
"hiks .. kakak"
"kenapa .. kenapa kakak tidur lama sekali? aku takut huaaaa😭"
Seorang bocah berusia 4 tahun menangis sesegukan di depan tubuh kaku seorang anak laki laki, anak laki laki berusia kisaran 11 tahun itu mati setelah menderita sakit akibat di risak para pengemis dewasa di daerahnya.
Kota Alas adalah kota besar dan megah di kekaisaran Heibe, Kota yang merupakan pusat perdagangan selalu ramai oleh lalu lalang orang dari berbagai kalangan, kota megah yang terletak di sebelah utara ibu kota adalah kota yang paling makmur, namun di setiap gang kecilnya terdapat banyak kehidupan yang menyedihkan, dan salah satunya adalah gadis kecil yang menangis saat ini.
"ini kah anaknya?"
"sepertinya benar, hei nona kecil ayo ikut kami!"
Wajah penuh ketakutan terpancar dari sorot mata gadis kecil itu, bayang bayang saat kakaknya di pukuli oleh para pria dewasa dan bayang bayang saat dirinya di jadikan alat bermain layaknya bola yang di lempar ke sana kemari membuatnya gemetar ke takutan.
"brrr .. brrr" tubuh kurus kecilnya gemetar hebat di sebelah mayat kakaknya.
Biasanya saat kejadian semacam ini terjadi kakaknya lah yang memasang badan untuk melindunginya, tapi sekarang kakaknya hanya diam saja bahkan tidak mampu walau sekedar membuka matanya.
"heii bukan begitu cara berbicara pada anak kecil🤦, nona manis ayo ikut saya😊"
"ja-jangan pu .. kul" nadanya bergetar.
"ehh .. ti-tidak saya tidak akan memukul nona, saya di perintahkan langsung oleh Baginda untuk menjemput nona" ucapnya ramah.
"Ba .. ginda? si-siapa Baginda?"
"ahaha Baginda, Baginda adalah pemilik kekaisaran ini, dia adalah raja yang memimpin kekaisaran Heibe dan beliau memerintahkan kami menjemput tuan putri"
"tuan putri?" wajahnya bingung.
"benar, nona kecil adalah tuan putri kami, anda adalah putri Baginda"
"bo-bohong, sa ya tidak mempunyai ayah" ucapnya tak percaya.
Para pengawal yang mendapat tugas hanya kebingungan karena di antara mereka tidak ada satupun yang pernah berurusan dengan anak kecil, yang ada di genggaman mereka hanya pedang pedang dan pedang saja, bahkan untuk sekedar bertemu gadis pujaan hati saja tidak sempat.
"tuan putri ayo ikut kami"
"ti-tidak! ja-jangan sakiti saya, kakak saya sudah sakit jangan sakiti lagi huaaa😭😭😭"
"ahh ga-gawat" keluh mereka.
"bolehkah saya memeriksa kakak anda?"
"jangan! jangan pukul kakak" ucapnya langsung memeluk tubuh kaku di depannya.
"tidak tuan putri hamba tidak akan memukulnya, hamba akan memeriksa lukanya😊"
"sungguh🥺?"
"benar tuan putri, jadi izinkan saya memeriksanya ya?"
"i-iya" ucapnya melepas pelukannya.
Ksatria yang susah payah membujuk gadis kecil tersebut langsung mendekat dan memeriksanya, tubuhnya sudah cukup kaku dan bibirnya sudah sepenuhnya putih, di bukalah baju yang menutupi tubuhnya dan terlihat banyak sekalu luka memar di sana.
Ksatria tersebut menengok pada bawahannya dan menggelengkan kepala, walau sedari awal sudah tahu anak laki laki tersebut sudah mati tetao saja dia ragu untuk mengatakannya, apalagi wajah was was dan gelisah gadis kecil di sebelahnya membuatnya tak tega mengatakan yang sejujurnya.
"sejak kapan kakak ini diam saja seperti ini tuan putri?"
"se-sejak semalam, sa at tidur kakak masih memelukku tapi saat aku bangun kakak diam saja sampai sekarang, apa kakak sangat sakit?" tanyanya penasaran.
"tidak kakak ini sudah tidak sakit, dia sudah pergi ke surga"
"surga? bukannya kakak tidur?" anak itu mendekat.
"tuan putri saya sulit menjelaskannya tapi kakak ini sudah pergi, dia pergi ke atas sana, yang ada di sini hanya tubuhnya saja"
"di atas sana? bagaimana caranya? apa jauh?"
"iya surga itu sangaaat jauh"
"apa di sana kakak tidak sakit? kakak dapat makanan? kakak tidak kedinginan kan?"
"i-iya tuan putri"
"kenapa kakak tidak mengajakku? apa kakak membenciku? kakak marah yah padaku🥺?
"tidak tidak, kakak ini tidak membenci tuan putri tapi karena tuan putri masih kecil dan tempatnya sangaaat jauh tuan putri tidak bisa ikut" terangnya.
"oh begitu .. jadi sekarang saya sendirian? ka kalau kakak kakak itu menggangguku .. brr .. brrr" tubuhnya kembali bergetar.
"tuan putri tidak sendirian dan tidak akan yang mengganggu tuan putri, jadi mari ikut kami😊"
"ti-tidak mau😟"
"ahhh shh ... emm tuan putri mau permen?"
"permen? apa itu?"
"permen ini adalah makanan, rasanya manis dan sedikit asam, dia akan lumer di mulut"
"🤤 apa itu enak tuan?"
"tu-tuan? panggil saya Bel"
"ah apa itu enak tuan Bel?"
"bukan tuan Bel, tapi cukup Bel saja"
"tapi kakak bilang saya harus memanggil orang dewasa dengan sebutan tuan dan nyonya, kalau tidak nanti saya di pukul" ucapnya dengan wajah polos.
"di pukul? a-apa tuan putri sering di pukul😠?" seru Bel kesal.
"ehhh😧.."
"ma-maaf tuan putri, sekarang coba permen ini🍬"
"apa boleh?"
__ADS_1
"iya coba saja, pasti tuan putri suka🙂"
"enak .. enak sekali tuan 😲"
"tuan putri jangan panggil saya tuan panggil saya Bel, Belnandra Alpeoluss"
"hng?? namanya bagus😱"
"coba panggil saya!"
"Bel" ucapnya pelan.
"coba panggil saya lagi"
"Be-Bel?"
"iya tuan putrii😄"
"terimakasih permennya😊"
Gadis kecil yang sejak tadi gemetar ketakutan memberi senyum terbaiknya setelah melihat Bel tersenyum manis padanya, Pria itu adalah orang kedua yang memberinya senyum setulus itu selain kakak laki laki yang selama ini melindunginya.
"tuan putri percaya pada saya kan?"
"iya Bel orang baik😄"
"kalau begitu tuan putri mau ikut saya bertemu Baginda kaisar?"
"apa di sana ada permen?" tanyanya dengan wajah polos.
"permen? hahah di sanabukan hanya ada permen, tapi ada banyak sekali makanan enak, tuan putri akan pingsan kalau memakan semuanya" ucap Bel mencairkan suasana.
"benarkah? tapi.."
"tuan putri boleh makan sepuasnya di sana, jadi tuan putri ikut saya ya"
"iya saya mau" ucapnya sedikit ragu.
"mari ikut saya" Bel mengulurkan tangan.
"ta-tapi kakak bagaimana?"
"para bawahanku akan memakamkannya di pemakaman keluarga bangsawan, tuan putri tidaknperlu khawatir, jadi mari saya gendong"
"i-iya"
Belnandra mengangkatnya dengan kedua tangannya "bahkan pedangku jauh lebih berat dari bobotnya" batinnya merasa kasihan.
"wah kudanya besar sekali Bel😲" ucapnya kagum.
"ohya? kuda Baginda jauh lebih bedar dan gagah"
"sungguh? apa aku boleh memegangnya?"
"pegang saja pelan pelan"
Tangan kecilnya menjulur mencoba memegang kuda hitam gagah di depannya, seakan tau bahwa gadis kecil di depannya sedang terkagum kagum, kuda itu justru dengan congkaknya membusungkan dada seolah dialah yang tergagah.
"kalau begitu mari naik bersama saya"
"iya"
Sebelum naik Bel mencopot jubahnya dan membungkus tubuh gadis itu, karena nanti saat kuda berlari angin akan terasa kencang.
Satu minggu sebelumnya
"bagaimana mungkin? lagi pula siapa Zizia?" seru Veano tak percaya.
"tapi dia bersumpah padamu"
"kamu pikir ini pertama kalinya?"
"yaa bukan sih, tapi entah kenapa aku yakin dengan yang satu ini"ucap Alvino.
"anak 4 tahun? memangnya 5 tahun lalu aku di mana?"
"srak"
"srak" Alvin membuka seluruh catatan agenda Ano.
"hngg? 5 tahun lalu kita berperang?" ucap Alvin bingung.
"berperang? dengan siapa?" tanya Ano ikut bingung.
"kerajaan Groi, raja Alrus"
"Groi? Raja Alrus? kamu jangan mempermainkanku Vin, apa lidahmu mau ku potong?" ancam Ano.
"ini sungguhan, lihatlah"
"heh? tapi aku tidak mengingat apapun"
"aku juga, kerajaan Groi raja Alrus🤔"
"bukannya selama 7 tahun ini kamu yang mencatat seluruh agendaku?"
"tentu saja, itu kan tugasku"
"lalu bagaimana catatan ini bisa ada di sini☺️?"
"i-ituu aku juga tidak tau😓"
"kamu bosan hidup☺️?"
"aku akan mencari tahu, aku bersumpah akan menyelidikinyaaaa" ucap Alvin lagsung berlari.
"hng Zizia? Raja Alrus? kenapa aku tidak ingat sama sekali?" ucapnya frustasi.
Hari itu Ano baru saja membaca sebuah surat misterius yang datang padanya, surat itu tertulis di atas kertas lusuh dan tidak memiliki cap bangsawan manapun, awalnya dia terus mengabaikannya, tapi anehnya surat itu terus berada di tumpukkan teratas kertas kertas tugasnya.
__ADS_1
Saat membukanya Ano cukup kaget karena surat bersebut berisi tentang permintaan untuk menjemput putrinya, Ano yang selama ini tenggelam dengan pekerjaan dan peperangan tentu saja tak mempercayainya, tapi saat akhir surar itu mengatakan bahwa dia bangsa Alzo, Ano sedikit penasaran dan menyuruh Alvin menyelidikinya, apalagi di agenda pribadinya ada kejadian yang tidak bisa di ingat oleh siapapun termasuk dirinya.
"Baginda Ksatria Belnandra meminta izin menghadap"
"masuk"
"Ksatria Belnandra menghadap setelah menyelesaikan tugas" ucapnya berlutut.
"di mana anak itu?"
Keluar seorang anak kecil berpakaian lusuh dari balik jubahnya, mata jernihnya menatap kagum kemegahan di depannya, pakaian lusuh badan yang kurus hanya tersisa tulang dan kulit.
"tuan putri beri salam pada Baginda" bisik Bel.
"ah sa-salam Baginda kaisar, sa-saya datang menghadap" ucapnya gagap.
"🤨 siapa namamu?"
"na-nama? saya ti dak memiliki nama .. brrr brrr" tubuhnya tak berhenti bergetar.
Aura menyeramkan dan rasa tertekan saat melihat sosok baginda membuat tubuh kecilnya kembali bergetar ketakutan, apalagi sorot mata tajam yang langsung menghujam jantungnya.
"bawa anak itu ke paviliun belakang"
"Baginda!"
"apa?"
"di-beliau kan tuan put.."
"aku takkan mengakuinya sebelum ada bukti jelas😒"
"tapi.."
"besok panggil penyihir terbaik dari Asosiasi"
"anda akan melakukan tes darah?"
"hmm"
"baik, akan saya panggil secepatnya"
"apa saya akan tinggal di sini Bel?"
"tuan putri hanya sementara di sini"
Keesokan harinya
"tuan putri"
"tidak mau, sa-saya tidak mau" tolak gadis kecil di pojokan kamar.
"Baginda sudah menunggu, anda harus segera mandi"
"tidak! tidak mau" ucapnya lagi.
"hiss matilah kita"
"apa yang harus kita lakukan🤦🏻♂️"
"🤷🏻♂️"
Bocah yang di sebut sebagai tuan putri itu hanya duduk di pojokan kamar sejak pertama datang, pagi ini dia harus segera melakukan tes darah bersama Kaisar untuk membuktikan jati dirinya tapi anak itu sedikitpun tak bergeming dari tempatnya.
"tuan putri nanti Baginda marah☹️"
"tidak mau .. saya tidak mau hiks"
"tu.."
"hentikan!"
"Ba-baginda? Salam hormat kepada cahaya kekaisaran" ucap mereka menunduk.
"kenapa dia belum siap?"
"i-itu tuan putri menolak mandi baginda" jawab salah satunya ketakutan.
"hhhh kalian pikir aku membayar kalian untuk apa?"
"kami bersalah baginda😖"
"hei keluar atau ku tebas lehermu" ancamnya dengan nada serius.
"br .. brr" anak itu keluar dengan tubuh gemetar, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya berpegangan tangan seakan dia sangat gelisah.
"kenapa kamu tidak mau mandi? dan apa apaan kain kotor itu?" ucapnya saat melihat baju anak itu yang masih dekil.
"...🥺"
"kenapa menangis?"
"hiks ... ti-tidak" ucapnya menghapus air mata.
"cepat mandi dan jangan membuatku menunggu!" ucapnya langsung pergi.
"hiks hikss"
"tadi kan saya sudah bilang Baginda akan marah, sekarang tuan putri mandi yah?" bujuk pelayan lagi.
"sa-saya akan mandi sen diri"
"tapi.."
"saya malu, saya kan perempuan"
"ahhhh jadi alasan tuan putri menolak mandi karena kami laki laki?"
__ADS_1
".." angguknya cepat.
"ha haa .. ha haaa astaga kalau begitu saya akan menyiapkan air mandi dan pakaian tuan putri" tawa aneh pelayan tadi.