Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
10. Anak spesial


__ADS_3

Pak RT menjelaskan kalau genderwo adalah sosok mahluk yang biasa memperbudak manusia yang menjadi tumbalnya, tubuh tumbalnya di makan habis dan arwahnya di perbudak tanpa bisa pergi ke alam seharusnya.


Sejauh ini menurutnya para arwah akan terus di perbudak sampai si mahluk tersebut di lenyapkan, dan yang jadi masalah adalah sangat jarang dukun yang bisa menaklukan makhluk tersebut.


Apalagi kalau sosok itu sudah berumur ratusan tahun, sudah jelas akan sangat sulit melawannya, dulu kakek pak RT adalah seorang dukun yang sakti, tapi beliau mati saat melawan genderwo di kampungnya dulu.


David ikut menghela nafas panjang karena merasa tak tega dengan korban korban yang sudah di tumbalkan, pemuda tersebut juga bergmfikir andai sahabatnya terlambat di temukan entah penyesalan seperti apa yang akan di deritanya dan tiga sahabat lainnya.


"oh ya nak, apa temanmu itu sempat makan sesuatu waktu di bawa oleh lurah itu?" tanya pak RT.


"ngga tau juga pak, emang kenapa?" tanya David bingung.


"setau saya kalau orang yang akan di tumbalkan di beri sesuatu untuk di makan, dan makanan itu biasanya di anggap sebuah tanda oleh lelembut semacam itu" jawabnya.


"tanda gimana pak?" tanya David panik.


"aduh gimana ngmongnya yah, intinya begini kalau semisal kamu mau di jadikan tumbal biasanya kamu di kasih entah makanan apa untuk kamu makan, tujuan mereka memberimu makan untuk memberi tanda pada tubuhmu kalau kalau kamu berhasil kabur, dan tanda itu bisa membuat kamu di temukan oleh lelembut itu di manapun kamu berada" terangnya.


"ehhh kok saya?" tanyanya.


"itu kan misal nak, yang saya maksud temen kamu itu" ucapnya lagi.


"aduh saya kurang tau nih, ya udah deh saya telfon temen dulu buat nanyain" ucap David khawatir.


Setelah itu David langsung menelfon Rubby, dia menanyakan apa Leya sudah bercerita tentang kejadiannya atau belum, dan David juga meminta agar Rubby menanyakan apa Leya makan sesuatu atau tidak.


Mulut David menganga saat Rubby bilang kalau Leya sempat di paksa memakan sesuatu, pemuda tersebut langsung berbicara pada pak RT tentang sahabatnya, dengan sigap pak RT menyuruh agar Leya tak boleh sendirian untuk sementara waktu sampai mereka melakukan ritual penghapusan tanda.


Rubby juga langsung khawatir mendengan penuturan tersebut, karena dia dan teman temannya sempat meninggalkan Leya agar beristirahat.


"Fan kata David Leya ngga boleh di tinggal sendirian" ucap Rubby panik.


"emang kenapa By?" tanya Raffan.


"katanya Leya udah di tandai sama lelembut itu, bisa aja sewaktu waktu lelembut itu datang buat nyelakain Leya" hawabnya.


Damar yang sedari tadi duduk sambil memejamkan mata langsung melotot, dia juga langsung lari ke arah kamar Leya tanpa bicara pada sahabatnya, dia masih ingat saat semalam Leya hampir di jadikan tumbal.


"braaaakkkk" pintu terbuka lebar saat Damar membukanya kesetanan.


"aduuhh om bikin kaget, gimana kalo jantung Anan copot?" ucap Anan kaget yang sedari tadi sedang asik memainkan robotnya.


Leya juga tersentak kaget dan langsung bangun mendengan suara gebrakan pintu yang begitu keras, tanpa mempedulikan ada Anan di sekitarnya, Damar langsung memeluk Leya dengan erat.


Aleya yang tak mengerti apa apa hanya diam menerima perlakuan pemuda tersebut, tak berapa lama Rubby dan Raffan ikut masuk, begitu juga Tania dan nek Arum yang ikut menyusul di belakangnya.


Leya langsung mendorong Damar kafena merasa malu, Damar sendiri langsung salah tingkah dengan apa yang baru di perbuatnya.


"cieee om sama tante pacaran yah?" tanya Anan meledek.


"nggaaak!" bantah Leya dan Damar bersamaan.

__ADS_1


Orang orang yang melihat kelakuan dua sejoli itu langsung tertawa terbahak bahak, wajah Leya yang biasanya judes bersemu merah menahan malu,Damar sendiri tertunduk tak berani menunjukan wajahnya.


"kayanya si Leya udah tau deh kalo Damar suka sama dia" batin Raffan.


"mereka pacaran yah?" batin Rubby ikut penasaran.


"ohhh mereka itu sepasang kekasih" batin Tania salah sangka.


Sementara nenek Arum hanya tersenyum melihat tingkah para pemuda di depannya, kalau Anan sendiri kembali sibuk dengan robot kesayangannya.


Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Raffan menjelaskan tentang apa yang baru di bicarakan dengan David, Leya yang awalnya sudah tenang sekarang tubuhnya terlihat bergetar, bisa si lihat dengan jelas kalau gadis itu sangat ketakutan.


Nenek Arum yang menyadari akan perubahan Leya langsung menghampiri dan mengelus kepalanya, sebisa mungkin dia menenangkan sahabat cucunya dan akan berusaha membantunya melakukan ritual pelepasan tanda.


"om sini deh" bisik Anan pada Raffan.


Tanpa banyak tanya Raffan langsung mendekati ponakannya, dia paham kalau ponakannya berbicara pelan begitu maka dia akan menunjukan sesuatu yang baru.


"itu yang namanya kingkong ya om?" tanyanya dengan menunjuk ke arah pohon besar di samping rumah.


"kingkong? mana?" tanya Raffan bingung.


"itu tuhhh di bawah pohon" jelasnya lagi.


"degggg"


"astaghfirulloh dek udah jangan liatin" ucap Raffan menarik ponakannya.


"meskipun gue belum pernah liat kingkong tapi gue yakin seribu persen tadi itu mahluk jadi jadian" batin Raffan bergidik.


"kamu sejak kapan liat mahluk itu?" tanya Raffan.


"emmm sejak tante Leya kesini" jawabnya polos.


"apa? kamu liat dari semalem dan baru bilang sekarang ke om?" bentak Raffan tiba tiba.


Dan tentu saja bentakkannya itu membuat seluruh orang di sekitarnya langsung menatap, jelas sekali banyak tanda tanya di kepala mereka, sementara Raffan sendiri justru tertawa canggung dengan memasang muka bodoh.


Raffan meminta Rubby dan Tania untuk menjaga Leya, sementara Damar di tari keluar oleh Raffan, dia ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya, dan dia juga meminta Anan dan nek Arum ikut keluar.


Tangan Damar mengepal erat saat mendengar penjelasan dari Raffan dan Anan, sorot mata yang biasanya garang sekarang berubah memperlihatkan sorot kehawatiran, nek Arum sendiri diam membisu karena tak tau apa yang harus di lakukan.


"kita harus secepetnya nglakuin ritual itu Fan (pelepasan tanda)" usul Damar.


"bukannya kalau ritual begitu pakenya dukun? apa ngga lebih baik minta tolong pak ustad aja?" usul Raffan berbeda.


Nenek Arum menggeleng mendengar ucapan kedua pemuda di depannya, tentu saja lebih baik minta tolong pada ahli agama, tapi yang menjadi masalah ustad di kampungnya sedang pergi ke kota karena putrinya baru melahirkan.


Sementara di kampung sebelah tak ada ustad dan hanya beberapa santri dari ustad di kampung Belanda, karena memang kampung ini dan kampung sebelah dulu itu masih jauh dari agama, makanya sangat jarang ahli agama di sini.


Sementara itu Anan hanya bingung menatap tiga orang di depannya, pembicaraan yang menurutnya rumit itu membuatnya tak bisa memahami sedikitpun.

__ADS_1


"kenapa nyariin ustad sama dukun si om?" tanya Anan heran.


"huftt begini Nan, mahluk yang kamu kira kingkong itu adalah mahluk halus, dia adalah mahluk yang akan mencelakai tante Leya, dia ada di sini karena tubuh tante Leya udah di tandai, dan kita perlu orang lain untuk melepaskan tante Leya dari mahluk itu" ucap Raffan menjelaskan.


"jadi itu mahluk jahat om? Anan pikir itu kingkong yang kita tonton di bioskop waktu itu" jawabnya polos.


"ya bukanlah, makanya Anan jangan deketin mahluk itu ya" pinta Raffan.


"ngga kok, tadi itu pas om sama temen temen pergi Anan liat kingkong itu mendekat, tapi waktu kingkong itu udah deket banget jendela Anan takut dan langsung peluk tante Leya, tapi tiba tiba aja dia langsung ilang, terus muncul lagi tadi" terangnya panjang.


"tunggu, Anan bilang kingkong itu ilang waktu Anan peluk tante Leya?" tanya nek Arum.


"iya" jawabnya singkat.


Nek Arum langsung menarik tangan Raffan, beliau ingin bicara berdua dengannya, dan Damar yang mengerti maksudnya langsung mengajak Anan ke kamar Leya.


"kenapa nek?" tanya Raffan bingung.


"apa Anan lahir di malam jum'at kliwon tang bertepatan dengan munculnya bulan purnama?" tanya nek Arum penasaran.


"em? aduh Raffan kurang tau nek, seingetku sih emang wetonnya itu jum'at kliwon, tapi kalo lahirnya bertepatan bulan purnama Raffan kurang tau, soalnya pas Anan lahir langitnya gelap ketutup awan hitam, jadi kalopun ada bulan purnama ya ngga keliatan, emangnya kenapa?" tanya Raffan heran.


"kamu boleh percaya atau enggak, tapi menurut kepercayaan jaman dulu, kalo ada bayi yang lahir di malam jum'at kliwon yang bertepatan dengan bulan purnama, maka bayi itu memiliki dua kemungkinan, pertama bayi itu kemungkinan akan memiliki nasib buruk dan bisa mati muda karena hal gaib, dan yang kedua..."


"yang kedua apa nek?" sergap Raffan.


"bayi itu di percaya di takuti oleh mahluk gaib dan memiliki kemungkinan menaklukan mahluk mahluk gaib yang berkekuatan besar seperti bangsa genderwo" lanjet nek Arum.


"hah? jadi maksud nenek Anan memiliki kemungkinan ke dua?" tanya Raffan kaget.


"itu cuma kemungkinan Fan, apalagi Anan bilang mahluk itu menghilang waktu dia meluk Leya, apa Anan udah bisa lihat begituan sejak dulu?" tanya nek Arum memastikan.


"yaa semenjak lahir di sering di ajak main sama mba kun dan bungkusan permen sih" terang Raffan.


"apa dia pernah di celakai?" tanya nek Arum lagi.


"kalo di celakai si enggak, tapi di culik iya" jawabnya.


"di culik?"


"hehe maksd Raffan, si Anan dulu pernah di bawa ke pohon asem sama penunggu baru pohon itu, katanya si Anan itu anak spesial gitulah nek" terangnya.


"Anan pernah takut ngga?"


"Anan takut? oohhh tidak pernah, yang ada dia seeing bikin kesel bangsa lelembut" jawab Raffan dengan nada meledek.


"nenek tanya serius Fan" ucap nek Arum.


"ah iya nek Raffan juga jawab serius, Anan tu dari kecil sering bikin kesel bangsa lelembut, ya gimana ngga kesel coba nek, masa waktu dia baru bisa ngrangkak dia seenaknya narik tali om permen sampe itu permen jatoh ngeglinding, trus waktu udah bisa jalan malah lebih parah, dia seenaknya narik narik daster mba kun buat ngelap ompol, bisa nenek bayangkan sekesal apa mereka sama tu bocah?" ucap Raffan.


"bahkan dia bisa tau saat seseorang di dekatnya bahaya?" tanya nenek.

__ADS_1


"yaaa kalo itu kadang kdang sih" jawabnya.


....bersambung.......


__ADS_2