Pregnant With My Brother

Pregnant With My Brother
Bab 52. Pergi dari rumah


__ADS_3

Bughh


Satu pukulan diarahkan Eza ke perut Refal, tak cukup satu ia pun kembali memukul putranya sampai kedua wanita disana terkejut.


Disaat Eza hendak memukul Refal kembali, Arin sontak mencegahnya dan menghalangi niat Eza tersebut.


"Tahan mas, udah cukup jangan diterusin!" pinta Arin pada suaminya.


"Kenapa kamu halangi aku? Anak ini harus diberi pelajaran, dia sudah berbuat yang tidak-tidak loh! Bukannya melindungi Zanaya, tapi dia malah merusak adiknya sendiri!" sentak Eza.


"Aku tahu mas, aku juga gak nyangka Refal bisa ngelakuin itu ke Zanaya. Tapi, apa dengan memukuli dia semua masalah bisa selesai? Lebih baik kita pikirin apa yang harus kita lakukan pada Zanaya sekarang," ucap Arin.


Eza sontak menatap Zanaya, gadis itu tengah menangis sesenggukan melihat semua yang terjadi di depan matanya.


"Kamu benar-benar keterlaluan Refal, papa nyesel punya anak seperti kamu!" ujar Eza tegas.


"Aku minta maaf pa, aku gak bisa tahan diri sampai aku melakukan itu semua ke Zanaya!" ujar Refal.


"Maaf kamu gak akan merubah apapun, Zanaya sudah mengandung anak kamu," ucap Eza.


"Iya pa, aku bersedia tanggung jawab atas bayi di kandungan Zanaya. Aku mau menikahi Zanaya pa," ucap Refal.


Eza dan Arin terkejut bersamaan, bagaimana bisa mereka membiarkan anak mereka menikah?


"Kamu sudah gila Refal! Apa kata orang-orang nanti kalau tahu kalian bersaudara tapi menikah? Mau taruh dimana muka papa?" geram Eza.


"Betul sayang, itu suatu hal yang gak mungkin terjadi. Kalian gak bisa menikah, kalian itu sudah menjadi saudara," timpal Arin.


Refal kembali bersedih sembari menundukkan kepalanya, sesekali melirik Zanaya di sampingnya.


"Aku nyesel banget udah ngelakuin semua ini, kalau ternyata jadi begini harusnya waktu itu aku tahan diri dan gak maksa Zanaya buat tidur sama aku," ucap Refal lirih.


"Mama juga nyesel udah titipin Zanaya ke kamu Refal, mama kira kamu bisa juga anak mama, tapi kamu malah merusak dia!" sentak Arin.


"Maafin aku ma, aku benar-benar menyesal dan aku minta maaf banget sama mama! Kalau mama mau hukum aku, hukum aja ma aku siap kok!" ucap Refal memohon pada ibunya.


Arin justru menangis seraya menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka semuanya akan jadi seperti ini.


Lalu, Zanaya pun turut beranjak dari sofa dan berlutut di hadapan Arin. Ia memohon ampun pada sang mama atas kesalahan yang ia perbuat.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf sama mama, karena ini semua bukan murni kesalahan kak Refal. Aku juga salah dan untuk itu aku siap kalau mama mau hukum aku," ucap Zanaya.


"Kamu apa-apaan Zanaya? Jangan bilang begitu! Ini bukan salah kamu!" tegas Arin.


"Ini salah aku ma, aku turut andil dalam semua ini. Hukum aja aku ma, hukum!" rengek Zanaya.


"Cukup Zanaya, jangan kamu belain kakak kamu yang keterlaluan itu! Disini kamu gak salah, mama gak mungkin hukum kamu!" ujar Arin.


"Papa sudah putuskan semuanya," tiba-tiba Eza bersuara dan membuat ketiganya terkejut.


"A-apa yang papa putuskan?" tanya Refal.


"Demi kebaikan kalian, maka papa ambil keputusan untuk menikahkan Zanaya dengan orang lain. Sedangkan kamu Refal, kamu harus pergi dari rumah ini dan jangan pernah kamu temui Zanaya lagi!" jawab Eza pelan.


Deg!


Semua disana sontak kaget, Refal bahkan langsung melotot tak percaya mendengar ucapan papanya barusan.


"Mama setuju, yang papa kalian bilang memang paling pas dan itu pilihan terbaik," ucap Arin.


Refal hanya bisa pasrah menerima semuanya, meski di dalam hatinya ia sangat tidak rela jika Zanaya menikah dengan orang lain.




Ya Refal akan segera pergi hari ini, setelah Eza memutuskan untuk mengusirnya dari rumah itu saat mengetahui semuanya.


"Kak," panggil Zanaya lirih.


Sontak Refal menoleh, menatap Zanaya dengan mata berkaca-kaca. Jujur ia masih belum bisa terima dengan hukuman dari papanya.


"Eh sayang, ngapain kamu kesini? Nanti kalau papa mama lihat bisa marah loh," ujar Refal.


"Kamu gausah khawatir, pintunya kan gak aku tutup. Jadi, mereka gak mungkin curiga kalau aku datang ke kamar kakak. Lagian aku cuma mau kasih sesuatu buat kakak," ucap Zanaya.


"Sesuatu apa? Kamu tahu kan hari ini aku akan pergi?" tanya Refal.


Zanaya mengangguk lemah, ia berusaha menyeka air mata yang keluar di kedua pipinya dan tetap tegar untuk saat ini.

__ADS_1


"Iya kak, itu makanya aku siapin sesuatu buat kakak," ucap Zanaya.


"Apa itu sayang?" tanya Refal penasaran.


Zanaya tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, ia menyodorkan itu ke arah Refal dan membuat pria tersebut terkejut.


"Ini buat kakak, aku bikin ini sendiri loh. Semoga kakak suka ya dan bisa ingat terus sama aku juga anak kita! Aku sedih banget kakak pergi, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa," ucap Zanaya.


Refal ikut terharu, ia sampai menangis mendengar ucapan Zanaya dan melihat kotak musik dengan ukiran berbentuk wajahnya serta sang adik.


"Kamu hebat banget sayang, bisa bikin kotak musik seindah ini! Kamu tenang aja ya, aku gak mungkin lupain kamu Zanaya! Kalau bisa milih, aku juga gak mau pergi dari kamu. Tapi, ini semua kan demi kebaikan kamu sayang," ucap Refal.


"Iya kak, aku ngerti kok. Ini semua juga bukan salah kakak," ucap Zanaya pelan.


"Makasih ya udah buatin kenang-kenangan ini, aku janji bakal selalu kabarin kamu saat di luar negeri nanti! Kamu juga jangan lupa ya balas pesan aku!" ucap Refal memegang pipi adiknya.


"Pasti kak, aku akan selalu tunggu pesan dari kakak masuk ke hp aku," ucap Zanaya.


Refal tersenyum, kemudian memeluk Zanaya erat sembari mengusap punggungnya. Ia menumpahkan air mata kesedihannya disana.


Setelah dirasa cukup, Refal melepas pelukannya dan beralih memegang perut Zanaya yang sedikit membesar itu.


"Sayang, jaga anak kita baik-baik ya! Jangan sampai calon buah hati kita ini kenapa-napa! Aku mau lihat dia besar dan tumbuh dewasa sayang," ucap Refal lembut.


"Iya kak, soal itu kamu gak perlu khawatir. Aku pasti bakal jaga anak kita baik-baik kok, percaya sama aku kak!" ucap Zanaya tersenyum.


"Makasih ya Zanaya," ucap Refal.


Refal menarik dan menahan tengkuk Zanaya, lalu menyatukan bibir mereka dengan lembut.


Zanaya tak menolak, ia justru membalas ciuman Refal dengan tak kalah panasnya.


Zanaya berpikir mungkin ini kali terakhir ia dan sang kakak bisa saling berpagutan seperti sekarang, maka dari itu tidak ada salahnya jika ia membalas permainan bibir pria itu.


"Ehem ehem.." suara deheman tersebut berhasil membuat keduanya terkejut bukan main.


Refal sontak melepas pagutannya, menoleh ke arah pintu dan menemukan mamanya tengah berdiri disana dengan sorot mata tajam.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2