
Setelah mendapat persetujuan Tania, Reno langsung menghubungi Mama dan Papanya Syifa.
Rendy mengantar Syifa sampai di rumahnya. Rendy tidak lagi masuk dan langsung berpamitan pada Syifa karena sudah sore.
"Sayang aku langsung pulang ya!," Ujar Rendy.
"Gak mau pamitan sama Mama Papa dulu?," Tanya Syifa turun dari mobil Rendy.
"Kamu kasih tahu aja, aku langsung pulang takut kejebak macet nanti." kasih tahu Rendy.
"Baiklah, hati hati, kalau sudah sampai rumah kabari aku, jangan lupa!" Ujar Syifa.
"Iya sayang, Assalamualaikum," ucap Rendy.
Syifa menunggu Rendy menghilang dari penglihatannya setelah, Rendy sudah tidak terlihat barulah Syifa masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam Syifa sudah di tunggu oleh kedua orang tuanya. Awalnya Syifa sedikit bingung kenapa orang tuanya ada di ruang tamu berdua karena biasanya di jam segini mereka ada di kamar mereka.
"Assalamualaikum, Pa,Ma" ucap Syakilla.
"Waalaikum sayang, baru pulang?," Tanya Mama Sarah basa basi.
" Iya Ma," jawab Syifa tidak curiga sama sekali.
"Ngapain aja sama Rendy tadi?," Giliran Papa Surya yang bertanya.
"Kami hanya jalan jalan saja Pa, kenapa Papa tanya seperti itu?" tanya Syakilla karena merasa aneh dengan pertanyaan Papanya.
"Enggak pa-pa, Papa hanya bertanya saja, udah sana mandi dulu habis magrib Papa mau bicara sama kamu." ucap Papa Surya.
"Iya Pa, Ma aku ke dalam dulu" jawab Syifa.
Syifa masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Satu jam berkutik di kamar mandi Syifa akhirnya selesai, dia menunggu sampai azan magrib selesai dan menunaikan kewajibannya.
Selesai shalat Syifa keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk makan malam bersama orang tuanya. Orang tuanya kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah setelah perjodohan Syifa.
"Malam Ma,Pa," sapa Syifa duduk di samping Mamanya.
"Malam sayang," jawab Mama dan Papa Syifa bersamaan.
Setelah itu tidak ada yang mengeluarkan suara mereka menikmati makan malam mereka. Papa dan Mamanya Syifa menyelesaikan makan malam mereka lebih dulu.
"Papa tunggu di ruang kerja Papa, Papa mau bicara berdua sama kamu," ujar Papanya Syifa serius.
__ADS_1
"Iya Pa," jawab Syifa patuh dan melanjutkan makannya. Sedangkan, Papanya masuk ke ruang kerja dan Mamanya masuk ke kamar.
"Ada apa dengan semua orang malam ini!," Gumam Syifa pada dirinya.
Syifa menyelesaikan makan malamnya lebih cepat karena penasaran apa yang akan Papanya bicarakan.
Tok tok tok
" Masuk" ucap Papa Surya dari dalam.
Syifa masuk ke ruangan kerja Papanya untuk kesekian kali, tapi kali ini rasanya berbeda seperti dia akan mengikuti ujian saja.
"Duduk," perintah Papa Surya.
Syifa menurut saja apa yang di perintahkan oleh Papanya. Syifa begitu terkejut karena Papanya tiba-tiba saja memeluk dirinya.
" Ada apa Pa ini sebenarnya?," tanya Syifa.
"Papa hanya ingin berbicara dengan putri Papa, apa itu salah," ujar Papa Surya.
" Bukan itu Pa, kenapa Papa ingin berdua saja dengan Syifa? tidak biasanya, apa Syifa membuat kesalahan?," Tanya Syifa.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, sebenarnya Papa mau kasih kamu sesuatu," jawab Papa Surya.
Papa Surya berdiri dan mengambil sesuatu di dalam laci dan menyerahkannya pada Syifa.
"Apa ini Pa?," Tanya Syifa.
"Buka saja, kamu akan tahu sendiri, Papa harap kamu mau menerima pemberian Papa ini." Tutur Papa Surya.
Syifa membuka sebuah map yang di kasih Papanya dengan rasa penasaran.
"Sertifikat rumah" ucap Syifa.
"Sebentar lagi putri kecil akan menikah, Papa harap kamu menerimanya ya, Papa akan bicara masalah ini dengan Rendy nanti." ucap Papa Surya mengelus kepalannya Syifa.
"Pa, aku belum mau berpisah sama Papa dan Mama," ujar Syifa.
"Bukan itu maksud Papa, mau tidak mau Rendy pasti akan membawamu pergi dari rumah ini, Papa tahu karakter Rendy dia tidak akan mau berlama-lama tinggal di rumah mertuanya." tutur Papa Surya.
"Tapi Pa, Syifa gak mau pisah dari Papa dan Mama," bantah Syifa.
"Sayang kamu harus nurut sama suami kamu, apapun yang dia bilang lakukan jangan membantah, Papa tidak melarang kamu dan Rendy untuk tinggal di sini kalau Rendy tidak keberatan." ujar Papa Surya.
__ADS_1
" Kalaupun Rendy tidak mau tinggal di sini, Rendy telah membeli rumah yang tidak jauh dari sini, masih satu komplek sama Papa," balas Papa Surya.
"Ini adalah hadiah pernikahan untuk putri kecil Papa ini," ucap Papa Surya.
"Makasih Pa." ucap Syifa ucap Syifa memeluk Papanya.
''Sudah, sekarang mana ponsel kamu" ujar Papa Surya masih dalam pelukan Syifa.
"Buat apa?," Tanya Syifa pura-pura lupa.
"Tidak usah pura-pura lupa, kasih cepat sama Papa" pinta Papa Surya.
"Jangan dong Pa, kalau Papa ambil ponsel aku, terus aku ngapain di rumah satu minggu gak boleh keluar pasti sangat membosankan." rengek Syifa.
"Terserah kamu ngapain, sekarang mana ponsel kamu? kamu bisa berkebun di belakang atau undang saja teman teman kamu, nanti Papa bilang sama mereka kecuali Rendy." tutur Papa Surya.
"Setelah Papa kasih ini buat Syifa ternyata ada maunya." kesal Syifa
"Jangan protes ambil saja ponsel kamu, Papa tunggu di sini, jangan lama-lama!," ucap Papa Surya.
Syifa keluar dari ruang kerja Papanya berpura-pura kesal. Setelah pintu tertutup Syifa langsung kegirangan.
"Ternyata Reno menepati janjinya untuk tidak memberi tahukan Papa," Gumam Syifa begitu keluar dari ruang kerja Papanya.
"Kasih tau apa tau apa sayang, dan janji apa?" ucap Mamanya Syifa membuat Syifa terkejut bukan main.
"Mama, bikin kaget saja, bukan apa-apa" jawab Syifa.
" Kalian obrolin apa sih di dalam?," Tanya .ama Sarah.
"Mama tanya sama Papa saja langsung Syifa mau ambil ponsel dulu di suruh Papa, nanti Syifa kesini lagi" ucap Syifa.
"Yasudah sana ambil, jangan ada yang ketinggalan ya," ucap Mama Sarah tapi Syifa tidak paham dengan sindiran halus Mamanya.
Syifa masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel yang biasa dia pakai sedangkan ponsel yang di beli Rendy dia sembunyikan di laci yang berada di samping tempat tidurnya.
Jangan lupa!
LIKE, KOMEN,VOTE, FAV.
KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK AUTHOR
TERIMA KASIH💜
__ADS_1