
"ayah"
"ya?"
"ibu seperti apa?" tanya Rere tiba tiba.
"kenapa kamu menanyakannya?" tanya Ano sedikit heran.
"saya hanya berfikir selama ini saya tidak ingat seperti apa ibu, apa ayah bisa memberitahuku?"
"emm ibumu wanita yang cantik"
"s*al padahal aku sendiri juga penasaran dengan ibumu" batin Ano lain.
Rere hanya memandangi ayahnya yang terlihat bingung, anak itu kemudian tidur dengan lelap sampai pagi, paginya saat dia bangun ayahnya sudah tidak ada bersamanya, Emma memberitahu bahwa Kaisar sudah pergi keluar pagi pagi sekali.
Ano bersama 3 pengawal pergi ke hutan untuk berburu, sedangkan Rere di tinggal di fila bersama Emma, Bel dan belasan bawahannya, setelah Rere mandi dan sarapan anak itu kembali mendatangi pasar, dia ingin memberikan beberapa buah dan puding pada Luis.
Sesampainya di tempat bertemu kemarin terlihat Luis sedang duduk bersama 3 orang anak, mereka terlihat sebaya dengannya, dari kejauhan Rere memperhatikan bahwa keempat anak itu sedang berbagi makanan, terlihat dengan jelas 2 buah roti kering yang mereka bagi setengah setengah.
"Luis!" sapa Rere.
"oh hallo nona Nita" seru Luis semangat.
Reaksi berbeda di tunjukan oleh ketiga teman Luis, mereka terlihat kebingungan atas kedatangan gadis cantik yang berpakaian mewah, bahkan salah satu gadis seumurannya terlihat bersembunyi di belakang temannya.
"haii aki Nita" ucap Rere memperkenalkan diri.
"ha-halo" jawab ketiganya gugup.
"kalian jangan gugup begitu, nona Nita ini yang kemarin memberiku sekantung jeruk, dia sangaaat baiiikk" ujar Luis.
"ini aku bawakan lagi" ucap Rere memberi kantung yang tadi di bawa Emma.
"wahh, apa ini?" tanya Luis sangat penasaran.
"itu puding, sangat cocok di makan saat panas begini" ucap Rere menjelaskan.
Keempat anak di depannya terlihat kagum dengan pemandangan cantik dari puding yang Rere bawa, mereka memperlihatkan ekspresi sama seperti Rere 2 tahun lalu saat pertama kali melihat makanan enak dan mewah.
"terima kasih nona Nita, anda sangat baik" ucap Luis sopan.
"sama sama"
Rere melihat keempat anak di depannya makan dengan lahap, tentu saja setengah roti kering takkan membuat perut mereka kenyang, untungnya Rere membawa banyak puding dan makanan lain.
"nona anda sangat baik🥺" ucap salah satu teman Luis berkaca kaca.
__ADS_1
"ehh kenapa matamu berair?" tanya Rere bingung.
"ini pertama kali saya makan makanan seenak ini, dan baru kali ini ada anak bangsawan yang tidak jijik melihat kehadiran kami, di tambah lagi nona bahkan duduk bersama kami, saya benar benar bersyukur karena bisa di pertemukan dengan nona bangsawan yang sebaik anda"
Rere yang mendengar ucapan anak itu hanya tersenyum tanpa membalas ucapannya, memang benar anak anak seperti mereka seringkali tidak di hargai, banyak bangsawan yang bertindak semena mena pada mereka, meskipun tidak semua bangsawan bersikap buruk tapi kebanyakan memang mereka merasa jijik dan kotor melihat anak jalanan.
Saat pertama kali bertemu Luis Rere memang hanya mengaku sebagai putri bangsawan, anak itu takkan mungkin bisa mengakui statusnya sebagai tuan putri Heibe di depan anak seperti Luis, dia sangat paham bagimana perasaan anak seperti Luis saat bertemu dengan seseorang yang berstatus tinggi, mereka kerap kali tertekan dan ketakutan.
"apa kalian selalu bersama sama?"
"iya kami sering bersama, sebagai sesama anak yatim piatu kami sering berbagi" ucap salah satunya.
"tapi kan Luis masih punya ayah"
"Luis? benarkah?" tanya Rere penasaran.
Namun reaksi Luis terlihat sangat tak nyaman, anak itu terlihat kesal dan seperti ingin menangis, bahkan ketiga temannya langsung membekap mulut masing masing setelah melihat ekspresi Luis.
"aku tidak punya ayah" ucap Luis lirih.
" ... " terjadi keheningan begitu saja.
"oh ya aku juga membawa buah buahan, kalian bisa membagikannya kan?" ucap Rere mencairkan suasana.
"wahh buah apa ini?"
"yang mana? oh ini? ini namanya stoberi rasanya manis dan sedikit asam"
"iya itu anggur" jawab Rere ramah.
Berkat idenya suasana yang tadi sempat hening kembali ramai, Luos juga terlihat tidak sedih lagi dan makan bersama temannya, tapi anak gadis yang seumuran Rere hanya menggenggam buah di tangannya.
"kenapa kamu tidak makan?"
"saya s-sudah kenyang nona, buah ini b-boleh saya berikan ke paman?" tanya anak itu ragu.
"tidak"
"y-yahhh" ucapnya murung.
"kamu lihat itu?" tunjuk Rere pada salah satu kantung yang ada di tangan Bel.
"ya?"
"itu makanan untuk paman, jadi kamu makan saja buah itu" ucap Rere.
"ahh benarkah itu makanan untuk paman? jadi buah ini bisa saya makan?" tanyanya terlihat girang.
__ADS_1
Rere hanya tersenyum dan menganggukan kepala, setelah bercerita banyak dan memberikan sisa kantung bawaannya, Rere pamitan untuk pulang karena sudah lewat jam makan siang, dan lagi Emma mengingatkan kalau Kaisar makan siang di fila.
Di dalam kereta Rere terus berpikir tentang reaksi Luis sebelumnya, anak yang biasanya ceria dan banyak bicara langsung murung dan sedih setelah temannya berbicara soal ayahnya, Rere jadi sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada Luis, apa lagi anak itu tidak mengakui bahwa dia mempunyai ayah.
"jam berapa ini?"
"deg"
Baru saja Rere melangkahkan kaki masuk ke fila tapi tiba tiba suara dingin ayahnya sudah menyambut kedatangannya, anak itu sedikit takut dan gugup karena khwatir ayahnya akan marah.
"m-maaf ayah" ucap Rere langsung sadar karena salah.
"mulai hari ini dan seterusnya saat kembali ke istana kamu tidak di izinkan keluar"
"DAAARRR"
Kata kata yang baru saja Ano keluarkan terasa bagaikan petir di siang bolong, Rere langsung menyadari bahwa ayahnya benar benar marah padanya.
"t-tapi ayah.."
"tidak keluar atau aku batalkan rencana pembangunan panti?"
"tidak tidak! sa-saya akan menurut" jawab Rere langsung.
Sejujurnya baru saja Rere merasa senang karena akhirnya mempunyai teman seumuran untuk mengobrol, tapi ketika ayahnya sudah melarang mau bagaimana lagi, Rere tidak ingin karena keegoisan sesaatnya ayahnya akan benar benar membatalkan pembangunan panti.
Esoknya begitu matahari terbit kereta kuda sudah kembali berjalan menuju istana, bedanya kali ini Rere bersama Emma di kereta karena ayahnya memilih menunggang kuda, suasana hati dan wajah bocah 6 tahun itu terlihat sangat muram, Emma sampai tidak berani mengajak bicara karena anak itu terlihat hampir menangis.
"a-ayah!" seru Rere dari dalam kereta.
"apa?"
"maafkan saya ya saya bersalah" ucapnya sambil menahan tangis.
"bersalah masalah apa?"
"saya sudah melanggar perintah ayah kemarin, saya menyesal"
"kamu sudah merenunginya?"
" ... " mengangguk cepat.
"hentikan kereta"
"baik"
"Emma kembali ke keretamu"
__ADS_1
"baik Baginda" jawab gadis itu langsung bergegas.
Ano kembali memasuki kereta dan kudanya di tuntun oleh pengawalnya, kuda putih yang gagah itu hanya di naiki oleh satu orang selama hidupnya yaitu Kaisar.