pria idaman

pria idaman
Hari pertama di pingit


__ADS_3

Happy reading!


Budayakan like, komen, vote, fav.


Syifa tidak sadar kalau pembicaraannya dan Rendy di dengar seseorang di balik pintu kamarnya.


"Semoga Rendy bisa membahagiakanmu putri kecil Papa, mungkin selama ini kamu sangat menderita dengan sikap kami yang selalu lebih mementingkan pekerjaan kami, di saat kami sadar kami sudah terlambat kamu sudah akan menjadi milik orang lain..." gumam Papanya Syifa di balik pintu


Papa akan tetap membiarkan kamu menggunakan ponsel itu, Papa akan berpura pura tidak mengetahui tentang ponsel itu karena Papa ingin kamu bahagia putri kecil Papa..."


Selamat malam putri kecil Papa." Ucap Papa Surya dan meninggalkan kamar Syifa.


Keesokan paginya Syifa terbangun dan mendapati kalau ponselnya masih terhubung dengan Rendy. Syifa merasa malu karena saat dia bangun Rendy sudah bangun terlebih dahulu dan menatapnya yang baru bangun dari tidurnya yang nyenyak dengan senyumannya.


"Selamat pagi calon bidadari-ku." ucap Rendy tersenyum di balik layar ponsel Syifa dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Selamat pagi calon imam-ku." balas Syifa dengan suara serak.


"Kamu gak matikan sambungannya semalam?," Sambung Syifa lagi.


" Aku ingin melihat bidadari-ku tidur terlelap dengan begini aku lebih merasa tenang karena kalau aku mematikan sambungannya pasti bidadari-ku ini akan mewek..."


"Benarkan?," Tanya Rendy.


"Aku mau mandi dulu jadi matikan sambungannya."kata Syifa.


"Bagaimana kalau aku tidak mau mematikan ponselnya?," Tanya Rendy.


"Aku yang akan mematikannya simple kan." balas Syifa.


"Baiklah aku akan mematikannya selamat beraktifitas sayang, nanti hubungi aku lagi ya, aku pasti akan sangat merindukanmu!," ucap Rendy.


"Nanti malam kita bicara lagi takutnya Mama ke sini, kamu mau?," Tanya Syifa.


" Tentu saja tidak, baiklah aku akan mematikan panggilannya sekarang, Assalamu'alaikum sayang,"ucap Rendy.

__ADS_1


"Waalaikum salam," Jawab Syifa.


Setelah Rendy mematikan sambungan panggilannya, Syifa bangun dan mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Rendy benar benar konyol bagaimana bisa dia membiarkan panggilannya tidak terputus semalaman." Gumam Syifa. Baru keluar dari dalam kamar mandi dengan lilitan handuk di badan kecilnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Kemudian, setelah Syifa memakai bajunya dan mengeringkan rambutnya dengan hairdrayer supaya benar benar kering. Syifa turun ke bawah untuk sarapan. Dia melihat Mama dan Papanya yang sudah siap dengan baju kerjanya.


"Pagi Ma, Pa, mau pergi kantor?," Tanya Syakilla setelah sampai di hadapan orang tuanya.


"Pagi sayang." ujar Papa dan Mamanya bersamaan.


"Iya, tapi kamu harus tetap di rumah jangan coba-coba keluar dari rumah karena itu pamali, kamu mengerti?," Ucap Mama Sarah.


"Mama mau kemana pagi-pagi begini? Bukannya Mama gak ke kantor lagi?,'' Tanya Syifa.


Setelah malam di mana Syifa harus dilarikan ke rumah sakit Mamanya Syifa memutuskan untuk tidak bekerja lagi menemani suaminya sampai pernikahan Syifa tiba. Dia ingin fokus dengan Syifa untuk membayar waktu dan perhatian yang selama ini tidak pernah dia berikan untuk Syifa. Walaupun tidak mungkin bisa terbayar. Namun, setidaknya Syifa tidak merasa sendiri lagi. Sekaligus mengurus acara pernikahan Syifa dan Rendy.


"Mama mau ketemu Tante Clara ada yang mau kita bahas tentang WO untuk pernikahan kamu." Jawab Mamanya Syifa.


"Enggak boleh sayang, kamu gak boleh keluar rumah dulu sampai hari pernikahan kamu." balas Mama Sarah Mamanya Syifa.


" Lalu aku harus apa di rumah, ponsel Papa sita, Mama juga mau pergi," ujar Syifa cemberut.


" Sayang dengerin Papa kamu bisa gunakan laptop yang ada di ruangan Papa, kamu bebas nonton drakor kamu itu asal jangan cemberut seperti itu,oke." kata Papa Surya.


"Baiklah." Jawab Syifa pasrah. Membantah juga tidak ada gunanya untuk sekarang.


"Anak pintar." balas Papa Surya mengelus rambut Syifa.


"Mama dan Papa gak sarapan dulu?," Tanya Syifa.


" Kami udah makan tadi, maaf ya kami tidak menunggumu," balas Mama Sarah.


"Kalian mau pergi sekarang?," Tanya Syifa lagi.

__ADS_1


"Iya kami mau berangkat sekarang, baik-baik di rumah, ingat gak boleh keluar," ucap Papa Surya.


"Iya Syifa mengerti," balas Syifa.


"Assalamualaikum." ucap orang tuanya Syifa.


"Waalaikum salam." jawab Syifa.


Syifa mengantar orang tuanya sampai ke depan pintu rumah. Setelah mereka pergi barulah Syifa masuk ke dalam rumah dan menikmati sarapannya sendiri seperti yang sudah sering Syifa alami selama ini.


"Aku seperti mengulang kehidupanku sebelum bertemu dengan Rendy yang selalu sarapan sendiri...'


Kehadiran kamu banyak mengubah kehidupanku Rendy, Aku bisa kembali merasakan kehangatan dalam keluarga ini dan aku tidak merasakan kesunyian lagi seperti dulu...'


Aku harus berterima kasih kepadamu, dan keluargamu, kalau kalian tidak ada mungkin aku masih kesepian seperti dulu...


Aku punya uang, mobil,, semua yang aku inginkan bisa aku beli, tapi sayang mereka tidak pernah memberiku kasih sayang, mereka lupa kalau kebahagian bukan hanya tentang materi saja...'


"Bahkan ulang tahunku saja mereka mungkin tidak ingat " gumam Syifa meneteskan air matanya.


Selesai sarapan Syifa masuk ke ruangan Papanya dan mengambil laptop di sana, sebenarnya Syifa memiliki laptopnya sendiri tapi tidak pernah dia pakai yang di belikan orang tuanya untuk kepentingan sekolahnya beberapa tahun yang lalu, tapi mungkin Papanya lupa.


"Apa gunanya rumah sebesar ini tapi penghuninya sedikit," Gumam Syifa memperhatikan setiap sudut ruangan Papanya.


Syifa keluar dari ruang kerja Papanya, dia tidak jadi mengambil laptop Papanya dia memilih mengelilingi rumahnya untuk mengusir kejenuhannya.


Syifa memperhatikan setiap sudut rumahnya. Dan berhenti di taman belakang rumahnya, Dia mengingat masa kecilnya yang bahagia, orang tuanya selalu ada, bermain bersamanya, tertawa bersama.


Tapi, lambat laun kebahagiaan itu sirna, ketika dia sudah beranjak remaja dan Mamanya memilih bekerja di kantor Papanya. Sejak saat itu, semua berubah seketika Syifa mulai kesepian di rumah sendirian, dia hanya bermain dengan para pembantunya.


Dia tidak memiliki banyak teman saat itu, dia berubah seiring orang tuanya berubah. Tapi, saat menginjak bangku SMA dia mulai ceria kembali dia berusaha damai dengan keadaan dan menerima takdirnya.


Dia banyak menghabiskan waktunya bersama sahabat-sahabatnya dia mencoba tidak perduli lagi dengan sikap orang tuanya.


Bersama teman temannya dia bisa bahagia menyembunyikan segala kesedihannya. Selau menunjukkan kalau dia bahagia.

__ADS_1


__ADS_2