
Setlah melewati berbagai drama dan perdebatan panjang, dengan berat hati Fatih mengijinkan Raffan ke kampung dengan syarat tak boleh terlalu lama di sana.
Fatih sudah kehilangan akal dan kehabisan cara untuk melarang Raffan, tidak seperti tahun tahun sebelumnya, tahun ini Raffan sangat keras kepala.
Raffan sangat antusias setelah mendapat ijin dari abangnya, dia langsung menelfon teman temannya dan janjian berangkat besok pagi.
Mereka berangkat menggunakan mobil Leya, dia akan menjemput teman teman lebih dulu dan Raffan yang terakhir.
"pokoknya Anan mau ikut om Raffan"
Anan yang tau om'nya di ijinkan pergi terus merengek pada ibunya, pagi ini dia juga membuat drama tak mau sarapan sampai di ijinkan ikut, bukan hanya itu, si Anan kecil juga menyembunyikan tas ransel Raffan.
"kamu ikutnya kapan kapan yah, kan om mau survei dulu ke sana, rumah kakek nenek kan udah lama ngga di huni, nanti kalo listriknya mati gimana? ngga bisa nnton tv loh" bujuk Raffan.
"nonton di hp om lah, lagian tante Leya juga pasti bawa laptop, dia kan kaya" ujar Anan.
"di sana internet susah nak" ujar Fatih.
"kata siapa? ayah bilang terakhir di sana 12 tahun lalu" seru Anan tak percaya.
"keras kepala bgt sih anak ini" gerutu Fatih.
"tiin tiinn"
Suara klakson dari mobil Leya sudah terdengar, Andin jalan ke depan membukakan pintu, terlihat Leya and the geng turun dari mobil dengan wajah sumringah, tampaknya mereka juga antusias berlibur ke desa Belanda.
Di antara empat wajah itu hanya Leya yang berwajah datar, dan Andin sudah faham dengan ekspresi anak itu karena beberapa kali Leya datang ke rumahnya.
"assalamualaikum" seru mereka bersama sama.
"waalaikumsalam, ayo masuk dulu, Raffan lagi di dalem nyiapin barang bawaan" ucap Andin bohong.
Andin menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan pada teman teman adiknya, sedangkan Raffan masih terus membujuk ponakannya untuk memyerahkan ranselnya.
"Anan ganteng ayo dong teman om udah dateng" bujuk Raffan.
Sebenarnya ransel itu bukanlah masalah besar karena Raffan bisa mengambil pakaian lain, yang jadi masalah itu adalah kamera miliknya yang juga di sembunyikan oleh Anan.
"Anan udah dong, om Raffan udah di tungguin temennya, ibu ngga suka deh kamu nakal gitu" ucap Andin keras.
"huuaaaa ibu jahat, ayah sama om Raffan juga" bocah yang dari bayi jarang menangis hari ini menangis hanya karena tak di ijinkan ikut om'nya.
Fatih yang sedari tadi ikut membujuk anaknya tentu saja ikut pusing, karena dia juga jadi korban dari kemantapan hati Anan, kunci mobilnya ikut di sembunyikan oleh putra semata wayangnya.
Setelah berbagai drama dan perdebatan panjang dengan si bocah, mereka akhirnya mengalah dan menuruti keinginan Anan, Fatih tak menyangka anaknya yang baru 4 tahun sudah sekeras kepala itu.
Andin juga dengan berat hati mengijinkan Anan pergi, dia pun tak habis pikir watak keras kepalanya menurun pada Anan, bahkan menurutnya sifat keras kepala anaknya jauh melebihinya.
"kamu beneran ikut om sama temen temennya?" tanya Andis sekali lagi.
"iya bu, Anan janji di sana nurut sama om dan ngga bakal nakal" jawabnya mantap.
Perjalann mereka ber enam di hiasi gelak tawa karena kehadiran Anan, bocah itu terus terusan menakuti David dengan bilang ada hantu di dekatnya, walau David tau ponakan sahabatnya sedang mengerjainya tetap saja dia merasa takut.
Dulu waktu dia berjalan dari warung soto bersama Raffan dan Anan, di jalan dia melihat sosok kuntilanak dengan mata copot di atas kepalanya, saking takut dan syoknya bukannya berlari malah dia membatu dan ngompol di celana.
Semua itu terjadi setelah David mengejek tak percaya atas penuturan Anan tentang berbagai hantu yang di lihatnya, dan untuk pertama kalinya dia melihat secara langsung sosok menyeramkan itu, dia bersumpah takkan lagi mengejek Anan maupun Raffan, dan dia benar benar percaya dengan yang namanya hantu.
Membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk sampai ke desa Belanda, jalan yang mereka lalui bukanlah jalanan rusak atau penuh bebatuan, tapi karena medan jalan yang naik turun dan meliuk liuk membuat Damar sangat berhati hati mengendarai mobil Aleya.
Selain dia takut celaka Damar juga takut mobil tuan putrinya itu lecet, Damar selalu memanggil Aleya dengan sebutan tuan putri sejak pertama bertemu, baginya Aleya adalah sosok yang penting baginya, hanya Raffan yang tau bahwa Damar menaruh hati pada sahabatnya, Aleya.
Saat melewati tanjakan yang agak curam tiba tiba Raffan mengerang kesakitan, dia bilang mendadak kepalanya sakit, hal itu tentu saja membuat sahabatnya khawatir karena itu terjadi sangat tiba tiba.
Raffan bilang serangan sakit kepala tadi benar benar terjadi secara mendadak, dia juga merasakan sesak di dadanya, Rubby yang merupakan siswi kedokteran kebetulan duduk tepat di belakang Raffan beregas memeriksa keadaannya.
__ADS_1
Rubby punya kebiasaan selalu membawa kotak P3K dan peralatan medis miliknya seperti termometer dan stetoskop, itu menjadi kebiasaan semenjak tantenya di vonis mengidap penyakit jantung.
Setelah memeriksa suhu tubuh, Rubby juga menanyakan apa saja yang di makan Raffan sejak pagi, takutnya sahabatnya itu keracunan.
Anehnya setelah mobil mereka memasuki jalan perkampungan, sakit kepala dan rasa sesak di dada Raffan langsung hilang, Rubby juga merasa aneh karena suhu tubuh Raffan yang tadinya tinggi langsung berubah drastis, dia langsung terlihat bugar bertenaga seperti waktu pagi.
"mungkin dia sakit kepala karena kelaparan, ini kan udah lewat jam makan siang" celetuk David dari belakang.
Semua nampak manggut manggut dengan penuturan David, mereka memutuskan mencari warung makan untuk di singgahi, tak lama setelahnya Damar menghentikan laju mobil di depan warung makan yang sederhana.
Satu persatu dari mereka turun dan memasuki warung, terlihat David menggendong Anan yang baru saja bangun dari tidurnya.
Mereka memesan makanan yang tersedia di sana seperti mendoan, pecel dan es teh manis.
Aleya makan dengan lahap sepiring pecel yang di hadapannya, tak lupa menambah beberapa lembar mendoan hangat yang baru di goreng.
Damar memandang Aleya dengan tatapan kagum, tak ada sedikitpun rasa jijik atau tak suka dengan makanan pinggiran seperti ini, hal seperti itulah yang membuat Damar jatuh hati padanya.
Walaupun berasal dari keluarga kaya raya sifat Aleya cenderung sederhana dan merakyat, hanya pakaian dan barang barangnya saja yang harganya selangit, itupun karena ibunya yang membelikan.
"ngapain senyum senyum?" tanya Aleya saat sadar Damar memandangnya.
"ahh tidak, aku hanya heran wanita cantik sepertimu porsi makannya melebihi kuli bangunan" ledek Damar.
"plaakkk" pukulan Aleya tepat di bahunya.
"kau berniat memukul apa mengelapkan tanganmu di bajuku?" tanya Damar.
Aleya sedikit kaget saat baru teringat tangannya penuh dengan bumbu pecel, dia mengambil tissu di tasnya dan melempar ke arah Damar.
"sorry sengaja" ucapnya ketus.
Damar di perlakukan seperti itu justru makin terpesona dan berbunga bunga di buatnya.
"chh dasar gadis sok sombong" batinnya.
"kembaliannya ambil aja mbok" ucap Aleya.
"beneran neng? ini sisanya masih banyak loh" ucapnya tak percaya.
"anggep aja itu rejeki mbok" ... "ohya mbok, apa kampung Belanda masih jauh?" tanya Aleya basa basi.
"ohh kalian mau ke sana, udah ngga jauh kok neng, keluar dari kampung ini kalian akan menemui TPU dan setelah melewatinya ada desa kecil di sana, setelah desa itu kalian sudah masuk kampung Belanda" tutur si mbok menjelaskan.
"terimakasih mbok" ucap gadis dingin itu di sertai senyuman.
"gila senyumnya manis banget" gumam Damar yang memandanginya dari dekat mobil.
Raffan yang sedari tadi memperhatikkan tingkah sahabatnya itu hanya cengengesan sendiri di buatnya.
"om Raffan kok ketawa sendiri" celetuk Anan.
"ehh enggak kok, salah liat kali kamu" jawab Raffan.
"mana mungkin, Anan kan rajin minum jus wortel buatan ibu, mata Anan ngga mungkin salah lihat" ucap Anan mantap.
"iya deh tau yang doyan wortel kaya kelinci" jawab Raffan.
Mereka semua kembali melanjutkan perjalanan, kali ini David yang menyetir, Raffan pindah ke belakang di sebelah Anan.
"jalan di sini belum aspal semua yah, masih banyak bebatuannya" ucap David.
"namanya juga perkampungan Vid, jangan di samain kaya di kota" ucap Damar.
"ngga gitu, Raffan bilang orang tuanya punya rumah lantai dua, berarti bokap lo kaya dong Fan" ucap David lagi.
__ADS_1
"ngga tau juga sih, itu semua kan cerita dari bang Fatih" jawab Raffan.
"emang kamu belum inget apa apa tentang peristiwa sebelum kecelakaan itu Fan?" tanya Rubby.
"belum" jawab Raffan singkat.
"kamu ngga coba nanya lagi ke bang Fatih?" tanya Rubby lagi.
"lu kan yang paling lama kenal abang gue By" jawab Raffan.
"apaan tuh by by by by, namanya Rubby bukan baby" celetuk David tak terima.
"salah gua di mana? namanya kan emang Rubby apa salahnya gua manggil nama belakangnya, iya nggak By?" ucap Raffan memanasi.
"iya bener kata Raffan, kan aneh kalo kita manggil dia Rub, ya kan By?" Damar ikut memanasi.
Rubby hanya tersenyum degan tinggah sahabatnya, Raffan dan Damar memang paling jago membuat David kesal.
"anjirr ni TPU suram amat" celetuk David mengubah topik.
"lu kate pasar malem kali rame" jawab Damar.
"lho lhooo kenapa ni mobil?" ucap David bingung.
Mobil di hentikan, Damar dan David turun untuk mengecek keadaan.
"tok tok" ketuk Damar di jendela samping Leya.
"kenapa?" tanya Leya sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"kempes, kena paku kayanya" jawab Damar.
Dengan sigap Aleya, Rubby, Raffan dan Anan ikut turun dari mobil, para lelaki dengan sigap gotong royong mengganti, Damar mendongkrak Raffan mencopot ban dan David mengambil ban serep.
Para ciwi dan Anan jongkong tak jauh dari mobil.
"om david, siapa tuh di belakang?" seru Anan.
"kalo mau ngerjain nanti dulu deh Nan, om David lagi repot nih" celetuk David.
"ekhem" suara deheman terdengar dari belakang lelaki penakut itu.
David yang sedari tadi sibuk dengan ban bocor yang sudah di copot Raffan langsung diam di buatnya.
"siapa nih di belakang gue, jangan bilang demit" batinnya.
Dengan ragu David menengok ke belakang, matanya menangkap sosok laki laki tua dengan jenggot panjang berwarna putih.
"astaghfirulloh, kakek bukan demit kan?" tanya David.
"pletak" " ngga sopan" ucap si kakek dengan tongkat kayu melayang ke betis David.
"aduuhhh ampun kek, maaf maaf ngga bermaksud" ucapnya sambil mengelus betis.
Anan di buat terpingkal pingkal dengan pemandangan di depannya, Rubby dan Aleya juga ikut cengengesan.
"ngapain kalian di sini?" tanya kakek dengan suara serak.
"ini kek ban mobil kami bocor" jawab Damar sopan.
"ini baru sopan" ucap si kakek menyindir David.
David yang tersindir langsung memanyunkan bibirnya.
"ngga tau aja si kakek kalo Damar preman jalanan" gerutunya kesal.
__ADS_1
.....bersambung.....
jangan lupa dukungannya ya💜