
Libur panjang telah tiba, Anan berkali kali merengek pada ibunya, dia ingin ke rumah nenek buyutnya yang ada di kampung Belanda.
Anan kecil sangat penasaran dengan kampung nenek buyutnya karena belum pernah ke sana, Raffan pernah bercerita pada ponakannya kalau di sana mereka memiliki rumah bertingkat dan ingin sekali ke sana.
"Anan jangan ngerengek terus deh, kan ibu udah bilang ayahmu ngga mau ke sana" ucap Andin.
"kenapa si bu ayah ngga mau ke sana, bukannya di sana kampung kelahiran ayah?" si Anan kecil terus merayu ibunya.
Andin sebenarnya sangat tahu alasan suaminya tak mau kembali ke kampung halamannya, tapi selama ini Fatih selalu beralasan kalau dia takut Andin tak cocok dengan suasana perkampungan.
Walau sebenarnya Andin sangat penasaran dengan kampung halaman suaminya, tapi Andin tak mau lagi memaksa Fatih untuk mengajaknya kesana, Andin tau betul kenangan masa lalu suaminya, terakhir dia memaksa berakhir dengan perdebatan panjang antara mereka berdua.
Fatih dan Raffan sudah 12 tahun tak pernah menginjakkan kaki di kampung Belanda, bahkan Raffan hanya ingat sedikit tentang kampungnya, dia hanya ingat di sana keluarganya memiliki rumah berlantai dua dan masih ada neneknya di sana.
Meski Fatih tak pernah kesana tapi dia selalu rutin mengirim uang untuk neneknya, hanya saja hatinya belum siap kembali ke sana, di kampungnya ada luka yang sampai detik ini belum sembuh di hatinya.
Masih teringat jelas dalam ingatannya tragedi 12 tahun lalu yang merenggut nyawa ayah dan ibunya, bahkan adiknya kritis dan hampir meninggal kalau Fatih terlambat menolongnya.
12 tahun lalu adalah hari terburuk bagi Fatih, bahkan setiap malam setelah tragedi itu Fatih selalu di hantui oleh mimpi mimpi yang sangat mengerikan, Fatih yang kala itu masih berumur belasan harus berkali kali menemui psikiater, dan di dampingi psikolog sampai sekarang demi mempertahankan kewarasannya.
Ayah Fatih adalah seorang pengusaha sukses di kampungnya, beliau satu satunya keluarga kaya di sana, rumahnya paling megah dan satu satunya yang berlantai dua, walau beliau kaya raya tapi beliau juga terkenal dermawan, tak heran kalau seluruh warga kampung sangat menghormati keluarganya.
Sebenarnya ayah Fatih awalnya hanya pengusaha kecil, setelah menikah dan di suntik modal oleh mertuanya, usahanya perlahan meningkat, apalagi setelah kelahiran putra pertamanya, seolah seluruh dunia memberi keberuntungan padanya, usahanya kembali mengalami peningkatan yang luar biasa.
Tapi di balik kesuksesannya tentu ada saja segelintir orang yang iri dan tak menyukainya, berkali kali mereka berusaha menjatuhka keluarga Fatih, namun Tuhan masih belum mengijinkan kemalangan menimpa keluarganya.
Sampai suatu hari di hari ulang tahun Raffan yang ke 6 tahun, ayah dan ibunya mengajak Fatih dan Raffan berlibur, mereka berniat jalan jalan ke kota dan mencari kampus untuk melanjutkan pendidikan Fatih, jadi mereka juga berencana menginap beberapa hari di sana.
Siapa sangka hari bahagia yang di nantikan Raffan kecil dan Fatih berujung petaka yang menghadirkan maut bagi ke dua orang tuanya, mobil yang mereka kendarai tiba tiba mundur saat melintasi sebuah tanjakan yang curam.
Ayahnya yang kala itu menyadari ada yang tak beres dengan mobilnya memerintahkan Fatih dan Raffan memasang sabuk pengaman, dengan segala kemampuan dia berusaha mengendalikan mobilnya, namun mobilnya yang sudah di sabotase oleh oknum tak bertanggung jawab benar benar tak mampu iya kendalikan.
Mobil mereka terus mundur dan jatuh ke jurang, kaca mobil di bagian depan remuk dan menghujani tubuh ayah ibunya, pecahan kaca yang besar jatuh tepat menghujam jantung ayahnya, sabuk pengaman yang ibu mereka gunakan macet tak bisa di buka.
Raffan kecil pingsan entah karena kepalanya terbentur atau karena syok, ajaibnya Fatih tak mengalami luka apapun, hanya ada beberapa goresan di tangannya karena serpihan kaca jatuh padanya.
Ibunya meminta Fatih keluar menyelamatkan adiknya, Fatih satu satunya harapan ibunya kala itu karena ayahnya sudah kehilangan nyawanya, bau bensin tercium saat Fatih berhasil mengeluarkan adiknya.
__ADS_1
Lelaki remaja itu sekuat tenaga menyelamatkan ibunya yang terjebak, siapa sangka ibunya justru mendorongnya menjauh dan memintanya membawa adiknya pergi, dengan tubuh gemetar Fatih menggendong adiknya dan pergi menjauh.
Baru beberapa langkah dia pergi suara ledakan memekakan telinganya, tubuhnya terhempas terkena efek ledakkan, parahnya lagi Raffan kecil jatuh dari gendongannya dan kepalanya membentur batu.
Belum sempat menangisi ayah ibunya yang terbakar dalam mobil, justru dia Histeris mendapati kepala adiknya berlumur darah, dengan perasaan tak menentu Fatih merangkak menaiki tebing sambil mempertahankan tubuh adiknya dalam gendongan.
Setelah berhasil naik dia memandangi mobil yang kini penuh kobaran api sebelum berlari pergi, Fatih tau betul tak ada harapan ibunya selamat di bawah sana, dia berlari secepat mungkin setelah sadar nafas adiknya kian melemah.
Sepanjang jalan dia terus berbicara meminta adiknya bangun, tangisnya pecah karena tak ada satupun mobil lewat, dia kalut dan sangat frustasi, satu satunya keluarganya nyawanya sedang di ujung tanduk kala itu.
Tak lama hujan turun menambah rasa putus asanya, hari itu dia sempat mengutuk takdir yang menimpanya, seolah hari itu seluruh kemalangan jatuh menimpa keluarganya.
Dia terjatuh saat kakinya tak mampu berdiri setelah berlari hampir dua kilometer jauhnya, apalagi dia menggendong adiknya yang bertubuh gendut waktu itu, dia sangat takut melihat bibir adiknya semakin pucat.
"Raffan bangun Fan, jangan tinggalin abang, abang mohon abang mo .. hon" dia berucap dengan nafas tersengal menahan tangisnya agar tak jatuh.
"jangan tinggalin abang Fan, abang udah ngga punya siapa siapa selain kamu" ucapnya lirih.
Di tengah rasa frustasi yang menghampirinya, terlihat mobil polisi dari kejauhan, dengan tubuh terpogoh dia berlari menghampiri mobil mengaharap pertolongan.
"kenapa kamu sendirian di sini dik?" tanya seorang polisi.
"cepat masuk mobil, dimana adikmu? tanyanya lagi.
"di depan sana, wajahnya pucat pak" ucapnya menjelaskan.
Dua polisi itu turun membopong tubuh pucat Raffan, mereka bergegas putar balik dan memacu mobil ke rumah sakit terdekat.
Mereka ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi Fatih hanya bungkam dan terus menangisi adiknya, karena dua polisi itu adalah polisi senior mereka yakin telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa dua anak yang mereka tolong.
Sesampainya di rumah sakit Raffan segera masuk UGD karena kondisinya sudah benar benar darurat, detak jantungnya sangat lemah dan nafasnya hampir tak terasa.
Pandangan Fatih kosong, dia sangat takut adiknya tak selamat, di tengah ketakutannya dia teringat dengan kedua orang tuanya.
"pakk tolong ayah dan ibu saya" pintanya pada seorang polisi.
"ayah ibumu? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya sang polisi.
__ADS_1
Dengan air mata berderai dia menjelaskan apapun yang terjadi, bagaimana mereka tertawa saat perjalanan dan bagaimana kemalangan tiba tiba datang menghampiri, tangisnya sudah tak sanggup dia bendung lagi saat seorang polisi memeluk tubuhnya.
Polisi itu tau bahwa remaja yang di tolongnya sedang mengalami goncangan yang luar biasa, seorang polisi menelfon rekannya untuk menangani kasus kecelakaan keluarga Fatih, polisi yang tadi memeluknya mengajak Fatih menenangkan diri.
Tak berapa lama datang seorang wanita dan remaja lelaki seumuran Fatih, mereka adalah anak dan istri dari polisi yang sejak tadi menenangkan Fatih.
Fatih mengganti pakaian dengan pakaian milik anak sang polisi, istri dari polisi tersebut juga menyuapi beberapa suap makanan karena muka Fatih sangat pucat kala itu.
Setelah hampir satu jam menunggu kabar dari dokter yang merawat adiknya, dia jatuh terduduk kala mendengar adiknya berada dalam masa kritis, benturan batu yang mengenai kepalanya mengakibatkan pendarahan hebat dan membuat Raffan kehilangan banyak darah.
Seorang remaja seumurannya datang memeluk dan menepuk pundaknya, dia adalah Vano anak dari polisi yang menolongnya, dia menyadari beban pikiran Fatih sangat besar dan ingin memberi sedikit kekuatan padanya.
Beberapa waktu setelah Fatih agak tenang, Vano menyuruhnya menunaikan ibadah sholat agar Fatih bisa mencurahkan seluruh kesedihan pada Tuhannya, walau Vano bukan seorang muslim tapi dia tau kalau Fatih harus mengadukan keluh kesahnya pada Tuhannya.
Saat Fatih menunaikan ibadah Vano menunggunya di depan mushola rumah sakit, dari luar dia mendengar suara isak tangis Fatih saat mengadukan kemalangan yang menimpanya hari ini, tubuh Vano bergetar mendengar suara tangis Fatih, air matanya ikut jatuh seakan dia juga merasakan luka yang di alami Fatih.
Di depan ruang ICU tampak seorang pria tua bersama wanita di sampingnya, mereka adalah kakek dan tante Fatih dari keluarga ibu, Fatih berlari memeluk kakeknya, tantenya mengelus rambutnya seakan berusaha menenangkannya.
Adiknya belum juga melewati masa kritis setelah berhari hari di rawat, tante dan kakeknya berniat memindahkan Raffan ke rumah sakit besar agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Setiap malam bagaikan neraka bagi remaja bernama Fatih, setiap matanya terlelap dia melihat raut sedih ibunya sebelum mobil meledak, belum lagi mimpi mimpinya yang melihat seseorang membawa adiknya dengan paksa.
Fatih mengalami goncangan luar biasa atas kemalangan yang menimpanya, tantenya menyadari bahwa Fatih membutuhkan perawatan serius untuk psikologinya, dengan lembut tantenya meminta Fatih bertemu dokter, Fatih menurut karena dia juga tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya dan membuatnya tak bisa merawat adiknya.
Dari penyelidikan polisi bisa di pastikan mobil keluarganya di sabotase oleh seseorang, namun dengan minimnya petunjuk mereka tak bisa memenjarakan dalang di balik kecelakaan keluarga Fatih.
Fatih bertekad akan mengusut dan menuntut balas pada orang yang sudah mencelakakan keluarganya, dorongan itu membuatnya membulatkan tekad untuk masuk ke kepolisian, siang malam dia belajar mati matian sambil menjaga adiknya.
Setelah kecelakaan Raffan dan Fatih tinggal di rumah kakeknya, usaha ayahnya untuk sementara di kelola tantenya, Raffan mengalami syok berat setelah kecelakaan itu.
Banyak ingatan yang hilang darinya, dokter memastikan tak ada masalah di otaknya, tapi mereka meyakini kalau Raffan tanpa sengaja memblokir memori yang membuatnya trauma.
Dokter menjelaskan yang di alami Raffan adalah sesuatu yang terjadi di alam bawah sadarnya, hal semacam itu bisa terjadi pada seseorang yang berusaha melindungi diri dari trauma.
Fatih tak masalah dengan itu, justru dia bersyukur adiknya lupa dengan kecelakaan yang menimpa keluarganya.
....bersambung....
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya💜