Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
07. Aleya hilang


__ADS_3

"kita jangan terlalu masuk, bahaya" seru Tania pada teman teman Raffan.


Hari ini mereka sama sama jalan jalan ke area hutan di belakang kampung, di sana banyak pemandangan indah kalau naik ke bukitnya, Anan di tinggal bersama nenek Arum di rumah.


Raffan dan sahabatnya yang terbiasa dengan pemandangan di kota sangat senang di buatnya, dari bukit tempat mereka berada terlihat pemandangan sangat asri.


Pemandangan berwarna hijau terbentang di setiap sisi, ada juga pemandangan sawah yang mulai menguning tanda sebentar lagi akan panen.


Secara garis besar Raffan sudah tau kalau Tania adalah sahabat masa kecilnya, walau dia tak mengingat sedikit pun tapi dia tetap berusaha mengingat perlahan.


Tania tak masalah karena dia juga tau kalau Raffan benar benar tak ingat kenangan masa kecilnya, dia dengan senang hati mengajak Raffan dan sahabatnya ke tempat dia bersama Raffan bermain bersama dulu.


"emang bahaya kenapa?" tanya Damar.


"ngga tau juga sih, tapi orang tuaku bilang hutan itu bahaya, jadi kita cuma boleh ke bukit ini aja" terang Tania.


"hmm aura dari sana sangat gelap, tapi bukannya wajar karena itu kan hutan" batin Raffan.


"berarti hutan itu tak pernah di jamah oleh warga sini?" tanya Rubby.


"setauku begitu, tapi kalau ada yang nekad masuk aku ngga tau" jawab Tania.


Tidak ada hal khusus yang mereka lakukan di sana, mereka hanya duduk berfoto ria dan ngobrol, Tania banya bercerita tentang kampungnya.


Walaupun mereka baru bertemu tapi mereka bisa langsung akrab, mungkin karena Tania orangnya asik atau Raffan dan sahabatnya juga sangat mudah bergaul.


"sebenernya gue penasaran kenapa ini kampung namanya kampung Belanda? gue lihat orang orang di sini lokal semua" tutur David.


"bener bgt, gue juga pngin nanya gitu" sambung Damar.


"memang benar penduduk di sini pribumi semua, tapi setauku alasan kampung ini di namai kampung Belanda karena ada makam orang belanda di sini, dan makam itu sudah ada jauh sebelum kampung ini" terang Tania.


"dari mana warga sini tau kalo itu makam orang Belanda?" tanya Raffan.


"nama di nisannya pake bahasa Belanda" jawabnya.


"siapa namanya?" tanya David.


"emmmm Ara... siapa yah? aku lup.."


"Arabella" ucap Raffan tiba tiba.


"ahhh ya ya bener Arabella" ucap Tania membenarkan.


"ko kamu tau, nenek Arum udah cerita yah?" tanya Tania.


"ehh e-enggak, nama itu terlintas aja di kepala gue" jawab Raffan.


Sebenarnya saat mereka mulai membahas tentang makam orang Belanda, muncul sosok wanita di dekat mereka, mereka semua tak menyadari kehadirannya kecuali Raffan yang bisa melihat.


Sosok gadis tersebut hanya berdiri di dekatnya, dan saat Tania kebingungan menyebut nama, gadis itu membisikan nama Arabella dan setelah itu menghilang.


Sedikit demi sedikit Tania menceritakan tentang sejarah terbentuknya kampung ini, dia mengatakan sekitar 80 tahun lalu kampung ini hanya tanah kosong tak berpenghuni.


Seluruh warga sini termasuk warga pindahan, hanya beberapa yang asli orang sini, salah satunya nenek Arum, orang tua beliau termasuk penghuni awal kampung ini dan nenek Arum lahir di sini.


"padahal gue cucunya, tapi lo lebih tau tentang nenek gue" ucah Raffan


"mmm ngga papa Fan, kamu kan lupa bisa inget pelan pelan" jawab Tania.


"iya bro, jangan di paksain" tutur David menimpali.


"gue kadang bingung aja, kenapa gue bisa lupa kenangan gue sebelum kecelakaan, padahal cuma di waktu itu kenangan bareng orang tua gue" keluh Raffan.


"pasti berat buat kamu Fan" batin Tania.


"balik yu, udah sore" ajak Tania.


Kepulangan mereka di sambut dengan keluhan Anan, dia protes karena terlalu lama di tinggal, dia bilang bosan karena nenek Arum hanya mengajaknya bermain di ladang.


"om tadi ada yang ngintipin Anan lho" ucap bocah itu tiba tiba.


"ngintip di mana?" tanya Raffan menanggapi.


"tadi siang waktu Anan ngambil minum di dapur nenek buyut Anan liat ada orang di deket pintu, tapi pas Anan deketi orangnya ilang, kayanya dia kabur deh pas ketahuan ngintip" ucapnya sambil sibuk mengunyah jajan.

__ADS_1


"kayanya bukan orang yang kamu liat Nan" batinnya.


"yang ngintip cewe apa cowo? ucapnya kembali menanggapi.


"cewe om, rambutnya panjang pake baju pendek warna putih" terangnya.


"yang kamu lihat orang apa mbak kun sih? tanya Raffan heran.


"orang lah om, mbak kun kan bajunya panjang terus jelek, baju orang tadi ngga panjang terus keliatan bagus" terang Anan lagi.


"hmmm mungkin tetangga nenek Arum kali"


"udah jajannya buruan habisin, buruan sikat gigi terus tidur, udah malem nih" perintah Raffan.


"iya deh"


Suana sepi khas perkampungan di malam hari terkesan mencekam, hanya terdengar suara berbagai serangga di luar, Anan sudah tidur pulas dengan guling kesayangannya.


Raffan belum bisa tidur karena sosok yang di lihat ponakannya memiliki ciri ciri yang sama dengan hantu yang di lihat Raffan waktu di bukit belakang kampung, badannya terus bolak balik mencari posisi nyaman agar mudah terlelap, tapi hingga jam 2 pagi mata Raffan masih saja terbuka lebar.


"kenapa aku gelisah begini?" gumamnya.


Malam ini terasa jauh lebih mencekam di banding malam sebelumnya, walau biasanya sepi tapi malam ini terkesan sunyi mencekam, bahkan serangga yang sejak sore sibuk bernyanyi sekarang tak bersuara sama sekali.


"braaakkkk" terdengar suara pintu yang di banting keras.


"astaghfirulloh ... siapa sih itu yang banting pintu kaya orang kesetanan" ujar Raffan sembari mengelus dada.


"pyaarr" kembali terdengar suara dan kali ini seperti gelas atau piring yang jatuh.


"astaga itu siap sih yang ngamuk malem malem, David nih pasti kebangun gara gara kelaperan" ujar Raffan sebal.


Raffan berpikir demikian karena kemarin malam David mengendap ngendap masak mi goreng tengah malam, pemuda itu bilang memang punya kebiasaan kelaparan tengah malam, tak peduli sudah makan malam sebanyak apa tiap malam dia akan tetap terbangun dan mencari makanan di dapur.


Tanpa berpikir aneh aneh Raffan berusaha memejamkan mata karena dia memang tak pernah begadang, walau fisiknya kekar berotot tapi daya tahan tubuhnya terbilang buruk, dia mudah terserang flu atau demam pasca kecelakaan.


Sebelum adzan subuh berkumandang Raffan sudah terlebih dulu bangun, di tidur singkatnya dia memimpikan sosok hantu yang di temuinya di bukit.


(mimpi Raffan)


"lho ini di mana?" ucap Raffan bingung.


"ini tempat apa sih?" gumamnya makin bingung.


wuuusshhhhhhh


Hembusan angin lembut membuai kulit halus Raffan, dia merasa ada sebuah tangan yang menyentuh tangannya bersamaan dengan hadirnya angin tadi.


"gila mrinding banget gue" batin Raffan.


🎶na na na naa🎶


Tiba tiba saja terdengar suara orang bersenandung dari kejauhan.


"srek srek" suara dedaunan kering seakan terinjak sesuatu.


Bulu kuduk Raffan langsung berdiri, sudah sejak lama dia tak merasakan semerinding ini, dia selalu biasa saja tiap bertemu dengan sosok hantu yang menyeramkan sekalipun, tapi sekarang hanya mendengar senandung kecil dan suara daun kering bergesekan membuatnya bergidik ngeri.


Dengan mata awas pemuda itu melangkah dan mematap sekeliling, dalam fikirannya dia ingin mencari jalan untuk kembali, tapi entah di mana dan kemana dia akan kembali.


Pemuda itu hanya berfirasat bahwa tempat ini bukanlah tempatnya, tapi kemana dia harus mencari jalan pulang, dan di mana rumah tempat dia pulang?


"kok aku keder begini sih" keluhnya makin bingung.


"a haha ayo kejar aku" sebuah suara terdengar tak jauh darinya.


Raffan kembali melangkah mengikuti sumber suara, terlihat seorang bocah bertubuh gempal tengah asik berlarian, bocah itu mungkin seumuran Anan atau lebih muda.


"kak Ara larinya lama deh" keluh bocah yang di pandanginya.


"astaga itu anak siapa malem malem main di hutan belantara gini" gumam Raffan heran.


Tak lama muncul sosok seorang gadis cantik di dekat bocah tadi.


"duh kamu gendut tapi larinya cepet bgt si" keluh gadis itu dengan nafas terengah.

__ADS_1


Mata Raffan terbelalak melihat sosok gadis tersebut sama persis dengan hantu yang di temuinya di bukit.


"i-itu kkkaan.."


(mimpi end)


"astaghfirulloh mimpi apa aku barusan" ucapnya sambil mengusap wajahnya sendiri.


Dia melihat jam dan baru menunjukan jam 4 pagi.


"kalo tidur lagi nanti takut kebablasan ngga sholat subuh .. .. kruukk" perutnya berbunyi.


"wah tumben bgt jam segini gue kelaperan, masak mi ah mumpung Anan masih nyenyak tidur"


Raffan melangkah keluar dan menuruni tangga, ruang bawah yang gelap membuatnya tak sengaja megijak sesuatu.


"jraat awww" pekiknya tiba tiba.


Tangannya meraba dinding mencari saklar lampu, dia terkejut karena kakinya baru saja menginjak pecahan gelas.


"gila si David ngga tanggung jawab banget, awas aja lu Vid" gerutu Raffan kesal.


Selang berapa lama ternyata David turun dengan mengelus perutnya, matanya masih merem melek karena baru saja terbangun.


Pemuda itu terperanjat kaget melihat lantai di sekitar Raffan berceceran darah.


"lu kenapa Fan?" tanya David menghampiri.


"lu gila yah mecahin gelas di biarin gini, kali Anan nginjek gimana?" kdluh Raffan bersungut sungut.


"ehh guem maksud lu?" tanya David bingung.


"lu kan yang semalem mecahin ini gelas?" ucap Raffan ketus.


"enggak heeh enak aja, semalem gue bobo nyenyak, ngga tau kenapa semalem ngga kebangun" ujar David mengelak.


"trus yang semalem kesini mecahin gelas siapa?" tanya Raffan tak percaya.


"mana gue tau, cewe cewe kali" terang David.


"lu bersihin deh tu beling, gue mau minta obat sama Rubby" ucap Raffan tertatih melangkah ke atas.


"waahh enak banget bain suruh suruh" gerutu David.


Sesampainya di atas


"tok tok tok By bangun belom?" tanya Raffan.


"ceklek .. kenapa Fan?" tanya Rubby sambil mengucek mata.


"sorry gue bangunin pagi pagi, mau minta kotak p3k punya lu, kaki gue kena beling" ucap Raffan.


"ehh apa? beling sebentar" ucapnya langsung berlari.


"bisa gitu yah? jiwa kedokteran lo udah mulai keliatan By" gumam Raffan.


Rubby segera keluar membawa kotak p3k miliknya, dia meminta Raffan duduk di kursi dan membiarkan Rubby mengobati lukanya.


"ehh Leya tumben udah bangun yah?" tanya Rubby tiba tiba.


"Leya?"


"iya, dia udah bangun kan? tadi pas aku bangun dia udah ngga ada" tutur Rubby.


"masa sih? dia kan biasanya bangun paling lambat, lagian gue dari tadi ngga liat dia" ucap Raffan.


"trus itu siapa yang di dapur?" tanya Rubby lagi.


"itu mah si David" jawabnya.


"trus Leya kemana?" tanya Rubby bingung.


"lah elu kan yang tidur sekamar bareng dia By" ucap Raffan heran.


"iya tapi pas aku bangun ngga ada, itu lampu kamar mandi juga mati, aku pikir dia di bawah masak bareng kamu" ucap Rubby.

__ADS_1


"lah kemana tu anak pagi buta begini?"


......bersambung.......


__ADS_2