
"Tuan putri" ucap Lita sedikit keras.
"ya? kenapa?"
"dari tadi saya memanggil tuan putri tp anda tidak merespon" jawab Lita bingung.
"ahh aku sedikit melamun tadi" jawab Rere lesu.
"hmm kira kira apa yang sedang di pikirkan tuan putri kecil kami sekarang🤔🤔" tanya Lita lagi.
" 🙄🙄🙄 " Rere tak menjawab.
"Tuan putri"
"apa lagi?"
"mau jalan jalan? saya dengar taman utama memiliki bunga jenis baru"
"ohya? tanaman apa?" ucap Rere sedikit bersemangat.
"apa yah? apa anda penasaran?" ledek Lita.
"tidak😒"
"ishhh ketus sekali, apa suasana hati anda sedang tidak baik? kalau begitu ayo jalan jalan" ajak Lita lagi.
"tidak mau aku mau tidur saja"
"ehhh tumben sekali? biasanya anda akan antuasias kalau ke taman utama kerajaan"
"sudahlah aku malas" jawabnya lesu.
Sudah beberapa hari terlewat sejak pembicaraannya dengan Kaisar, sejak hari itu Rere sama sekali belum berkunjung ke ruang kerja atau kamar ayahnya, bahkan sarapan pagi juga dia lakukan di kamar dengan alasan tak enak badan.
Lita yang bisa dengan mudah memahami suasana hati sang putri selalu berusaha menghiburnya, tapi suasana hati Rere sama sekali belum berubah, dia masih murung dan selalu berdiam diri di kamar.
"tok tok"
__ADS_1
"masuk" ucap Lita.
"tuan putri anda di panggil oleh baginda Kaisar"
"hmm kenapa?" Rere heran.
"hamba tidak tahu, hamba hanya di perintahkan untuk menyampaikannya, Kaisar menunggu anda di ruang baca"
"baiklah aku akan bersiap dulu"
"kalau begitu hamba pamit" ucap pelayan mundur.
Lita dengan sigap membantu Rere merapikan pakaian dan rambutnya, Rere yang kurang suka rambutnya di hias sedemikian rupa hanya di kuncir setengah dan di beri pita cantik untuk menambah keimutannya.
"ayah, apa ayah memanggilku?"
"hmm, duduklah!"
Rere duduk di depan ayahnya yang masih fokus pada buku tebal di tangannya, wajah serius yang di hiasi kaca mata masih saja membuat Rere kagum dan heran kenapa bisa ada laki laki setampan ayahnya.
"hm ayah, kenapa ayah memanggilku?" tanya Rere memecah keheningan.
"ti-tidak" jawab Rere terbata.
Seketika Rere menunduk karena jawaban ayahnya.
"kamu .. kenapa kamu tidak mengunjungiku?" tanya Ano dengan tatapan tajam.
"saya sibuk"
"ohya? kamu sibuk sampai berhari hari tidak keluar kamar?" ucap Ano menelisik.
"i-itu .. saya tidak enak badan ayah"
Seketika suasana kembali hening, Ano sempat menarik napas panjang dan menghempaskan diri ke kursinya, Rere langsung sadar bahwa jawabannya membuat ayahnya tak suka.
"kamu marah?" tanya Ano lagi.
__ADS_1
"tidak, kenapa juga saya harus marah?"
"aku tidak suka saat ada yang berbohong padaku" ucap Ano tegas di lengkapi dengan tatapan tajamnya.
"Deg" Rere seketika ketakutan karena tatapan itu adalah tatapan yang dia terima saat pertama kali datang ke istana.
"sa-saya .. saya ti-tidak hueeeeðŸ˜ðŸ˜"
"kenapa menangis? kamu pikir semua masalah akan selesai saat kamu menangis?" Ano muali kesal.
"hiks saya hanya sedih ayah" ucap Rere menahan isak tangisnya.
"kenapa? kamu msih memikirkan masalah waktu itu?"
"bagaimana saya tidak memikirkannya ayah, kare-karena saya ibu meninggal, andai saya tidak ada ibu pasti masih hidup dan ayah tidak akan kesepian untuk waktu yang lama, andai saya tidak ada pasti ayah bahagia bersama ibu, andai ... andai saja saya tidak ada-"
"grepp"... "hentikan omong kosong itu" ucap Ano langsung mendekap putrinya.
"uhh .. uhhh huhuuuhuhhh🥺ðŸ˜ðŸ˜" tangis Rere kembali pecahh.
"huhuuu maafkan saya ayah, saya salah saya salah"
Tangisnya masih belum berhenti meski Ano memeluknya erat, suara isak tangin penuh kesedihan dan rasa bersalah keluar begitu saja, Ano tidak mengerti apa yang harus dialakukan untuk menenangkan putri semata wayangnya hanya bisa terus memeluknya.
"Baginda biar saya antar tuan putri ke kamr" ucap Nando.
"tidak! biarkan saja dia tidur bersamaku malam ini"
Setelah menangis berjam jam Rere tertidur di pelukan ayahnya, Ano membawanya dan membiarkan putrinya tidur di ranjangnya, mata putrinya sembab karena menangis untuk waktu yang lama, wajah yang biasanya selalu memperlihatkan raut ceria terlihat sangat menderita.
"kamu tidak salah apapun .. tidak sedikitpun" gumam Ano.
Semalaman Ano hanya duduk di dekat jendela dengan menghabiskan beberapa botol anggur sendirian, Nando hanya bisa menatap tuannya tanpa bisa menegur atau berbicara apapun, Nando seakan teringat pernah berada di situasi ini beberapa tahun lalu.
Setelah Ano tertidur Nando meletakkan selimut untuk menutupi dada Ano yang terlihat jelas memerah karena di pukuli sendiri.
"saya ingat dulu anda pernah seperti ini saat di tinggal seseorang, tapii siapa?" gumam Nando bingung.
__ADS_1
Ingatan Nando tentang Zizi masih belum kembali, entah apa yang membuat anak itu tidak bisa mengingat wanita yang sangat dia kagumi itu.