Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
Pertemuan kedua


__ADS_3

"bagaimana keadaanya?"


"tidak ada luka lain selain luka di perutnya, pendarahan sudah berhenti saya rasa besok atau lusa dia sudah siuman, , tapi mungkin dia akan memgalami sedikit guncangan" jelas Hillo dokter pribadi Kaisar.


"bagaimana dengan pengawalnya"


"sejujurnya saya ragu pengawal itu akan selamat, tapi sepertinya semangat hidupnya cukup tinggi Baginda"


"walaupun dia kembali pulih nampaknya akan sulit" gumam Ano.


"yahh sejauh yang saya tau memang belum ada pengawal dengan satu tangan" ucap sanh dokter membenarkan ucapan Ano.


Beberapa saat yang lalu


"BRUUUKKKK"


"kyaaaa aaahhhhh" teriak salah seorang pelayan.


Saat itu juga terjadi kehebohan di pinggir sungai tempat Rere piknik bersama dayang dayangnya, bagaimana mereka tidak heboh saat tiba tiba ada seorang anak laki laki dengan tubuh penuh darah muncul begitu saja, dan tak lama muncul lelaki berbadan besar dengan darah yang mengucur dari lengannya.


Meski takut rasa penasaran Rere jauh lebih besar karena kejadian ini mirip seperti beberapa tahun lalu saat Nando hampir mati, benar saja sebuah kalung yang tak asing terlihat melingkar di leher pemuda tanggung tersebut.


"bukannya itu kalung yang ayah minta dua bulan lalu" gumamnya pelan.


"ndree .. toh-tolong Andre " rintih pemuda itu lirih.


Dengan kehebohan sebesar itu tentu saja Alvin langsung bergegas menanganinya, tepat seperti dugaan Kaisar akan ada kehebohan saat pangeran itu berada di ambang kematian.


"ayah!"


"hmmm"


"ayaah" Rere terus melotot ke arah ayahnya.


"kenapa?" tanya Ano heran.


"kenapa orang tadi memakai kalung sihirku?" tanyanya tegas.

__ADS_1


"itu hadiah"


"kenapa ayah memberikan kalung itu sebagai hadiah? saya memasukan sihir sangat banyak supaya itu berguna untuk ayah" ucap anak itu kesal.


"apa kamu marah?" tanya Ano sambil berjalan mendekat.


"ke-kenapa ayah memberikan itu padanya?" tanyanya lagi lirih.


"dia anak yang malang, dia butuh kalung itu untuk tetap hidup, kami lihat sendiri kan tadi? berkat kalungmu anak itu bisa selamat" jelas Ano pada putrinya.


"tapi ... tapi siapa dia?" Rere sedikit penasaran.


"diaa seseorang yang akan berguna untuk kita di masa depan" jawabnya singkat.


"apa maksud ayah?"


"kembalilah ke kamarmu, ini sudah malam"


"ayah"


"deeggg " ... " ba-baik ayah" ucapnya menunduk.


Hari terus berganti tapi beberapa hari ini gadis kecil itu merasa canggung untuk menemui ayahnya, menurutnya tidak seharusnya dia mempertanyakan apa yang di lakukan ayahnya.


"Emma aku ingin keluar"


"anda mau kemana tuan putri?"


"hmm entahlah, kemana saja yang penting aku keluar"


"baiklah mari saya temani"



"taman ini semakin indah putri"


"yaa, mereka merawat taman ini dengan baik"

__ADS_1


"saya penasaran apa yang akan Baginda berikan untuk kado tuan putri tahun depan, taman ini di bangun saat anda ulang tahun 2 tahun lalu dan tahun kemaren beliau menyerahkan tambang emas di selatan untuk anda" ucap Emma menggebu.


"ha-hahaa hentikan Emma ayahku memang terkadang berlebihan"



"E-emma! siapa itu?" bisik Rere saat melihat seorang pemuda duduk di tepian air mancur.


"bukankah itu pemuda yang waktu itu? apa yang dia lakukan di taman pribadi tuan putri?" ucapnya penasaran.


" kenapa dia terlihat sedih? matanya benar benar sendu, apa yang dia pikirkan sampai sebegitunya " batin Rere.


"saya akan menegurnya tuan put-"


"tidak usah! ayo kita pergi saja"


"ta-tapi.."


"dia tamu ayah"


"ohh begitu, sekarang kita mau kemana?"


"kita-"


"u-uhhh hiksss" suara tangisan kecil terdengar.


"ehh dia menangis?" Rere kembali memperhatikan pemuda yang tak jauh darinya.


"Heii kenapa kamj menangis di sini?" tanya Rere mendekat.


Dengan gugup pemuda itu mengusap air matanya dan bersikap seolah baik baik saja.


"siapa kamu?" tanyanya gugup.


"heii kamu harus sopan! dia ini tuan putri di sini" Emma kesal.


"Emma! saya belum memperkenalkan diri dengan benar, saya Ferenita Afran Callisto 😊"

__ADS_1


__ADS_2