
''Udah dong Ma, Pa .'' Ujar Syifa malu.
Sampai di pekarangan rumahnya Syifa dan keluarganya dan juga Rendy sudah menyiapkan kejutan kecil untuk Syifa itu adalah ide dari Rendy sendiri untuk merayakan kepulangan Syifa.
''Ayo sayang'' ajak Rendy memegang tangan Syifa yang mungil.
''Ayo! kemana?,'' tanya Syifa kepada Rendy.
''Masuk'' Jawab Rendy masih menggenggam tangannya Syifa.
''Kalian mau masuk atau terus bicara di sini?,'' Tanya Mamanya Syifa yang melihat Rendy dan Syifa masih ngobrol di dalam mobil berdua.
''Iya Ma,'' Ujar Syifa dan turun di bantu oleh Rendy yang memegang tangannya dengan hati hati.
''Hati hati sayang,'' ujar Rendy.
''Aku cuma sakit biasa Rendy gak sampai parah jadi gak usah terlalu berlebihan,'' ujar Syifa gemas dengan kelakuan Rendy yang bawel dari dari seolah Syifa sakit keras saja.
''Tetap saja aku harus selalu memperhatikan calon istriku ini,'' jawab Rendy dan Syifa sudah turun dari dalam mobil yang tangannya belum di lepas sama Rendy.
''Kalian ini Papa nikahin sekarang aja ya?,'' canda Papanya Syifa
''Boleh Om lebih baik malah,'' jawab Rendy
''Enak aja,'' ucap Syifa memukul lengannya Rendy
''Kenapa kamu gak mau nikah sama aku?,'' tanya Rendy kepada Syifa karena berkata demikian.
''Bukan itu Ren, enggak sekarang juga kan, kita belum juga lulus sekolahnya mau nikah aja,'' Ujar Syifa menjelaskan maksud perkataannya.
''Aku pikir kamu berubah pikiran setelah sakit,'' ujar Rendy.
''Udah pada masuk sana gak usah bertengkar di sini bikin yang lihat baper aja,'' ujar Papanya Rendy yang menyusul anaknya mengantar Syifa ke rumah orang tuanya.
''Papa kayak gak pernah muda aja?,'' canda Rendy dengan Papanya.
__ADS_1
''Kalau Papa kamu lebih bucin dari kamu sayang kamu belum ada apa apanya,'' timpal sang Mamanya Rendy.
''Kalian mau terus bertengkar di sini atau masuk ke dalam, kasian Syifa butuh istirahat,'' ujar Mamanya Syifa dan mengambil alih memegang Syifa dari Rendy tapi Rendy tidak mengizinkannya.
''Kenapa?,'' tanya Mamanya Syifa.
''Biar Rendy aja Tante, Tante gak perlu repot repot kan ada Rendy di sini,'' ujar Rendy dan mengajak Syifa masuk ke dalam yang ternyata sudah di buatin surprise dari Rendy.
''Assalamualaikum,'' ucap mereka semua saat memasuki rumah Syifa.
Saat membuka pintu mata Syifa langsung melongo karena tidak terpikir olehnya akan ada kejutan untuknya seperti ini. Rumah sudah di hiasi dengan balon balon dan juga kalimat *welcome* tepat di depan matanya dan juga para sahabat sahabat terdekatnya yang datang.
''Apa maksudnya ini semua?.'' tanya Syifa bingung sekaligus senang dengan kejutannya apalagi ada sahabatnya.
''Tanyakan ini sama Rendy ini semua ide dia,'' Ujar sahabat Syifa bernama Dea.
''Apa maksud semua ini Ren?,'' tanya Syifa tapi Syifa belum sadar kalau Rendy sudah tidak ada lagi di sampingnya.
''Rendy,'' ucap Syifa berpaling ke arah Rendy di sampingnya.
''Ini semua untuk kamu wanita kedua yang paling berharga dalam hidupku,'' ujar Rendy menjelaskannya kepada Syifa.
''Aku yang kedua maksud kamu apa?,'' ucap Syifa kesal dengan ucapan Rendy
''Setelah Mama sayang, tenang aja gak ada wanita lain yang bisa menggantikan kalian berdua dalam hidupku,'' ucap Rendy sok bijak.
''Rendy Rendy kamu ini kalau bicara ya seolah seolah umur kamu sudah dewasa saja,'' Ujar Papanya Syifa. yang mendengar bicara Rendy yang dewasa.
''Umur bukan patokan untuk bisa bersikap dewasa Om, lihat saja Papa meski udah tua tapi kadang kadang pikirannya kayak anak kecil,'' ujar Rendy mengejek Papanya sendiri.
''Dasar anak durhaka,'' canda Papanya Rendy.
''Kalian ini anak sama bapak hobi benget bertengkar, pusing Mama lihat kalian, gak malu apa ada banyak teman teman Syifa dan kamu Rendy gak malu malah bertengkar sama Papa kamu?,'' ujar Mamanya Rendy.
''Salah anak kamu sendiri,'' ujar Papanya Rendy
__ADS_1
''Anak siapa Pa?,'' tanya Mamanya Rendy menopang tangannya di pinggangnya.
''Tentu anak kita berdua,'' jawab Papanya Rendy.
''Udah gak usah ribut lagi, Syifa kamu mau ngobrol di sini sama teman teman kamu atau mau istirahat terserah sama kamu. Kalau mau di sini juga boleh tapi gak boleh kelelahan, ingat pesan dokter,'' Timpal Papanya Syifa.
''Aku mau di sini aja Pa sama teman teman,'' jawab Syifa.
''Syifa gabung sama yang lain ya Pa, Ma,'' ujar
Syifa.
''Sebaiknya kalian ke taman belakang saja di sana Om sama Tante berbagai hidangan untuk kalian di sana juga kalian akan enak bicaranya,'' Ucap Papanya Syifa memberi arahan.
Semua pergi ke halaman belakang seperti yang di bilang sama Papanya Syifa.
Mama sama Papanya Syifa menganggukkan kepalanya kepada semua teman temannya Syifa maupun Rendy dan mengajak orang tua Rendy masuk ke dalam meninggalkan dan membiarkan anak muda muda itu bebas berbicara bersama teman temannya.
Sedangkan para orag tua mengobrol di ruang keluarga untuk lebih santai dan membahas tentang apa yang akan mereka lakukan kedepannya terhadap hubungan Rendy dan Syifa.
''Jadi kapan pertunangan mereka di laksanakan aku rasa semakin cepat semakin baik karena mereka juga sama sama udah menerima satu sam lain seperti yang kita harapkan,'' Tutur Papa Mahendra.
''Aku menyerahkan semua sama Syifa kapan dia siap aku gak mau memaksa kehendaknya lagi kalau Syifa setuju aku juga setuju,'' jawab Papa Surya.
''Lebih baik masalah ini kita tanyakan saja sama anak anak mereka yang menjalankan ini,'' Ujar Mama Clara.
'' Apa ini tidak terlalu cepat bahkan mereka belum menyelesaikan sekolah mereka apa sebaiknya kita tunda saja sampai mereka kuliah nanti?,'' usul Mama Sarah.
''Kalau aku kurang setuju mengenai itu dan anak anak juga pasti tidak setuju apalagi anakku Rendy bahkan saat aku memintanya pergi kemarin dia malah menyuruhku menikahkannya dengan Syifa terlebih dahulu baru dia mau pergi supaya bisa membawa Syifa bersamanya.'' jawab Papa Mahendra tidak setuju dengan pendapat Mama Sarah.
''Terserah sama anak anak saja nanti kita atur waktu sama keduanya untuk membahas masalah ini tapi aku berharap mereka menikah secepatnya itu akan lebih baik menurutku,'' sambung Papa Mahendra.
''Menurutku juga begitu lebih cepat lebih baik untuk hal sebaik ini,'' ujar Papa Surya setuju dengan pendapat Papa Mahendra.
''Kalian ini para laki laki hanya memikirkan diri kalian saja tapi aku juga setuju aku juga tidak sabar pengen jadi oma muda,'' ujar Mama Clara
__ADS_1
''Mereka menikah juga belum sudah bahas anak aja,'' ujar Mama Sarah. Walaupun Mama Sarah setuju dengan perjodohan keduanya tapi berat rasanya baginya untuk melepaskan Syifa secepat ini apalagi mereka juga baru merasakan kebersamaan yang hangat dalam keluarga mereka yang dulu dingin.