
"Leyaaa!" teriak Damar berlari.
Pemuda itu lari dengan secepat tenaga setelah melihat pujaan hatinya ada di tengah tengah danau dengan mata tertutup, Damar langsung menarik tubuhnya dan membawanya ke pinggir danau
Tubuh gadis itu sangat dingin dan lemah, matanya terbuka beberapa saat lalu pingsan, hal yang paling membuat Damar geram gadis itu tak mengenakan pakaian satu helai pun, pemuda tersebut langsung membuka jaket yang di kenakannya untuk menutupi tubuhnya.
"ooyyyy jangan lari" teriak beberapa orang tiba tiba.
Beberapa warga nampak mengejar seorang pria berpakaian hitam yang lari tunggang langgang setelah mendengar teriakkan Damar.
Mata Damar langsung melotot penuh amarah ke arah lelaki tersebut.
"Fan lu jaga Leya baik baik di sini" ucap Damar dengan nada datar, tapi terdengar mengerikan di telinga Raffan.
"apa yang mau lu laku..." kata kata Raffan tak terselesaikan karena Damar sudah lebih dulu lari.
"y Allah semoga Damar ngga nekat" batin Raffan khawatir.
Raffan yang merasakan tubuh Leya sangat dingin ikut mencopot jaketnya dan menutupkan ke tubuh Leya, dia juga meminta warga membuatkan api unggun di dekatnya agar tubuh gadis itu sedikit menghangat
Damar lari seperti orang yang kesetanan, larinya benar benar jauh lebih cepat dari orang orang di sekitarnya, tentu saja pemuda itu bisa dengan mudah mengejar pelaku yang menyebabkan Aleya hilang, karena selain di liputi amarah pemuda itu juga mantan juara lari yang mewakili sekolahnya dulu.
"buaaaaak ... bruukkkk" tongkat bisbol di tangan Damar melayang dan mendarat tepat sasaran.
"mau kemana lu?" ucapnya.
Lelaki yang jatuh tersungkur di depannya langsung pucat melihat sosok pemuda menyeramkan di depannya, selain tubuhnya yang tinggi dan besar tangan Damar juga sangat berotot layaknya seorang tukang pukul.
"ja-jangan mendekat" ucap lelaki itu panik.
Tanpa basa basi Damar menarik kerah lelaki tua di depannya dan mengangkatnya sampai tak menginjak tanah, bukan hanya pucat tapi tubuh lelaki tersebut juga bergetar hebat.
Para warga yang tadi ikut menyusul baru sampai setelah Damar melayangkan beberapa tinju di tubuh lelaki itu.
"p-pak lurah?" ucap seseorang tiba tiba.
"apa? pak lurah?"
"eh iya bener itu pak lurah"
Beberapa orang terkejut tak percaya dengan pemandangan di depannya, lelaki yang baru saja di hajar Damar adalah sesosok lurah yang terkenal baik.
Saat tau jati diri lelaki di depannya amarah Damar semakin memuncak, beberapa hari lalu memang dia dan sahabatnya pernah bertemu dengan lurah di desa trsbt, tapi siapa sangka sosok lurah yang terkenal baik dan ramah justru berlaku behar begitu.
__ADS_1
Para warga juga mendekat saat mendengar teriakan beberapa orang yang tadi serombongan denganDamar dan Raffan, sebagian membantu Raffan membawa Leya ke perkampungan dan sebagian lagi berniat melerai perkelahian antara Damar dan pak lurah, yaa walau sebenernya pak lurah sedang di hajar habis habisan oleh Damar.
Setelah wajah dan tubuh pak lurah babak belur, barulah para warga menarik Damar agar berhenti memukuli lurah mereka, mereka semua tak menegur sedikitpun perlakuan Damar karena mereka juga ikut geram dengan tindakan lurahnya.
Sementara itu Raffan dan beberapa warga sudah sampai di rumah nenek Arum, tangis Rubby pecah saat melihat tubuh sahabatnya dingin dan pucat, Tania juga membantu Rubby memakaikan pakaian pada Leya, dan Raffan menjelaskan apa yang terjadi pada Leya barusan pd nenek Arum.
Nenek Arum yang juga sangat menghormati lurah di kampungnya di buat terkejut atas apa yang terjadi, baginya lurah di kampungnya selama ini benar benar sosok yang patut di anggap panutan, tapi siapa sangka sosok tersebut sudah berbuat hal buruk pada sahabat cucunya.
Rubby langsung memberikan pertolongan pertama pd Leya, Tania juga membantu mengompres tubuh pucat di depannya, walau baru sekali menghabiskan waktu bersama, baginya Raffan dan sahabatnya adalah orang orang yang baik, dan itu melukai perasaannya saat salh satu di antaranya hampir celaka.
Anan terbangun saat banyak warga yang berbondong bondong datang ke halaman nek Arum, bahkan ibu ibu juga ikut keluar saat mendengar keributan di luar, Damar berjalan di paph oleh David, pemuda itu langsung lemas karena kehilangan banyak tenaga setelah menghajar pak lurah habis habisan.
Sementara sosok lurah yang biasanya tampil gagah dan berwibawa malam itu terlihat mengenaskan, lula lebam dan beberapa noda darah menghiasi pipinya, baju atasannya di copot dan di gunakan untuk mengikat tangannya, tatapan warga yang biasa menatap hormat padanya kini berubah menjadi tatapan mengerikan.
Seluruh warga langsung bermusyawarah dan memutuskan menelfon polisi untuk menindak lanjuti perbuatan pak lurah, mereka menuntut pak lurah dengan tuntutan penculikan pada Leya, untungnya Leya tak mendapat pelecehan apapun karena menurut keterangan lurah itu dia membutuhkan tumbal seorang gadis perawan.
Paginya Leya terbangun dengan di kelilingi oleh para sahabatnya, Anan juga terus berada di sampingnya sejak semalam, mereka semua tak meninggalkan Leya barang sedetikpun, hanya satu orang yang tak terlihat.
"Damar mana?" tanya Leya membuka suara.
Raffan dan sahabatnya hanya diam karena tak tau mau menjawab apa, sebelum Leya sadar Damar pergi keluar karena merasa bersalah, pemuda itu merasa gagal menjaga gadis yang di cintainya, andai tak ada petunjuk dari Anan entah apa yang akan terjadi pada Leya.
Rubby membantu Leya duduk dan minum, bibirnya tampak kering dan pucat karena setidaknya gadis itu telah berendam di sungai satu hari dan setengah malam tanpa makan atau minum, mereka juga memutuskan tak menanyakan apapun dulu pada Leya sebelum kondisinya pulih.
"enggak kok, kan ada Anan dan temen temen tante yang udah nyelametin dan ngobatin tante" jawab Leya ramah dengan mengelus rambut.
Meski gadis itu terkenal cuek dan dingin, tapi dia selalu berkata lembut dan hangat pada Anan, entah kenapa menurutnya Anan memancarkan aura hangat yang membuatnya merasa tenang dan nyaman.
Beberapa waktu setelahnya Tania datang bersama nek Arum dengan membawa semangkuk bubur hangat untuk Leya, Anan dengan semangat menawarkan diri untuk menyuapi sahabat omnya itu, bagi Anan sahabat omnya sangat baik dan perhatian padanya terutama Leya dan Rubby.
Selesai makan keringat mulai keluar dari tubuh Leya, badannya sudah tak lagi dingin seperti semalam, Rubby langsung mengelap dengan handuk dan membantu berganti pakaian karena bajunya sudah basah oleh keringat.
Sebenarnya Leya sedikit penasaran karwna tak ada satupun yang bertanya tentang apa yang terjadi padanya, para sahabatnya seolah tak ingin meminta penjelasan padanya, saat siang tiba Rubby dan lainnya keluar dari kamar, mereka ingin membiarkan Leya tidur agar cepat pulih.
Berbeda dengan yang lainnya, Anan justru masih menetap di kamar bersama Leya, bocah kecil itu seolah enggan meninggalkan sahabat omnya.
"kenapa Nan? kamu mau ikut tidur siang?" tanya Leya penasaran.
Tapi Anan hanya menggeleng tanpa menjawab, Leya pun memutuskan untuk membiarkannya dan tidur karena tubuhnya benar benar terasa lelah dan tak enak.
Sementara itu Damar di luar masih duduk di dekat tanaman mawar milik nek Arum, di sampingnya ada Raffan yang ikut duduk terdiam, sementara David ikut beberapa warga untuk mengurus dan memberi penjelasan perihal kejahatan yang di lakukan pak lurah.
Di kantor polisi terjadi keributan antara David dan putra sulung dari lurah yang di hajar Damar, putranya tak terima dan merasa kalau ayahnya hanya mendapat fitnah.
__ADS_1
"ini pasti akal akalan kalian buat jatuhin ayahku kan? pasti kalian sengaja nyuruh cewe murahan itu buat goda ayahku biar ayah turun jabatan" teriak pemuda itu lantang.
"buaaaakkkk" tanpa basa basi sebuah kepalan tinju mendarat di pipi pemuda tersebut.
Meski David terkenal sosok lelaki kocak sekaligus penakut, tapi dia paling tak bisa mendengar hinaan untuk orang di sekitarnya, apalagi sosok yang di hina itu adalah sahabatnya yang merupakan wanita.
David di kenal sebagai sosok pemuda yang sangat menghormati wanita, mungkin karena dia hanya di besarkan oleh ibunya jadi dia sangat menghormati wanita, ayahnya sudah meninggal sejak dia masih balita dan ibunya tak menikah lagi sampai sekarang.
"jaga mulut lu b*ngsat, masih untung yang denger ucapan busuk lu itu gue, kalo Damar yang denger bisa ancur muka lu kaya bokap lu yang s*alan itu" ucapnya geram.
Dengan mata merah menahan marah David pergi meninggalkan kantor polisi, kalau saja dia memiliki watak seperti Damar, sudah pasti dia tak memandang tempat untuk menghajar pemuda bermulut busuk yang sudah menghina Leya.
"huuffttt untung bukan Damar yang ikut ke kantor" gumamnya.
"Damar itu pemuda yang ngehajar pak lurah kan?" tanya seseorang tiba tiba.
"e ehh pak RT, emm iyaa" jawabnya gugup.
"hebat yah dia?" ucapnya.
"hmmm hebat, bukannya dia bisa kena masalah yah karena udan bikin itu lurah babak belur?" tanya David bingung.
"memang dari pihak lurah ingin menuntut kekerasan yang di lakukan pemuda itu, tapi karena banyaknya saksi yang melihat kejadian semalam, mereka semua memutuskan membela pemuda itu walau tindakannya sangat kasar" terang pak RT.
"oo gitu, tapi emang bener yah pak kalo beberapa waktu lali juga sempet ada beberapa gadis yang hilang?" tanya David.
"yaaa, salah satunya putri saya" jawabnya dengan mata nanar.
"hahh? apa?" ucapnya kaget.
"makanya bapak bilang penuda itu hebat, karena walaupun bapak kesal dan sangat marah padanya tapi bapak tak bisa memberikan satu pukulanpun padanya, tenaga bapak seolah hilang saat melihatnya" jawabnya pelan.
"bapak sabar yah, semoga putri bapak bisa tenang di alam sana" jawab David menenangkan.
"gimana bapak bisa sabar, orang orang bilang bahkan arwah putri bapak tidak bisa pergi, arwahnya masih terjebak" ucapnya meneteskan air mata.
"maksudnya?" tanya David bingung.
"si lurah b*ngsat itu menumbalkan anak bapak dan gadis gadis lain pada genderwo" jawabnya.
"hah? ge gen der wo?" ucapnya tersentak.
"gue tadi ngga salah denger kan si pak RT bilang b*ngsat?" batinnya.
__ADS_1
.....bersambung......