Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
04. Luka lama Fatih ll


__ADS_3

Dua bulan telah terlewat setelah tragedi besar itu, setelah tubuhnya pulih dan sehat Raffan memulai kembali aktifitasnya, dia bersekolah di tempat yang baru, suasana baru dan sahabat baru memenuhi hari harinya.


Namun ada satu hal yang selalu mengganggu Raffan, mata batinnya kembali terbuka setelah kecelakaan dua bulan lalu, Raffan kembali melihat sesuatu yang tak ingin dia lihat.


Raffan mengalami hal yang sama dengam Anan kecil, mata batinnya tak tertutup meski dia tumbuh dewasa, di saat usianya menginjak 4 tahun Raffan pernah hilang selama 2 hari, Raffan bilang dia pergi bersama temannya dan di ajak menginap di rumahnya.


Ibu ayah dan neneknya panik karena bocah itu hilang, setelah menemukannya neneknya yang seorang dukun menutup paksa mata batin Raffan, namun sayangnya semua itu hanya bertahan 2 tahun.


Raffan sering menangis kalau melihat sesuatu yang menakutkan, tiap malam dia sering berlari ke kamar sang kakak dan menangis di pelukannya, hal semacam itu membuat kondisi mental Fatih tak baik, dia merasa bersalah karena adiknya harus kembali merasa ketakutan sepanjang malam.


Fatih yang mati matian belajar juga harus selalu konsultasi ke dokter perihal mentalnya, dia juga memantau secara langsung perkembangan adiknya, dia selalu ingin memastikan adiknya baik baik saja.


Lambat laun hal semacam itu membuat mentalnya kian memburuk, dia seolah menekan dirinya sendiri untuk menjadi sosok yang kuat di hadapan adiknya, Raffan kecil tak menyadari beban di pundak kakanya, dia selali tertawa riang setiap bercerita sesuatu yang lucu.


Fatih menjadi seorang pendiam di kampusnya, dia hanya berbicara sedikit jika memang di rasa perlu, hal itu membuat seorang wanita memandang kesal Fatih, wanita itu selalu mengganggu jika Fatih sedang sibuk dengan buku bukunya.


Wanita itu juga sering membuntuti Fatih ke perpustakaan, entah kenapa dia seolah memancing emosi Fatih setiap saat, wanita itu tak lain adalah Andin.


Andin adalah adik dari dokter psikiater yang menangani kasus Fatih, mereka tak sengaja bertemu saat Andin mengantar pakaian ganti untuk ayahnya, sedikitnya Andin tau gambaran masalah yang di hadapi Fatih.


Sikapnya yang terus mengganggu Fatih selalu di abaikan, lelaki itu seakan tak pernah menganggap Andin ada, dan anehnya Andin tak pernah menyerah menarik perhatian Fatih.


"hehhh hidungmu berdarah" pekik Andin saat dia membuntutu Fatih di perpustakaan.


"ini hanya mimisan, kau tak perlu heboh seperti itu" jawab Fatih sambil menengadahkan kepalanya.


Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Fatih setelah berminggu minggu Andin membuntutinya.


"kau terlalu memaksakan diri, kalau kau terluka adikmu juga akan terluka" ucap Andin sambil memberu tissu pada Fatih.


"kau siapa?" tanya Fatih panik, selama ini tak ada satupun di kampusnya yang tau kalau dia memiliki adik.


"santai dong, jangan berpikir wanita cantik sepertiku orang jahat" celetuk Andin.


Fatih kembali menyibukkan diri dengan buku buku di mejanya, dia tak membiarkan sedetikpun dirinya bersantai ria.


"huh dasar lelaki membosankan" ucap Andin sambil melangkah pergi.


Selang beberapa lama Andin kembali dan menarik paksa tangan Fatih, gadis itu seolah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan Fatih dari buku buku di depannya.


"kau ini ngapain sih?" ucap Fatih kesal.


"ikut denganku sekarang" Andin terus menarik tangan Fatih.


Mereka berdua berhenti setelah tiba di kantin.


"bu! mana nasi goreng yang ku pesan tadi?" tanya Andin


"di meja pojok Ndin" teriak ibu kantin.


Andin kembali menarik tangan Fatih dan Fatih mengikuti langkah gadis itu dengan pasrah.


"sekarang duduk dan makanlah" perintah Andin.

__ADS_1


"aku mau ke perpus sa.."


"duduk atau ku jedotkan kepalamu ke tembok" potong Andin.


"kalau kau sayang adikmu kau juga harus sayang pada tubuhmu sendiri, sudah tau mimisan seperti tadi masih saja sibuk dengan buku buku itu, kalau adikmu tau kelakuanmu begini itu akan melukai hatinya" Cerocosnya sambil menjejalkan nasi goreng ke mulut Fatih.


"kenapa kau peduli padaku?" tanya Fatih.


"siapa bilang aku peduli padamu, aku hanya kasian pada adikmu memiliki abang sebodoh dirimu" ucap Andin kesal.


"dari mana kau tau aku punya adik, aku bahkan tid.."


"kau tidak mengenalku, ya yaa kau terlalu sibuk sampai tak tau ada malaikat yang selalu memperhatikanmu" puotongnya lagi.


"aku Andin" ucap gadis itu mengulurkan tangan.


Fatih hanya membalas jabatan tangannya, lalu dia memakan makanan yang sedari tadi di jejalkan oleh Andin, dia merasa lebih baik makan sendiri dari pada di paksa oleh gadis di depannya.


"setelah ini kau mau apa?" tanya Andin.


"bel..."


"jangan bilang mau belajar" sergapnya lagi.


"kenapa kau selalu menggangguku belajar, dan sekarang malah melarangku?" tanya Fatih kesal.


"kau pikir masuk kepolisian hanya membutuhkan kecerdasan? lihat tubuhmu yang kerempeng itu, kepolisian mana yang aka menerima tengkorak hidup sepertimu" ucapnya kesal sambil melangkah pergi.


Ucapan Andin seolah menjadi tamparan keras untuknya, dia bahkan baru sadar selama ini tak mengurus diri dengan baik, tubuhnya yang dulu lumayan berotot sekarang hanya tinggal tulang dan kulit.


Dia melahap seluruh nasi goreng di depannya, tanpa dia sadari sepasang mata terus mengawasinya dari kejauhan, lambat laun hubungan Andin dan Fatih semakin dekat, sekarang Fatih jauh lebih terbuka pada gadis itu.


Hal baiknya Fatih juga sudah terlepas dari psikiater, hanya saja sekarang dia di dampingi oleh psikolog atas saran dokter.


Hal yang sama juga terjadi pada Raffan, dia sudah tak lagi menangis saat menjumpai sesuatu yang menyeramkan, dia sudah kembali terbiasa melihat penampakan di sekitarnya.


Selama hampir 2 tahun Fatih sudah berhasil membuat tubuhnya kekar berotot, dengan fisik demikian Andin baru sadar kalau lelaki yang selama ini dia kasihani memiliki wajah yang rupawan.


Perlahan tumbuh benih cinta di hati gadis itu, tapi hal yang membuatnya kesal adalah Fatih tak kunjung menyadari perasaannya, di semester terakhir pendidikannya Andin mengungkapkan perasaannya pada Fatih.


Sesuai dugaannya lelaki itu menolaknya dengan alasan tak sempat memikirkan cinta, dan karena Andin adalah sosok yang pantang menyerah dia tak pernah berhenti memepet Fatih, kegigihannya itu berhasil memenangkan hati Fatih.


Mereka berdua menikah tak lama setelah lulus kuliah, di usianya yang baru 27 tahun Fatih sudah memiliki banyak bawahan, sikap dan perilakunya yang selalu sigap setiap menangani kasus membuatnya sangat di percaya atasannya.


Memang jika di lihat dari luar kehidupan Fatih terlihat baik baik saja, hanya istrinya yang tau kalau Fatih masih memiliki sebuah luka di hatinya, apalagi saat dia mendalami kasus kecelakaan keluarganya yang berujung menemui jalan buntu.


Andin selalu sigap saat Fatih mulai kesusahan tidur, Fatih memiliki kebiasaan unik, jika dia mengalami guncangan maka di setiap tidurnya dia akan menangis tanpa di sadari.


Jika Andin mendapati suaminya menangis semalam dia akan menelfon kakaknya dan meminta saran terbaik.


[kembali ke masa sekarang]


"ya udah kalo gitu Anan mau bilang langsung sama ayah, kalo Anan yang minta pasti di bolehin sama ayah" ucap Anan kesal.

__ADS_1


Sifat Anan yang keras kepala kadang membuat ibunya sakit kepala, anak itu jika ingin sesuatu takkan berhenti merengek sebelum memdapatkannya.


Andin hanya menggelengkan kepala sambil melakukan aktifitasnya meracik sayuran, tak berapa lama Raffan pulang.


"assalamu'alaikum" ucapnya sambil nyelonong.


"wa'alaikumsalam" teriak Andin dari dapur.


Raffan berjalan ke arah dapur dan menyalami tangan iparnya, itu sudah jadi kebiasaannya sejak dulu, setiap pulang dia akan mencari kakaknya dan menyalaminya di manapun kakaknya berada.


"nyayur apa mbak?" tanya Raffan basa basi.


"mau masak lodeh sama ayam goreng Fan" jawabnya sambil memotong terong.


"tanggorokanku sakit mbak" ujar Raffan.


"lho sejak kapan, nanti embak masakin sayur bening deh buat kamu" ucap Andin.


Raffan hanya nyengir dengan kelakuan kakak iparnya, bagi Raffan Andin bukan hanya sekedar kakak tapi sudah seperti ibu baginya.


"mbak!"


"ya kenapa Fan?" ucap Andin sambil mencari sayuran di kulkas.


"dengerin dulu aku mau ngomong" rengek Raffan terus membuntutui kakaknya.


"kenapa sihh? mau ngomong apa? mbak dengerin kok" ucap Andin yang masih sibuk dengan aktifitasnya.


"aku pengin ke kampung Belanda"


"praaaang" panci kecil di tangan Andin jatuh.


Wajah Andin langsung bingung mendengar ucapan adik iparnya, baru saja putranya merengek ingin ke sana, sekarang adiknya juga bilang ingin ke sana.


Kalau masalah Anan Andin masih bisa melarang dengan berbagai alasan, tapi adik iparnya ini sudah cukup dewasa bagaimana bisa dia melarangnya.


"kenapa si mbak? tangannya kesemutan?" ujar Raffan sambil memungut panci di depan kakanya.


"ehh iya tadi tiba tiba kesemutan" ... "kamu minta izin langsung ke abang kamu yah, mbak ngga berani ngomongnya" lanjut Andin.


"ya udah lah, nanti habis makan malem aku ngomong sendiri ke bang Fatih" ucapnya sambil melangkah pergi.


Setelah Raffan hilang dari pandangan Andin menyenderkan tubuhnya yang lemas, hal yang paling tak di sukainya adalaha membahas kampung Belanda dengam suaminya, sebaik apapun moodnya bisa langsung berubah saat mendengar nama kampung itu.


"semoga bang Fatih ngijinin kamu Fan" gumam Andin.


Malamnya sehabis sholat maghrib berjamaah, Fatih Raffan dan Anan duduk di meja makan sambil menunggu Andin menyiapkan makan, mereka sedang menanggapi obrolan Anan kecil yang katanya tak sengaja menyandung kaki temannya, temannya jatuh nyunseb hampir saja masuk selokan.


Selesai makan dan membantu kakaknya membereskan sisa sisa makanan, Raffan duduk di sebelah Fatih yang tengah asik nonton tv.


"bang aku pngin ke kampung Belanda" ucap Raffan tiba tiba.


"pyaaarrr" gelas di tangan Fatih tiba tiba jatuh.

__ADS_1


......bersambung....


jangan lupa dukungannya ya man teman💜


__ADS_2