
Tiba giliran Rendy yang memperkenalkan diri dia ingin berbicara terus terang kepada Tama dan tidak mau menutupi siapa dirinya karena dia merasa kalau kakaknya Fera menyukai calon istrinya, tapi di sisi lain dia menunggu Syifa yang mengatakannya langsung pada Tama bukan dirinya.
Melihat Syifa tak kunjung memperkenalkan dirinya Rendy mengambil inisiatif memberi tahu lebih dulu kalau dia adalah calon suaminya Syifa kepada Tama.
''Salam kenal saya Rendy calon suaminya Syifa,'' ujar Rendy
''Saya Tama kakak kandungnya Fera, apa kamu lagi berusaha untuk membuat lelucon sama saya?,'' tanya Tama merasa kalau Rendy membohonginya dengan mengatakan kalau dia adalah calon suaminya Syifa.
'' Saya serius kalau kak Tama tidak percaya coba aja langsung tanyakan sama Syifa ada orang tuanya juga,'' jawab Rendy.
''Apa benar Syifa kalau dia calon suami kamu tapi kakak gak percaya kamu kan masih sangat muda untuk menikah apalagi kalian masih sama sama muda,'' tutur Tama
''Benar kok kak dia adalah calon suaminya Syifa aku juga tahu itu dan sebentar lagi juga mereka mau menikah, '' bukan Syifa yang menjawab melainkan Fera adiknya sendiri.
Syifa merasa tidak enak hati karena perkataan Rendy tapi mau bagaimana lagi Rendy sudah terlanjur jujur dan itu juga yang terbaik.
''Benar kak, doakan saja kami ya kak,'' ujar Syifa
Tama benar benar syok mendengar kalau Syifa akan segera menikah dengan laki laki lain padahal dia berniat melamar Syifa di waktu yang tepat dan menikahi Syifa setelah Syifa siap tapi dia tidak menyangka kalau Syifa sudah memiliki orang lain bahkan sebentar lagi akan jadi istrinya orang lain. Betapa hancur hatinya dia yang selama ini menjaga hatinya dan menunggu Syifa malah keduluan orang lain seperti ini.
Dia juga tidak bisa marah karena salahnya sendiri kenapa selama ini dia tidak pernah mengungkapkan isi hatinya untuk Syifa sahabat dari adiknya itu.
Fera yang melihat kakaknya itu sebenarnya juga merasa kasih karena dia mengetahui kalau sang kakak menyukai sahabatnya itu tapi dia juga tidak bisa memaksa Syifa untuk membalas perasaan kakaknya.
''Fera tahu kakak menyukai Syifa tapi Fera juga gak bisa berbuat apa apa kak, salah kakak sendiri sudah Fera suruh terus terang kakak gak mau malah sembunyi sembunyi,'' batin Fera menatap kakaknya yang masih terlihat syok.
''Selamat kalau gitu semoga kalian mendapatkan kebahagiaan ya,'' tutur Tama tetap tersenyum meskipun terpaksa.
''Kalau gitu kakak pergi dulu ya masih ada urusan di kantor, Ma, Pa, Tama pergi ke kantor ya, semuanya permisi dan selamat untuk kalian semua,'' ujar Tama kepada semua orang yang ada di situ, Dia memilih pergi dari pada tidak bisa menyembunyikan perasaannya lebih lama lagi di hadapan semua orang.
''Ma, Pa, Fera kalian mau kakak anterin pulang atau giman?,'' tanya Tama.
''Kita ikut pulang sama kakak aja ya, Ma, Pa,''ucap Fera mengerti perasaan Kakaknya yang lagi patah hati.
__ADS_1
'' Ya sudah boleh acaranya juga sudah selesai, kami sekeluarga pamit duluan gak pa pa kan?,'' tutur Papanya Fera.
''Silahkan kami juga mau pada pulang,'' jawab Papanya Rendy.
''Sekali lagi selamat ya Syifa, Rendy, semua,'' ucap Tama sekali lagi.
''Iya terima kasih nanti jangan lupa datang di hari pernikahan kami, kami sangat menanti kak Tama datang.'' ucap Rendy.
''Inn Syaa Allah,'' Jawab Tama.
Mereka semua pergi dari sekolah dengan menggunakan mobil dan keluarga masing masing tak terkecuali Rendy dia akan langsung di bawa ke perusahaan oleh Papanya.
Sedangkan Syifa pulang bersama orang tuanya ke rumah mereka. Untuk hari ini mereka akan beristirahat sejenak mereka akan berlibur di hari berikutnya untuk merayakan kelulusan mereka, Mereka akan mendatangkan panti Asuhan sebagai rasa syukur mereka atas kelulusan.
Mereka akan mengadakan acara kecil kecilan di sebuah Panti Asuhan yang sering mereka datangi bersama selama ini. tapi mereka kehilangan satu sahabat mereka, Dara tidak akan bergabung dengan mereka karena akan langsung pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya di sana kalau Vino bahkan di hari kelulusannya sendiri dia tidak hadir entah kemana dia.
Tama pulang bersama orang tuanya, Fera yang melihat Tama melamun dari tadi mencoba untuk menghiburnya dengan mengajak ribut tentunya.
''Kak,'' ucap Fera tapi tidak di gubris Tama
''Fera kenapa kamu teriak,'' tegur Mama Papanya.
''Maaf Ma,Pa, abisnya kakak melamun aja dari tadi,'. ucap Fera merasa sedikit bersalah.
''Apa kakak mikirin Syifa? kan udah Fera kasih tahu untuk cepat mengungkapkan perasaan kakak, tapi kakak malah cuekin perkataan Fera jadi sekarang Syifa di ambil orang kan, jangan salahin Fera,'' tutur Fera.
''Apa maksud kamu Fera, Kakak kamu menyukai Syifa gitu?,'' tanya Papanya Fera tidak tahu menahu tentang perasaan Tama.
''Benar Pa, tapi kakak,'' ucap Fera langsung di potong Tama.
''Udah gak usah di bahas lagian Syifa juga sudah mau menikah sama orang lain, kenapa kamu tidak memberitahukan kakak kalau Syifa sudah memiliki calon suami tau gitu kakak lebih dulu mengungkapkan perasaan kakak, kamu tahu perasaan kakak tapi kamu menyembunyikan semua ini dari kakak,'' ujar Tama menyalahkan Fera.
''Jadi sekarang kakak nyalahin Fera ceritanya, Ma, Pa lihat kakak kenapa malah salahin aku?,'' ujar Fera mengadu
__ADS_1
''Kalian ini ya dan kamu Tama bukankah kamu laki laki kenapa saat sudah terjadi seperti ini kamu baru menyesal dan menyalahkan adik kamu,'' tegus Papanya.
''Sudah, masih banyak wanita lain Tam,'' ucap Mamanya Fera.
''Salah sendiri udah Fera kasih klu tapi malah mengejek adiknya yang baik ini, '' ucap Fera.
''Iya semua salah kakak bukan kamu,ujar Tama
''Awas ya kamu gak akan kakak beri restu?,'' ucap Tama di dekat telinga adiknya.
'' Buat apa?,'' tanya Fera.
''Buat kamu sama Ferdy,'' ucap Tama pelan.
''Kok gitu sih gak boleh gitu dong kak,'' protes Fera.
''Terserah kakak dong,'' ucap Tama merasa menang sebagai kakak.
''Mentang mentang kakak adalah kakak jadi seenaknya saja dong tapi kan aku cuma butuh restu Papa sama Mama gak pa pa kalau sama kakak mah, whhleeee,'' ucap Fera mengejek kakaknya dan menjulurkan lidahnya.
''Tinggal kakak hasut Mama sama Papa aja supaya gak di kasih restu, gampang kan?,'' ujar Tama lagi.
''Kakak mah, jangan gitu dong, tadinya aku mau menghibur kakak tapi kenapa aku yang kena seperti ini, kakak nyebelin tau gak,'' ucap Fera merajuk dan memukul bahu Tama.
''Kalian ini selalu saja memulai keributan,'' ucap Mamanya Fera.
''Kakak yang mulai Ma,'' ucap Fera.
''Kalian ini sama saja, Tama fokus sama jalan kamu?,'' ucap Papa mereka.
Tidak bosan author ingatkan
tinggalkan jejak kalian
__ADS_1
like komen vote and hadiahnya ya untuk membuat author semakin semangat nulisnya.
terima kasih bagi yang sudah mampir dan jangan bosan ya