
"hei siapa namamu?"
"Luis"
"kamu tinggal di mana bersama siapa?"
"di belakang pasar ini di sebuah rumah kecil, 2 minggu lalu aku tinggal bersama kakek"
"sekarang?"
"sendiri tapi kadang bersama teman"
"kakek kemana?"
"mati" jawab anak itu lempeng.
"ma-mati?" tanya Rere sedikit kaget.
Anak laki laki berambut perak dan bermata hijau tengah asik mengunyah jeruk pemberian Rere, anak yang berusia seumurannya itu adalah anak yang sore kemarin menabrak kereta kuda Emma, setelah semalaman memohon pada ayahnya untuk pergi ke pasar akhirnya Rere di ijinkan pergi dengan membawa semua pengawal yang ikut, namun untuk menghindari pandangan orang orang Rere meminta pengawal untuk berpakaian biasa.
Dari sinar mata anak lelaki di depannya Rere bisa melihat rasa bahagia, apalagi saat Rere memberinya sekantung jeruk mata anak itu langsung berkaca kaca, meski berpenampilan kumuh tubuh anak itu terlihat putih dan sehat, Rere yakin anak itu tidak bernasib seburuk dirinya dulu.
"kalau kamu tinggal sendiri bagaimana caramu mendapat makanan?" tanya Rere penasaran.
"emm kadang paman memberiku beberapa roti gandum, kalau paman tidak memberi aku bekerja di toko itu" ucapnya menunjuk sebuah toko daging.
"toko daging?"
"iya" jawabnya mengangguk.
"apa yang kamu kerjakan?"
"menyapu, ngepel, mengelap kaca bersih bersih lah intinya"
"memangnya boleh mempekerjakan anak kecil?"
"dulu kakek kerja di sana, karena kasihan padaku bibi pemilik toko mengijinkanku bersih bersih di sana"
Rere manggut manggut mendengar penjelasan anak itu, rasa lega sedikit menghiasi hatinya karena setidaknya masih ada orang orang baik di sekitar Luis.
"ohya Emma bilang kemarin dia membelikan roti dan beberapa makanan lain kan?'
"iya, kemarin aku dan teman teman makan banyak, kami tidur dengan perut yang kenyang" jawabnya berbinar.
"teman teman?"
"em .. di lingkunganku banyak anak seusiaku yang tinggal sendirian, kami sering berbagi makanan kalau sedang kelaparan, apalagi kalau paman sedang tidak ada pekerjaan kadang kadang kami meminta makanan pada pedagang di sini"
"paman yang dari tadi kamu sebutkan itu pamanmu?"
"bukan! paman itu adalah ayah temanku yang sudah mati"
"teman yang sudah mati?"
"iya paman Arka dulunya pedagang di pasar ini tapi karena Wilona dulu sakit sakitan paman punya banyak sekali hutang, jadi paman menjual tokonya dan bekerja serabutan sekarang"
"kalau paman Arka bukan pamanmu kenapa dia memberi makanan padamu dan teman teman?"
__ADS_1
"paman bilang karena kami teman Wilona"
* * * * *
"kenapa kamu murung?"
"tidak apa apa ayah"
"apa tadi ada masalah?" tanya Ano dengan mengeluarkan aura sedikit menyeramkan.
"tidak tidak! tidak ada masalah apapun"
Sepulangnya dari pasar Rere memang sedikit murung, karena 2 tahun terakhir dia tinggal dengan nyaman di istana anak itu hampir lupa bahwa di luar sana banyak anak seumurannya yang tidak beruntung, setelah bercakap cakap dengan Luis Rere merasa bersalah karena melupakan teman temannya di pinggiran kota Alas dulu.
"emm ayah"
"apa?"
"boleh tidak saya bertanya sesuatu?"
"apa?" ucap Ano sambil menikmati teh.
"apa benar karena status saya sebagai tuan putri saya mempunyai anggaran pribadi?"
"ya, Alvin yang mengurusnya"
"apa uang anggaranku banyak?"
"aku memberimu 100 Dak tiap bulan (200 jt)"
"apaah? 100 Dak" ucap Rere kaget
"ehh bu-bukan"
"kamu masih kecil jadi aku hanya memberimu segitu, semakin bertambahnya usiamu semakin besar juga anggaran untukmu" ucap Ano menjelaskan.
"apa uang anggaranku dari 2 tahun lalu sampai sekarang jumlahnya banyak?"
"em awal kedatanganmu aku hanya memberimu 50 Dak lalu setelah 1 tahun aku memberimu 100 Dak, sejak awal kamu datang kamu tidak pernah menggunakan anggaran sepeserpun menurutmu berapa banyak anggaran yang kamu punya?"
"emm tunggu .. 50 Dak X 12 bulan \= 600 Dak, lalu 100 Dak X 12 bulah \= 1200 Dak kalau di total 600 Dak + 1200 Dak ... hahhhh 1800 Dak😵" ucap Rere terkaget.
"hemm, di tambah uang tahunan 500 Dak tiap tahunnya jadi 2800 Dak" ucap Ano menambahkan.
"se-sebanyak itu? anggaran untuk anak sepertiku sebanyak itu?" tanya Rere tak percaya.
"apa maksudmu anak sepertimu? itu masih sangat sedikit untuk tuan putru Heibe"
"a-ayaah bolehkah saya menggunakan semuanya?"
"semuanya? untuk apa?" tanya Ano sedikit penasaran.
"ayah tau dulu saya tinggal di jalanan?"
"DEG"
Kata kata Rere umpama petir di siang bolong, meski tidak tau arah pembicaraan putrinya tapi hati kecilnya sedikit merasa bersalah, apalagi mendengar kata kata jalanan keluar dari mulut putri satu satunya itu.
"y-ya" ucap Ano sedikit tergagap.
__ADS_1
"karena selama 2 tahun saya tinggal di istana saya hampir lupa, di luar sana masih sangat banyak anak anak yang tidak seberuntung saya, salah satunya anak yang saya temui tadi pagi, saat berbicara dengannya saya ingat bagaimana dulu saya kedinginan kehujanan dan kelaparan .. ayah apa boleh uang anggaran milik saya di gunakan untuk membangun panti asuhan?"
"panti a-asuhan?"
"iya, tidak perlu fasilitas terlalu mewah asal bisa tidur tanpa kedinginan dan kepanasan dan bisa makan teratur" ucapnya polos.
"membangun panti tidak semudah itu, selain tempatnya kita juga harus menyiapkan pengurusnya, dan jangan lupa tanahnya juga harus strategis agar mudah untuk di datangi, dan kita juga perlu persetujuan beberapa bangsawan sekitar"
"hmm kenapa?"
"tentu saja karena kamu belum bisa mengurus semua itu sendiri"
"ahhh jadi sulit yah?" ucapnya langsung murung.
"itu akan sulit kalau statusmu hanya penduduk biasa yang kebanyakan uang, jangan lupa kamu itu tuan putri Heibe" ucap Ano congkak.
"jadii?" tanya Rere langsung berbinar.
"bicarakan saja pada Alvin besok, kamu hanya perlu cap untuk mengalirkan semua anggaranmu"
"benarkah? yehhh terima kasih ayahh" ucapnya langsung memeluk Ano.
"yaa .. tapi untuk menjalankan panti juga butuh banyak uang, bagaimana?"
"bukankah bulan depan aku masuk 7 tahun? auah bilang semakin bertambah usiaku semakin bertambah juga uang anggaranku"
"hmmm demi untuk menjalankan panti kamu akan terus menghabiskan anggaran untuk panti? bagaimana dengan kebutuhanmu sendiri?" tanya Ano menyelidik.
"emmm 🤔🤔 apa aku harus menyisakan beberapa persen untuk kebutuhanku?" ucap Rere berpikir keras.
"beberapa persen? apa kamu ingin di kenal sebagai tuan putri yang miskin?" ejeknya.
"ehh kenapa begitu?"
"kamu tau? di usiamu tepat 7 tahun besok aku berencana mengenalkanmu ke seluruh bangsawan, dan mulai sejak itu segala keseharianmu akan di bicarakan oleh pergaulan kelas atas, kalau kamu mengalirkan anggaran pribadimu ke panti maka kamu tidak bisa menggunakan pakaian dan perhiasan mewah, dan pastinyanpara putri bangsawan akan mengejekmu tuan putri yang miskin"
"tidak mungkin" bantah Rere.
"kenapa?"
"meskipun mereka megejekku mereka takkan megejek langsung di depan mataku"
"kenapa kamu berpikir begitu?"
"karena saya rasa mereka masih menyayangi nyawa mereka"
"🤨🤨" Ano sedikit bingung.
"ada hukum untuk orang orang yang menghina keluarga Kaisar, apa lagi aku TUAN PUTRI" jelas Rere.
"hah? hahahahaaaa kamu cerdas juga" tawa Ano mengakak.
"ayah lupa aku selalu belajar dengan baik, dan guru menegaskan padaku tentang hukum hukum tersebut"
"baiklah baiklah .. sebagai hadiah karena kamu telah belajar dengan baik aku akan memberi 20% anggaran pribadiku untuk panti"
"20% ? berapa banyak itu?" tanya Rere penasaran.
"kamu bisa menanyakannya pada Alvin besok"
__ADS_1
Rere tidak pernah tau bahwa 20% anggaran pribadi milik ayahnya bahkan bisa untuk membangun beberapa panti dengan fasilitas mewah di kekaisaran.