Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
Masa lalu


__ADS_3

"pergilah anak muda, Tuan putri bukanlah seseorang yang bisa sembarangan kamu temui" ucap seorang penjaga gerbang.


"ayolah aku datang lewat gerbang istana hanya karena menghormati statusnya, aku adalah orang yang sangat di kenalnya" ucap pemuda itu ngeyel.


"hey nak! kami sudah sabar menanggapi ocehanmu tapi semakin lama telingaku makin sakit mendengarnya" ucap seseorang mulai kesal.


"baiklah aku pergi" ucap pemuda itu langsung hilang.


* * *


"klotak"


"klotak"


Suara langkah kaki kuda terus terdengar sepanjang waktu, Rere bersama dengan ayahnya sang Kaisar Heibe pergi meninggalkan istana menuju ke wilayah sebelah timur, di sana berdiri sebuah fila megah berwarna putih yang sangat besar.


Beberapa bulan setelah pertarungan di perbatasan Veano selalu di sibukkan dengan tumpukan berkas dan banyak pekerjaan, bahkan sudah beberapa kali laki laki dingin itu kedapatan tertidur saat bekerja, Alvin yang tak tahan melihat sahabatnya kelelahan dengan susah payah mengusir Veano untuk pergi berlibur, dia ingin Ano menyegarkan diri dengan berburu di hutan dekat fila.


"Baginda apa tempatnya masih jauh?" tanya Rere memecah keheningan.


"masih, mungkin sore baru sampai"


"oohh"


"kenapa? lelah?"


"hanya sedikit ngantuk" jawabnya jujur.


"kemarilah"


"ya?" tanyanya bingung.


"duduk di sebelahku dan tidur di sini" ucap Ano menepuk pahanya dengan wajah datar.


"apa boleh?" tanya anak itu ragu.


"hmm"


Dengan kaki kecilnya Rere berdiri dan berpindah ke samping Ano, anak itu langsung merebahkan kepala ke pangkuan ayahnya dengan perasaan berdebar, memang benar Rere sangat ingin dekat dengan ayahnya, tapi menilai situasi saat ini Rere benar benar tak percaya momen begini akan cepat dia rasakan.


Jalanan yang lumayan buruk membuat kereta kuda bergoyang, hal tersebut membuat Rere terbangun dari tidurnya karena sedikit kaget, Ano dengan mata awas menilik jeluar jendela, jalanan yang berlubang serta batuan yang mencuat benar benar membuatnya tak nyaman.


"kau terbangun?"


"hng iyaa" jawab Rere sembari mengucek mata bulatnya.


"duduklah! sebentar lagi kita sampai"


"ohya? mana fila ayah?" tanya Rere semangat.


"a yah?" gumam Ano.


"e-ehh ma maksud saya ba-baginda" ucap Rere tergagap.


"yaahh panggilan ayah tidak terlalu buruk" ucap Ano tanpa memandang.


"a-apa boleh?" ucap anak itu lirih.


"hmm"


"terima kasih🥺" ucapnya terharu.

__ADS_1



Di daerah pegunungan nampak sebuah desa besar yang ramai, di bagian dataran tertinggi berdiri sebuah fila putih besar yang mewah, bahkan ukurannya hampir sama dengan istana bagian selatan (bangunan dulu sebelum Ano membangun istana baru).


Rere dengan mata berbinar memandanginya dari jendela, bibirnya menampakan senyum bahagia entah karena akhirnya sampai ke tujuan atau karena di ijinkan memanggil ayah oleh Ano.


Ano sendiri hanya menatap bocah 6 tahun itu dengan tatapan membisu, entah apa yang laki laki itu rasakan saat ini hanya dia sendiri yang tau, setrlah tiba Ano membopong putrinya dan turun dari kereta.


Kedatangannya di sambut hangat oleh pala pelayan yang menjaga fila, halaman luas yang penuh bunga membuat mata yang memandang akan terpesona, apalagi suasana tenang dan jauh dari keramaian membuat siapapun merasa tenang.


"salam hormat kepada Cahaya Kekaisaran"


"salam hormat pada Tuan putri"


Ucap para pelayan menyambut kedatangan keduanya, Rere sendiri yang masih canggung hanya bisa menyembunyikan wajahnya di pelukan ayahnya, Ano yang menyadari ketidak nyamanan putrinya memberi kode pada para pelayan untuk sedikit menjauh.


Meski tidak banyak bicara tapi Ano mulai menunjukkan perhatian pada putrinya, secara alami laki laki dingin itu mulai menerima kehadiran Rere sebagai putrinya, apalagi gadis kecil itu akhir akhir ini selalu ada di sekitarnya.


"kamu mau melanjutkan tidur atau makan dulu?"


"emm .. boleh tidak kalau saya makan dulu?" tanyanya sedikit ragu.


"ya sudah"


Ano berjalan ke ruang makan masih dengan menggendong Rere, gadis kecil itu juga terlihat sangat aman dan nyaman di dekapan ayahnya, kedatangan Ano ke Fila hanya di kawal oleh beberapa anak buah Bel (pasukan Serigala tunggal) dia juga meggunakan kereta kuda biasa agar tidak mengundang kehebohan.


Sesampainya mereka di ruang makan tersaji berbagai jenis makanan, baik olahan daging maupun sayur terlihat menggoda perut Rere, belum lagi desert manis yang terlihat sangat enak.


"makan yang banyak, kamu sangat kurus"


"saya sudah jauh lebih gemuk dari sebelumnya" jawab Rere pada Ano.


"ohya?"


"apa Bel sering menggendongmu?"


"emm🤔 hanya beberapa kali saja"


"mulai sekarang kamu tidak boleh di gendong oleh sembarang orang" ucap Ano dengan nada serius.


" ??? " Rere bingung.


"kamu itu putriku, tidak sembarang orang boleh menyentuhmu" ucap Ano lagi.


"baik" jawab anak itu menurut.


Keduanya makan dengan lahap degala hidangan di meja, Ano juga untuk pertama kali menikmati momen makan bersama putrinya, apalagi sekarang Rere sudah mulai membuka diri padanya, tanpa sadar laki laki itu benar benar mulai terbiasa dengan keberadaannya.


"ayah sudah waktunya saya mandi" ucap gadis itu setelah selesai makan.


"tapi Emma belum sampai"


"Emma? apa Emma ikut kemari?" tanya Rere sedikit kaget.


"iya"


"kalau Anna?"


"dia ijin libur sementara waktu"


"kenapa🥺?"

__ADS_1


"ibunya sakit"


"lagi?"


"iya"


"sambil menunggu Emma apa saya boleh bermain di taman?"


"tidak"


"kenapa?"


"bahaya"


"bukannya ada Bel?"


"tetap tidak boleh" jawab Ano tetap kekeh.


Mendengar larangan dari ayahnya tentu saja membuat gadis kecil itu murung, bagaimanapun juga dia masihlah gadis 6 tahun walau memiliki status tuan putri, melihat putri satu satunya murung hatinya yang keras sedikit meluluh.


"kamu hanya boleh bermain 30 menit, dan Bel harus selalu di dekatmu"


"sungguh?" ucapnya langsung semangat.


"sudah pergi sana"


"hehee terima kasih ayah" ucapnya segera bergegas.


Kaki kecilnya berjalan menyusuri taman bunga yang luas, matanya tiada henti memancarkan tatapan bahagia sepanjang jalan, sesuai dengan perintah sang Kaisar Bel selalu berada di dekatnya, laki laki itu tidak berani mengabaikan perintah sang Kaisar yang tempramen itu.


Tak lama setelah Rere berkeliling sebuah kereta kuda terlihat memasuki gerbang, terlihat sosok wanita muda yang sangat familiar di mata Rere, Emma si dayang termuda Rere telah tiba.


"tuan putri" ucap Emma senang.


"kenapa lama sekali Emma?"


"maaf tuan putri, tadi di jalan ada sedikit masalah"


"masalah? masalah apa?" tanya gadis itu penasaran.


"tuan putri tau pasar kecil yang ada di desa di bawah sana?" tunjuk Emma.


" ..." ngangguk.


"tadi saat saya lewat jalan pasar tiba tiba ada seorang anak kecil yang lari dan menabrak kereta kuda"


"lalu anak kecil itu bagaimana?" tanya Rere terlihat khawatir.


"tidak papa tuan putri, untungnya anak itu baik baik saja"


"tapi apa Emma mengobatinya?" ucapnya masih khawatir.


"sudah, saya membawanya ke toko obat terdekat tapi anak itu menolak di obati, dia bilang dari pada membeli obat lebih baik membeli makanan, jadi saya membelikannya beberapa kantung roti dan makanan lain" ucap Emma menerangkan.


" 🥺 "


"tuan putri kenapa?" tanya Emma kebingungan.


"dulu aku juga seperti dia Emma" celetuknya tiba tiba.


"tuan putrii🥺" ucap Rmma berkaca kaca.

__ADS_1


"tidak papa Emma, itu hanya masa laluku" jawab Rere tegar.


__ADS_2