

"selamat pagi tuan putri😊"
"ehh? siapa?" tanya Rere bingung.
"perkenalkan nama saya Lalita, tuan putri bisa memanggil saya Lita dan mulai hari ini saya akan menjadi dayang pribadi tuan putri" ucapnya ramah.
"dayang pribadi? bukannya sudah ada Anna dan Emma?"
"saya berbeda dengan mereka, saya dayang sekaligus penjaga tuan putri"
"hmm penjaga🤨🤨, begitu yah? kalau begitu mohon bantuannya" ucap Rere menerima.
Tepat sebulan setelah insiden penculikan tuan putri, Rere sama sekali tidak pernah keluar dari kamarnya, makanan dan para gurunya selalu datang ke kamarnya secara bergiliran, Nando juga Ano tempatkan bersama Rere selama sebulan terakhir untuk mencegah kejadian serupa.
Namun saat Nando menjaga Rere Ano mendapat ancaman pembunuhan, dan setelah berunding mereka memutuskan menempatkan Lita di sebelah Rere, dan keduanya bisa aman karena memiliki penjaga masing masing.
"tuan putri suka makanan apa?"
"manis, aku suka coklat" jawabnya semangat.
"saya tidak suka manis"
"lho kenapa? makanan manis itu baik untuk meningkatkan mood kita"
"tapi kalau terlalu banyak makan manis kamu akan segendut babi" ucap Ano tiba tiba.
"ayaahhh"
"apa?"
"kalau saya babi berarti ayah juga babi"
"apa? kamu mengatai kaisar babi?"
"tidak, saya mengatai ayah" elak anak itu santai.
"belajar dari mana kamu?"
"ayah"
"ishh .. kalian keluar"
Para dayang dan pelayan langsung keluar begitu kaisar memerintahkan, sudah jalan 1 bulan kaisar dan putrinya selalu makan berdua tanpa ada pelayan dan dayang di sampingnya, hanya Nando yang melihat mereka tp orang2 tidak mengetahuinya.
"bagaimana kabarmu hari ini?"
"baik ayah, ayah bagaimana?" tanyanya sambil makan.
"yahh baik juga"
Semenjak kejadian penculikan dan penyiksaan Rere selalu mimpi buruk tiap hari, entah itu tidur siang atau malam bayang bayang kakek tua yang menyiksanya seolah tak mau pergi.
"kegiatan hari ini apa?"
"jadi man dor a yaaaahhhh" jawabnya senang.
"kamu sesenang itu🤨?" Ano terheran.
"hehee ... kan saya paling suka saat melihat ayah bekerja"
"kenapa?"
"ayah terlihat tampan"
"uhuukkkk"
"minum Baginda" Nando langsung mengambil air.
"segitu kagetnya di puji tampan🤨?" kini Rere terheran.
Ano hanya bisa melirik tajam pada putrinya, entah sejak kapan bocah kecil yang cengeng itu mulai bertingkah dan bicara semaunya.
"Felic yang mengajarimu yah?"
"bibi Felic? tidak" jawabnya menggeleng.
"ahh ayah ngomong ngomong saya merindukan kembar, apa kapan kapan saya boleh ke sana?" lanjutnya.
__ADS_1
"boleh"
"yeeeyy ayah memang terbaik"
Setelah menyelesaikan sarapan Ano langsung pergi ke ruang kerja, tangan kokohnya menggenggam tangan lembut nan kecil milik putrinya, kedua telapak tangan yang saling menempel satu sama lain menciptakan perasaan tenang dan nyaman.
"hangat" gumam Ano.
"apa?"
"tidak"
Begitu memasuki ruang kerja di sebelah meja kerja Kaisar ada meja yang berisikan banyak macam cemilan, ada juga beberapa buku sihir dan buku cerita yang di sediakan Ano di sana, itu semua agar putrinya tak bosan menemani ayahnya bekerja seharian.
"ayah!"
"hm?"
"Anna bilang taman mawar yang di belakang istana mati"
"lalu?"
"bisakah di sana di tanami bunga mawar lagi?"
"mawar lagi? tidak ganti saja? kamu tidak bosan?"
"tidak, saya lebih suka mawar lagian Hailyn juga beraroma wangi sewangi mawar"
"swooossss"
"nona memanggil saya?" Hailyn langsung datang begitu Rere menyebut namanya.
"ehh tidaaak"
"kalau begitu saya akan kembali" ucapnya membungkuk dan langsung hilang.
"tchh aku tidak suka anak itu" gumam Ano.
"😧😧😧" Lita yang pertama kali melihat Hailyn tiba tiba datang dan pergi hanya melongo kebingungan.
"lakukan saja semaumu"
"emm kalau begitu saya akan ke ruangan Alvin sebentar"
"tidak perlu! panggil Alvin kemari"
"baik Baginda" Nando langsung pergi.
Tak sampai 2 menit Nando sudah kembali bersama Alvin, dengan wajah lesu dan lingkar hitam di bawah matanya Ano sudah tau kalau perdana mentri sekaligus temannya itu sedang kesulitan dengan berkas yang di tanganinya.
"kenapa No?"
"bicara sana" Ano memerintah Rere.
"taman belakang istana aku ingin di tanami mawar lagi, tapi Anna bilang ada mawar biru kan? aku ingin itu dan bangunkan pendopo kecil untuk minum teh di sana" jelas Rere semangat.
"itu saja🥱" Alvin menguap.
"iya"
"baiklah, kalau ada perlu lagi silahkan panggil saya" ucapnya pergi dengan langkah gontai.
Setelah seharian di ruang kerja malamnya Rere dan ayahnya bersantai di ruang baca, di sana mereka meminum teh hangat dan berbincang, meski kebanyakan Rere yang bicara dan Ano hanya mendengarkan.
Sudah tidak ada gadis kecil penakut di istana, yang ada hanya gadis manis menggemaskan yang banyak bicara, entah berapa banyak stok topik cerita yang Rere punya yang jelas anak itu akan terus berceloteh sebelum tidur.
"hoaaam .. ayah ngantuk🥱"
"ayo kembali ke kamar"
Setelah Lita mengganti pakaiannya dan membantu bersih bersih sedikit Rere langsung menaiki ranjamg dan tidur, Ano sendiri seperti biasa duduk dan membaca sesuatu di tangannya sebelum kantuknya datang.
"Lita"
"ya Baginda?"
__ADS_1
"bagaimana keadaanmu?"
"berkat Baginda keadaan saya sangat baik"
"kakakmu belum kemari?"
"belum .. sepertinya monster di selatan membuatnya sibuk"
"hhhh si*l kenapa monster monster di area selatan tidak ada habisnya sih?" hela Ano frustasi.
Memang benar di daerah selatan monster selalu hadir, tidak peduli berapa banyak monster di bunuh maka esoknya akan ada lagi dan lagi, sudah hampir 20 tahun daerah selatan berperang dengan monster tak peduli sebanyak apa ksatria yang di kirim monsternya tetap tak habis juga.
* * * *
"ayahh ayahh" Rere lari di koridor.
"apa😒?" Ano terheran.
"saya melihat bangunan besar di belakang istana, itu bangunan apa?" tanyanya antusias.
"rumah putih"
"rumah putih?"
"kamu kan ingin minum teh di pendopo"
"tapi itu bukan pendopo ayah"
"kamu lupa siapa ayahmu?"
"ahhh benar juga, Kaisar mana mungkin membangunkan pendopo kecil untuk putrinya" Rere menggut manggut.
"tapi ayah"
"apa lagi?"
"rumah putih sangat besar, itu terdiri dari 2 bangunan dan masing masing ada 2 lantai"
"kamu bisa berkebun dan menanam apapun yang kamu mau, kalau kamu sudah besar kamu bisa mengadakan pesta minum teh di sana"
"pesta minum teh? saya?"
"hmm"
"apa itu harus?"
"emm setauku gadis gadis melakukan itu untuk menambah koneksi, tapi mengingat statusmu sepertinya tidak perlu"
"🤨apa lagi lagi karena saya tuan putri🤨?"
"emm"
"ayah yakin ini adalah pendopo tempat minum teh yang saya maksud🙂?" tanya Rere di depan sebuah bangunan besar.
"kenapa? terlalu kecil?"
"mana mungkin, ini terlalu besaar😫"
"tidak suka? mau di ganti?"
"TIDAK ... ini saaaangat ba gus" ucapnya cepat.
"mau lihat ke dalam?"
"ayooo"
Di dalamnya hanya ada lahan luas yangbdi is oleh beberapa tanaman dan bibit bibit mawar yang Rere inginkan, ada juga 1 set meja kursi tempat minum teh sesuai keinginannya.
"ayah"
"apa?"
"boleh tidak saya menyebut tempat ini rumah kaca?"
"rumah kaca?"
"emm .. rumah ini memang berwarna putih tapi lebih dari 60% lebih trlihat banyak kaca jadi saya menyebutnya rumah kaca"
__ADS_1
"lakukan sesukamu"
"hehe .. terimakasih😄"