Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
Ayahku yang tampan


__ADS_3

"apa kamu benar benar bisa melihatnya?"


" .. " mengangguk.


"kamu tidak berbohong?"


"ti-tidak"


"apa yang kamu lihat"


"warna langit sore"


"maksudmu?"


"warna seperti langit di sore hari, oren pekat dengan sedikit tercampur warna keabuan" jawabnya menunduk.


"apa kamu melihat dunia ini dengan warna begitu?"


" ... " angguk.


"termasuk binatang dan tumbuhan?"


"iyaa"


"lalu untaian itu benar kamu mengisinya dengan sihir pelindung?"


"hmm"


"dari mana kamu mempelajarinya? bukannya Alvin tidak membawakan guru sihir?"


"be-belajar sendiri"


"ahh kalau aku ingat kamu selalu berbicara tentang warna merah di kepalaku selama dua bulan terakhir, apa artinya itu?"


"itu sihir, warna merah pekat s-seperti darah adalah sihir yang membuat Baginda sakit" jelasnya ragu.


"apa setiap warna memiliki arti sendiri?"


"iya"


"lalu apa warnaku?"


"DEG😳" Rere kaget.


"rumit"


Sebenarnya anak itu tidak berani membicarakan warna dari ayahnya, meski dia tidak memperlakukannya dengan buruk dia sedikit takut karena warna di sekeliling Ano adalah warna yang rumit.


"katakan saja pelan pelan"


"hi-hitam putih dan keabuan .. brr" jawabnya takut.


"artinya?"


"hitam itu sesuatu yang jahat tapi warna putih artinya kebaikan dan keabuan misterius, tapii..."


"tapi apa lagi?" tanya Ano penasaran.


"ke-ketiga warna mengelilingi suatu warna"


"warna apa?" penasaran Ano makin menjadi.

__ADS_1


"me-merah muda dan merah"


"hah? artinya?"


"s-saya tidak tau, biasanya manusia hanya mempunyai satu atau 2 warna, tapi Baginda memiliki banyak warna yang samar dan 5 warna itu yang paling mencolok" ... "sa-saya minta maaf karena tidak bisa memberi penjelasan, saya akan belajar lebih keras lagi supaya berguna untuk Baginda🥺"


"berguna untukku? apa maksudmu?"


"bu-bukankah kalau saya tidak berguna saya akan di buang😟?"


"hah? bwahahaha apa kamu mendengar itu dari Felic?"


"apa itu Baginda yang biasa aku lihat?" Vernando bingung.


"hng? i-iyaa😣" jawabnya takut.


"astaga anak itu, sudah sudah kamu tidak perlu memikirkannya, kamu kan putriku mana mungkin aku membuangnmu😅" ucapnya mengusap kepala Rere.


"p-putri😳? Baginda mengakuiku?" gumamnya kaget.


"sudahlah sekarang kembali ke kamarmu, nanti malam datang ke kamarku karena aku ingin bicara padamu"


"i-baik"


"warna itu, warna langit sore muncul" batin Rere.


"Ver untuk sementara jaga anak itu!"


"baik Baginda"


Veano segera ke ruang rapat, di sana Alvin sudah mengumpulkan belasan pemimpin Ksatria Heibei dan beberapa pemimpin kota terdekat, dia berencana mengumumkan ke seluruh penjuru tentang adanya penyerangan monster dari segala arah.


Suara ricuh saat saling adu pendapat langsung berubah jadi hening ketika Kaisar muda itu memasuki ruangan, wajah gelisah dan ketakutan jrlas terpancar dari orang orang yang berkumpul di sana.


"baik, semua dengar baik baik aku sudah mengatakan tentang adanya penyerangan monster dari berbagai sisi perbatasan, Baginda memerintahkan kaian semua untuk memberi perintah pada penduduk agar mereka tidak keluar dari kediaman kecuali dalam keadaan genting, di keadaan darurat ini Baginda juga akan turun tangan ke wilayah perbatasan dan ikut andil dalam penyerangan, umumkan situasi darurat ini pada kota kota di sekitar agar para penduduk waspada, lalu para pimpinan Ksatria silahkan laporkan keadaan kalian masing masing"


"kelompok Serigala tunggal dalam kondisi paling fit Baginda, kami siap di kirim ke perbatasan manapun" Bel yang pertama memberi laporan.


"kelompok Serigala hitam juga sama Baginda, kami siap di kirim ke perbatasan manapun" Dirty ikut melanjutkan.


"kelompok Serigala kembar sudah sebagian kami kirim ke perbatasan utara Baginda, kami juga siap di kirim ke perbatasan manapun untuk mendukung kelompok lain" Vallen melapor.


"saat ini kelompok Serigala putih hampir seluruhnya ada di perbatasan selatan Baginda, yang tersisa hanya prajurit yang baru di latih beberapa bulan, saya rasa mereka belum bisa turun langsung" ucap Gracio hormat.


"hmm lalu bagaimana dengan kelompokmu?" tanya Ano pada Verla.


"mohon maaf Baginda Healer yang berada di bawah pimpinan kekaisaran kita tiba tiba di tarik oleh Asosiasi, yang tersisa hanya mereka yang sudah di kirim ke perbatasan" jawab Verla gemetar.


"apa? kenapa kamu tidak melapor?" tanya Ano marah.


"ampun Baginda semalam tiba tiba kalung pengikat di leher para Healer bergetar tanda panggilan dari asosiasi, saya mengijinkan mereka pergi untuk menyelesaikan urusan tapi sampai sekarang mereka tidak kembali dan hanya surat ini yang datang" Verla memberikan suratnya pada Ano.


"pemimpin maafkan kami tiba tiba pergi dan tidak kembali, kami tidak tau apa yang terjadi tapi kalung belenggu sihir yang terpasang di leher kami sudah di aktifkan, kami tidak bisa kembali ke istana dan kemungkinan para saudara yang ada di perbatasan juga mengalami hal yang sama, tolong sampaikan rasa penyesalan kami pada Baginda, kami tidak bisa melakukan apapun kalau kalung belenggu ini aktif"


"Asosiasi br*ngsek! mereka menarik para penyihir semaunya? dan lagi dalam keadaan begini?" Veano murka.


"Verla bukankah kamu bisa menggunakan sihir pemecah?"


"maksud tuan.."


"pecah kekuatanmu jadi 4" ucap Alvin.

__ADS_1


"i-itu mungkin tidak akan efektif tuan, jika saya menggunakan 2 sihir sekaligus maka tingkat kekuatan penyembuhan tidak mencapai 20%"


"tetap sa.."


"tidak Vin, kalau benar begitu akan percuma saja mengirim pecahan Verla ke perbatasan, lebih baik dia pergi ke perbatasan yang memiliki tingkat tersulit"


"maksudm.. maksud Baginda ke perbatasan barat?"


"ya! ular besi adalah monster yang paling merepotkan, keungkinan di sanalah yang paling membutuhkan Healer, aku juga akan ke sana membawa Serigala tunggal"


"t-tapi Baginda..."


"Serigala hitam pergi ke perbatasan timur, dan Serigala kembar yang tersisa pergi ke utara, karena aku akan membawa Serigala tunggal bersamaku aku memerintahkanmu Bel tinggal dan jaga istana dengan ksatria baru Serigala putih"


"baik Baginda"


"Vin segera perintahkan kepala rumah tangga menyiapkan perbekalan kita dan jangan lupa sebarkan kelelawar ke seluruh penjuru perbatasan, untuk para kelelawar ratu perintahkan mereka memantau pergerakan para monster"


"baik"


"rapat selesai, kita akan berangkat lusa, siapkan diri kalian baik baik"


Veano jalan lunglai ke kamarnya, tidak biasanya monster muncul sebanyak itu apalagi di tiap area perbatasan, belum lagi memikirkan ular besi yang sisiknya sangat sulit untuk di tembus oleh pedang biasa.


"NYUUT 🤕"


"uhh kepalaku terasa mau pecah" guman Veano pusing.


"siapkan air hangat sekarang!"


"baik Baginda, apa setelah ini Baginda akan makan malam?"


"tidak aku malas"


"kalau begitu saya akan menyiapkan teh chamomile dan beberapa biskuit"


"hmm .. ohya bawakan juga beberapa kue manis dan susu coklat"


"ya? susu coklat?" tanya kepala pelayan bingung.


"itu untuk putriku 🙄"


"baik Baginda😊" jawabnya senang.


"hohooo walaupun pelan aku bisa mendengar Baginda menyebut putriku, akhirnya musim dingin di istana ini akan segera berubah jadi musim semi😌"



Beberapa kue sudah tertata rapi saat Ano selesai menggunakan pakaian tidur, dia duduk sambil membaca beberapa dokumen penting untuk di alihkan ke Alvin besok.


"tok tok"


"masuk"


Seorang gadis berdiri dengan membawa boneka kecil di tangannya, wajah bulat dan mata secantik batu rubby membuat siapapun merasa segar saat melihatnya, dengan langkah pelan dia masuk dan membungkuk hormat.


"Baginda saya datang"


"duduk di sana"


Tanpa menjawab Ferenita langsung menjalankan perintah ayahnya, gadis kecil itu melihat ayahnya yang tampan sedang sibuk menatap dokumen tanpa berkedip, meski hampir setiap hari menatapnya tetap tidak terasa puas melihat wajahnya itu.

__ADS_1


"ayahku sangat tampan😊"


__ADS_2