujar Jack.


"Pesan titipan? Pesan apa?" tanya Zanaya.


Jack tak menjawab, ia justru tersenyum dan menarik tangan Zanaya untuk duduk di sofa. Barulah setelahnya, ia memberikan sepucuk surat pada Zanaya. Surat itu adalah pemberian Refal sebelum pria itu pergi tadi, dan kini Jack menyerahkannya pada Zanaya.


"Ini suratnya, kamu baca gih!" suruh Jack.


Zanaya mengangguk pelan, perlahan ia mulai membuka surat tersebut dan melihat isi di dalamnya. Ia pun membaca setiap tulisan yang dibuat Refal disana, tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipinya.


Jack menunduk ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Zanaya, ia tak menyangka rasa cinta Zanaya dan Refal ternyata sangat besar sampai keduanya tak dapat dipisahkan. Tapi sayang, karena keadaan akhirnya mereka terpaksa berpisah walau tak ingin.


Zanaya, kalau kamu baca surat ini, itu tandanya kamu udah ketemu sama Jack. Singkat aja, disini aku cuma mau bilang ke kamu kalau aku lebih ikhlas kamu bersama Jack dibanding pria lain. Maafin aku ya Zanaya, karena aku gak bisa jagain kamu lebih lama lagi. Tapi, aku yakin Jack pria yang baik dan dia bisa gantiin tugas aku itu. Kamu harus belajar mencintai dia ya Zanaya, demi anak kita nantinya.


Salam, Refal.




Refal telah tiba di lokasi tujuannya, yakni negara Rusia yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Zanaya. Refal akan melaksanakan kuliahnya disana, sesuai perintah sang ayah.


Ia turun dari mobil, menatap sebuah rumah besar yang sudah disiapkan oleh ayahnya untuk ia bisa tinggal disana dengan nyaman. Refal tampak senang, mungkin ia bisa betah tinggal disana meskipun tidak ada Zanaya.


"Haaahhh, emang dah suasana disini lebih asri daripada di Indonesia. Cuma bedanya, disini gak ada Zanaya," gumam Refal sambil tersenyum.


"Tuan Refal!" tiba-tiba ada suara wanita memanggil namanya dari arah samping.


Sontak Refal menoleh, ia menemukan sosok perempuan dewasa tengah melangkah menghampirinya. Mungkin saja itu maid yang ditugaskan sang ayah disana, tapi yang membuatnya heran adalah wanita itu bisa berbahasa Indonesia.


"Saya Inah tuan, saya ditugaskan bos Eza untuk membantu tuan muda Refal selama disini. Pasti tuan heran kan kenapa saya bisa bahasa Indonesia? Ya karena saya emang orang Indonesia kok tuan," ucap wanita itu mengenalkan diri.


"Oalah, saya bingung soalnya papa gak ada bilang apa-apa ke saya tentang kamu. Omong-omong umur kamu berapa sih? Biar saya gak salah panggil gitu," ucap Refal.


"Tuan panggil pake nama saya aja, saya ini masih muda kok baru dua puluh tahunan," jawab Inah.


Refal terkejut disertai mata terbelalak, "Oh ya? Pantas sih tubuh kamu aja masih bagus banget begini," ujarnya memuji wanita itu.


"Ah tuan bisa aja, saya jadi malu," ucap Inah.

__ADS_1


"Gak perlu malu, emang body kamu bagus kok. Terus ini saya tinggal disini berdua sama kamu gitu?" ucap Refal.


"Enggak tuan, di dalam ada juga pelayan yang lain kok. Termasuk sama pengawal yang ditugasin bos Eza buat jaga tuan disini," ucap Inah.


"Oh gitu, saya kira cuma berdua aja. Yaudah, kamu bisa bantu saya kan bawa tas saya ke dalam?" ucap Refal.


"Tentu tuan, mari saya bantu!" ucap Inah yang langsung mengangkat tas milik Refal.


Refal tersenyum lebar, kemudian melangkah memasuki rumahnya bersama Inah di sampingnya. Matanya tak berhenti menatap punggung indah wanita itu, sepertinya ia akan betah lama-lama disana jika ada wanita yang menemaninya sehingga ia tidak kesepian selama disana.


"Tuan, saya juga sudah siapkan makan malam untuk tuan. Nanti tuan bisa langsung ke meja makan aja kalau udah selesai beberesnya," ucap Inah.


"Okay, tapi tolong bantu bawain tasnya sampai ke kamar saya ya Inah! Saya kan juga belum tahu kamarnya ada dimana," pinta Refal.


"Iya tuan, kamarnya di lantai dua kok. Jadi, kita harus naik tangga dulu," ucap Inah.


Refal mengangguk pelan, lalu mulai menaiki tangga bersama Inah sembari membawa tasnya. Mungkin Refal akan benar-benar betah tinggal disana.




Arin dan Eza masih berbincang berdua di dalam kamar, Arin sendiri terlihat cukup bahagia sebab Zanaya sekarang ini tengah bersama Jack di bawah sana. Tapi berbeda dengan Eza, pria itu justru tak suka dengan kehadiran Jack di rumahnya, apalagi jika Jack akrab dengan Zanaya.


"Pa, semoga Zanaya sama Jack bisa saling suka ya! Jadi, kita bisa nikahkan Zanaya sama dia!" ucap Arin antusias.


"Kamu bicara apa sih? Jangan sampai Zanaya nikah sama anak itu! Aku gak setuju Arin, Zanaya gak boleh nikah sama dia!" tegas Eza.


"Haish pa, terus menurut kamu Zanaya cocoknya nikah sama siapa? Di kondisi dia yang kayak gini, udah ada yang mau aja udah bagus loh sayang. Masa kamu masih pilih-pilih juga?" ucap Arin.


"Gak gitu Arin, tapi aku udah terlanjur setuju buat jodohin Zanaya sama anak teman aku. Kalau dibatalin gitu aja, gak enak dong aku," ucap Eza.


"Hah? Dijodohin? Kok kamu gak pernah bilang apa-apa ke aku soal ini? Aku ini ibunya loh, harusnya kamu kasih tau ke aku yang menyangkut Zanaya!" kesal Arin.


"Maaf sayang, aku mau cerita tapi waktunya belum tepat aja. Kemarin kan kita sibuk soal urusan Refal pergi dari sini," ucap Eza.


"Ah alasan aja kamu mas, seharusnya kamu kan obrolin dulu ke aku kalau mau jodohin Zanaya sama anak teman kamu. Emangnya siapa sih yang mau kamu jodohin sama Zanaya?" ujar Arin.


"Ya itu tadi sayang, anak teman aku," ucap Eza singkat.


"Haish, iya aku tau dia anak teman kamu mas. Tapi disini aku nanya, anaknya teman kamu ini siapa? Dia namanya siapa terus wajahnya kayak apa?" ucap Arin dengan tegas.


"Ya tetap aja aku mesti tau dia kayak apa, masa iya cowok yang mau dinikahin sama anak aku tapi aku gak tahu dia siapa," ucap Arin.


"Aku udah sepakat sama teman aku, dia bakal bawa putranya kesini lusa buat ketemu sama Zanaya. Jadi nanti kamu bisa sekalian kenalan sama dia kok," ucap Eza.


"Okay, kita lihat aja apa Zanaya bakal tertarik sama dia atau enggak," ucap Arin.


"Yaudah, terus sekarang kita biarin aja nih Zanaya berduaan sama cowok di bawah?" tanya Eza.


"Iya biarin aja mas, soalnya ada hal yang mau aku tanyain ke kamu nih penting banget," ucap Arin.


"Soal apa sayang?" Eza terlihat sangat penasaran.


"Begini mas, sebenarnya aku heran banget sama sikap kamu ke Refal. Emang sih dia udah lakuin kesalahan besar dengan lecehin Zanaya, tapi kok kamu sampai harus usir dia sih?" ucap Arin.


Eza menunduk seraya menghembuskan nafas, "Ada sesuatu yang belum kamu ketahui tentang Refal sayang," ucapnya.


"Maksud kamu? Sesuatu apa?" tanya Arin.


"Refal itu bukan anak kandung aku, dia aku temuin di samping rumah aku waktu itu. Karena mantan istri aku yang dulu suka sama dia, ya akhirnya kami putusin buat rawat Refal," jelas Eza.


"Apa??" Arin tersentak kaget dan tidak bisa menutup mulutnya saat ini.




Waktu yang ditunggu lama oleh Eza akhirnya tiba, ya dua hari setelah kepergian Refal kini Eza berhasil membawa temannya datang ke rumah bersama sang anak tercinta. Tentunya mereka kesana untuk membahas mengenai perjodohan yang sudah disepakati oleh keduanya.


Zanaya masih belum tahu terkait perjodohan itu, sebab Arin memilih untuk tidak memberitahu padanya lebih dulu. Ia khawatir Zanaya akan marah dan emosi sekali jika tahu dia akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan papanya yang tentu belum dia kenali siapa orangnya.


Namun, hari ini ketika mamanya meminta ia untuk berdandan dan berpakaian rapih, Zanaya sudah menaruh curiga kalau akan ada sesuatu yang dilakukan kedua orangtuanya itu. Apalagi ditambah dengan kehadiran sepasang suami-istri beserta seorang lelaki muda ke rumahnya.


"Selamat datang, pak Mahdi, Bu Ely!" ucap Eza menyapa dengan ramah.


"Terimakasih pak Eza, oh ya kenalkan ini putra pertama kami, namanya Alfred!" ucap Mahdi.


"Halo om, tante!" ucap Alfred menyapa Eza serta Arin dan mencium tangan keduanya.

__ADS_1


"Wah ganteng ya? Nah, kalau ini putri kami namanya Zanaya," ucap Eza mengenalkan putrinya.


Mata Alfred langsung dibuat melotot ketika melihat wajah cantik Zanaya, pastinya semua lelaki akan seperti itu sebab Zanaya memang memiliki paras yang cantik dan wajahnya tidak pasaran seperti wanita pada umumnya. Terlebih Zanaya adalah produk asal Rusia yang terkenal cantik.


"Hai Zanaya!" Alfred memberanikan diri menyapa wanita cantik itu disertai senyum manisnya.


"Iya, hai juga Alfred!" balas Zanaya lirih dan dingin tanpa ekspresi.


"Ternyata ucapan anda memang benar pak Eza, putri anda ini luar biasa loh cantiknya. Saya aja sampe kagum lihatnya," ucap Mahdi tak percaya.


"Makasih om," ucap Zanaya menunduk.


"Hahaha, yasudah ayo kita langsung masuk aja dan lanjut ngobrol sambil duduk!" ajak Eza.


"Boleh boleh," ucap Mahdi menurut.


Mahdi beserta keluarganya pun melangkah memasuki rumah milik Eza itu, mereka dibawa menuju ruang tamu dan duduk disana dengan hidangan yang sudah disuguhi.


"Jadi, bagaimana dengan yang sudah kita sepakati sebelumnya pak Eza? Perjodohan ini tetap berlanjut kan?" tanya Mahdi langsung ke intinya.


Zanaya seketika terkejut mendengar ucapan Mahdi, ia langsung menatap mama serta papanya dengan mata melotot lebar seolah tak percaya jika ia akan dijodohkan dengan anak dari teman papanya itu. Sungguh Zanaya sangat kesal pada sikap orangtuanya, rasanya ingin sekali ia berteriak untuk meluapkan emosinya saat ini.


"Oh tentu pak Mahdi, itu sebabnya saya meminta kalian sekeluarga datang kesini hari ini. Selain untuk mengenalkan putra-putri kita, saya juga mau membahas mengenai pernikahan mereka yang mungkin akan langsung dilaksanakan," ucap Eza.


"Ya saya setuju itu pak, memang lebih cepat itu lebih baik. Buat apa terlalu lama pendekatan kalau tidak menikah, ya kan?" ucap Mahdi.


"Betul itu pa, mama udah gak sabar mau lihat anak kita menikah!" sahut Ely.


"Begitu juga dengan kami, kami akan sangat bahagia kalau melihat putri kami bisa segera bersanding di pelaminan dengan putra kalian," ucap Eza tersenyum renyah.


Zanaya menggeleng pelan dan bangkit dari duduknya, "Enggak pa, aku gak mau dijodohin sama cowok yang aku gak kenal!" ucapnya tegas.


Sontak semuanya terkejut, dan setelah mengatakan itu Zanaya pun langsung pergi dari sana dengan cepat.




Hari ini adalah hari pertama Refal kuliah di Rusia, ia berangkat dengan penuh semangat karena ia sudah tidak sabar ingin melihat secantik apa para wanita disana. Refal memang sedang berusaha untuk moveon dan melupakan Zanaya, tentunya dengan cara mencari wanita-wanita cantik.


Inah telah menyiapkan sarapan serta berbagai keperluan Refal di pagi hari ini, sehingga pria itu cukup santai dan tidak perlu terburu-buru. Sungguh hidupnya saat ini sangat enak dan nyaman, hampir sama seperti ketika ia masih berada di Jakarta bersama Zanaya kala itu.


"Inah, makasih ya udah siapin semuanya pagi ini. Gue gak ngerti lagi deh harus bilang apa sama lu selain terimakasih, soalnya lu selalu bikin gue nyaman tinggal disini," ucap Refal pada Inah.


"Ini kan udah tugas saya tuan, saya diperintahkan untuk membantu apapun yang tuan butuhkan," ucap Inah sambil tersenyum.


"Ya itu dia, gue makasih banget karena lu udah bisa laksanakan tugas dengan baik. Baru kali ini nih gue punya pelayan kayak lu, kemarin-kemarin kan gue tinggal di rumah cuman sama adek," ucap Refal.


"Iya tuan, kalo gitu apa tidak sebaiknya tuan bergegas berangkat ke kampus sekarang? Ini sudah waktunya loh tuan," ucap Inah.


"Oh iya, gue sampe lupa kalo gue harus kuliah. Abisnya ngobrol sama lu tuh asik sih, gue kan jadi lupa segalanya," kekeh Refal.


Inah menunduk sambil tersenyum, membuat mata Refal tidak bisa fokus dan terus menatap tubuh molek sang pelayan. Untung saja Refal pagi tadi sudah bermain solo, meski tidak puas tapi setidaknya itu bisa mengurangi hasratnya yang menggebu-gebu tiap kali bersama Inah.


"Yasudah, gue berangkat ya? Lu jagain rumah dengan baik, jangan sampe kenapa-napa! Terus nanti juga kayaknya gue balik telat, karena gue mau keliling kota dulu," pamit Refal.


"Iya tuan, saya mengerti," singkat Inah.


Refal manggut-manggut dan mulai berbalik lalu pergi meninggalkan Inah, meski berat ia terpaksa melakukan itu karena tidak mungkin juga ia berlama-lama disana. Refal pun keluar rumah, ia langsung masuk ke mobil yang sudah disiapkan dan mulai berkendara.


Tapi naas, saat di tengah jalan dirinya justru hampir bertabrakan dengan sebuah mobil yang juga melintas dari arah berlawanan. Akibatnya, perjalanan Refal pun terganggu dan ia harus turun dari mobilnya untuk memastikan kondisi orang yang tadi hampir ia tabrak.


"Hey, are you okay?" tanya Refal sembari mengetuk kaca mobil tersebut.


Tiba-tiba kaca itu terbuka dan seorang perempuan di dalamnya menatap wajah Refal sambil berbicara, "Ya, i'm okay. Sorry about that." suara gadis itu sangat lembut sampai membuat Refal terpesona.


"Gila, cantik banget nih cewek!" batin Refal.


"Umm, do you need my help?" tanya Refal pada si wanita yang ada di dalam mobil.


Gadis itu menggeleng pelan, "No, i'm fine. I don't need your help," jawabnya singkat.


"Okay, but are you really okay?" tanya Refal sekali lagi untuk memastikan.


Dan kali ini gadis itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"I'm Refal," tiba-tiba Refal mengulurkan tangannya ke arah gadis itu disertai senyum lebar dan berhasil membuat si wanita menganga heran.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2