
"BRAK"
"di mana anak itu?"
"nyo-nyonya Baristo? selamat datang"
"haiis mana anak itu?"
"tuan putri sedang di ruang belajar nyonya, sebentar lagi akan selesai"
"hmm aku akan menunggu di kamarnya, bawakan teh seperti biasa" ucapnya langsung pergi.
"baik nyonya biar saya antarkan"
Felicia Afran Baristo adalah adik kandung Kaisar Veano, rambut emas yang menurun dari Kaisar sebelumnya dan mata hijau Emerland cantik milik ibunya membuat Ano sangat menyayanginya (walau ngga keliatan), dia sudah menikah dengan Duke Fenland Baristo 3 tahun lalu dan menerima gelar Duchess, meski sudah menikah cukup lama namun sampai sekarang dia belum memiliki seorang anak.
Duke Fenland Baristo merupakan penguasa daerah barat, dia di kenal dengan kemampuan dagangnya dan berhasil mengelola bisnis keluarga hingga ke kekaisaran sebrang.
Satu minggu yang lalu saat mendengar kabar bahwa kakaknya memiliki seorang putri Felicia kelabakan layaknya ayam yang akan bertelur, dia ingin segera mendatangi kakaknya dan memastikan kebenarannya, namun sayangnya tanggung jawabnya sebagai seorang Duchess yang di tinggal suaminya untuk berniaga membuatnya tidak bisa mendadak pergi meninggalkan pekerjaan.
"ceklek"
"eh?"
"hmm? ohhh kamu kah anaknya?" tanyanya dengan mata berbinar.
"ma-maksud nyonya?" tanya anak itu bingung.
"ekhem perkenalkan aku Felicia Afran Ca.. ehh Baristo, aku adalah bibimu"
"hng bibi? oh nyonya adik Baginda?" tanyanya penasaran.
"Baginda? heyy apa apaan laki laki br*ngsek itu, ayaah panggil dia ayah" ucapnya keras.
"a-ayah? em tapi saya rasa Baginda tidak terlalu menyukainya" ucapnya tertunduk.
"hmm🤔 kamu terlihat sangat pengertian, siapa namamu?"
"ah na-nama saya Ferenita"
"nama lengkapmu😔"
"nama saya Ferenita Afran Callisto nyonya" ucapnya sopan.
"hohooo rupanya laki laki itu bisa memberi nama yang bagus untukmu, ngmong ngomong kenapa badanmu kurus sekali? kudengar kamu sudah berusia 4 tahun kan?"
"iya saya sudah berusia 4 tahun"
"hmm di mana ibumu?"
"ibu? sa-saya tidak tahu😔"
"lhoo? terus selama ini?"
"saya hidup di jalanan bersama seseorang yang sudah seperti kakak saya, tapi sayangnya dia sudah pergi ke surga🥺"
"ja-jalanan? jalanan katamu? br*ngsek dasar laki laki tidak bertanggung jawab, bisa bisanya dia membuat putrinya hidup di jalanan bertahun tahun😤" ucapnya langsung pergi.
"nyo-nyonya?" ucap Ferenita kebingungan.
Felicia dengan langkah cepat melaju ke ruang kerja milik kakaknya, dia bahkan mengabaikan etika kebangsawanannya dengan mengangkat gaunnya karena merasa sangat kesal.
"Veano br*ngsek dasar laki laki bedebah, bisa bisanya kamu membuat keponakanku yang lucu itu hidup di jalan, bahkan tubuhnya saja kering kerontang seperti itu, ku bunuh kamu ku bunuh😤" gerutunya sepanjang jalan.
Sepanjang jalan pelayan terus menyapa dan memberi hormat, namun pipinya yang menggembung dan wajahnya yang merah membuat para pelayan memahami akan apa yang akan terjadi.
"adik Kaisar akan mengamuk" ucap seorang pelayan yang sudah 8 tahun bekerja di sana.
"hust tutup mulutmu sebelum kepalamu melayang😌"
"hiikk🙊"
"BRAAAKKK"
"dasar b*jingan! kenapa kamu se br*ngsek itu?"
"di mana etikamu sebagai Duchess nyonya Baristo" ucap Veano datar.
"etikaku? lalu di mana otakmu sampai meninggalkan anakmu begitu? kamu tidak lihat tubuhnya sekurus itu?"
"haahhh pergi lah Vin, suruh semua pelayan menjauh dari sini"
"baik Baginda"
Karena terlalu paham dengan sifat dan sikap adiknya Veano membiarkannya mengoceh sepuasnya, berbagai umpatan dia lontarkan begitu saja pada kakaknya, tapi sayangnya Veano bersikap acuh seakan tak mendengar apapun.
"Kakak apa kau mendengarku?" tanyanya kesal.
"apa sudah selesai?"
__ADS_1
"kak kau benar be.."
"Duchess Felicia Afran Baristo beginikan cara bicaramu pda seorang Kaisar🙂"
"BRAK" menggebrak meja.
"aku tidak bicara pada Kaisar, aku bicara pada kakakku" ucapnya tak mau kalah.
"hahhh kau ini"
"kenapa kamu selalu menghela napas, katakan padaku apa yang terjadi?"
"aku juga tidak tau, aku tidak ingat apapun tentang ibu anak itu, bagaimana aku bisa tau kalau aku punya anak?" ucap Veano kesal.
"a-apa? memangnya berapa banyak wanita yang kau tiduri br*ngsek👿?"
"wajahmu mirip monster!"
"apa? di mo-monster? kau mengatai adikmu monster?"
"kau saja berkali kali mengataiku br*ngsek, dasar monster"
"hahhh apa ini? aku sampai kehilangan kata kata" Felicia melotot.
"duduklah dan bicara baik baik! kau sudah berbulan bulan tidak mengunjungiku dan tiba tiba kau menggangguku bekerja dengan kata kata tak jelas" ucap Veano serius.
"aku kesal padamu" ucap Felicia merajuk.
"aku juga kesal pada diriku sendiri, sudah berbulan bulan aku mencari informasi tentang anak itu dan ibunya, tapi aku tak mendapatkan hasil apapun"
"anak itu? anak itu kamu bilang? kakak dia anakmu"
"yaya memang hasil tes darah dia anakku, tapi apa menurutmu aku bisa menerimanya begitu saja? bagaimana caraku menerima anak yang tiba tiba datang sebagai anakku?" ucap Veano terdengar frustasi.
"kamu sefrustasi itu?"
"aku bahkan sudah mengerahkan kelelawar ratu untuk mencari info tentangnya, yang ku dapat hanya info anak itu tinggal di pojokan kota Alas"
Kelelawar adalah sebutan untuk pasukan mata mata kekaisaran, dan kelelawar ratu merupakan pasukkan terelit milik Veano, mereka bahkan bisa mendapat info dari kekaisaran lain dengan mudah.
"kelelawar ratu? tapi bagaimana mungkin?"
"maka dari itu, informasi tentangnya sangat sulit di temukan, seolah segala tentangnya sudah terhapuskan di dunia ini"
"terhapuskan yah? lalu anak itu?"
"entahlah, yang penting dia sudah mendapat kehidupan layak"
"kamu tidak menemuinya?"
"karena tidak kenal maka sering seringlah bertemu supaya bisa kenal, lagian untuk apa kakak bingung memasang ekspresi? bukankah ekspresi kakak selalu begini 😶"
"aku malas"
"kakak!"
"diam dan pergilah dari ruang kerjaku Felic"
"cihh menyebalkan kamu akan menyesal, aku akan mendapatkan hati anakmu dan takkan ku biarkan kamu mendapat cinta darinya" ucap Felicia langsung keluar.
"hahh! kupikir setelah menikah dia akan bersikap sedikit dewasa" gumam Veano sambil memegangi kepalanya.
Sudah hal biasa Felicia bicara semaunya pada Kaisar, sikap manja pada kakaknya tidak berkurang sesikitpun meaki dia sudah menikah, dan itu membuat kakaknya heran sampai sekarang.
"lhoo di mana keponakanku?"
"tuan putri sedang di ruang belajar nyonya"
"lagi?"
"benar, sekarang jam'nya nona belajar etika"
"hahh dasar Veano gila, dia membuat anak sekecil itu belajar sepanjang hari?" gerutunya pergi.
Endap
Endap
Seperti pencuri yang tengah menyusup Felicia mendekati ruang belajar Ferenita, dia membuka sedikit pintu yang membuatnya bisa mengintip, tarlihat anak kecil yang sebagai keponakannya itu sedang belajar sungguh sungguh.
"kyaa lucunyaa😍😍😍" gumamnya gemas.
"tunggu saja Rere aku akan merebut hatimu" ucapnya langsung pergi.
Felicia lalu pergi ke kamarnya, meski sudah lama tidak di huni kamarnya masih bersih terawat seperti saat dia tinggalkan, sangat jelas terlihat para pelayan selalu merapikan kamarnya.
Dia merebahkan diri dan menutup matanya, sesekali helaan nafas berat terdengar, wanita itu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"tok .. tok"
__ADS_1
"nyonya! saya Anna dayang pribadi tuan putri"
"masuk"
"apa ada yang bisa saya bantu nyonya?"
"kemarilah"
"baik"
"siapa namamu?"
"saya Tianna Vintanso nyonya"
"hmm putri Baron Vintanso yah? beri tau aku jadwal keponakanku!"
"maaf?"
"list hariannya tulis di sana"
"ah b-baik"
Dayang tadi langsung duduk di depan meja yang di sediakan, dia sedikit gugup krena baru pertama kali bertemu Felicia sang bintang pergaulan, selama ini sebagai bangsawan tingkat rendah dia hanya pernah mendengar kabar keanggunan wanita bernama Felicia, namun berkat kehadiran tuan putri di istana kekaisaran dia mampu melihat Felicia dengan mata kepalanya sendiri.
"ini nyonya"
"hmm coba ku lihat"
07.00 bangun pagi dan mandi
08.00 bersiap sarapan
09.00 belajar membaca dan menulis bersama Sir Edmund
10.00 minum teh dan makan kudapan
11.00 belajar etika bersama Madam Lilia
13.00 makan siang bersama Madam Elis
13.30 - 15.50 tidur siang
15.00 belajar etika bersama madam Lilia
16.00 mandi sore
17.00 minum teh dan makan kudapan
18.00 belajar malam
19.30 bebas
20.30 tidur
"jadi keponakanku hanya punya waktu bebas 2 setengah jam? anak sekecil itu?"
"benar nyonya"
"berapa lama kamu bekerja di sini?"
"saya baru bekerja 2 bulan".
"berarti kamu datang tepat setelah keponakanku? siapa yang merekrutmu?"
"kepala rumah tangga yang merekrut nyonya"
"Alpolus? hmm berapa usiamu?"
"saya berusia 27 tahun"
"apa kamu anak yang bisa di percaya?"
"ya?"
"jawablah"
"saya bersumpah atas nama keluarga saya nyonya saya akan menjadi orang yang bisa di percaya" ucapnya langsung menunduk.
"siapa yang kamu maksud?"
"tu-tuan putri"
"baiklah sekarang dengarkan aku, pertemukan aku dengan madam Lilia saat beliau sudah selesai mengajar, aku akan menunggunya di taman mawar"
"baik nyonya"
"kamu boleh pergi"
"baik nyonya"
Felicia tersenyum puas, dari sorot mata Anna terlihat sangat jelas kekagumannya pada dirinya, sudah bukan hal baru bagi seorang gadis muda atau dewasa yang tergila gila padanya, hanya dengan beberapa patah kata saja Felicia bisa dengan mudah mengendalikan seseorang.
__ADS_1
"aku harus memastikan orang orang yang ada di sekitar anak itu, meskipun kakakku belum membuka hatinya tetap saja akan jadi masalah kalau terjadi sesuatu pada putrinya, aku memang menyayanginya tapi aku tidak boleh membiarkan dia jadi kelemahan kakakku" gumamnya.
"huhh ngmong ngmong kapan ya Rere selesai belajar"