Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
02. Lima sahabat


__ADS_3

"berangkat dulu ya mbak, assalamu'alaikum" pamit Raffan.


"nitip Anan ya Fan, wa'alaikumsalam" jawab Andin.


Raffan berjalan bersama dengan Anan, pagi ini dia berangkat lebih awal karena di minta kakaknya mengantarkan Anan ke sekolah, mereka duduk di bangku halte menunggu bus.


"om om, itu temen om kan?" tanya Anan menunjuk ke arah taman di belakang halte.


"mana? siapa?" tanya Raffan balik.


"itu om yang lagi lari, ya waktu itu pipis di celana" terang Anan kecil.


Raffan mencari seseorang yang di maksud ponakannya, jika yang Anan lihat benar temannya maka yang di maksud Anan adalah David teman kuliahnya, David pernah terkencing di celana saat melihat penampakan mba kun di atasnya waktu sedang berjalan bersama Raffan dan Anan.


Benar saja Raffan melihat sosok yang di maksud Anan sedang berlari mengelilingi taman.


"wooyyyy David!" seru Raffan.


David yang merasa namanya di panggil celingukan kesana kemari mencari sumber suara yang memanggil namanya, dia nyengir saat melihat Raffan melambaikan tangan padanya.


"oyy Fan, lu masuk jam pagi ya?" tanya David sambil berlari kecil mendekati Raffan dan Anan.


"iya, jadi sekalian nganter Anan sekolah" jawabnya.


"ohh hay boy" sapa David ke Anan.


"aku Anan om bukan roti boy" jawabnya polos.


"wah pagi pagi udah nglawak aja ni bocah" ucap David mengacak rambut Anan.


"ihhhh om David, rambut Anan kan jadi berantakan, nanti di marahin ibu kalo Anan ngga rapih" keluh bocah kecil itu.


"hehee iya deh sorry, sini om rapihin" ucap David.


Mereka bertiga duduk bersama sambil menunggu bus, Anan kecil sesekali menyeletuk saat melihat penampakan di sekitarnya, David yang penakut merapatkan duduk ke arah Raffan tiap Anan bercerita.


Raffan yang sudah paham betul sifat temannya yang super penakut itu hanya tersenyum sambil sesekali ikut menakuti dan mengejeknya.


"badan aja yang gede, masa sama anak kecil kalah" ejek Raffan.


"si*lan lu Fan, gue mah mending di ajak gelut sama bang Fatih dari pada ngeliat demit" ucap David.


"om David berani sama Ayahnya Anan?" tanyanya.


"ehh engga juga sih he hee" jawab David cengengesan.


"tumben lu olahraga di sini?" tanya Raffan.


"hehe lagi nungguin si bebep, biasanya dia olahraga di taman ini sama si Aleya, tapi hari ini mereka ngga keliatan" David kembali cengengesan.


David dan Aleya adalah teman kuliah Raffan, mereka bertiga berteman sangat dekat, sebenarnya Raffan memiliki dua lagi teman dekat, Rubby teman SMPnya dan Damar anak geng motor yang pernah menolong Raffan dulu saat hampir di begal.


Mereka berlima memiliki latar belakang yang berbeda tapi mereka selalu nyambung saat ngumpul bersama, tak lama bus yang di tunggu tiba.


"duluan ya" ucap Raffan meninggalkan David.


Saat duduk di bus tanpa sengaja Raffan melihat Rubby tak jauh darinya, Raffan berdiri dan mendekati Rubby sambil terus menggandeng ponakannya.


"oy! mau kemana lu?" sapa Raffan.


"ehh kamu Fan, aku mau ke rumah sakit Kusuma" jawab Rubby.

__ADS_1


"lho siapa yang sakit?".


"tanteku Fan, kemaren sore jantungnya kumat" jawab Rubby pelan.


Rubby adalah gadis yang di tunggu David sejak tadi, David mengenal Rubby melalui Raffan saat bertemu di warung soto bu Atik.


Rubby gadis yang manis dan sederhana, dia selalu ramah pada siapa saja dan sangat mudah bergaul.


David adalah lelaki penakut yang hobi ngelawak dan sering bgt ngajak gelut Damar tiap ketemu.


Damar anak geng motor yang berwajah sangar dan terkesan menyeramkan, dia adalah yang tertua di antara lima sahabat.


Sedangkan Aleya adalah anak seorang pengusaha kaya dan donatur di kampus tempat Raffan kuliah, gadis itu terkesan tomboy dan selalu bicara ceplas ceplos.


Raffan sendiri merupakan siswa yang mendapat beasiswa penuh di kampusnya, nilai akademinya sangat bagus karena merupakan peringkat satu di SMAnya dulu.


Mereka berlima benar benar memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda, hanya ada dua kesamaan yang mereka berlima miliki, mereka sama sama baik dan suka makan soto di tempat bi Atik.


Tak heran warung bu Atik sering mereka jadikan tongkrongan saat ngumpul bersama, Aleya yang merupakan anak dari orang kaya raya tak pernah bermasalah dengan tempat mereka ngumpul.


Tidak pernah ada perbedaan kasta di antara mereka, mereka selalu menyatu layaknya air yang di campur dalam satu wadah.


Raffan turun tak jauh dari TK tempat Anan, mereka berjalan beberapa ratus meter untuk sampi di sana, Anan tidak ada lelahnya mengoceh sepanjang jalan, entah terbuat dari apa mulut kecilnya itu, walau berjam jam bersama dia tak kan kehabisan topik pembicaraan.


"om lihat deh om bungkus di sana,om itu serung gangguin Anan sama temen temen Anan" ucapnya polos.


"dari mana kamu tau yang di bungkus itu adalah om om?" tanya Raffan.


"kan ininya rata" jawab Anan polos sambil menunjuk dadanya.


Raffan terkekeh geli mendengar ucapan polos keponakannya itu, anak kecil yang selalu bersikap polos dan jujur dalam berbicara itu sering kali mengundang masalah untuk Raffan saat mereka bersama.


Dia teringat beberapa hari lalu, Anan tak sengaja menarik pengait rok seorang ibu ibu saat sedang berdesakkan di bus, ibu yang tak melihat ada Anak kecil di bawahnya langsung memberi bogem mentah di pipi mulus Raffan.


"om kan udah bilang jangan di hiraukan, selagi mereka ngga mengganggu kamu ngga usah peduliin" terang Raffan.


"Anan udah nurut sama om, tapi liat aja pasti bentar lagi dia pasti gangguin kita"


Dan benar saja sesuai perkataan Anan, sosok bungkusan dengan muka hitam berdiri di hadapan mereka berdua, sosok itu nyengir memperlihatkan gigi giginya yang penuh darah.


"paan si, mulut lu bau b*ngke" ucap Raffan sewot.


Raffan paling tak suka ketika ada hantu yang sok sok'an menakutinya, karena Raffan yang sekarang adalah lelaki pemberani, tak seperti Raffan kecil dulu yang penakut.


"kasian deh di gagal nakutin omnya Anan" ejek Anan.


"kamu ngga takut sama saya" tanya si buntelan pada Raffan.


"ngapain juga gue takut ama lu? gue mah cuma takut sama Allah dan mbak Andin" jawabnya ketus.


"siapa mbak Andin?" tanyanya lagi.


"singa betina yang mempunyai mulut setajam silet" jawab Raffan lagi.


"kamu melihara singa? keren" kagum si buntelan.


Raffan yang menangkap adanya kesalah pahaman hanya nyengir meninggalkan si buntelan yang tengah terkagum padanya, Anan juga tertawa saat ibunya di sebut singa betina yang mempunyai mulut setajan silet.


"nanti Anan bilangin ibu lho om" ledek Anan kecil.


"ehh jangan dong, nanti om bisa mati membatu di omelin emak kamu" pinta Raffan.

__ADS_1


"beliin Anan es krim" ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Raffan mengrenyitkan dahi saat sadar keponakannya yang masih kecil memiliki sifat licik.


"nih, janji ya jangan bilang ibumu" ucapnya sambil memberi lembaran uang 10 ribuan pada Anan.


"he hee beres om" jawabnya.


"ya Allah ponakan gua ternyata licik juga" batin Raffan.


Setelah mengantar ponakannya Raffan melanjutka perjalanannya ke arah kampus, dia harus bergegas karena jam pertamanya akan di muali jam 8 pagi.


Raffan duduk di bangku agak belakang, dia tak suka duduk di bagian depan karena terlalu mencolok, selain pintar Raffan merupakan lelaki tampan yang baik hati, tak heran teman wanita di kampusnya sering mencari perhatiannya.


Sosok Aleya sering menjadi pelindung Raffan saat berada di kampus, teman temannya akan menjauh saat Reffan berada di dekat gadis yang bermulut tajam itu.


"Ley! lu tau ngga tantenya Rubby masuk rumah sakit?" tanya Raffan pada Aleya.


"Lay ley lay ley, Aleya Fan ALEYA" ucapnya.


"elahh ribet banget si, lu denger ngga kabar tantenya Rubby masuk rumah sakit?" tanyanya lagi.


"nggak, emang sakit apa?"


"jantungnya kumat" jawab Raffan.


"yaudah nanti selesai kuliah kita jenguk" ucapnya.


"tapi gua ada jam sore Ya" keluh Raffan.


"kali kali bolos ngapa" celetuknya.


"enak aja, kalo beasiswa gue di cabut gimana? kan sayang" ucap Raffan.


"lu lupa siapa gue?" singkat Aleya.


"ok siap" sambut Raffan.


Siangnya Raffan pergi bersama Aleya dengan menaiki mobil, Aleya selalu ke kampus membawa mobil sendiri, dia tak suka kalau di antar jemput supir.


Di jalan Raffan memberi kabar pada David dan Damar, mereka berdua bilang akan datang menjenguk juga, sebelum sampai rumah sakit tak lupa mereka membeli buah untuk di bawa ke rumah sakit.


Saat tiba di rumah sakit, mereka segera menanyakan kamar pada petugas di meja resepionis dan di arahkan untuk ke lantai 2, sampai sana mereka berdua terkejut karena David dan Damar terlebih dulu sampai di sana.


"perasaan gua ngabarin lu berdua beberapa menit lalu, ajaib bgt udah pada di sini" ucap Raffan.


"lu lupa siapa gua?" ucap Damar.


"pembalap gila yang hampir bikin gue mati" jawab David ketus.


Raffan dan Aleya memandang ke arah David seolah meminta penjelasan, dia menjelaskan kalau David di bonceng Damar kemari, di jalan berkali kali jantung David di buat berhenti berdetak oleh kecepatan Damar.


Mereka tertawa mendengar penuturan si David, Aleya yang jarang tersenyum sampai ikut tertawa di buatnya, David memang orang yang takut dengan banyak hal, hantu, kecepatan motor Damar, ketinggian, gelap dan juga mbak Andin.


Mereka ngobrol sampai sore tiba, dan mereka pamit pulang saat jam besuk sudah habis, David yang trauma dengan kecepatan motor Damar merengek untuk numpang di mobil Aleya.


"emangnya gue supir elu" celetuk Leya.


"ya ela Ya, rumah kita kan searah, sayang dong gua ngeluarin ongkos kalo ada yang bisa gratis" jawabnya.


"ya udah gue bonceng Damar aja biar lu ngga muter muter, boleh kan gue nebeng ke elu?" tanya Raffan pada Damar dan di jawab dengan acungan jempol.

__ADS_1


...bersambung....


jangan lupa dukungannya ya 💜💜


__ADS_2