
"nenek bercanda? mana mungkin" ucap Raffan dengan nada tinggi.
"hanya itu satu satunya jalan Fan" ucap nenek Arum.
"nggak! apapun yang terjadi Raffan ngga akan ngijinin, Anan masih kecil nek" tegas Raffan.
Ritual pelepasan tanda sudah di lakukan oleh ssorang dukun yang terkenal di kampung Belanda, tetapi yang menandai Leya adalah seorang genderwo, hampir mustahil melepas tanda darinya.
Dukun yang di mintai tolong angkat tangan karena melepas tanda dari mahluk tersebut sama saja dengan menantangnya, dukun tersebut bilang mustahil mengalahkan mahluk tersebut.
Nenek Arum mengusulkan agar Anan yang melepas tanda dari tubuh Leya, tapi tentu saja Raffan menolak keras usulan tersebut, resiko yang akan di tanggung Anan sangatlah besar, salah salah bukannya melepas tanda bisa jadi Leya dan Anan jadi korban bersama.
Sejauh ini tak ada seirangpun yang tenang di sana, semua panik dan bingung dengan keadaan sekarang, kalaupun meminta pertolongan dari kyai yang terkenal sering megalahkan mahluk halus butuh waktu lama untuk mendapat bantuan dari beliau, hampir setiap hari kyai tersebut keliling Indonesia memenuhi undangan dari orang orang ternama yang memerlukan bantuannya.
"aahhk si*l si*l apa yang musti gue lakuin?" ucap Raffan frustasi.
"apa kita bawa Leya ke kota, kita cari dukun kyai atau siapapun itu yang bisa menolongnya?" usul David.
"ngga bisa Vid, mahluk itu ngga akan membiarkan kita keluar dari daerah kekuasaannya" ucap Raffan.
"trus kita musti gimana? gue ngga mau Leya kenapa napa" ucap Damar.
"kasih gue waktu, gud bakal nylametin Leya apapun yang terjadi" ucap Raffan dengan nada serius.
"uhhhh gue ngga bisa bantu apapun, gue sama sekali ngga tau hal hal beginian Fan, tapi gue mohon slametin Leya" pinta Damar.
"sabar Mar, kita semua pasti bisa lepasin tanda itu dari Leya" ujar David menghibur.
"maafin gue, ini gara gara gue, harusnya gue nurut aja sama bang Fatih, kalo gue ngga ngajak kalian kesini pasti ini semua ngga akan terjadi" ucap Raffan menyesal.
"udah Fan, sekarang bukan waktunya menyalahkan diru, dalam hal begini lu yang paling paham di antara kita semua" ucap David.
"deggg"
Tiba tiba saja perasaan menakutkan yang sangat familiar terasa oleh Raffan, pemuda itu tiba tiba langsung berdiri saat merasaa aura gelap datang mendekat.
Raffan langsung berlari masuk ke kamar Leya, perasaannya sangat yakin bahwa mahluk itu mendatangi Aleya, yang membuat Raffan khawatir karena saat ini Anan sedang tidak bersama Leya.
"braaakkk" pintu kamar berbunyi dengan kerasnya.
"astagaa" ucap orang orang di kamar kaget.
Teoat seperti dugaan Raffan, pandangan Leya kosong, gadis itu terpengaruh dengan aura yang di keluarkan si mahluk halus tersebut.
"kalian cepet pegang tangan dan kakinya!" perintah Raffn pada teman temannya.
"apa yang terja.."
Belum sempat pertanyaan terselesaikan, tiba tiba Leya menjerit dan menjambak rambutnya sendiri, gadis itu berontak berusaha menyakiti dirinya sendiri.
Raffan meminta David untuk memanggil Anan, saat ini hanya aura murni dari tubuh Anan yang bisa mereda pengaruh mahluk halus tersebut.
"Anan cepet ikut om" ucap David langsung menarik Anan.
"graaaaaaa leppaaaas" teriak Leya dari dalam kamar.
"om! tante Leya kenapa?" tanya Anan takut.
"Anan om minta tolong sama kamu yah, saat ini cuma kamu yang bisa nolong tante Leya, kamu mau kan?" tanya Raffan pelan.
__ADS_1
Meski tidak mengerti dengan situasi yang di lihatnya Anan mengangguk, bocah kecil itu tidak banyak tanya karena semua orang tampak khawatir dan panik.
"graa lepaas! lepaaaas!" teriak Leya berkali kali.
"jangaan"
"jangan mendekaat"
"aaaaarghhhh"
Anan bergidik saat melihatnya, wanita yang biasanya bersikap lembut padanya hari itu terus teriak tak jelas, bahkan sorot matanya tampak ketakutan saat melihat Anan.
"kenapa tante takut sama Anan?" tanya Anan tak mengerti.
"pergi kau! jangan mendekat" bentak Leya.
Raffan meminta Anan untuk tak banyak bicara pada Leya, karena saat ini Leya sedang terpengaruh oleh mahluk halus yang sedang berusaha menariknya.
Pemuda itu meminta para sahabatnya untuk menjagal Leya, dia meminta Damar dan David mendudukkan Leya dengan paksa, tanpa basa basi David dan Damar memaksa Leya untuk duduk, Rubby dan nenek Arum berdiri tak jau darinya.
Rubby terlihat ketakutan karena baru pertama kalinya melihat pemandangan tersebut, sementara Tania membantu Damar dan David.
"Anan ikutin arahan om yah" ucap Raffan.
Raffan menyuruh Anan duduk di belakang Leya, gadis itu terus meronta ketakutan pada anak kecil di belakangnya, Raffan menempelkan kedua tangannya ke punggung Anan dan Anan menempelkan tangan kecilnya ke punggul Leya.
"aaaarrrghhhhh aaaaaaaa" teriak gadis itu semakin keras.
Raffan membacakan do'a dan mengalirkan energinya pada Anan, sementara Anan menjadi media perantara pelepas tanda di tubuh Aleya.
Menurut penuturan nenek Arum, Anan si anak spesial itu bisa melepas tanda dari mahluk halus yang menandai Leya, hanya saja resiko besar di tanggung oleh anak kecil tersebut.
"hueek uhuuukk"
Leya memuntahkan cairan hitam kental yang sangat bau, bahkan terlihat beberapa belatung dari cairan tersebut, bahkan sahabat sahabatnya menahan mual mencium aromanya.
Tak lama setelah memuntahkan cairan hitam Leya kembali muntah, tapi kali ini gadis itu memuntahkan gumpalan darah, Rubby menangis sejadi jadinya melihat sahabatnya mengalami hal demikian.
"Leyaa .. astagfirulloh y Allah" ucapnya di tengah tangisnya.
Setelah beberapa kali muntah Leya akhirnya jatuh pingsan, David langsung lari keluar karena sudah tak tahan menahan gejolak dalam perutnya, pemuda yang fobia darah itu mati matian menahan rasa takutnya demi terus menjaga Leya agar tak berontak.
Rubby dan nek Arum langsung mendekat, mereka berdua membantu mengganti baju Leya dan membereskan cairan yang di muntahkan Leya, Tania sendiri langsung pergi mandi karena dia terkena muntahan darah Leya.
Sementara Raffan menggendong Anan yang juga pingsan setelah berhasil melepas tanda di tubuh Leya, nyatanya melepas tanda itu saja menguras banyak tenaga Raffan, sudah barang tentu bocah kecil itu sampai jatuh pingsan karena kelelahan.
"maafin om ya Nan, om janji bakal jagain Anan apapun yang terjadi" ucap Raffan lirih.
Setelah mengganti pakaian Anan yang basah oleh keringat Raffan meminta David menjaga Anan sebentar, dia ingin membersihkan diri karena badannya lengket penuh keringat.
Selepas mandi Raffan menunaikan ibadah sholat isya yang tadi tertunda saat membantu Leya.
"sholat dulu Vid" perintah Raffan pada David.
"ok" jawabnya singkat.
Raffan mengalungkan tasbih miliknya dan di buat dari kayi stigi, kayu stigi dipercaya memiliki kekuatan magis yang bisa menangkal ilmu hitam dan ilmu sejenisnya (tapi tetap saja segala pertolongan itu milik Allah SWT).
Raffan juga sudah memberikan para sahabatnya masing masing satu butir kayu stigi yang dia punya, terutama Leya karena gadis itu sudah bolong (istilah bagi orang orang yang sudah pernah kesurupan atau kemasukan mahluk halus).
__ADS_1
Menurut apa yang Raffan tau, orang orang yang sudah bolong sangat rawan kerasukan, karena tubuhnya sudah pernah sekali kemasukan maka bukan tidak mungkin jika Leya kemasukan mahluk lain nantinya.
"Fan? gimana keadaan Anan" tanya Damar.
"biasa, dia demam" jawab Raffan menghentikan dzikirnya.
"sekarang kita musti gimana?" tanya Damar.
"serahkan semua sama Allah, gue akan usaha semampu gue buat lindungin Anan, lu juga jagain Leya sampe kondisinya pulih, meskipun dia udah bebas tapi tubuhnya masih rawan" ucap Raffan.
"lu istirahat aja, Leya udah di jagain sama Rubby dan David, biar Anan gue yang jaga, lu kan semaleman ngga tidur" ucap Damar.
"ngga papa, gue baik baik aja kok" ucap Raffan.
"lu lupa, lu bisa sakit kalo begadang Fan, badan lu ringkih" ucap Damar.
"tapi gue baik baik aja Ma.."
"keras kepala banget sih, kalo kamu kenapa napa gimana? jangan nyiksa diri sendiri dong, kita juga sama khawatirnya kaya kamu" bentak Rubby tiba tiba.
"iya iya, gue nitip Anan" ucap Raffan keluar kamar.
"makan dulu, dari semalem kamu belum makan kan?" ucap Rubby lagi.
"iya By" jawab Raffan tak membantah.
"waahhhh hebaat" ucap David terkagum.
"apa?" ucap Rubby ketus.
"astaga By galak banget sih" ucap David.
Tanpa berkata apa apa Rubby kembali masuk ke kamar Leya, di sana ada Tania yang sudah datang sejak pagi buta, sepertinya gadis itu juga tak tidur semalaman melihat kantung matanya berwarna hitam.
"uhhhh huhuuuu" tangis Rubby.
"ehh kenapa? kamu kenap?" tanya Tania bingung.
"aku bingung aku sedih Tan, Leya masih belum pulih, Anan juga demam tinggi, sementara Raffan terus terusan keras kepala ngga mau istirahat, mereka semua orang orang penting buatku, aku ngga mau mereka kenapa napa, tapi aku ngga bisa berbuat apa apa hiks hiks" ucap Rubby terisak.
"greep .. sabar yahh ini semua ujian buat kita" ucap Tania memeluk Rubby.
"ya ampun By, hati lu lembut banget sih, makin cinta gue sama lu" batin David yang mendsngar dari balik pintu.
David melangkah ke tempat Raffan sedang makan, tampak jelas sekali pemuda itu tak sedikitpun mempunyai selera makan, sup hangat di mangkuknya sudah dingin karena dari tadi terus di aduk olehnya.
"oyyy! ngelamun aja nanti kesambet loh" ucap David.
"ehh elu Vid" ucap Raffan.
"lu ngga boleh gini Fan, gue tau kok elu khawatir bgt sama Anan, kita semua juga khawatir mengingat resiko yang di terima Anan, tapi lu ngga boleh sakit kalo pengin jagain Anan dong" ucap David.
"gue udah lakuin apapun yang gue bisa, tapi gue tetep ngga bisa tenang Vid, gimana kalo Anan celaka" ucap Raffan lirih.
"jangan khawatir, lu bilang Anan itu anak spesial kan? gue yakin anak spesial seperti dia ngga akan kenapa napa" ucap David lalu pergi.
Raffan mencoba yakin dengan ucapan David, dia sensiri juga yakin kalau Anan ngga akan kenapa napa.
"Faaaan tolongin Anan" teriak Damar.
__ADS_1
....bersambung......