
"nyonya Anna anda sudah dengar?"
"dengar apa?"
"semalam tuan putri tidur di kamar Baginda dan tadi pagi bilang kalau mulai hari ini tuan putri akan seterusnya tidur di kamar Baginda"
"sudah, kan Baginda sudah menyuruh para pelayan memindahkan beberapa barang tuan putri"
"jadi kita tidak bisa bersama tuan putri tiap malam?"
"mau bagaimana lagi, itu perintah Baginda dan juga kamu lihat sendiri kan tuan putri terlihat sangat bahagia" ucap Anna senang.
"hhh iya benar, kebahagiaan tuan putri adalah yang terpenting, ohya bagaimana keadaan ibu nyonya?"
"yaa masih begitu begitu saja, namanya juga sudah tua" ucap Anna sedikit lesu.
"kabar nona Diana bagaimana?"
"ya begitulah, dia sekarang agak sulit untuk di tinggalkan, butuh waktu lama untuk membujuknya"
"ayah kenapa kita selalu sarapan daging?"
"supaya kuat, kamu kan kecil dan lemah"
"🤨🤨"
Setiap hari adalah hari baru untuk Ano, setelah kehadiran putrinya banyak hal baru yang berubah dan salah satunya adalah kebiasaan paginya, dulu Ano selalu melewatkan sarapan dan makan di siang hari, tapu sekarang secara rutin Ano sarapan berdua bersama putrinya.
Mungkin alasan laki laki itu malas sarapan karena tidak ada siapapun di meja itu, ruangan luas nan mewah serta meja besar yang terisi penuh makanan tidak bisa mengisi kekosongan di hatinya, Ano tidak pernah menyadari bahwa kehadiran gadis kecil di sebelahnya 2 tahun lalu perlahan mengubah kesehariannya.
"ayah saya belajar dulu"
"yaa"
"ayah semangat bekerja yaa, cup😘"
"kamu sekarang rajin menciumku yah😏"
"hehe" tawanya langsung pergi.
Tak lama setelah kepergiannya Ano juga meninggalkan ruang makan dan masuk ke ruang kerjanya, tumpukan dokumen di mejanya sama sekali tidak pernah surut, seolah dokumen dokumen di sana adalah benda abadi yang tidak bisa Ano singkirkan.
__ADS_1
Baru saja Ano duduk dan membuka satu dokumen teratas, tiba tiba suara rumibut dari ruangan sebelah membuat alisnya menyatu, ruangan sebelah adalah ruang kerja Alvin, biasanya laki laki itu selalu anteng saat bekerja tapi pagi ini dia sangat brisik.
"tok tok"
"No kamu di dalam?"
"masuk saja" seru Ano menjawab.
"ini aneh hhh"
"bernafas lah dulu kalau mau bicara, tapi kalau sudah bosan bernafas aku bisa menghentikan nafasmu"
"aishhh aku sedang serius sekarang, kamu lihat ini" ucap Alvin memberikan sebuah map tebal.
Ano tersenyum memandang lukisan wanita cantik yang ada di tangannya, wanita lembut nan sabar juga memiliki paras menawan itu adalah kekasihnya 8 tahun silam, dialah Zizia Violetta Alrus ibu dari Ferenita Afran Callisto, dia adalah putri dari Kaisar Alrus dari Kekaisaran Groi.
Wanita itu memiliki julukan Mawar berduri sebelum bertemu dengan Ano, wanita yang dulunya di kenal tidak melirik laki laki manapun langsung jatuh cinta pada Ano yang saat itu menyelamatkannya saat terjebak di tengah hutan.
Pertemuan mereka pertama kali adalah saat Ano berusia 18 tahun, Ano sedang berburu di hutan dan menemukan gadis itu sedang bergetar ketakutan di tengah rimbunan semak.
Zizia adalah tuan putri kaisar Alrus yang suka berkeliling dunia, wanita itu banyak menjajakan kaki di beberapa kekaisaran meskipun usianya masih belasan kala itu, apalagi sang Kaisar Alrus sangat menyayanginya jadi tak heran kalau Zizia bisa bebas kesana kemari.
"No d-dia.."
"ini aneh No, selama ini aku tidak pernah ingat wanita ini tapi tadi malam secara tiba tiba aku memimpikan wanita ini sedang bersamamu, dan paginya aku langsung ingat kalau dia adalah satu satunya kekasihmu" cerocos Alvin panjang.
"Zizia itu keturunan bangsa Eno, ayah ibunya adalah bangsa Eno berdarah murni, mereka akan di lupakan begitu mereka mati, tapi ajaibnya mereka bisa menitipkan memori mereka pada orang lain, jika orang yang di tuju mengingatnya maka orang orang yang di kenalnya juga akan ingat padanya, dia menitipkan memorinya pada Rere"
"bagaimana maksudnya? aku tidak mengerti"
"itu semacam metode mengirim pesan, Zizia memiliki pesan untukku dan dia meninggalkannya pada Rere, setelah aku menerima pesan tersebut secara ajaib aku kamu dan beberapa orang yang mengenal Zizia akan kembali mengingatnya"
"trus Rere?"
"itu tidak berlaku pada si pembawa pesan karena Rere masih bayi saat Zizi mati"
"masih bayi? bagaimana kamu tau?"
"bangsa Eno adalah bangsa yang memiliki kekuatan spiritual tinggi, tapi sangat berpantangan bagi bangsa Eno untuk bercampur dengan bangsa lain, karena Zizi bercampur denganku dan mengandung Rere maka pantangan itu terlanggar, Zizi akan mati begitu bayinya lahir jadi tidak heran kalau Rere tidak tau apapun tentang ibunya" jelas Ano pada Alvin.
"trus bagaimana cara Zizi menitipkan pesan? kamu bilang dia langsung mati begitu melahirkan"
"aku tidak tau, kekuatan bangsa Eno bagaikan misteri hanya mereka saja yang tau"
__ADS_1
"apa kemampuan Rere bisa melihat warna aura karena ibunya seorang bangsa Eno?"
"ya .. Zizi juga memiliki kemampuan itu"
"emm dan ituuu ituuu.."
"itu apa?"
"alasan kita berperang dengan Kaisar Alrus karena kaisar tau Zizi hamil anakmu kan?" tanya Alvin ragu.
"yaa .. hancur dan hilangnya kekaisaran Groi adalah karenaku, ayahnya sangat marah saat tau putrinya mengandung anakku jadi yaa begitu lah"
"kenapa dulu Zizi pergi dan tidak melahirkan di sini saja?"
"dia sadar kalau ayahnya akan menyerangbkemari, kemungkinan besar kaisar Alrus akan memaksanya untuk menggugurkan kandungannya untuk menyelamatkan hidupnya"
"kalau begitu bisa di katakan Zizi mati karena Rere?"
"hmm bahasa kasarnya memang begitu, tapi itu pilihan ibunya"
"kalau sampai tuan putri tau makaa.."
"jangan pernah bicarakan itu padanya! cukup kamu saja yang tau tentang kenyataan pahit itu"
"tapi No bukankah dulu kamu juga memaksa Zizi menggugurkan kandungannya?"
"yaa .. setelah aku tau janin itu perlahan menyedot daya hidup ibunya aku langsung memintanya untuk menyingkirkan bayi itu, tapi Zizi menolaknya dan malah minggat, saat aku hendak mencarinya pesan perang datang dari ayahnya, lalu setelah aku berhasil mengalahkan kaisar Alrus justru aku melupakan semuanya" ucap Ano dengan tatapan nanar.
"kekuatan bangsa Eno yang sesungguhnya itu apa sih? kalau mereka punya kekuatan spiritual yang tinggi kenapa kita menang dengan mudah waktu itu?"
"kamu pikir aku tau?" ucap Ano ketus.
"bersihkan saja foto ini, dan bungkus dengan rapi" lanjutnya.
"bungkus? kenapa? untuk apa?" tanya Alvin sedikit bingung
"untuk di simpan"
Setelahnya Alvin langsung kembali ke ruangannya meninggalkan Ano dan Vernando, Alvin pikir Ano akan menunjukan foto Zizi pada Rere tapi ternyata tidak.
"Ver"
"ya Baginda" jawab Vernando langsung menunjukan diri.
"hari ini pergilah ke kediaman nyonya Chailil, meski dia bukan ibumu tapi namanya ada padamu"
__ADS_1
"baik Baginda"