
Sedangkan Mama Sarah tertidur lelap di sofa rumah sakit mungkin karena kecapean sampai sampai tidak terjaga.
Papa Surya yang melihat anaknya sakit seperti ini membuat hatinya terbuka.
''Selama ini aku telah gagal menjadi seorang ayah, bahkan anakku sendiri saja tidak pernah terbuka padaku, maafkan Papa sayang.'' Ucap Papa Surya mengelus ngelus rambut Syifa.
Pagi harinya Rendy sudah sampai di rumah sakit dia langsung ke rumah sakit begitu tahu kalau Syifa masuk ke rumah sakit dari Mamanya.
''Assalamualaiku.'' Ucap Rendy mengetuk pintu kamar rawat Syifa sebelumnya sudah dia tanyakan pada Mamanya.
''Waalaikum salam.'' Jawab Papa Surya dan Mama Sarah dari dalam
''Pagi Om, Tante.'' Ucap Rendy masuk ke kamar rawat Syifa setelah diizinkan masuk oleh orang tuanya Syifa.
''Rendy pas banget kamu datang, apa Tante dan Om bisa minta tolong jagain Syifa sebentar karena Om sama Tante mau ambil baju Syifa dulu di rumah.'' Pinta Papa Surya kerena ingin memberi waktu untuk Syifa dan Rendy berbicara berdua saja. Dia percaya kalau Rendy pasti tidak akan macam macam terhadap Syifa maka dari itu dia membiarkan Syifa dan Rendy berdua saja.
''Baik Om, Om tenang aja pasti Rendy jagain.'' Jawab Rendy tanpa ragu
''Kalau gitu Om sama Tante pergi sekarang, Assalamualaikum '' Ucap Papa Surya meninggalkan Syifa dan Rendy berdua saja
Syifa belum terbangun dari tidurnya setelah tadi subuh sempat terbangun dan salat subuh dan melanjutkan tidurnya karena disuruh Papa Surya.
''Sayang kenapa bisa jadi begini sih?,'' gumam Rendy
''Aku harap ini terakhir kali kamu sakit dan membuat aku cemas seperti ini, kamu tahu aku cemas banget pas dengar kalau kamu masuk rumah sakit.'' gumam Rendy berbicara sendiri.
''Rendy.'' Ucap Syifa lemas membuka matanya pelan
''Sayang kamu sudah bangun.'' Ucap Rendy
''Apa masih ada yang sakit? kamu kenapa bisa sampai sakit seperti ini? apa ini ada hubungannya denganku segitu sayangnya sama aku ya sampai jatuh sakit seperti ini.'' Ujar Rendy bercanda sekaligus juga serius dalam waktu bersamaan
''GR banget siapa juga yang sakit karena kamu, aku hanya kecapean aja.'' Jawab Syifa membela dirinya agar tidak malu di hadapan Rendy
''Ahhh masak sih.'' Canda Rendy
''Udah ah kalau kamu kesini cuma mau mengejekku lebih baik pulang sana?.'' Ucap Syifa
__ADS_1
''Jadi kamu mau aku pulang, kalau gitu aku pulang aja.'' Ucap Rendy sudah ancang ancang pergi
''Jangan.'' Ucap Syifa spontan
''Syifa Syifa kamu lucu banget sih tapi suruh pulang sekarang gak boleh jadi aku harus gimana sekarang pulang apa disini.'' Ucap Rendy
''Terserah kamu aja.'' Ujar Syifa malu kerena Rendy terus menjebaknya dengan pertanyaan.
''Kalau terserah padaku, aku disini saja menemani cewek cantik yang lagi ngambek.'' Jawab Rendy
''Rendyyy.'' Ujar Syifa kesal
''Apa sayangku.'' Jawab Syifa
''Udah dong.'' Ucap Syifa
''Udah apa sayang.'' Tanya Rendy bercanda seolah olah tidak mengerti apa maksud Syifa.
''Kamu udah sarapan belum.'' Tanya Rendy lagi perhatian dan tidak mau menggoda Syifa lagi.
''Belum, aku belum lapar.'' Jawab Syifa seadanya.
''Tapi aku belum lapar Rendy.'' Ucap Syifa
''Lapar gak lapar kamu harus makan biar cepat sembuh sayang, aku gak mau tahu pokonya kamu harus sarapan aku suapin kamu.'' Ujar Rendy
Rendy menyuapkan bubur ke mulut Syifa tapi Syifa berusaha menolak karena malu buka. tidak mau.
''Akau makan sendiri saja.'' Ujar Syifa mengambil alih sendok yang ada di tangan Rendy.
''Gak boleh aku suapin aja, dan kamu harus nurut sama aku diam, buka mulut.'' Jawab Rendy memberi perintah
Dengan terpaksa tapi bahagia Syifa membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rendy untuk pertama kalinya. Hatinya begitu bahagia melihat perhatian Rendy yang sebentar lagi akan menjadi tunangan dan suaminya. Tapi Syifa juga sedih mengingat Rendy akan melanjutkan kuliahnya diluar negri itu artinya mereka harus berpisah.
Tanpa sadar Syifa menjatuhkan air matanya di hadapan Rendy.
''Sayang kenapa kamu nangis aku buat salah ya'' Tanya Rendy panik
__ADS_1
''Kamu gak salah Ren, tapi kau yang salah karena telah jatuh cinta sama kamu.'' Jawab Syifa tanpa sengaja baru saja mengungkapkan isi hatinya.
Rendy bukannya sedih tapi tersenyum bahagia dengan pengajuan Syifa yang sudah lama di tunggu keluar dari mulutnya langsung.
''Aku juga mencintai kamu Syifa, sangat mencintai kamu, memang benar kita belum lama kenal tapi aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertema kamu di sekolah waktu itu.'' Jawab Rendy. Ingin rasanya Rendy memeluk Syifa tapi dia sadar sekarang belum saatnya.
''Kamu tahu? bahkan perkataan kamu waktu itu semua benar kalau aku ngikutin kamu waktu itu.'' Ucap Rendy jujur terhadap perasaannya yang selama ini dia simpan.
''Jadi benar waktu itu kamu ngikutin aku?.'' Tanya Syifa memastikan pendengarannya tidak salah
''Iya sayang maaf ya, aku baru jujur sekarang aku malu banget waktu itu ketahuan sama kamu.'' Jawab Rendy cengengesan.
''Dasar kamu ya.'' Ucap Syifa tersenyum.
''Sekarang itu udah gak penting, yang penting sekarang akhirnya aku tahu kalau kamu juga mencintai aku seperti aku yang mencintai kamu dan perjodohan ini bukan karena orang tua lagi melainkan karena kita sendiri.'' Ujar Rendy dan di benarkan oleh Syifa dengan anggukan.
''Tapi kamu akan tetap pergi kan?,'' Tanya Syifa
''Untuk satu itu aku belum bisa meyakinkan Papa kalau aku gak bisa meninggalkan kamu sendiri disini.'' Jawab Rendy
''Jadi benar kalau kamu akan tetap pergi?.'' Ujar Syifa
''Kamu tenang aja sayang aku akan lakukan apa saja asal kamu selalu percaya sama aku, jadi aku mohon kamu sabar dulu ya, aku pasti bisa yakinin Papa.'' Ucap Rendy
''Apa kita temui Papa aku berdua saja, pasti Papa gak bisa nolak kamu.'' Usul Rendy
''Apa bisa?.'' Tanya Syifa kurang yakin dengan usulan Rendy
''Kenapa gak kita coba aja siapa tahu bisa.'' Jawab Rendy
''Jadi kamu mau gak.'' Tanya Rendy.
Syifa tidak menjawab tapi menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Rendy.
''Syukurlah, sekarang kamu makan yang banyak supaya cepat sembuh dan kita bisa bicara langsung sama Papa, Papa pasti kabulkan permintaan kamu, dan kita bilang kalau kita gak mau berpisah karena sekarang kita saling mencintai.'' Ujar Rendy tersenyum bahagia.
''Apa kamu segitu yakinnya?.'' Tanya Syifa pesimis
__ADS_1
''Aku sangat yakin karena kalau aku sendiri yang bilang sama Papa kalau kita saling mencintai dan gak mau berpisah pasti Papa gak percaya tapi kalau ada kamu pasti Papa percaya dan membatalkan keberangkatanku.'' Ujar Rendy
''Mudah mudahan saja Papa kamu setuju.'' Ucap Syifa mencoba optimis.